Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Watcher Sleeper Dreamer’ Category

Mind is man’s final frontier
Man’s last stronghold, and man’s main weakness
Mind is mankind’s liberation
And Mind is mankind’s ultimate prison…


Part 2
The Dreamer

”Kiamat sudah dekat… sebentar lagi kita semua akan mati!”

”Berani-beraninya anda lewat begitu saja di depan napoleon yang perkasa, nona.”

“Tolonglah, kalian harus percaya kepadaku. Aku ini orang dari masa depan, yang dikirim ke tahun ini untuk mencegah bencana besar!”

Aku mengacuhkan semua ocehan orang-orang itu, sambil terus membaca laporan-laporan yang diketik rapi itu. Kemudian aku tersadar kalau aku belum mengenakan kartu identitasku. Aku langsung merogoh ke sakuku dan mengambil sebuah kartu identitas, kemudian memasangnya di saku jas dokterku.

Virginnia Quinn
Ahli Jiwa
Rumah Sakit Jiwa Rockham, New York.

…………..

Aku berjalan melewati lorong-lorong sempit dan memperbaiki letak kacamata bacaku, sembari membaca laporan-laporan yang diberikan oleh para perawat. Setelah cuti beberapa hari, memang banyak sekali hal yang harus kuperhatikan.

“Dokter! Pasien di kamar 271 mulai membentur-benturkan kepalanya lagi ke tembok!” teriak seseorang dari salah satu kamar.

“Berikan dia obat penenang dengan dosis 2 kali lipat biasanya, dan tidurkan di kamarnya!” balasku.

Sementara itu, aku menyadari, kalau satu kamar yang biasanya kosong, telah terisi oleh seseorang.

Pasien ini baru saja tiba 2 hari yang lalu, saat aku sedang tidak ada di sini. Rumah sakit kota new york menyerahkannya kepada kami setelah mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadapnya.

Aku membuka pintu kamar pasien itu, dan mengamati seorang lelaki berambut hitam dengan mata dibalut, sedang duduk menatap sudut kamar dalam keheningan.

Tiba-tiba saja aku menggigil. Gedung kuno ini memang dingin dan lembab. Banyak yang bilang gedung tua ini berhantu atau sejenisnya, tapi aku sama sekali tidak percaya hal-hal semacam itu.

”Jane, ada keterangan apa tentang pasien kita yang ini?” tanyaku, sembari aku merapatkan jas dokterku.

“Sepertinya, dia merupakan seorang detektif swasta kelas B yang cukup dikenal di sebagian kalangan, dokter Quinn.” Kata asistenku itu.
“Minggu lalu, dia ditemukan oleh sepasang polisi yang sedang berpatroli dini hari, duduk di tengah jalan sepi dengan darah membasahi wajah dan tangannya.

“Sepertinya…
Dia menghancurkan matanya sendiri…”

Suasana hening sejenak sementara aku membaca laporan yang tersusun rapi itu.
.
”James…

Marlowe…” gumamku sembari membaca nama pasien yang terketik di kertas laporan.

Selama beberapa saat, aku mengamati lelaki itu dari ambang pintu. Dia tidak melakukan apa-apa, hanya diam dan menatap sudut ruangan.

Aku berhenti sejenak, sebelum berbalik dan berjalan ke arahnya. Tiba-tiba saja, dia sudah menatap ke arahku.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan duduk di hadapannya.

“Tuan Marlowe… perkenalkan. Aku dokter Quinn, yang ditugaskan untuk merawatmu.” Kataku sambil terseneyum, meskipun aku tahu dia tidak akan bisa melihatnya.

Dia tidak mengatakan apa-apa.

“Anda tahu kenapa anda dimasukkan kesini, tuan Marlowe?”

Hening

Dia tidak mengatakan apa-apa, ataupun menunjukkan reaksi kalau dia mendengarku. Aku hanya menatapnya selama beberapa waktu, menunggu sampai dia menunjukkan reaksi apapun. Tapi dia tidak bergerak sedikitpun.

“Dokter Quinn, ada orang yang mencari anda di lobby.”

Aku menulis beberapa catatan di notebookku, sebelum bangkit dan berjalan ke arah pintu. Tapi tiba-tiba, terdengar suara.

“ …aku… telah melihat apa yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh mahkluk mortal manapun… ”

Aku berhenti sejenak, dan berbalik berjalan ke arahnya.

”Tapi setidaknya… aku tidak perlu melihat apa yang akan kalian lihat kelak… dokter Virginia” katanya sambil memegang perban di wajahnya. Aku baru membuka mulutku untuk menanyakan hal lain, tapi dia sudah kembali membisu dan kembali menatap sudut ruangan yang gelap.

Berjalan menyusuri lorong, aku memkirkan pasien baruku tadi. Tiba-tiba aku sadar. Darimana dia tahu nama depanku? Aku sama sekali tidak pernah menyebutkannya…

…………….

Aku dengan cepat melupakan kejadian tadi. Mungkin seseorang sudah memperkenalkan dokter yang akan merawatnya, atau dia mendengar namaku dari perawat yang kebeetulan lewat. Tidak jadi soal. Pikiranku terpaku kepada orang yang mencariku ini.

