Feeds:
Pos
Komentar

Dramatic Comeback

Huh, blog ini sudah lama sekali nggak aktif ya? Kita lihat saja apa saya bisa kembali mengisi blog ini secara rutin.

Iklan

Creme Brulee

Creme Brulee

Creme Brulee adalah salah satu dessert favorit saya. Benar-benar merupakan dessert yang deceptive, carena dia terlihat dan terdengar mewah, padahal merupakan salah satu dessert termudah yang biasa saya buat. Sekali lagi, saya dapat idenya dari Victoria Bakery. Creme Brulee sana rasanya enak, tapi mahal juga kalau makan terus, makanya saya cari cara untuk buat sendiri.

Bahan:

8 kuning telur

1/2 cup gula

2 cup heavy cream (bisa diganti cream masak biasa)

1/2 sdt vanili

Cara membuat:

1.Panaskan Heavy Cream sampai hampir mendidih, sisihkan

2.Kocok telur dan gula sampai lembut

3.Masukkan Heavy Cream sesendok demi sesendok ke adonan telur sambil diaduk. Kalau sudah memasukkan kira-kira 1/4-1/2 dari seluruh heavy cream, sisanya bisa dituang pelan-pelan, sambil terus diaduk tentunya.

4.Tuangkan adonan ke mangkuk-mangkuk/tempat pie kecil tahan panas.

5.Tuang air mendidih ke loyang besar, lalu susun mangkuk-mangkuk kecil di atasnya. Atur supaya mangkuk terendam sekitar setengahnya, tapi jangan sampai ada air masuk ke adonan.

6.Taruh dalam oven yang sudah dipanaskan 120 derajat Celcius selama kurang lebih 1 jam.

7.Dinginkan semalaman dalam kulkas, dan sajikan!

 

Seharusnya setelah dingin, di atasnya ditaburi gula, kemudian dibakar sampai terjadi karamelisasi, tapi itu benar-benar merepotkan!

I’m currently trying to make a new campaign, this time in Mutant and Mastermind system.  I’m tired of linking this first draft personally to everyone that might help me, so I post this here. Most of the names are just placeholders, so don’t mind them.

Mobile ARM Unit Section One

Good day all, and here I am, Fri, trying to start a new campaign! Inspired by Masami Yuki’s masterpiece, Patlabor, this time I’m going to start a mecha campaign! Hopefully, this will be running kinda smoother than my last idea, because this time I already got the gist of the campaign for a kinda long time.

So, what is Mobile ARM Unit Section One? It’s basically a police procedural… with giant robot… in fantasy setting.  Your characters would be town watches in a pilot project to equip town watches with giant robots. Nothing could go wrong, right? It’ll be heavily based on Patlabor. So here’s the detail of the setting.

Placeholder is the biggest kingdom in the Pangaea continent. Beside the two sentient races, that is human and the rare dragons, all kind of fantastic creatures live in the continent. The current year is the 348th year since the founding of the kingdom, and life is well. Some people even said that this is the golden era of mankind.  That is heralded by the advance in magic and alchemy. Alchemically lit lantern lit the street of Placeholder’s major cities.  Magically run ships connect the coasts of Placeholder. More and more magical and alchemical gadgets are starting to commonly used by the commoners, to make life easier and more comfortable.

But what is magic and alchemy? Magic is the innate ability that some people have to manipulate the elements around him, and alchemy is ways to use magic to manipulate matters. Not everyone can use magic; only about one in five hundred people have the innate ability to use them. Most untrained magician can only use magic to produce ‘cantrips,’ little tricks without much use like moving small objects and making object glow in the dark for example. Some use them to be street magicians and conman. Magician born in wealthier family can enter one of the many magic schools, and live like today’s engineer.

Some very talented magicians with more ‘physical’ affinity, are recruited into the kingdom’s Magic Knight. They’re the kingdom’s elite of the elite, dispatched only on matters of serious importance, like dangerous border skirmishes, or dragon attacks. Some say their body is enchanted to be as agile as a cat and as hard as a rock. They can fight toe to toe with hill giants and make dragon explodes just by waving their arm and chanting some magical poem.

ARMs

About fifteen years ago, an enterprising magician from Placeholder by the name of Henry Edson created something that revolutionizes the world. He named it Alchemical Reaction Machines, or acronymed as ARMs. ARMs are giant, fifteen feet tall, armors filled with complex system of pulley and gears, with alchemical reactions flowing through pipes under its metal skin. By manipulating a system of handles, pulleys, and pedals, a human can move the ARM like moving his own body. With an ARM, normal human can lift heavy boulders, dig deep into the belly of the earth, and fight giants without magical fireball.

In just ten years, ARMs become common. They’re used for everything, from construction working to heavy mining. A lot of kingdoms use ARMs as heavy shock troopers for their army.  To compare, they become as common as today’s forklift.

For some unclear reason, the flow of magic in someone’s blood interacts with the alchemical process that moves ARMs. Because of that, someone with even the slightest talent in magic can’t operate ARMs.

Mobile ARM Unit Section One

With the common use of ARMs, ARMs related crime started to appear. Only Magic Knights and ARM equipped soldiers can deal with them. But the kingdom’s ruling ministers start to feel that solving urban crime isn’t the job of Magic Knights and dangerous ARM equipped soldiers, beside the ineffectivity of them in solving those crimes. Besides, they thought, with the advance of ARMs, magic knights can finally be used in things more important and useful things than protecting a city from dragons or giants. That’s how Resolution 24 was born. That is, to make a dedicated unit equipped with ARMs specialized for urban use for town watches in every major city. But detractors are many. They said, equipping city watches with weapon of that caliber is just asking for trouble.

That’s how Mobile Guard ARM Unit Section one was created.  The first dedicated town watch ARM unit, Mobile Guard ARM Unit Section One is stationed at Capital, the bustling capital city of Placeholder Kingdom, and intended as a pilot project. If it succeeds, more ARM unit will be created in other major cities.

And you are the new members of MGAU Section One.

I’m looking for 2-4 ARM pilots, but I accept up to six or seven players, because MGAU will need mechanic, spotters, on foot investigators, and so on. Magic is off limit for players. But I might allow cantrip level magics for some player.

Those setting info above are common knowledge that commoners have so there will be more things to be found and investigated of course!

Super Deluxe Chocolate Pudding

Kali ini adalah resep favorit saya yang paling mewah. Hasilnya akan menjadi puding coklat yang super enak, lembut, silky smooth, dan sangat coklat banget.

Bahan:

150 gr gula

3 sdm tepung maizena

5 sdm coklat bubuk

1/8 sdt garam

600 ml susu

1/2 cangkir heavy cream

4 kuning telur

2-4 ons coklat masak, dicincang

1 1/2 sdt vanila

14 gram butter

Cara:

1. Campur gula, maizena, coklat bubuk, dan garam

2. Tambah 1/2 cangkir susu sampai jadi pasta

3. Masukkan kuning telur 1 demi 1 sambil diaduk, sisihkan.

4. Bilas 1 panci besar dengan air dingin. panaskan susu dan heavy cream di dalamnya sampai hampir mendidih, sisihkan.

5. Campurkan ke pasta coklat sedikit sedikit sambil diaduk.

6. Masak di atas api kecil sampai mengental sambil terus diaduk.

7. Tambahkan coklat cincang, butter, vanila, mentega, kocok perlahan. Sajikan di cangkir-cangkir. Dapat dinikmati panas atau taruh di kulkas dan nikmati setelah mengeras.

Hasilnya adalah puding coklat yang sangat lembut dan mewah, silakan mencoba!

Bila susah mendapatkan heavy cream, dapat dibuat sendiri dengan cara memanaskan 3/4 gelas susu fullcream dengan 1/2 cangkir butter, lalu diblender dengan kecepatan tinggi selama 3 menit. Simpan di kulkas selama sehari.

serial jurnal Komun Seinz

The Curious Tale of The Missing Villagers under the Moonlit Night

Hari itu tanpa diduga, sebuah kasus aneh menghampiri kami tanpa dicari. Kami bertiga sedang menghabiskan gaji kami yang baru saja kami terima dengan santai di sebuah kafe yang tenang. Aku sedang memperdebatkan perbedaan jeruk dan apel secara kualitatif dengan Attreides saat tiba-tiba seorang gadis cantik berambut hitam menghampiri kami dan berkata bahwa dia butuh petualang.

“Tolonglah. Bukankah kalian prajurit bayaran?”

Zeppelin yang melintas di langit memecah keheningan dan membuatku lupa akan argumen yang sudah kususun semalaman sementara gadis itu menatap mata pemuda di depannya.

“Kami lebih suka menyebut diri kami petualang freelance, nona.” Kata Hattori “Joker” Ranzou, assassin-maling-extraordinarie dan playboy kelas kambing sambil memegang tangan gadis cantik yang duduk di hadapannya itu dan menciumnya. “Tapi aku tak peduli meski kau menyebutku sampah masyarakat sekalipun asalkan kau mau memberi telingaku siraman suara indahmu yang bahkan lebih memukau dari kecantikan wajahmu…”

Pemuda berambut coklat yang duduk di sebelahnya menatap gadis itu dengan pandangan ‘anggap-saja-orang-di-sebelahku-sapi’ sebelum membuka mulutnya yang diam sejak tadi.

“Kami memang biasa menerima misi dengan bayaran, nona.” Katanya dengan nada suara yang berbeda 180 derajat dari rekannya. Sebenarnya bukan hanya nada suaranya. Segala hal mulai dari gerak tubuhnya yang agak feminin dan wajahnya yang sok cool, berbeda 180 derajat dari Ranzou yang banyak menebar senyum dan merasa sok gaul.

“Namun kami sedang tidak menerima misi. Bos kami sedang tidak ada, dan kami memiliki peraturan untuk tidak menerima pekerjaan tanpa bos kami.” Roland Attreides sang penembak jitu kelompok kami memperbaiki letak mantelnya sebelum melanjutkan menyeruput kopi.

“Yeah, terutama sejak insiden Sphagetti di kota Rensia.” Kataku. Aku Komun Seinz, anggota ketiga dari grup petualang yang terkenal di seluruh benua. Kami tidak punya nama grup secara resmi, meski banyak orang mengenal kami sebagai Celadohr’s Magnificent Bastards.

“Menurutmu kita masih dilarang berada dalam radius 100 kilometer dari kota itu?” Tanya Ranzou.

“Heh, tapi harus kukatakan kalau ledakan luar biasa dari…”

“Tapi kepada siapa lagi kami harus minta tolong?” Potong gadis itu.

Gadis itu mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Selain kami, tidak ada lagi pengunjung di café luar ruangan itu. Kota Firense memang bukan kota yang terlalu besar. Kota itu hanyalah kota perbatasan yang jauh dari mana-mana, dengan sebuah pangkalan airship dan stasiun kereta kecil, berbatasan dengan hutan lebat di satu sisi dan padang rumput luas di sisi lain.

Aku curiga kalau memang itu alasannya Celadohr meninggalkan kami di sini.

“Jangan begitu, ‘Treides. Masa kau mau membiarkan gadis secantik ini kesusahan? Lihat sedih di matanya, kesulitan di bibirnya, kesusahan yang terasa di kulitnya yang lembut… Lagipula Celadohr pasti senang kalau kita mendapat sedikit uang tambahan sementara dia… melakukan entah apa yang sedang dilakukannya di ibukota.

Attreides melirik ke arahku. Aku itu hanya memainkan magic wandku sambil mengangkat bahu.

“Komandan bilang dia bakal pulang setelah seminggu. Secara teknis ini sudah seminggu dan dia belum datang-datang juga.” Lanjutku

Desis kereta api yang berhenti perlahan menggetarkan trotoar batu tempat kursi dan meja kami terhampar. Attreides menatap kami berdua dengan sebelah matanya yang tidak tertutup eyepatch.

“Oke. Tapi kali ini AKU yang membawa perbekalan kita.” katanya sambil mengibaskan rambut yang menghalangi matanya.

Ranzou tersenyum dan mengangguk dan mengedipkan mata dan melemparkan cinta.

“Kamu benar-benar sudah meninggalkan pesan untuk komandan?” Tanya Attreides kepadaku.

Kami tiba sebuah kota yang sunyi di tengah hutan setengah hari kemudian. Kereta sihir yang kami tumpangi segera berangkat, meninggalkan kami di stasiun tanpa penghuni itu. Perang besar puluhan tahun lalu itu memang masih menyisakan bekas di mana-mana, tapi setidaknya orang-orang telah membangun infrastruktur kembali. Jaringan rel kereta yang terbentang kemana-mana ini adalah salah satu buktinya.

“Tenang saja.” Kataku itu sambil mengunyah roti. “Aku meninggalkan memo.”

Sementara itu di sebuah hotel ratusan kilometer dari situ, seorang petualang paruh baya berjenggot kumal duduk di lobby sebuah hotel sambil meremas  kertas kecil sampai jadi bola.

“Dasar orang-orang itu…” katanya sambil melempar kertas tagihan dengan jumlah diluar pemahaman manusia (memangnya berapa banyak jeruk yang bisa diminta ke room service dalam sehari) ke keranjang sampah. “Padahal aku sudah pesan kalau aku bakal kembali dalam seminggu.

Satu-satunya pesan yang didapatnya adalah memo yang ditinggalkan di resepsionis bertuliskan. “Kami pergi sebentar. Belum sempat bayar tagihan.”

Kesunyian kota itu cukup mengagetkan kami. Nyaris tak ada seorangpun yang ada di luar rumah, meski kota itu jauh lebih besar dari kota Firense yang kami tinggalkan. Ubin batu dingin menatap kami tanpa suara sementara rumah-rumah besar yang sebenarnya bisa dibilang indah berdiri suram.

Sebuah pohon besar yang meranggas menyambut kami begitu kami keluar dari stasiun dengan taburan daun gugur tertiup angin.

Attreides menggaruk rambutnya.

“Tadi apa ada yang sudah menanyakan apa sebenarnya misi kita itu?”

Ranzou tidak menjawab dan masih sibuk bertingkah di depan sang gadis. Sementara aku…

“Eh… Hm… Petualang sejati tidak pernah menanyakan misinya?.” Kataku sambil menaikkan sebelah alis.

Attreides menghantam mukanya sendiri dengan telapak tangan.

“Jadi… apa sebenarnya misi kami nona?” Tanya Ranzou sementara kami berjalan.

“Zombie…” gumam Attreides pelan. “Pasti zombie.”

Attreides memang nggak begitu suka zombie. Mereka sulit dibunuh, ehm, dibunuh ulang menggunakan riflenya. Aku sih nggak terlalu peduli. Masalah apapun, termasuk Zombie. bisa diselesaikan dengan pemanfaatan api yang cukup. Kalau masalah itu tidak terselesaikan dengan api, berarti apinya kurang banyak.

“Mungkin juga. Suasananya cocok. Tapi kurang potongan tubuh yang berceceran.” Bisikku.

Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya membawa kami menyusuri jalan-jalan yang sepi nyaris tanpa bersuara, melewati toko-toko yang terlihat ditinggalkan oleh pemiliknya, rumah-rumah yang terlihat bagaikan memiliki penghuni yang lebih malas menyapu halaman dibandingkan aku atau Ranzou, tapi anehnya, seperti yang sudah kubilang, tak ada potongan tubuh yang berceceran.

Setelah beberapa lama kami tiba di depan sebuah mansion besar bercat putih dengan gerbang besi berlilitkan mawar ditambah jendela-jendela kaca besar yang suram serta taman tak terawat dan semacamnya. Tahulah model mansion macam itu. Angin berhembus seakan mengerti bahawa dia diperlukan untuk membuat suasana semakin menyeramkan. Kami sedang berjalan perlahan melewati jalan batu yang ditumbuhi rumput liar saat kami sadar.

Gadis yang membawa kami ke sini tak terlihat lagi.

.”….sial” kata Attreides pelan. Kini kami bertiga, berdiri di tengah halaman luas yang tak terawat, ditemani daun-daun yang bergugugran dan angin yang bertiup sendu.

Wajah konyol Ranzou pun berubah menjadi wajah tugasnya. “…kita lengah.” Katanya serius. Matanya menatap sekeliling dengan tajam, cengir begonya berubah menjadi ekspresi seorang pembunuh.

Attreides memegang revolvernya, Ranzou menyiapkan tangannya di gagang salah satu pisaunya yang banyak, dan aku menarik keluar salah satu tongkat sihirku.

“Kalau ini di film, kameranya bakal berputar mengelilingi kita” kata Attreides.

“Zombie?”

“Hantu. Kota ini kota hantu.”

“Ga mungkin, ini paling jebakan untuk komandan celadohr”

“Zombie!”

“Hantu!”

“Um, permisi?”

“Zombie Hantu?”

“Maaf, permisi?”

“Hantu Zombie!!”

“Tuan petualang!?”

Oke. Kukira aku akan melihat seorang laki-laki meledak bahagia secara nyata, saat sang pemilik rumah menyambut kami. Seorang ‘putri cantik’ beneran dengan rambut panjang dan gaun sutra halus dan seterusnya turun dari lantai atas dan mempersilakan kami ke teras mansionnya. Perlu kuakui gadis itu memang sangat cantik. Sewaktu gadis yang membawa kami ke kota ini muncul dengan gaun pelayan hitam putih berenda, Ranzou sudah cukup bahagia. Ekspresi serius 30 detik sebelumnya langsung berubah menjadi cengir bego kaya biasanya. Tapi sewaktu dia mempersilahkan tuan putrinya turun, Ranzou berubah menjadi pudding. Puding romantis.

Setengah jam selanjutnya diteruskan dengan adegan Ranzou bersikap gentleman dan semacamnya, jadi aku melewatkannya dengan main adu jempol (skor akhirnya 5-3 untuk tangan kanan). Sewaktu Attreides baru mau ikut bertanding, si pelayan yang akhirnya kami ketahui bernama Sophia itu mempersilahkan kami duduk, jadi duelku dengan Attreides ditunda untuk lain kali.

Kami duduk di teras bergaya klasik yang dipenuhi rambatan tanaman liar. Sophia menuangkan teh kepada kami dari teko perak antik yang kukira harganya senilai dengan gaji kami bertiga bulan ini.

“Jadi nona Anna, ada masalah apa sampai anda memerlukan petualang?” Tanya Ranzou. “Tapi masalah apapun yang anda hadapi, anda tidak perlu khawatir. Sebab kami bertiga adalah petualang kelas satu yang terkenal di seantero benua.”

“Untuk hal itu dia tidak bohong.” Tambah Attreides sambil menyesap teh, tanpa lupa menaikkan jari kelingkingnya.

“Apa ada hubungannya dengan sepinya kota ini?”

Gadis pirang bergaun putih itu mengangguk sedih.

“Zombie?” Tanya Attreides.

“ARGH! Berhenti bilang zombie zombie melulu kenapa sih?”

“Sebenarnya hal ini agak… tidak biasa. Kota ini dikepung…

Peri.”

Hening sejenak.

“Peri?” kata Ranzou dan Attreides bersamaan.

“Mahkluk imut, kecil, bersayap, menebarkan debu bintang, mengabulkan permintaan gadis yang tidak punya baju untuk dipakai ke pesta?” lanjut Ranzou.

Aku berhenti main adu jempol kaki. Ini lebih menarik dari yang kuduga. Aku mencondongkan badanku dan memegang daguku dengan sebelah tangan.