Lelaki itu mengenakan jas coklat yang rapi. Dengan rambut gelap dan kacamata berbingkai hitam tipis. Saat aku memperkenalkan diri, dia merogoh saku jasnya yang rapi dan mengambil kartu namanya.

“Biro hukum Wilson and Smith” gumamku curiga.

“Perkenalkan, nona Quinn.” Katanya ramah sembari menyodorkan tangannya. Aku menyalaminya. “Nama saya Jones, Matthew Jones. Saya pengacara dari biro hokum Wilson and Smith.”

“Ada perlu apa?” tanyaku. Seingatku aku tidak pernah berbuat sesuatu, yang mengharuskanku berurusan dengan biro hokum apapun.

“Anda kenal Profesor William Shalkner?” tanyanya.
Aku mengingat-ingat sebentar. “Ya. Beliau kerabat jauh saya, meskipun saya sudah lama tidak bertemu dengan beliau. Kalau tidak salah, beliau meninggal beberapa waktu yang lalu?”

“Sebulan yang lalu, tepatnya. Dan beliau tidak memiliki kerabat dekat. Beliau merupakan salah satu klien kami yang paling lama. Kami menghabiskan waktu sebulan ini untuk mencari kerabatnya yang terdekat. Dan ternyata anda adalah orang tersebut.”

“Untuk apa?”

“Untuk apa lagi? Tanyanya. “Warisan tentu saja.”

Dan tiba-tiba saja, aku mewarisi sebuah mansion besar penuh barang antik.

Aku tidak begitu ambil pusing dengan diwariskannya mansion megah itu. Satu-satunya yang berubah adalah, aku yang tadi tinggal di apartemen sewaan, kini tinggal di rumah mewah milikku sendiri. Aku tidak perlu mengurus banyak hal. Matt mengurus sebagian besar tetek bengek, aku hanya perlu menandatangani sedikit di sini dan disana, berkas pajak yang akan dilunasi oleh penjualan beberapa koleksi paman, dan hal-hal semacam itu.

Sampai suatu malam, aku terbangun dari tidurku. Aku memang agak sulit tidur.

Aku melirik jam. Beberapa saat lewat tengah malam. Aku terduduk sebentar di tempat tidurku, sebelum beranjak keluar dari kamarku. Tiba-tiba aku merasa haus sekali.

Aku baru menuangkan air ke gelasku di dapur, saat tiba-tiba aku menggigil kedinginan. Baju tidurku memang tipis, tapi aneh sekali. Baru saja aku merasa kepanasan di kamarku.

Sembari meminum air tersebut, aku berjalan ke ruang tengah sambil mengamati sekeliling. Kalau dipikir-pikir, aku memang belum sempat menjelajahi mansion ini dengan menyeluruh, sejak aku sepenuhnya pindah ke sini minggu lalu. Sepi juga, seorang wanita muda sepertiku tinggal sendirian di rumah besar seperti ini. Ibu tidak mau ikut kesini, katanya dia lebih suka tinggal di rumah kami di kota kecil yang sepi itu.

Saat aku menyentuhkan tanganku di salah satu patung marmer di ruang tengah, aku baru sadar kalau banyak sekali barang antik di rumah pamanku ini. Meskipun sebagian besar sudah dijual, dan sebagian lagi disumbangkan ke museum. Sebenarnya aku tidak begitu suka dengan barang antic, tapi karena aku belum sempat mengurusnya lebih lanjut, rumah ini masih agak mirip museum kecil.

Saat aku memikirkan untuk meminta Matt menjualkan sisanya, tiba-tiba aku menggigil lagi. Aku melihat sekelebatan berwarna putih.

Ternyata ini sebabnya aku merasa dingin dari tadi. Salah satu jendela terbuka, dan angin malam kota ini menyelusup masuk dengan bebasnya. Mungkin aku lupa menutup jendela ini tadi sore.

Tiba-tiba aku merasa tidak nyaman di mansion ini. Apa sebaiknya aku sekalian minta Matt menjual rumah ini ya?

Apalagi pada malam hari seperti ini. Begitu sepi. Dengan langit-langit yang tinggi, udara bergerak bebasnya. Terkadang meskipun semua jendela sudah ditutup, angin masih berhembus dingin.

Aku merapatkan tanganku dan bergegas ke kamar. Langkah kakiku bergema, membuatku semakin ingin cepat tidur lagi.

Saat tiba-tiba terdengar suara.

“Siapa disana?” kataku.

Jantungku berdegup begitu kerasnya, sampai aku mengira akan mendengar gema suara itu. Aku berjalan ke ruang tengah, tempat suara benda bergerak tadi terdengar. Tidak ada apa-apa disana. Aku menghela nafas lega.

Sampai aku sadar. Salah satu patung marmer menghadap ke arah yang berbeda.

………..

“Matt.. ini serius!” kataku sembari mengaduk kopiku. Matt hanya tersenyum sambil menghabiskan sandwichnya. Akhir-akhir ini, kami semakin akrab. Sudah beberapa kali kami makan siang bersama di café sebelah balai kota, tempat dia dan aku harus mengurus surat-surat warisan.

“Itu hanya perasaanmu, Ginny…” katanya.

“Tapi bukan hanya kali itu.” Kataku kepada pemuda berkacamata itu. “Sejak itu, aku diam-diam sering menandai benda-benda antik yang ada di sana. Benda-benda itu memang bergerak!”