“Itu hanya satu bagian dari peri.” Kataku. “Peri, atau biasa disebut fair folk, sebenarnya adalah salah satu mahkluk tua penghuni benua ini. Mereka mahkluk dengan sihir alami, bisa dibandingkan dengan jin atau mahkluk penunggu seperti sylph dan dryad.”

Mereka semua melihatku. Yah, ini memang tugasku sebagai Mr. Exposition.

“Seperti mahkluk ‘halus’ lainnya” kataku dengan tak lupa memberi tanda kutip isyarat dengan jari saat menyebut kata halus, “Peri adalah salah satu penghuni asli tanah ini. Mereka tinggal disini bahkan sebelum manusia dan le’ak tiba di benua ini. Tapi meski mereka memiliki sihir alami, teknologi dan budaya mereka tidak semaju kaum pendatang, dan mereka perlahan-lahan semakin terusir.

Meski begitu, bukan berarti mereka kalah atau mereka lebih lemah dari kita. Beberapa peneliti bilang mereka hanya pindah ke realita lain yang tidak bisa kita amati. Itu sebabnya kaum mereka disebut ‘mahkluk halus’ “ lanjutku.

Saat mereka memandangku dengan bengong, aku melanjutkan. “Maksudku mereka bisa pindah ke dunia peri” kataku sambil menghela nafas.

“Hmm… kukira peri itu mahkluk baik hati, rajin menabung, dan suka menolong.” Kata Ranzou. “Apa masalahnya, nona?”

Anna melanjutkan.

“Sebenarnya, sudah sejak dulu peri sering terlihat di kota ini. Katanya kota ini didirikan di dekat hutan peri.

Sesekali… peri itu menukar sesuatu dengan hal lain…”

“Maksudnya?”.

“Sesekali… mereka mengambil warga kota… Tapi kami menganggap itu resiko tinggal di dekat hutan peri seperti resiko orang dimakan hewan buas. Tapi akhir-akhir ini… mereka… mengambil terlalu banyak…”

Sophia sang pelayan melanjutkan. “Akhir-akhir ini kami menyadari kalau mereka tiba-tiba semakin banyak mengambil anak muda. Remaja. Lelaki dan Wanita dibawah umur tertentu.. Sampai akhirnya… tak ada lagi orang muda yang tersisa di kota ini. Banyak keluarga memilih untuk pindah. Tapi kemanapun mereka pindah, anak keluarga itu tetap hilang.

Kami berdua adalah wanita muda terakhir yang ada di kota ini.”

Ekspresi Ranzou saat mendengar peri-peri itu menculik wanita muda sulit digambarkan.

“Aku mengerti nona.” Kata Ranzou. “Peri-peri itu sebenarnya bukan sekedar mengambil gadis muda. Mereka mengambil perawan seperti kalian untuk dikorbankan kepada dewa kegelapan terkutuk yang mereka sembah!”

“Tapi hal itu dapat dengan mudah diatasi.” Lanjutnya dengan senyum gentleman sembari memegang tangan kedua gadis itu dan menatap penuh arti. “Cukup semalam…”

Aku menatap Attreides dan dia mengangguk.

“Zou.” Panggilku.

“Ya?”

Saat dia lengah dan melihat ke arahku Attreides berputar dan menendangnya sampai dia terpental keluar area meja.

Saat aku yakin Ranzou tidak akan mengganggu lagi, aku meneruskan penjelasanku.

“Peri adalah mahkluk halus yang paling ingin tahu, jika dibandingkan dengan jin atau lainnya. Makanya secara relatif mereka termasuk sering terlihat dan berinteraksi dengan manusia. Mereka tidak baik atau jahat, hanya saja system budaya dan moral mereka berbeda dengan system budaya dan moral kita.”

Aku menggaruk daguku, pikiranku bekerja memperhitungkan berbagai kemungkinan dan menyusun strategi. “Baiklah. Kami akan mencoba mengatasi ini. Kami belum punya pengalaman menghadapi mahkluk halus, tapi kami suka pengalaman baru.”

Malamnya, aku bersiap di posisi yang sudah kuatur dengan goggles pendeteksi sihir di mataku. Kukira Attreides dan Ranzou telah siap di posisi mereka dengan goggles yang sama.

Peri memang bisa pindah ke dunia mereka dan manusia juga bisa diseret ke sana. Tapi bukannya para peri atau mahkluk halus lain bisa seenaknya pindah-pindah dunia. Sudah jadi pengetahuan umum kalau ada tempat-tempat tertentu dimana batas dunia melemah. Tempat-tempat itu yang biasa dibilang sebagai tempat angker atau semacamnya. Menurut dugaanku, hutan peri ini adalah salah satu tempat itu. Jadi kukira mereka keluar dari lubang dimensi itu, menghilang dengan sihir alami mereka, dan menyeret target mereka ke dunia mereka. Mencari lubang itu seperti mencari jarum tak kelihatan di tumpukan jerami seluas hutan. Jadi kukira bakal lebih praktis kalau kami menangkap satu peri itu dan memukulinya sampai dia menunjukkan dimana lubang dimensi itu berada.

Kedua gadis itu tidur di satu kamar yang sudah kusiapkan (kuakui hal itu membuat kami semua jadi berimajinasi yang bukan-bukan). Kamar itu memiliki pintu yang langsung menghadap ke halaman, tapi aku sengaja memilihnya karena pintu itu adalah satu-satunya jalan keluar masuk dan dapat diawasi dengan mudah. Attreides membidik kamar itu dari atap di seberangnya dengan rifle dan goggles detector sihirnya, sementara Ranzou bersembunyi di suatu tempat di sekitar pintu kamar itu (juga kuakui kalau serius dia hebat juga. Bahkan aku tak bisa mendeteksinya sedikitpun).

Aku? Aku berjaga di kamar atas sambil minum teh. Biasanya hal itu lebih aman daripada terlibat langsung. Hei, aku ini penyihir-strip-ahli strategi, bukan tukang pukul.

Tapi aku tidak bersantai seenaknya. Dari posisiku aku bisa melihat keadaan keseluruhan dan mengkoordinasi gerakan.

Bulan perlahan terbit dan menyinari mansion sunyi itu, membuat bayangan-bayangan terlihat menari dan membuat kami semakin curiga akan setiap gerakan dan bunyi sekecil apapun.

“Aku mendeteksi sesuatu.” Terdengar suara Attreides dari alat komunikasi kami. “Tidak terlihat, terlalu jauh. Tapi sihirnya terdeteksi jelas. Boleh kutembak?”

“Jangan” bisikku. Karena aku tahu ketepatan tembakan Attreides. “Dari tempatmu kamu pasti bisa menembaknya. Tapi tanpa visualisasi, kemungkinan kamu bakal mengenai bagian vital. Kita tidak perlu peri mati, kita perlu peri setengah mati. Serahkan saja pada Ranzou.

Zou, bersiaplah.”

“Aku sudah siap dari tadi.” Katanya kalem.

“Jangan dibunuh.”

“Mungkin bakal sulit, tapi kuusahakan.”

Aku bergidik membayangkan dia sekarang sedang mencabut pisaunya. Peri itu bernasib sial.

Dari earpieceku, aku bisa mendengar suara tawa kecil. Seperti tawa anak-anak. Itu bukan suara Ranzou.

“Ranzou?”

Bulu kudukku berdiri dan aku merinding. Aku mencabut tongkat sihirku. Penyembur api sepanjang sebelas inci itu terasa basah di genggamanku.

“Attreides?”

Sunyi.

“ZOU! ATTREIDES!” kataku, tidak lagi mempedulikan kalau kami harus bersuara sesedikit mungkin.

Terdengar bunyi keresekan. “…engsek” Suara Attreides.

Suara tembakan.

Sunyi.

Tembakan lagi.

Aku berlari ke arah kamar yang seharusnya kami jaga. Dari posisiku tidak terlihat apa-apa. Aku mencabut goggles pendeteksi sihirku dan menjatuhkannya ke tanah.

“Ranzou!”

Hanya terdengar suara cekikikan anak-anak itu lagi dari earpieceku.

Saat aku tiba di sana, aku melihat Ranzou berdiri. Pisaunya tergeletak di lantai.

Aku ingat, di hadapanku berdiri peri. Apa cuma satu? Atau ada beberapa? Aku tidak bisa mengingatnya.

Yang jelas mereka cantik. Sangat cantik. Lebih cantik dari apapun yang pernah kutahu dan bisa kubayangkan.

Lucunya, sekarang aku tidak bisa mengingat atau membayangkan seperti apa wajah mereka. Tapi aku tahu pasti mereka sangat cantik.

Sepertinya mereka tidak memakai busana sama sekali. Atau mereka mengenakan gaun? Atau itu dedaunan?

Yang jelas, salah satunya sedang mencium Ranzou. Dan sialan itu kelihatan sangat senang.

Aku mengangkat tongkat sihirku dan bersiap untuk menyerang. Tapi mereka tidak mempedulikanku. Aku menyumpah dan berlari ke dalam kamar. Hanya ada Anna di situ, tertidur lelap. Terlalu lelap.

Aku berlari ke luar. “Ranzou! Mana Sophia!?”

Ranzou hanya nyengir. “Dibawa pergi.”

“BRENGSEK!” kataku sambil melihat sekelilingku. Aku baru sadar, kalau peri-peri itu sudah tak ada.

Atau mungkin mereka memang sudah tak disini sebelum aku tiba.

Keesokan harinya kami duduk di ruang makan. Ranzou masih tersenyum kosong.

“Percuma.” Kata Attreides. “Bahkan aku sudah melakukan taktik terlarang F-8 kepada Ranzou. Dia tidak bereaksi.”

Aku bergidik. Ouch. Ranzou tidak bakal senang kalau dia sadar nanti.

Anna terlihat sangat gugup dan sedih. Berikutnya gilirannya.

“Ada yang salah. Ada yang salah.” Kataku. “Ada sesuatu yang salah di sini.”

Ini bukan salah Ranzou. Ini salahku sebagai ahli strategi. Aku meremehkan peri-peri itu. Aku tidak yakin di dunia ini ada yang bisa melawan ilusi mereka.

“Lupakan saja, Seinz.” Lanjut Attreides. Dia mengokang riflenya. “Berikutnya kita lakukan dengan caraku. Istirahatlah, Anna. Nanti malam kita akan mengembalikan Sophia.”

Malamnya, aku duduk di kamar bersama Anna. Dia tidak terlihat tertarik untuk tidur sama sekali.

“Kami lengah kemarin.” Kataku. “Tenang saja.”

Sebab hari ini kami akan memakai cara Attreides. Tembak semua yang bergerak, tembak semua yang tidak bergerak, cari yang masih hidup kemudian.

Bulan terbit dalam gelap.

Attreides berlutut di balkon, matanya yang tersisa menempel di teropong senapannya.. Jubahnya berkibar tertiup angin. “

“Mereka datang.”

Terdengar suara tembakan. Satu tembakan lagi bergema. Di luar, terlihat dua mahkluk seukuran burung tergeletak berdarah di tanah. Yang lain masih berwujud gadis cantik, dan kini mereka melihat ke balkon tempat Attreides menembak.

Attreides menembak lagi.

Tapi tak ada yang jatuh. Sebab…

Aku tidak yakin. Mereka bergerak sangat cepat. Atau mereka menghilang? Atau mereka melakukan teleportasi-teleportasi jarak pendek?

Attreides terus menembak. Aku bergerak untuk membantunya.

Tapi Anna menarik lengan jubahku.

Lagipula sudah terlambat. Peri-peri itu sudah berada di seberang halaman sekarang, berhadapan langsung dengan Attreides di atas balkon. Attreides menjatuhkan senapannya dan menarik revolvernya. Dia menembak mereka tanpa henti.

Tapi sia-sia. Aku tidak tahu, berwujud apa peri-peri itu sekarang. Tapi mereka… bercakar tajam… dan bertaring… dan…

Rentetan tembakan itu akhirnya berhenti. “Attreides?” panggilku dari alat komunikasi.

Aku menggenggam tangan Anna, tongkat sihirku siap di tangan lain.

Hening.

Kemudian terdengar cekikikan anak-anak itu lagi.

Aku melepaskan pengangan Anna, mengumpat dan menendang pintu kamar sampai terbuka, dengan kedua tangan mengacungkan tongkat.

Tapi yang ada di hadapanku…

Aku berteriak dan menyemburkan api dari tongkat yang satu dan listrik dari tongkat yang lain. Aku melemparkan bom asap dan bom api dan bom cahaya. Tapi sia-sia.

Mahkluk itu melewatiku yang jatuh berlutut tanpa mampu berbuat apa-apa lagi.

Mahkluk itu melewatiku yang duduk putus asa sambil membawa Anna di tangannya.

Tapi tiba-tiba ada sesosok bayangan lain berdiri di hadapanku.

Ranzou, tersenyum dengan senyum pembunuhnya, pisau di satu tangan dan tangan lain tergantung berdarah..

Sepertinya dia menusuk tangannya sendiri untuk membebaskan dirinya dari ilusi.

Ranzou meloncat menerkam mahkluk itu. “Seharusnya dari kemarin kalian berwujud seperti ini!” teriaknya.

Ranzou menyabet, menendang, menusuk. Mahkluk itu kesulitan menghindari serangannya sembari membawa Anna, dan dia tidak bisa membalas. Dia menjatuhkan Anna ke tanah.

Mahkluk itu membuka mulutnya dan menunjukkan deretan giginya yang setajam belati. Dia mengayunkan cakarnya yang lebih banyak dari yang bisa diterima logika. Tapi Ranzou tidak berhenti.

Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Aku hanya ingat aku menyeret Anna ke kamar, mengunci pintu, dan menggigil sendirian dalam gelap.

Saat aku sadar, hari sudah pagi. Anna masih ada di sisiku. Tapi tak ada tanda-tanda Ranzou atau Attreides. Hanya ceceran darah, bekas sabetan pisau, lubang peluru.

Aku membangunkan Anna. Dan perlu kuakui, caranya tidak terlalu lembut.

“Ada yang salah disini.” Kataku meracau. “Kau tidak menceritakan semuanya!”

Aku tidak mempedulikan interupsinya dan terus meracau sambil berjalan mondar mandir di kamar yang besar itu.

“Peri. Peri. Peri. Mereka bukan mahkluk baik atau jahat. Hanya system budaya dan moralitas mereka berbeda.”

Aku melanjutkan. “Seharusnya dari kemarin kita mulai dari sini. Dari ujungnya. Pangkalnya.”

“Mereka tidak mungkin sengaja menculik manusia tanpa alasan. Oke, sesekali mereka mungkin membawa manusia ke alamnya. Tapi itu rasa ingin tahu! Rasa ingin bermain! Peri adalah mahkluk halus yang paling ingin tahu.

Tapi mereka tidak akan menyerang kota seperti ini. Jelaskan Anna, JELASKAN!”

Anna hanya terduduk sambil menatap lantai.

“Hadiah…”

Aku hampir meracau lagi, tapi saat aku sadar dia mengatakan sesuatu aku diam.

“Mereka tidak menculik warga. Mereka memberi hadiah.”

Hening.

“Kalian sadar? Kota ini terlalu bagus, terlalu besar, terlalu kaya untuk kota terpencil di perbatasan seperti ini. Itu karena… para peri.

Kami tidak sadar. Kami tidak mengerti. Kau ingat? Perang besar? Aku belum lahir waktu itu. Tapi kata ayahku, kota ini hancur. Ekonomi di seluruh benua morat-marit.

Peri-peri itu memberi hadiah. Mereka memberi kami keberuntungan. Mereka memberi kami kekayaan. Dan sesekali mereka mengambil warga kami.

Saat itu kota ini putus asa. Dan kota ini… meminta… bantuan para peri. Kata ayah, saat itu para peri tidak meminta apa-apa.

Mereka hanya… minta… saling bertukar hadiah… yang senilai… nanti… saat ini… Penduduk kota bilang mereka akan menukarnya dengan hadiah yang senilai kelak. Harta yang dihasilkan dari hadiah para peri itu.”

Aku mengerti. Semua masuk akal. Pandangan para peri itu berbeda. Bagi mereka, gadis-gadis ini, orang-orang yang mereka culik, hanyalah harta, hadiah yang seperti keberuntungan dan emas yang mereka berikan dulu. Para peri tidak mengerti kalau manusia menghargai benda hidup dan benda mati secara berbeda. Mereka tidak mengerti nilai benda. Mereka hanya mau hadiah juga, benda yang didapatkan dengan menggunakan hadiah para peri itu.

Anna semakin bersemangat. “Kau tidak mengerti! Penduduk kota sudah berusaha menyelesaikan semua ini! Mereka memberi emas, permata senilai yang telah diberikan peri-peri itu dulu. Tapi peri-peri itu tidak peduli! Mereka terus mengambil anak-anak orang yang telah mendapat hadiah mereka dulu!”

“Tidak perlu dilanjutkan. Aku mengerti.” Kataku dingin. “Aku tahu cara menyelesaikan semua ini.”

Malam itu aku berdiri di alun-alun kota, di tempat terbuka. Tempat dimana aku bisa melihat sekeliling dan sekelililing bisa melihatku. Anna duduk di sampingku, menatapku setengah heran setengah takut. Tapi aku tidak peduli lagi.

Bulan kembali bersinar dari balik awan. Bangunan-bangunan mewah tanpa penghuni berdiri mengelilingiku bagaikan raksasa-raksasa yang membatu.  Dan suara-suara itu terdengar lagi. Suara tawa. Suara cekikikan.

Bola-bola cahaya muncul dari balik pepohonan. Dari semak-semak. Dari kegelapan. Sesekali aku bisa melihat kelebatan tangan atau sayap.

Aku berdiri tanpa ekspresi. Jubahku berkibar ditiup angin malam.

“Kalian curang, para peri!” teriakku sekeras mungkin. “Kalian tidak mengikuti perjanjian yang kalian buat sendiri!”

Anna dan para peri menatapku, mengelilingiku dengan heran. Kali ini tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun.

“Hal yang kalian ambil lebih berharga dibandingkan hal yang kalian berikan!

Manusia menganggap anak mereka lebih berharga dari emas yang kalian berikan!”

Peri-peri itu mengelilingiku. Bergerak naik turun, bersuara penuh ingin tahu.

“Karena itu, aku minta pembayaran ulang! Kembalikan. Kembalikan semua hadiah yang sudah kalian ambil. Sebagai gantinya, kalian bisa mengambil hal lain. Hal lain yang didapat para penduduk kota dari hadiah kalian selain anak dan keluarga mereka.

Ambil kota ini.”

Keesokan sorenya, kereta melambat di stasiun kota Firense sesuai jadwal. Aku meloncat turun sebelum kereta itu benar-benar berhenti, diikuti Attreides dan Ranzou. Mereka menabrakku.

“Oi, Seinz! Kamu ngapain sih?”

Di hadapanku, berdiri Komandan kami beserta Sabarande, sekretaris cantiknya.

“Umm… halo komandan?” kataku.

“Ada yang bisa jelaskan apa maksud jeruk-jeruk itu?” tanyanya sambil melipat bahu.

“Uh… untuk penelitian…” kata Attreides sambil menggaruk kepalanya.

Celadohr menggelengkan kepala.

Alchemist paruh baya itu menghembuskan asap pipanya.“Ayo gerak! Aku sudah mendapat petunjuk tentang benda yang kita cari. Tak ada waktu untuk santai santai lagi, dasar kalian.