“Hei hei, dokter Quinn.” Katanya cemas. “Apa kamu tidak terlalu banyak bergaul dengan orang-orang gila itu di tempat kerjamu? Kamu mulai terdengar seperti mereka!”
Aku tidak berkata apa-apa lagi.

Setelah istirahat siang, aku kembali ke tempat kerjaku. Jadwal hari ini adalah wawancara rutin dengan pasien, kali ini James Marlowe.

Sejak bulan lalu, dia belum pernah berkata apa-apa lagi. Itu adalah pertama sekaligus terakhir kalinya dia berbicara. Aku tidak berharap kalau pertemuan kami kali ini akan membawa hasil, ini hanya salah satu pertemuan rutin kami.

Kami berdua hanya saling memandang untuk menghabiskan waktu. Aku menghela nafas dan membaca laporan pekerjaanku. Sama sekali tidak ada perkembangan. Lagipula, aku tidak bias berkonsenterasi, dengan kurangnya jam tidur, dan rasa paranoidku yang semakin menjadi-jadi.

“Dulu anda detektif ya?” kataku sambil lalu. “Kalau saja anda bias membantuku menyelesaikan masalah ini. Aku yakin anda pasti sudah berpengalaman dengan wanita paranoid sepertiku…”

Dia tentu saja, tidak menunjukkan tanda tertarik sama sekali. Aku hanya berbicara sendiri untuk menghabiskan waktu. “Benar-benar aneh. Tidak ada yang namanya mahkluk halus atau sejenisnya, itu sudah pasti. Satu-satunya penjelasan adalah, ada orang yang masuk ke rumahku, dan menggeser-geser perabotanku. Hanya Tuhan yang tahu kenapa… Tidak mungkin hantu paman entah karena apa menggeser-geser perabotannya sendiri. Dia memang meninggal dunia di sana, tapi, meskipun, misalnya aku percaya dengan hantu-hantuan, dia kan meninggal secara wajar. Kenapa dia balik ke sini untuk jadi desainer interior?”

“Ada apa sih di Mansion Shalkner itu?”

Aku terkejut saat mendengar suara benda jatuh.

Dengan rasa heran, aku menatap James Marlowe yang gemetar tidak karuan, baru saja dia menjatuhkan gelas yang ada di meja.

“Dokter Quinn… Virginia… Anda.. sekarang tinggal di Mansion Shatner?”

“…Ya?” kataku heran. Aku sampai lupa untuk menanyakan hal-hal yang lebih penting, padahal jarang-jarang dia berbicara.

Tiba-tiba saja dia berlutut, masih gemetaran hebat. “Sudah… sejak kapan… anda tinggal di mansion itu dokter Quinn…”

“Kurang lebih sebulan ini?” kataku heran, melihat perubahan kelakuannya yang begitu mendadak.

“Tinggalkan.. tinggalkan mansion itu sekarang juga… PERGI DARI SANA SEKARANG JUGA!” teriaknya histeris.

“Tuan James?”

“Jangan… JANGAN SENTUH AKU!” teriaknya. Tiba-tiba saja dia menjadi histeris, dan melemparkan barang-barang ke segala arah. Aku terpaksa keluar dan memanggil bantuan. Beberapa menit kemudian dia sudah dipegang oleh empat orang perawat, salah satunya menusukkan jarum berisi obat penenang.

Hal terakhir yang dikatakannya sebelum obat itu menghilangkan kesadarannya adalah, Sebuah nama, nama jalan..

Esoknya, tuan James Marlowe ditemukan tewas di kamar tidurnya. Dia menggantung dirinya menggunakan selimut.

Pesan terakhirnya yang ditulis dengan darah adalah.

“Aku tidak perlu merasakan apa yang akan kalian rasakan”

………….

Tanpa perlu disuruh, malam berikutnya aku sudah berada di jalan yang disebutkannya itu. Tempat itu ternyata sebuah bar. Dari pernak-pernik yang ditinggalkan paman, aku tahu kalau bar kelas menengah ini merupakan bar langganannya.

Saat aku mengatakan rencanaku kepada Matt untuk pergi ke bar itu, matt melarangku dengan cemas.

“Sudahlah Gin, lupakan saja semua kejadian ini.” Katanya. “Ini semua hanya akibat kamu terlalu banyak bekerja. Coba liburan sebentar, dan lihat apakah kamu masih sulit tidur.”

“Matt.” Kataku. “Sudah kubilang, semua ini bukan imajinasiku. Mungkin ada sesuatu di kematian paman. Saat aku memeriksa arsip-arsip tuan James Marlowe, kasus terakhir yang diperiksanya adalah kematian pamanku. Aku tidak percaya tentang hal-hal bodoh semacam hantu atau sejenisnya, pasti ada penjelasan logis mengenai semua ini. Lagipula, buat apa detektif macam dia menyelidiki hantu? Dia pasti mengetahui kalau ada hal yang salah di kematian paman.”

Matt hanya menggelengkan kepalanya,

“Menurutku kematian paman William bukan penyakit jantung biasa. Tapi yang penting bukan bagaimana paman tewas. Tapi MENGAPA pamannya tewas.” lanjutku

“Sepertinya paman bukan dosen arkeologi biasa. Rumah itu terlalu mewah, terlalu penuh barang mahal, untuk seorang profesor arkeologi. Mungkin seorang profesor terkenal seperti paman memiliki penghasilan tambahan, tapi tetap saja aneh.”

“Aku curiga, jangan jangan ada sesuatu di mansion itu. Satu-satunya alasan yang terpikir, mengapa ada orang-orang yang menggeser barang saat aku tidak tahu adalah, mereka mencari sesuatu..”

Matt menatap mataku dengan khawatir. “Sebentar lagi aku akan mengambil cuti Gin. Mungkin kita bisa berlibur bersama. Kalau memang menurutmu ada yang aneh di sini, nanti aku akan membantumu menyelidikinya. Pokoknya, jangan berbuat hal yang aneh-aneh.”

Bar itu cukup nyaman. Bunyi musik Jazz mengalun dari sisi ruangan, sementara obrolan ringan para pengunjung mengiringinya. Aku merapatkan mantelku, dan duduk di depan counter.

“Gin dan Tonik saja, tuan bartender.” Kataku kepada bartender setengah baya itu. Dengan cepat, pesananku terhidang, dan aku menghirupnya sembari melayangkan pandanganku ke seluruh ruangan.

“Baru kali ini datang ke sini, nona?” Tanya bartender itu saat dia baru mengantarkan pesanan ke salah satu pengunjung.

“Begitulah.” Kataku. “Tapi dulu paman saya sering datang ke sini. Makanya saya penasaran.”

“Tempat yang cukup menyenangkan kan?” Tanya bartender tua itu. “Siapa paman anda?”

“Profesor William Shalkner”

“Ah…” katanya. “Beliau merupakan salah satu pelangganku yang paling setia… Dan dia juga sahabatku.”

“Benarkah?” tanyaku penuh minat.

“Ya” katanya tersenyum sedih. “Sayang beliau meninggal begitu cepat.”

“Dulu, ada seorang detektif yang menyelidiki kematiannya ya?”

Dia nampak terkejut mendengar kata-kataku. “Anda tahu dari mana nona…?

“Quinn.” Kataku. “Aku dokter di rumah sakit. Detektif yang menyelidikinya, James Marlowe bukan? Dia dirawat di bawah pengawasanku sekarang.”

Bunyi saksofon yang hangat memenuhi ruangan, dan aku menghabiskan minumanku sebelum melanjutkan perbincanganku dengan bartender tua itu.

“Jadi nona yang sekarang menempati mansion lamanya professor?” katanya tertarik.

“Begitulah…” kataku. “Benar-benar tempat yang besar dan penuh barang antik. Aku tidak heran kalau paman tewas dibunuh akibat perampokan, tapi paman tewas dengan wajar kan? Kenapa ada orang yang ini menyelidikinya ya?”

“Entahlah…” katanya sambil menggaruk dagu. “Aku hanya seorang bartender. Satu-satunya yang bisa kulakukan untuk keponakan sahabat baikku adalah ini.”

Dia menuangkan minuman lagi ke gelasku. “Kali ini gratis” katanya sambil tersenyum. “Asal nona melanjutkan kebiasaan paman anda untuk sering-sering main ke sini” kedipnya.

Malamnya, sebelum tidur aku melamun sebentar. Tidak ada hal penting yang kudapat di bar itu sebenarnya. Hanya saja, itu merupakan awal yang baik untuk penyelidikanku.

Rumah sakit masih menyimpan barang-barang yang dimiliki James Marlowe saat dia mulai dirawat. Mungkin ada petunjuk di dalamnya. Tapi sementara ini, aku mau tidur dulu.

Sesaat sebelum aku terlelap, tiba-tiba saja aku kedinginan lagi. Aku mengeluh dan bangun. Sepertinya ada jendela yang lupa kututup lagi hari ini.

Jadi di tengah malam, aku berjalan mengelilingi mansion mewah itu, mencari-cari jendela yang masih terbuka. Anehnya, tidak ada jendela yang terbuka. Tapi aku masih merasa kedinginan. Aku merapatkan tanganku, dan berjalan ke dapur. Sepertinya aku butuh susu hangat. Dan mengganti gaun tidurku ke gaun yang lebih tebal.

Untuk menuju ke dapur, aku lagi-lagi harus melewati ruang tengah yang penuh barang antik itu. Semakin lama aku semakin merasa tidak nyaman untuk lewat di situ malam-malam. Aku benar-benar harus meminta Matt membantuku menjualnya.

Cahaya bulan membuat patung dan lukisan-lukisan itu agak menyeramkan. Bayangan dan pantulan sinar di lukisan, mambuat beberapa lukisan nampak berbeda kalau dilihat dari sudut yang berbeda.

Seakan bergerak.

Bayangan salah satu patung marmer juga nampak bergerak.

Aku menjatuhkan gelas berisi susu itu. Bayangan patung tidak mungkin bergerak kalau sumber cahayanya diam. Ada sesuatu di sana.

Dengan khawatir, aku menyambar salah satu tongkat antic yang dipajang di dekat dapur. Aku bias menangkap basah pengacau itu kali ini.

“Siap atau tidak… aku datang…” kataku kepada diriku sendiri, sembari aku mendekati bayangan misterius itu.