Aku sudah menyewa pesawat udara untuk mengantar kita. Skyline Express dibayar perhari, jadi sehari yang terbuang karena kalian hilang, DIPOTONG DARI BAYARAN KALIAN!”

Pesawat itu mengudara dengan perlahan, memberiku waktu untuk melamun sambil menatap kota Firense yang semakin mengecil.

Dan aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah penduduk kota itu masih menganggap… nyawa keluarga mereka sebanding dengan kota yang kutukarkan untuk mereka….

Missing Sidebar

Huh. Entah kenapa banyak benda-benda di sidebar yang ilang. Contohnya blogroll sama outside link. Sejak kapan ya?

Minaret

A/N: Sebuah dongeng pendek dari negeri seribu satu malam.

Minaret-minaret istana megah Kesultanan Baldebaran menjulang tinggi di antara bangunan ibukota kerajaan . Dari salah satu balkon, Sultan Al Unalun mengamati hiruk pikuk kota dengan kesal. Moodnya masih tidak enak, meski dia baru saja mengusir duta besar kesultanan sebelah dan membatalkan pertemuannya dengan para menteri. Sang sultan menggerakkan tangannya untuk menyuruh gadis-gadis pembawa buah-buahan pergi, sebelum menyandarkan diri di pagar balkon yang berukir indah.

“Patih, apa ada kegiatan yang menarik hari ini?” tanyanya. Patih Kerajaan yang berambut putih dan berjenggot lebat itu tidak menjawab. Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk dijawab. Sang patih yang sudah bergenerasi-generasi melayani kerajaan menghela nafas. Sayang sekali, padahal sultan sebelumnya adalah sultan yang baik. Tapi penerusnya hanya bisa bersenang-senang dan menghambur-hamburkan kas istana tanpa berminat sedikitpun untuk mengurus kerajaan.

Bau rempah-rempah, kain bercorak rumit nan indah, dan seribu satu macam barang dagangan yang eksotis dari negeri yang jauh dan dekat berkelebatan diantara hiruk pikuk pasar kerajaan , tapi sang sultan hanya menguap tanpa minat sedikitpun. Tiba-tiba, sang sultan muda mencondongkan badannya. “Lihat, Patih. Pemuda itu mirip sekali denganku!”

Sang patih melongokkan kepalanya. Benar, pemuda berbaju rombeng itu bagaikan pinang dibelah dua dibandingkan dengan sang sultan. “Ya, Sultan. Kata orang, memang di dunia ini ada tiga manusia yang wajahnya persis sama.”

Wajah sang sultan berubah. “Prajurit, bawakan pemuda itu ke singgasanaku.” Patih Faraj memandang sultan dengan tatapan tajam, tapi Sultan mengacuhkan tatapan kakek tua itu.

Sang Sultan duduk di singgasana emasnya dengan wajah terhibur. Di sebelahnya, Patih Faraj mengamati pemuda yang bingung itu. Dari dekat, dia semakin mirip dengan sultan muda.

“Tidak usah takut.” Kata sang sultan. “Siapa namamu? Ceritakan sedikit tentang kehidupanmu”

Takut-takut dan masih bingung, sang pemuda mulai berbicara. “Nama saya Harun bin Huran, yang mulia. Saya berasal dari kota Bulanul. Saya baru saja tiba di kota ini bersama Kafilah Musim Dingin. Orang tua saya sudah lama meninggal. Saya tidak punya harta maupun tempat tinggal. Saya hidup dengan berpindah dari satu kota ke kota yang lain, mengikuti kafilah pedagang, berjualan sembarang benda yang bisa saya dapat dan mengerjakan apapun yang bisa saya kerjakan sekadar untuk makan.”

Sang Sultan tersenyum. “Gantilah bajumu rombengmu dengan jubah yang sudah disediakan, Harun.” Sebentar kemudian, Harun kembali dengan pakaian sutra halus dan rompi berbordir benang emas. Sang sultan bangkit dari singgasananya dan berjalan berdampingan dengan Harun.

“Harun, menurutku, hidup di istana ini sangat membosankan. Aku hanya makan, tidur. Makan, tidur.” Kata Sultan Al Unalun. “Aku bisa membayangkan kehidupanmu. Berpetualang dari kota ke kota. Berjalan bersama kafilah unta di gurun pasir tak bertepi yang memantulkan cahaya keemasan bulan purnama…”

Sultan Al Unalun berhenti berjalan. Harun juga berhenti di sebelahnya.

“Bagaimana kalau kita bertukar tempat untuk sementara? Kamu tinggallah di istana, dan biarkan aku menggantikan tempatmu di Kafilah Musim Dingin.”

“Yang Mulia!” Patih memprotes keras. Tapi Sultan Al Unalun hanya mengayunkan tangannya acuh.

“Tidak ada tapi atau protes, Patih! Dan kamu pasti mau menerimanya kan?”

Dan Harun mengerti kalau dia harus menerimanya kalau masih ingin hidup lebih lama.

“Bagaimana dengan urusan kerajaan?” kata Patih Faraj yang masih kebingungan. Sementara itu Harun hanya bisa terdiam.

“Urus saja sendiri. Suruh Harun menghadiri rapat atau semacamnya untuk menggantikanku. Jangan ganggu aku dengan hal remeh semacam itu.”

Patih Faraj hanya bisa tercengang. Bahkan sang sultan menolak diiringi pasukan pengawalnya. Tapi sultan muda ini memang keras kepala kalau sudah ada maunya.

“Jangan kuatir, kakek tua.” Kata sang sultan yang telah berganti baju. Kini dengan baju lusuhnya, penampilannya nyaris persis sama dengan penampilan Harun saat pertama kali dia muncul kemarin.

“Aku tidak sebodoh yang kamu kira.” Sambil tertawa dia menggoncangkan kantung uangnya yang penuh dinar emas, sebelum pergi menghilang diantara keramaian.

Sang patih menggelengkan kepala. Tapi dia tersenyum dalam hati. Diam-diam, dia telah menukar semua dinar emas di kantung uang sang Sultan dengan logam tak berharga.

Sekali-sekali, memang Sultan Manja ini harus diberi pelajaran. Kalau dia ingin petualangan, silakan saja berpetualang. Semoga dengan ini sang sultan mendapat pengalaman yang berarti.

Dan dibawah bayang-bayang menara istana dan bangunan-bangunan bata yang menjulang, sang patih menutup gerbang belakang istana dengan pikiran penuh. Besok ada pertemuan dengan duta besar kerajaan Rowami. Lalu janji dengan wakil perkumpulan pedagang yang sudah berkali-kali ditunda. Setidaknya Harun bisa membaca dan menulis. Kalau dia bisa belajar sedikit etiket dan tata Negara, sedikitnya bencana besar dan perang yang memakan korban jiwa akan dapat dihindari.

Patih Faraj bin Abdul Fulan berdiri di balkon tertinggi istana sambil memandang ibukota yang ramai dan penuh aktivitas. Seramai keadaan kota kemarin, juga seramai keadaan kota bulan lalu saat semua peristiwa ini dimulai.

Selain dirinya, hanya Sultan sendiri dan Harun yang mengetahui semua kejadian itu.

Ternyata Harun adalah pemuda yang cerdas dan rajin. Memang masih banyak yang belum diketahuinya. Tapi semua bisa ditutupi oleh waktu dan usaha.

Kalau ada orang yang bisa membaca pikirannya, dia bisa dihukum mati meski dia patih kerajaan itu sendiri. Tapi bagaimana lagi. Entah kebetulan atau takdir, dia merasa Harun memang lebih cocok menjadi Sultan dibandingkan Sultan yang asli.

Dalam diam Patih Faraj membakar surat bersandi yang diterimanya dari mata-mata kerajaan. Besok dia akan menyuruh sang mata-mata dibunuh secara diam diam.

Sang Patih tua menatap abu surat yang melayang lamban di atas bangunan-bangunan ibukota Kesultanan Baldebaran yang disinari mentari senja.

Surat tentang ditemukannya mayat Harun bin Huran di tengah padang pasir.

Chocolate Pudding

Chocolate Pudding

A.k.a The ASCCP. Setelah beberapa eksperimen, akhirnya ketemu juga cara buat puding coklat yang enak dan luar biasa gampang, sebagai versi sederhana dari Puding Coklat Super Mewah yang saya buat di rumah.

Bahan:

1 Butir Telur
1 Gelas Susu Coklat
(Susu instant mungkin bisa dipakai, tapi jauh lebih baik kalau pakai susu full cream yang dicampur 2-3 sdm bubuk kakao. Saya sih pakai Susu Full Cream yang dicampur Delfi Hot Cocoa Mix 3 in 1.)
1 sdm tepung maizena
2 sdm gula
1 sdt mentega/margarin
1 sdt vanili

Cara Membuat:

1.Kocok telur, gula dan tepung maizena sampai rata
2.Sementara itu, panaskan susu coklat  sampai hampir mendidih. Kecilkan api
3.Sisihkan kurang lebih seperempat gelas susu panas. Campurkan seperempat gelas susu panas itu dengan adonan telur sedikit demi sedikit sambil diaduk.
4.Masukkan campuran telur dan susu ke panci. Aduk terus dan jaga jangan sampai mendidih. Masukkan mentega/margarin. Puding siap diangkat kalau mulai terbentuk lapisan di sendok pengaduk.
5.Angkat puding, masukkan vanili, aduk sebentar sambil mendinginkan, lalu taruh di gelas.

Bisa segera dinikmati hangat-hangat, atau dinginkan di kulkas dan nikmati setelah mengeras.
Untuk puding yang lebih padat, gunakan 2 kuning telur sebagai ganti 1 telur.