…………………

…………

……

“Dia sudah lama tidak masuk ke kantor?” tanyaku heran.

Direktur rumah sakit itu mengangguk. “kami sudah mengirim beberapa surat peringatan kepada nona Quinn. Tapi tidak pernah ada balasan.”

“Itu tidak mungkin!” kataku keras. “Alasannya untuk menolak beberapa ajakanku terakhir kali adalah, dia sibuk bekerja!”

“Sudahlah tuan Jones” kata direktur rumah sakit itu. “Aku tidak tahu sudah sejauh mana hubungan kalian, tapi hadapilah. Mungkin dia bersama laki-laki lain, atau mungkin dia hanya tidak mau melanjutkan hubungan kalian. Yang jelas, dia sudah lama tidak datang ke pekerjaannya.”

Aku berjalan melewati lorong rumah sakit itu dengan kesal. Tidak mungkin Ginny meninggalkanku seperti itu.

Namaku Matthew Jones, dan aku seorang pengacara muda dari biro hukum Wilson and Smith.

Sudah beberapa hari, orang yang cukup dekat denganku hilang. Namanya adalah Virginnia Quinn, seorang dokter jiwa di rumah sakit jiwa Rockham.

Hal terakhir yang dikatakannya sebelum menghilang adalah…
Dia semakin sulit tidur.

Aku sudah mencarinya kemana-mana. Ke rumah teman-temannya yang kutahu. Ke rumah orang tuanya. Tidak ada kabar sama sekali.

Rumahnya sendiri, mansion besar peninggalan pamannya, kosong sejak sebulan yang lalu.

Terakhir kali aku melihat ke sana, rumah itu tampak seperti museum tua yang berdebu.

Ginny tidak membawa apa-apa dari sana, semua pakaiannya masih tersimpan rapi di lemarinya.

Satu-satunya petunjuk yang ada di kepalaku adalah… terakhir kali… dia sedang menyelidiki kematian pamannya…

Tempat terakhir yang terpikir olehku adalah tempat ini. Apartemen lama Ginny. Meskipun aku tahu, tidak mungkin dia ada di sini. Apartemen ini sudah dijual sejak berbulan-bulan yang lalu, dan belum ada yang membelinya.

Tapi entah karena apa, aku pergi ke sana.

Aku menggedor pintunya pada malam itu.

“Virginnia? Ada orang?”

Tidak ada jawaban. Tapi aku tahu, ada seseorang di sana. Ada suara di salah satu kamar. Dan ada bekas orang keluar masuk.

Aku menggelengkan kepala. Bukan saatnya mikir macam-macam. Kemudian aku langsung mendobrak pintu apartemen di lantai tiga itu.

“Ginny! Ini aku, Matthew!” teriakku. Suaraku bergema di apartemen kosong itu. Memang ada orang di sini. Tapak kaki membekas di lantai penuh debu, beserta sampah yang berserakan. Pembungkus makanan yang masih baru.

“Virginia!” teriakku, saat aku keluar masuk ruangan, mencari orang yang tinggal di sana.

Sampai aku tiba di tempat, yang kukira merupakan bekas ruang tidur.

Suara-suara itu berasal dari sana.

Aku langsung mendobrak pintunya.

“Ginny!” teriakku, saat melihat gadis itu ada di sana.

Tidak ada perabotan apa-apa di sana, selain sebuah radio yang menyala pelan dan sebuah kompor. Virginia nampak duduk menontonnya, tangannya memeluk lutut. Virginia menatap ke arah radio, tapi sepertinya dia tidak memperhatikan apa yang dilihatnya.

Di sekelilingnya, nampak sampah, bekas pembungkus makanan. Dan bergelas-gelas plastik. Bekas kopi. Di dekatnya, berbungkus bungkus kopi nampak bergeletakan.

“Gin…?”

Aku menghentikan kata-kataku saat dia berbalik ke arahku. “Matthew…?” katanya lemah.

Aku terkesiap melihat keadaannya. Matanya dikelilingi lingkaran gelap, tanda kurangnya tidur. Tubuhnya begitu kurus, dan wajahnya sayu. Bajunya nampak lusuh dan kotor. Dan dia memegang sebilah pisau di tangan kirinya.

“Gin.. apa yang…”

Aku baru sadar setelah mendekat. Di ruang remang-remang ini, tidak begitu kelihatan. Tapi lengan kanannya… penuh bekas sayatan.

“Aku tidak boleh bermimpi Matthew…” katanya. Mulutnya beraroma kopi, dan tangannya bergetar. Saat aku mendekat, dia bergerak mundur perlahan. “Ginny. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi!”

“Kalau aku mimpi… dia akan bangkit… dia akan bangkit!”

Aku berusaha menenangkannya, tapi dia nampak tak peduli.  Dia bergerak semakin dekat ke sisi ruangan.


“Tapi aku begitu mengantuk…”

Sebelum aku mampu mencegahnya… dia melompat melewati jendela.

Aku hanya bisa terpaku saat gadis itu tewas bersimbah darah.

Radio di depanku bersuara ribut, tapi aku tidak ada satu katapun yang masuk ke telingaku.

Di depan televisi itu, tergeletak beberapa lembar koran, buku-buku catatan, dan sebuah diary yang terbuka.

Sebuah potongan puisi dari lembaran kertas lain yang ditempel.

Dan coretan yang bergetar,.
I Dream. I Am.
I Dream.

Iklan

Read Full Post »

Part 1
The Watcher.

New York, 1934.

Malam semakin larut di kota yang tak pernah tidur ini

Aku memandang minuman di gelas yang kupegang sambil kugoyang-goyangkan. Bar kelas menengah ini, semakin ramai semakin larutnya malam. Bartender di hadapanku sibuk melayani pelanggannya yang bertambah banyak, diiringi dentingan piano yang mengalun lembut.

Tapi segala keributan di sekitarku nyaris tidak masuk ke telingaku. Sebab pikiranku penuh dengan hal-hal lain.

Padahal awalnya ini sederhana saja.
Semua dimulai dengan telepon yang berdering di kantorku pada suatu dini hari.

………………

Aku terbangun oleh telepon yang berdering tepat di sebelah kepalaku. Aku mengedip-kedipkan mataku sejenak. Sinar lampu jalanan New York merembes masuk melalu sela-sela tirai jendela yang kotor, memberi sedikit penerangan ke ruang kecil dan berantakan yang kusebut kantorku itu.

“James Marlowe, detektif swasta.” Aku memandang ke jam tanganku yang berdetik pelan. Orang bodoh mana yang menelepon dini hari begini Kepalaku berdenyut-denyut. Seharusnya aku tidak minum sebanyak itu malam sebelumnya.

Pikiranku dipotong oleh suara wanita yang kukenal. Siapa lagi yang tahu kalau aku biasa tidur di kantorku?

“James?”
Nada suara temanku itu agak aneh, tapi aku tidak tahu dimananya. Di latar belakang, terdengar suara kereta subway melintas. Sepertinya dia menelepon dari telepon umum di stasiun kereta bawah tanah.

“Berikan aku satu alasan bagus untuk tidak langsung membanting gagang telepon dan kembali tidur, Sarah…”

“… Bagaimana kalau… mungkin aku akan mati hari ini…”

Aku terdiam sebentar, sembari menunggu otakku berfungsi dengan sempurna. Memangnya, apa yang dilakukan orang, kalau pada dini hari seseorang meneleponnya dan berkata kalau mungkin dia akan mati.

“…Ini bukan salah satu rencanamu untuk membuatku membayar hutang-hutangmu kan?”

Sarah tertawa. “Bukan… tapi setelah kupikir-pikir, seharusnya aku bisa memakai cara ini dari dulu ya.”
Tawanya terdengar gugup.

“…Okay. Jadi, apa yang sedang kamu telusuri kali ini? Jeez… jangan bilang Mafia lagi. Baru saja aku susah payah menyelesaikan masalah terakhirmu dengan Don Parvotti.”

Wartawan mantanku ini memang terlalu sering bergesekan dengan hal-hal yang sebaiknya tidak usah didekati.

“Seandainya sesederhana itu…” katanya lagi. “Aku sudah keluar dari Tribune minggu lalu James. Ini tidak ada hubungannya dengan liputanku…”
Kali ini aku yakin. Dia benar-benar terdengar ketakutan.

“Kini aku tahu… mereka selalu mengawasi kita, James. Mereka ternyata selalu melihat kita. Dan aku bisa melihat mereka sekarang! Aku bisa melihat semuanya…. Aku… Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa kupercayai, hanya tinggal kamu yang bisa kuhubungi.”

Suaranya terdengar bergetar saat dia melanjutkannya. “Lihat hal terakhir yang kutelusuri James, aku mempercayakan ini padamu sekarang. Kamu harapan terakhir kita… Aku menyerahkannya sepenuhnya terhadap penilaian dan keputusanmu. Kalau kamu gagal… berarti memang sampai di sini saja….”

“Sarah?” aku mengerutkan keningku. Tidak ada satupun kata-katanya yang masuk ke akalku.

Tapi dia tidak ada di situ lagi. Aku tahu, teleponnya tidak ditutup. Tapi dia sudah tidak berada di ujung sebelah sana.

Aku menimang-nimang gagang telepon sebentar, memikirkan apa yang baru saja kudengar. Kemudian aku mengangkat bahu dan melanjutkan tidurku.

…………..

Paginya, aku terbangun lagi oleh ketukan di pintu kantorku. Dengan penampilan acak-acakan, aku membukanya, dan melihat seorang lelaki bermantel menunjukkan lencana kearahku.

“Polisi.”

Aku menguap saat orang itu dan beberapa polisi berseragam masuk sebelum kupersilahkan. “Ada masalah pak polisi?”

Lelaki bermantel itu mengamati mejaku yang berantakan, dan menoleh ke arahku. “Anda James Marlowe?”

“Yeah.” Kataku sambil mengambil gelas dan mencari-cari kopi dingin sisa kemarin.

Dia mengeluarkan notebooknya, dan melanjutkan menanyaiku. “Kenal dengan nona Sarah Brightman?”

“Kami pernah berhubungan, ya.”

“Mantan Istri?” tanyanya sambil mengamati kliping koran yang dibungkus bingkai berdebu.

Aku tertawa. “Nyaris. Memangnya apa yang terjadi dengan Sarah?”

“Dia ditemukan tewas pagi ini.”