Untuk 1-2 Porsi

Tawa Yang Bergema Di Tengah Malam

Perpustakaan kota sihir Fresia adalah bangunan tua yang duduk menyedihkan di salah satu sudut terlupakan kota bagaikan bisul menahun di sudut pantat manusia. Seperti bisul menahun pula, kau selalu melupakannya sampai bisul itu membengkak di saat rapat penting dan membuatmu dipelototi bosmu karena kau bertingkah saat dia akan menjelaskan bagian terpenting dari rencana pelebaran franchise poporing rasa keju perusahaanmu.

Kebanyakan penduduk Kerajaan akan langsung teringat dengan Menara Fresia yang menjulang tinggi di tengah kota saat kau menyebutkan kota sihir itu. Tak salah, karena Menara itu adalah pusat akademi sihir tempat penyihir-penyihir muda belajar untuk tidak menggunakan fireball di dalam ruangan. Sebagian orang teringat akan ruang bawah tanah kota yang membentang seluas kota itu sendiri, tempat para penyihir membuang hal-hal memalukan mereka; seperti persilangan antara harimau dan jamur yang kini berkeliaran mencari mangsa (entah penyihir mabuk mana dulu yang menyilangkan dua spesies yang sama sekali tak mungkin jatuh cinta secara alami itu), lalat-lalat sebesar lemari (yang terjadi secara alami akibat terlalu lama terkurung di laundry akademi sihir), atau foto para profesor saat pesta kelulusan terakhir.

Sama sekali tak ada yang teringat akan perpustakaan. Padahal, perpustakaan adalah bagian penting dari setiap akademi, apalagi akademi sihir. Orang awam selalu mengira sihir adalah hal-hal menyilaukan yang menyebabkan badai suara ‘wooow’ atau ‘aaaah’ dari kerumunan, saat bola api membakar, kilatan petir meloncat dari ujung tongkat, atau kepala berubah menjadi labu. Padahal itu hanyalah setengah dari sihir keseluruhan. Setengah lain adalah berkutat semalaman di tengah tumpukan buku berdebu yang menyebabkan kantuk (sebagian memang membuat orang tertidur begitu dibuka karena kutukan kuno).

Tapi Kapten Frederick Beerstain selalu ingat akan perpustakaan itu meski dia berusaha untuk melupakannya. Saat reuni sekolah, kalau tidak ditanya tentang asal nama keluarga memalukannya (dengan sabar dia menjelaskan tentang kakek buyutnya yang mabuk di sensus) dia selalu ditanya akan pekerjaannya kini. Dan dengan senyum manis dia akan memberi tahu pekerjaannya sebagai Kepala Satuan Keamanan Perpustakaan Kota Fresia, yang bagi alumni Akademi Ksatria hanya sedikit lebih berprestise dibandingkan jabatan Komandan Pasukan Penyedot WC Kota Betelgusa.

“Jadi…” kata salah seorang temannya di salah satu reuni. “Sebenarnya apa pekerjaan Satuan Keamanan Perpustakaan itu?”

Setelah menenggak cukup banyak bir murah Frederick akan cukup mabuk untuk menjelaskan. “Yah… mencegah pencurian buku dan menjemput buku yang dipinjam terlalu lama… Kurang lebih seperti tukang pukul bagi lintah darat. Cuma kami tidak berurusan dengan uang, hanya buku. Dan kami tidak bekerja bagi lintah darat, tapi perpustakaan.”

Saat ini Frederick mengingat kembali percakapan dengan temannya itu. Sebab hal yang dihadapinya saat ini tidak termasuk deskripsi pekerjaannya.

Sebab dia berdiri di depan pustakawan perpustakaan fresia yang tewas secara menggenaskan di mejanya.

“Pembunuhan…” kata Frederick kepada anak buahnya. Tidak perlu menjadi detektif terkenal untuk mengetahui hal itu. Karena kecuali pustakawan ini menggelitik dirinya sendiri sampai mati, dia tidak mungkin tewas kehabisan nafas dengan bibir menyunggingkan tawa seperti ini sendiri. Sebenarnya mungkin juga dia hanya overdosis jamur tertawa, atau gas bius (para penyihir muda sering membuatnya secara ilegal) namun tak ada tanda-tanda kedua zat itu di sekitarnya. Dan sang pustakawan dengan baik hati menuliskan pesan terakhir yang bergetar di mejanya.

“Dia tidak mau mengembalikan buku…”

Dan seperti pesan terakhir lainnya, pesan itu selalu terputus di tengah jalan dan nyaris tak berguna.

“Apa tidak sebaiknya kita membiarkan polisi mengurusnya, Pak?” tanya seorang anak buahnya.

“Ini termasuk yurisdiksi kita” jawabnya. “Lagipula polisi tidak akan menganggap serius kasus ‘orang yang tidak mau mengembalikan buku pinjaman‘ ini. Mereka selalu sibuk dengan kasus ‘pencurian artifak yang dapat menghancurkan dunia’ atau semacamnya.”

Frederick melayangkan pandangan ke pemuda-pemuda harapan bangsa di sekelilingnya. “Tidak ada jalan lain. Kita terpaksa harus…”

“Jangan bilang… “ kata anak buahnya sambil menjatuhkan pedangnya.

“Apa saja… asal bukan itu… » kata seorang lagi dengan tubuh menggigil.

“tidak… jangan lagi…” kata seorang yang berlutut sambil memegangi kepalanya.

Petir entah kenapa menyambar di luar. Siluet Frederik bergetar di antara buku buku.

“Membereskan katalog peminjaman!” Katanya kepada anak buahnya diiringi teriakan memelas dan bunyi tubuh-tubuh berjatuhan. Frederick mengepalkan tangannya di hadapan lemari katalog raksasa yang menjulang bagai raksasa kelebihan hormon. “Demi nama kakekku aku bersumpah…”

“…KITA AKAN MENEMUKAN ORANG YANG TIDAK MAU MENGEMBALIKAN BUKU ITU.”

“Ini masalah serius,” kata Kapten Frederick saat dia duduk di kafe bersama sahabatnya. “Ada seseorang yang tidak mau mengembalikan buku pinjaman dari perpustakaan.” Dia berusaha untuk mengacuhkan betapa absurdnya kalau dua kalimat itu digabung.

“Well… beberapa buku memang cukup berharga,” kata seorang penyihir wanita. Rambut acak-acakan tak terurus dan Kacamatanya setebal pantat botol yang disengat lebah.

Kepala Pustakawan Alexia Icengale sudah bersahabat dengan Kapten Frederick sejak mereka duduk di bangku sekolah. Sebagai penyihir, Alex adalah seseorang yang, menurut kata-kata gurunya, tidak memiliki bakat sihir sedikitpun di dalam tubuhnya, seperti kambing tidak memiliki bakat untuk terbang. Tapi Alex sangat cerdas, dan seperti kambing, dia juga sangat keras kepala dan suka melahap buku, karena itu ia berhasil mendapat jabatan kepala perpustakaan Fresia.

Pekerjaan seorang pustakawan perpustakaan kota sihir agak sedikit lebih berbahaya dari bayangan orang. Beberapa buku agak rewel tentang peletakan mereka dan akan berkelahi satu sama lain kalau tidak cocok dengan teman satu rak. Sebagian suka meledak kalau dibuka tiba-tiba. Ada sebagian buku yang suka menyanyi semalaman tanpa mempedulikan para pustakawan yang sedang pusing karena lembur. Tapi biasanya, biasanya sih, tidak ada resiko kematian.

” Misalnya edisi pertama Lord of the Bling,” kata Alexia, menyebutkan judul novel petualangan best seller berdasarkan kisah nyata Fri dan teman-temannya dalam petualangan mereka merebut the One Bling dari tangan the Dark Pimp-Lord. “Itu bisa dijual dengan harga mahal di tempat lelang.”

“Entah kenapa aku tidak yakin kalau sang penjahat ini sekadar tertarik pada uang.” Kata Frederick sambil menyatukan kedua tangannya di depan dagu. “Tahu sendiri, menurut rumor perpustakaan kita menyimpan buku-buku yang cukup berbahaya.”

“Sebenarnya memang banyak buku-buku berbahaya yang disegel, buku mengerikan di luar pemahaman manusia yang dapat membuat orang menjadi gila hanya dengan melihat sekilas isinya,” jawab Alexia. “Tapi Buku-buku itu ditaruh di lantai bawah tanah dan disegel dengan Magic Seal level 3 dan dijaga 24 jam oleh anak buahmu.

“Misalnya buku… Tentacle Hentai Doujin Collection Vol 1 karangan Agarham . Kabarnya, semua orang yang pernah membaca buku itu mengurung diri di kamar seumur hidup, dan berteriak ketakutan begitu mendengar kata poring. Termasuk buku berbahaya level S. Atau Pengantar Filosofi karangan filsuf terkenal Aristocrates. Orang yang membaca satu halaman saja dari buku itu akan terobsesi untuk memikirkan ‘apa arti hidup ini,’ ‘kenapa jeruk dinamakan jeruk dan bukan gobledegook,’ dan ‘mana yang lebih dulu ayam atau telur’ sampai mati.”

“Ada buku yang bisa memberi kekuatan tak terbatas menggunakan perjanjian dengan iblis atau semacamnya? Biasanya pasti ada buku-buku semacam itu di perpustakaan kuno.

“Kalau ada, pasti kami tahu,” kata Alexia sambil memotong steaknya.

Frederick menghela nafas sembari mendengarkan lelucon garing dari Badut yang malam itu tampil di panggung. Hanya satu orang yang tertawa, tapi itu karena si badut dilempar tomat oleh seorang penyihir muda. Tapi dia tidak memperhatikan. Karena kasus ini lebih sulit dari dugaannya.

Menurut ilmuwan terkenal Albret Enistien, waktu itu relatif. Menurutnya kalau kau sedang bersama wanita cantik satu hari akan terasa seperti satu jam (dia sempat membuat rumusnya, E=MC2 dengan E adalah Enjoy, M adalah Masa yang berlalu, dan C adalah kecantikan temanmu) sedangkan kalau kau menunggu giliran masuk WC umum saat sedang diare satu menit akan terasa seperti satu abad. Albret Enistien juga terkenal dengan perutnya yang tidak tahan pedas, meski hal itu tidak ada hubungannya dengan cerita ini. Tapi kata-katanya terngiang di telinga Frederick saat dia berjalan-jalan malam itu. Malam terasa begitu panjang saat kau tidak bisa tidur karena memikirkan kasus.

Dan tanpa sepengetahuannya, ada orang lain yang memikirkan kata-kata Albret Enistien yang sama malam itu. Tapi bukan karena dia sedang diare atau memikirkan kasus. Tapi karena dia sedang sekarat.

Dan tebasan sabit kematian yang membebaskan terasa begitu lamban datangnya.

Malam hari Fresia di akhir minggu hanya bisa dibandingkan dengan malam hari di Kota kasino dan karnaval Vas Legas. Dengan banyaknya penyihir muda yang menjadi penduduk Fresia, hanya Vas Legas yang bisa lebih ribut, penuh ledakan, dan lebih penuh orang mabuk yang tidur di pinggir jalan dengan kepala berhiaskan semangka. Karena itu awalnya Frederick tidak menyadari bahwa orang yang terduduk di sudut jalan yang gelap itu membutuhkan perhatiannya.

Awalnya Frederick mengira orang itu mengalami kecelakaan dengan resleting saat buang air (Hal yang sebenarnya terlalu sering terjadi di akhir minggu, pikir Frederick sambil mengernyitkan wajah. Operasi yang harus dilakukan untuk membereskannya bukan hal bagus untuk dilihat). Tapi kemudian ksatria itu menyadari kalau celana orang yang terbungkuk-bungkuk dan mengeluarkan suara mencicit itu tidak terbuka.

“Hei, kau tidak apa-apa?” tanya Frederick. Orang itu tidak menjawab dengan kata-kata yang dikenal Frederick. Dia hanya berkata “Umf!” dan “Mbha!” dan “Halp!”

Frederick menghela nafas. Satu hal yang tidak dibutuhkannya adalah mahasiswa asing yang sakit perut. Orang itu tidak tampak terluka. Kemungkinan besar dia hanya mabuk.

“Sini. Dimana tempat tinggalmu?” kata Frederick sambil mendekat. Tiba tiba dengan kecepatan yang luar biasa orang itu menegakkan badannya. Tangannya mencengkram baju seragam Frederick bagaikan zombie yang kebanyakan minum kopi. Secara refleks ksatria itu mencengkram pedangnya dan bersiap menebas. Tapi kemudian dia menyadari kalau lawannya memiliki organ tubuh yang masih lengkap dan meskipun bau, bukan zombie nyasar.

Orang itu menatap wajah Frederick.

“Kenapa… ayam… menyebrang… bw… bwaaahahahahhaha!” katanya. Ternyata dia dari tadi terbungkuk-bungkuk karena menahan tawa. “Ayam… menyebrang jalan ternyata… gyaahahahahahhahah!” Orang itu memukul-mukul lengan Frederick sambil tertawa begitu kerasnya, sampai-sampai air mata mengucur deras dari kedua matanya.

“Oke.. oke…” kata Frederick. Orang ini hanya mahasiswa yang habis pesta. Frederick mundur menjauh sedangkan orang itu tetap tertawa berguling-guling di tanah.

Si ksatria menghela nafas. Enaknya masa muda, masih bisa tertawa sepuasnya seperti ini dan belum mengerti akan kesulitan hidup.

“Ayam! Mbwfwahahahahahah!”

“Hey, kau tidak apa-apa?” tanya Frederick. Wajah orang itu mulai memerah karena terlalu banyak tertawa. Kemudian menjadi ungu. Kemudian membiru. Tawanya sama sekali tidak berhenti.

“Hei! Bernafas dulu!” teriak Frederick sambil berusaha membangunkan pemuda itu. Ampun, jangan bilang orang ini overdosis.

Bayangkan wajah seseorang yang nyaris tenggelam, diangkat dari kolam, kemudian sebelum dia bisa mengambil nafas seseorang membenamkannya lagi ke kolam. Sementara satu orang lagi memukuli perutnya, satu orang mengitik-kitik telapak kakinya, dan satu orang lagi memberinya uang 100 juta gulden . Sudah? Lipat tigakan intensitas ekspresi wajahnya dan wajah seperti itulah yang kini dilihat Frederick.

“Tolong! Dokter!” teriak Frederick. Teriakannya bercampur dengan tawa sang pemuda yang semakin keras dan histeris.

Hanya tembok dingin kota Fresia yang mendengar sementara tawa itu memantul dan bergema dalam kegelapan lorong-lorong kota yang diam.

Frederick dibangunkan oleh ketukan di pintu. Seorang ksatria dari kesatuan polisi Fresia menyapanya.

Frederick menjatuhkan selimutnya ke lantai kantor kepolisian.

“Stress memikirkan ada buku yang tidak ditaruh di rak yang cocok, Beerstein?” kata orang itu. Entah bagaimana ada orang yang begitu berbakat mengejek sampai kata-kata sederhana itu terdengar bagaikan monyet yang menari dengan pantat merah besar diarahkan ke mukanya. Sambil melemparinya dengan kulit pisang.

“Ada urusan apa, McMontier?” kata Frederick sambil menyapu kulit pisang imajiner dari mukanya.

“Ah, hanya ingin memberitahumu kalau kau tidak perlu memikirkan tentang kasusmu lagi. Kepolisian sudah mengambil alih.” Kata kapten polisi itu.

“Apa!? Bagaimana? Kenapa! Kami hampir menemukan pelakunya! Kami hampir selesai mencocokkan daftar buku yang belum dkembalikan itu!”
(sebenarnya masih 12.872 buku lagi, tapi McMontier tidak perlu tahu itu, pikir Frederick)

“Kau semakin tumpul Beerstein. Kalau mengingat dulu kau salah satu murid terbaik akademi kita… Kau tahu dari mana buku yang hilang itu benar-
benar berhubungan dengan kasus ini?” kata Kapten McMontier ketus.

“Seorang pustakawan tewas kehabisan nafas dengan mulut menyunggingkan senyum. Seorang penyihir muda tewas dengan tawa terpatri di wajahnya. Tak tanda perlakuan fisik, sihir, atau kimia di tubuh mereka. Sepertinya kasus ini memang berhubungan.

Tapi apa betul ini ada hubungannya dengan buku yang hilang itu? Bisa saja itu hanya kebetulan? Bisa saja pustakawan itu cuma sedang menulis catatan biasa saat dibunuh. Satu-satunya hasil yang akan terjadi dari penyelidikanmu adalah katalog peminjamanmu menjadi rapi!”

“Itu…” kata Frederick pelan. Dia tahu kata-kata lawan bicaranya itu benar, tapi… “ Insting…”

“Silakan mencari buku yang hilang atau hal remeh lain sesukamu, Beerstein. Kami polisi sungguhan harus menyelidiki kasus sungguhan.” Kata McMontier. Setelah berkata begitu dia pun pergi.

Frederick memandang polisi itu pergi dengan hati mendidih. Dia merasa ada hal penting yang lepas dari perhatiannya, petunjuk tentang kasus ini yang mengganjal di ujung lidah.

Atau mungkin itu cuma sisa kare tadi malam.

Sementara Frederick memikirkan 1001 cara mati paling menyakitkan untuk Kapten McMontier, Alexia bergadang di perpustakaan. Meskipun sebagai ketua pustakawan dia bisa mengawasi langsung dari kejauhan dan menyusun strategi, Alexia lebih suka terlibat langsung. Dia bukan tipe komandan yang baik, dia tahu itu. Sebab dia terlalu suka terjun ke medan pertempuran bersama pasukannya. Dia terlalu menikmati pertarungan, merasakan langsung adrenalin mengalir deras di darahnya, bergulat dengan bahaya, dan memberi komando di garis depan. Keringat menetes di tengah pusaran darah dan air mata, sementara kertas bergesekan dengan kulit dan kepala berbenturan dengan rak buku. Para pustakawan bekerja sama dengan satuan pengamanan. Inilah medan perpustakaan yang sebenarnya!

“Ketua! Martin terjatuh!” teriak salah seorang pustakawan. Seorang pemuda nampak tergeletak di pangkuan temannya, tangannya menggenggam erat jemari sang sahabat. Alexia bergegas berlari ke arahnya.

“Ed…” katanya dengan mata berkaca-kaca.

“Martin… bertahanlah. Jangan tinggalkan aku sendiri…” kata sahabatnya.

“Aku sudah tak kuat lagi…” matanya semakin sayu. “Biarkan aku… tidur…”

“Martin! Martin! Jangan menyerah! Jangan tertidur! Kalau tertidur kau tak akan kembali lagi!” Ed menampar wajah sahabatnya berkali kali, air matanya mengalir. Tapi genggaman sahabatnya mengendur. Dan diiringi teriakan sahabatnya… tubuh Martin terkulai lemas….

“MMMMAAARTIIIIIIN!!!!”

Sang sahabat menggendong tubuh Martin diiringi isak tangis. Alexia berusaha menghiburnya. “Dalam pertempuran… selalu jatuh korban…”

“Sial Martin… kenapa kau harus gugur. Sekarang aku harus memeriksa rak 12C sendiri…” kata Ed di sela isak tangisnya.

Alexia menggigit bibirnya. Satu orang lagi telah jatuh. Apa mereka benar-benar bisa bertahan?