Aku nyaris menjatuhkan gelas yang kupegang. Tapi aku menjaga ekspresiku tetap terlihat senormal mungkin. “Dia tewas? Apa yang terjadi?”

“Lebih tepatnya… bunuh diri. Tadi pagi, dia melemparkan tubuhnya ke hadapan kereta subway yang sedang melintas.”
Tidak mungkin. Wanita seperti itu tidak mungkin bunuh diri.

“Anda yakin? Saya kenal Sarah, rasanya dia tidak mungkin bunuh diri.”

“Masinis kereta itu sendiri yang melihat Sarah meloncat ke hadapannya. Tidak ada seorangpun di stasiun itu selain Sarah.” kata polisi itu sembari mengamati tempat sampahku yang penuh. “Ada sesuatu yang aneh mengenai dia akhir-akhir ini?”

Aku hampir saja mengatakan tentang telepon yang kuterima. Tapi entah kenapa, kata-katanya yang ketakutan terus terngiang-ngiang di telingaku.

“Tidak. Tidak ada.”

……………

Siangnya, aku sudah berada di depan pintu apartemen Sarah. Banjir berbagai pikiran memenuhi kepalaku, mulai dari berbagai kenangan, penyesalan akan reaksiku atas teleponnya, sampai rasa penasaran akan apa yang sebenernya terjadi.

Aku memandang kartu nama yang diberikan detektif polisi tadi, sementara rokokku mengepulkan asap. Letnan Howard Stone. Sebelum ke sini, aku mampir ke New York Tribune, koran kelas menengah tempat Sarah bekerja. Menurut pimpinan redaksinya, Letnan Stone juga sudah mampir ke sana.

“Jadi Sam…” tanyaku kepada pemimpin redaksi yang masih muda itu. “Memangnya apa yang sedang diselidiki oleh Sarah terakhir kali, sebelum dia tewas?”
Aku melirik keluar melalui jendela kecil di pintu ruang redaksi yang agak gelap ini. Para wartawan nampak berlalu lalang di lorong, membawa kertas-kertas, akan melakukan entah apa, sementara salah satu mantan kolega mereka baru saja tewas.

Sam berhenti menggunakan mesin tik yang merupakan satu-satunya perabot di mejanya.

“Ah, Letnan Stone juga menanyakan hal yang sama tadi…” katanya sambil memandangku dari balik kacamata tanpa bingkainya. “Dan jawabanku juga sama.”

“Hal terakhir yang diselidikinya adalah… kematian Profesor William Shalkner, kira-kira sebulan yang lalu…”

Aku mengingat-ngingat nama itu sebentar. William Shalkner, seorang profesor arkeologi ditemukan tewas di rumahnya, sebulan yang lalu. Tidak ada sesuatu yang menarik perhatian, Cuma berita kecil di sudut koran sore.

“Tapi Sam… Itu…”

“Yup!” potong laki-laki itu. “Tidak seperti standar bahan berita yang biasa dikejar Sarah, kan? Biasanya Sarah mengejar sesuatu yang lebih berbau… skandal…”

“Menarik…” gumamku sambil memegang dagu. “Lalu, apa hasil penyelidikannya?”

“Tidak ada,” jawab Sam. “Seperti yang juga kubilang ke polisi, Sarah belum memberikan hasil apa-apa kepadaku. Tiba-tiba saja aku menerima surat pengunduran diri darinya sekitar seminggu lalu, dan sejak saat itu aku tidak mendengar kabar darinya sedikitpun.”

Kipas angin di atas ruangan itu berputar dengan malasnya, memberi satu-satunya suara di ruangan itu, sementara aku diam untuk berpikir, dan Sam tidak mengatakan apa-apa lagi.

Jadi siangnya aku berdiri di depan pintu apartemen Sarah, dan memasukkan kunci ke lubangnya. Dia tidak mengganti kunci pintunya… Aku membuang rokokku dan mematikannya, lalu langsung masuk ke dalam. Sepertinya polisi sudah datang ke sini dan menggeledahnya. Tapi jelas mereka tidak menemukan sesuatu yang berarti. Karena mereka tidak mengenal Sarah seperti aku…

Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi apartemen ini. Apartemen sederhana, yang jelas jauh lebih rapi dari kantorku. Aku ingat kenapa kami tidak jadi menikah beberapa tahun lalu. Kami terlalu mirip satu dengan yang lain. Aku berjalan menuju ruang tidur di apartemen 3 kamar itu, dan membuka lemari bajunya. Berusaha untuk tidak memikirkan nostalgia apapun, aku mengecek dasar rak bajunya, dan menarik sebuah kotak sepatu pesta. Aku membukanya. Kotak itu kosong sama sekali.

Revolver itu dibawanya. Ini berarti banyak hal.

Kemudian aku melangkah menuju kamar mandi, dan membuka pintu rak obat-obatan di atas wastafel. Lalu aku meraba-raba dinding rak itu sebentar, sampai aku menemukan cekungan tempat aku memasukkan jariku. Dengan bunyi klik pelan, aku menarik dinding dalam rak tersebut, membuka sebuah lubang rahasia. Lubang itu nyaris kosong sama sekali. Kecuali sebuah amplop berwarna coklat.