Dia berusaha menghiraukan luka-lukanya. Tangannya terbalut perban setelah tergores ujung halaman buku. Kepalanya benjol karena tertimpa Ensiklopedi Midworld volume 213. Tapi dia tak boleh menyerah. Tidak setelah mereka berjuang sejauh ini.

Seperti katanya, kalau ada buku berkekuatan sihir maha dahsyat atau semacamnya pasti sudah ada penyihir yang menggunakannya sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu. Penyihir memang iseng kaya gitu. Lagipula ada kejadian tahun 64’ saat setengah Midworld hancur karena dua penyihir memanggil Odin menggunakan ‘Ultimate Sacred Holy Light Book of Oracular Activity And God Summoning Stuff And Things’ untuk menyelesaikan debat mereka tentang kacang rebus. Sejak ‘War of Holy Nuts’ itu semua artifak sihir berkekuatan tinggi disimpan langsung di lantai tertinggi menara Fresia.

Mungkin… buku untuk orang tertentu? Seperti misalnya buku ‘catatan akuntansi istana’? Alexia berpikir keras. Kebanyakan orang tak akan mengerti isinya meski membaca tumpukan angka-angka itu. Tapi bagi orang yang mengerti angka-angka itu akan sangat berguna. Atau buku yang tidak topiknya tidak populer. Sehingga jarang dibaca secara mendetail. Hm, apa mungkin di salah satu buku resep masakan kuno tertulis resep ramuan keabadian misalnya?

Dan kenapa buku itu tidak disalin saja? Kecuali buku itu tidak mungkin disalin. Atau kalau dia mengembalikannya, ada kemungkinan orang lain akan mendapatkan apa yang ditemukannya!

“Ketua, kami judul sebagian buku yang belum dikembalikan dengan alasan misterius.” Kata salah seorang pustakawan. “Belum semua, tapi setidaknya kita bisa mulai mendatangi mereka.” Alexia membaca sekilas. ‘Memories of Rune Midgard.’ ‘Necrotelecomunicon.’ ‘History of Comic Book.’

Dan kenapa mereka berisik sekali di belakang?

“Hoi! Kalau lagi kerja jangan ketawa-ketiwi!” kata Alexia. Tapi suara tawa itu tidak berhenti juga…

“Kenapa….”

“Ayam…”

“Menyeberang…”

“Jalan…”

Deg!

Alexia menyadari apa yang terjadi dan dia segera menutup telinganya. Kini dia mengerti kenapa kasus ini bisa terjadi.

Sambil berteriak keras dia mengarahkan tongkat sihirnya ke asal suara dan melepaskan bola api. Tapi serangan asal-asalan itu hanya menabrak tembok. Bola api itu meledak dengan suara keras dan kepulan asap. Di tengah keributan yang terjadi Alexia menerjang kepulan asap itu dan menembus lubang yang terbentuk di tembok.

Bulan baru saja akan terbenam dan matahari masih lama terbitnya. Belum ada orang di jalan, sebab tepat jam-jam inilah Fresia mulai tertidur. Alexia berlari sekuat tenaga, jantungnya berdebar kencang. Tongkatnya sudah terjatuh terlupakan entah dimana, kedua tangannya menekan telinganya sekeras mungkin. Sesekali dia melihat satu-dua orang yang masih bangun.

“Pergi dari sini! Tutup telinga kalian!” teriaknya. Tapi dia sendiri sebenarnya bisa membayangkan. Kalau misalnya dini hari dia melihat orang lari-lari sambil menutup kuping dan teriak-teriak seperti itu dia juga akan menganggap orang itu orang gila.

Dan di setiap lorong yang dia lewati, di tengah kegelapan, terdengar tawa bergema. Tawa lelaki. Tawa perempuan. Tawa orang-orang yang tak sengaja berpapasan dengannya. Mereka tidak salah apa-apa, mereka hanya kebetulan berada di jalan yang dilewatinya. Tapi semua sudah terlambat.

Saat bulan mulai tenggelam dan pagi belum menjelang, itulah saat terdingin pada malam hari. Dan Alexia belum pernah menemukan dirinya menggigil seperti saat ini.

Ini sia-sia saja. Kalau orang itu sudah cukup dekat…

Dan dia bertubrukan dengan seseorang.

“Pergi dari sini! Tutup telingamu!” teriak Alexia, meski dia tahu itu sia-sia.

“Alexia?” kata orang itu. Apa yang terjadi?

“Frederick!”

Alexia menarik nafas lega. Dia langsung menarik temannya ke salah satu gang gelap.

“Penjahat itu datang ke perpustakaan! Aku tidak tahu nasib para pegawai, tapi aku takut hal yang terburuk telah terjadi… Dan kemungkinan kita tidak akan selamat!

“Kau tahu cara kerja humor?” tanyanya. “Humor berkaitan erat dengan memori manusia. Kalau orang mendengar suatu lelucon, otak akan mencocokkannya dengan bank memori. Lelucon yang paling lucu adalah lelucon yang belum pernah didengar!

Menurut legenda, tidak ada lagi lelucon yang benar-benar orisinal di muka Midworld ini… Semua lelucon sudah pernah diucapkan kecuali satu.

Buku yang hilang itu… memiliki satu lelucon original terakhir di dunia!”

Terdengar suara keresekan dan bayangan hitam muncul dari balik tembok. Frederick dan Alexia menahan nafas. Ternyata orang itu adalah… badut yang sama sekali tidak mereka kenal!

“Jangan mendekat!” kata Frederick sambil menghunus pedangnya. “Berikan seranganmu yang terbaik, aku siap untuk apapun!” katanya seperti kata-kata terakhir Jendral Von Arthur yang tewas tertimpa piano saat memimpin tentara Rubaldia di garis depan Great War 2.

Frederick menghela nafas. Kalau saja ini novel detektif, pikir Frederick, pasti penjahatnya adalah orang yang kami kenal. Mungkin ternyata penjahatnya adalah sahabatku atau semacamnya. Atau minimal tokoh yang sudah pernah dideskripsikan. Sayang ini kehidupan nyata. Yah, atau mungkin ini sebuah cerita pendek dengan halaman terbatas.

“Sejak pertama kali manusia turun dari pohon dan hidup di gua,” kata badut yang sebelumnya hanya pernah muncul di satu kalimat itu, “ manusia sudah melontarkan satu pertanyaan.

Kenapa unggas itu menyeberang jalan? Kenapa?

Itu adalah lelucon pertama di dunia. Karena begitu tuanya umur lelucon itu dan seringnya lelucon itu berpindah pikiran, kini lelucon itu dianggap sebagai lelucon paling tidak lucu di dunia.

Sebab tidak ada yang tahu apa sebenarnya bagian kedua lelucon itu! Padahal, lelucon itu adalah lelucon pertama dan terlucu di dunia. Lelucon yang menembus batas bahasa dan budaya. Lelucon yang begitu lucu sampai semua orang yang mendengarnya akan mati! Kecuali aku tentunya.

Sebab aku mendapatkan naskah asli lelucon itu dari buku “History of Comic Book. Dan aku tak mungkin membiarkan orang lain mendapatkannya!
Aku akan menguasai dunia… dengan lelucon! Dan aku akan membunuh kalian sebelum kalian menggangguku!”

Kalau saja suasananya tidak begitu berbahaya, Frederick ingin jungkir balik karena kekonyolan semua ini. Tapi semuanya juga begitu masuk akal. Beberapa lelucon hanya efektif kalau diceritakan lewat mulut! Karena itu orang tidak menyadari lelucon di buku itu berkekuatan dahsyat! Tapi tetap saja karena badut itu sudah membaca lelucon itu di buku dia sudah tahu punchline lelucon itu dan dia kebal akan efek sang lelucon original.

“Kau kira aku akan membiarkanmu menguasai dunia dengan erh… menyebarkan lelucon?” kata Frederick sambil memasang kuda-kuda. “Mulut, bersiaplah berkenalan dengan pedang!”

Frederick tahu itu sia-sia. Lelucon itu jauh lebih cepat daripada serangan ataupun pembacaan spell manapun. Tapi tidak ada jalan lain…

Frederick tidak pernah mengira dia akan mati karena bekerja sebagai penjaga perpustakaan. Huh, tahu begini aku jadi pengawal istana atau pembersih kandang chimera saja, pikirnya. Setidaknya matiku bakal lebih keren.

“Kenapa ayam menyeberang jalan? Karena…”

“Tidak, Frederick!” Teriak Alexia

Frederick meloncat. Seluruh hidupnya terbayang di kepalanya. Semua reuni dengan teman-temannya. Semua percakapan tidak penting tentang nama dan pekerjaannya.

Frederick berteriak.

“Karena dia bosan menjadi bahan lelucon yang tidak lucu!”

Hening sesaat.

Hening.

Dan suara tawa memecah kegelapan.

“Bw..bwah… bwaahahahhahha”

Sang badut tertawa terbahak-bahak. “Itu… adalah… lelucon paling nggak lucu yang pernah kudengar… Hahahahahahahah!”

Pagi menjelang. Frederick duduk di atas tubuh seorang badut yang bonyok bonyok tanpa sempat mengucapkan lelucon berbahayanya.

“Padahal sebenarnya aku hanya ingin menjadi pelawak yang disukamph…” kata sang badut sebelum Frederick menyumpal mulutnya dengan kaos kaki.

Alexia duduk di sebelahnya. Dan berdua mereka memandang siluet kota Fresia yang terbingkai cahaya keemasan.

Onion

Onion

Onion

I like to eat raw or slightly cooked red onion. It smells really  good, and way less tangy compared to Garlic.

There was a strange reason for my fondness on onion. Back then in my childhood, there was a Wrigley’s Spearmint Gum advertisement in TV. It featured a man eating raw red onion. I always wondered, how does it taste? That man seems to really enjoy it, so it must be really good.  One thing leads to another, and now I throughly like the taste and smell of red onion.