Dan beberapa menit kemudian, aku sudah menghilang dari situ, meninggalkan apartemen Sarah persis sama seperti saat aku datang.

Sebenarnya, aku juga tidak begitu mengerti kenapa aku melakukan semua ini. Sesampai di kantor, aku menyingkirkan beberapa surat permohonan kasus yang berserakan di atas mejaku, dan langsung membuka amplop coklat dari apartemen Sarah itu.

Cahaya redup mentari sore membuat bayangan asap rokokku terlihat pudar, selagi aku membaca satu persatu kertas bertulisan tangan Sarah, dan foto-foto hitam putih koleksinya. Beberapa foto menunjukkan profesor William bersama kolega-koleganya. Yang lain menunjukkan gambar mansion mewah professor William dari luar dan dalam. Kelihatannya menjadi profesor arkeologi lebih membayar dari yang dikira sebagian orang.

Salah satu foto langsung menarik perhatianku begitu keluar dari amplop. Foto mayat profesor William tergeletak di lantai, yang jelas direproduksi dan diperbesar dari foto polisi, diberi lingkaran dengan tinta merah di dekat tangan mayat tersebut. Aku mengambil kaca pembesar dan mengamati apa yang dilingkari oleh Sarah.

Gambar mata. Dan kelihatannya dibuat menggunakan darah, meskipun tidak begitu jelas di gambar yang buram dan hitam putih itu. Tidak mungkin polisi tidak mengetahui tentang gambar tersebut. Tapi sepertinya mereka tidak menganggapnya penting. Atau tidak menemukan sesuatu yang berarti darinya. Tapi Sarah jelas menganggapnya penting.

Kemudian aku melanjutkan membaca semua hasil penelusuran Sarah yang ada di hadapanku.

Yang jelas. Sampai saat itu, aku masih merasa kalau ini adalah masalah yang sederhana. Pembunuhan, yang sudah sering kulacak. Meskipun kali ini lebih personal.
……………

Profesor William Shalkner, adalah seorang profesor arkeologi terkenal yang memfokuskan dirinya ke penelitian mengenai artifak-artifak mesir kuno. Beberapa bulan yang lalu, dia memimpin ekspedisi untuk membuka piramid yang baru ditemukan di Mesir. Dia baru saja kembali ke amerika, sekitar 2 bulan yang lalu, bersama sebagian besar artifak yang baru ditemukannya. Sebagian besar artifak tersebut akan dipajang di museum arkeologi New York, setelah beliau beserta para koleganya selesai meneliti artifak-artifak yang dititipkan di rumahnya tersebut.

Aku menemukan hal apa yang dianggap menarik oleh Sarah. Ternyata, selain Profesor William, sebagian besar peneliti arkeologi yang ikut bersamanya menggali piramid tersebut juga tewas, meskipun tidak dalam rentang waktu ataupun cara yang menunjukkan sebuah pembunuhan berantai. Misalnya, supervisor penggalian tersebut, Monsieur Courau, tewas akibat kecelakaan mobil di mesir setengah tahun yang lalu. Kolega Profesor William yang lain, Profesor Max Seigner, tewas tertabrak kendaraan bermotor di Hamburg 3 bulan yang kemudian. Profesor William sendiri meninggal akibat serangan jantung. Mungkin satu-satunya yang menarik, Profesor Abdoul, tewas bunuh diri di rumahnya, yang terletak di London bulan lalu.

Nyaris tak ada hubungan yang berarti, tapi Sarah mencatatnya untuk suatu alasan. Satu hal lagi yang menarik perhatiannya (dan perhatianku) adalah, isi terakhir dari jurnal Profesor William.

Not Egyptian.
Digaris bawahi dengan 2 garis merah.

Itu adalah entri terakhir dari jurnalnya, kira-kira sehari sebelum kematiannya.

Tapi setelah kematiannya, semua artifak yang ada di rumahnya sudah dipindahkan ke museum. Dan para kurator sudah memastikan kalau semua artifak tersebut memang asli artifak mesir kuno. Yang berarti entri terakhir jurnal tersebut tidak berhubungan dengan artifak yang diperolehnya dari mesir.

Sarah tidak menanggapnya demikian, sepertinya. Dari semua tulisannya, aku menyimpulkan bahwa setelah mencocokkan daftar artifak yang ditemukan di mesir, dan artifak yang dipamerkan di museum Sarah menemukan ada beberapa artifak yang hilang, dan benda itu sepertinya memegang arti tertentu dalam kematian Profesor William. Polisi sepertinya tidak menyelidiki sampai daftar barang-barang yang ada ditemukan di mesir.

Sarah yakin kematian Profesor William adalah pembunuhan, yang kemungkinan besar berhubungan dengan artifak yang hilang tersebut. Well… aku mulai bisa melihat bau skandal di sini, khas Sarah. Sarah mencatat beberapa tempat yang biasa didatangi profesor William, dan salah satunya adalah sebuah bar kelas menengah di daerah downtown. Diantara beberapa entry yang tertulis di catatan Sarah ini, dia menggarisbawahi bar ini.

Karena itulah aku datang ke sana.

……………

Bar itu bar biasa, dengan pelanggan-pelanggan pekerja kelas menengah, dan beberapa wanita bergaun tak terlalu mahal. Musik mengalun dari beberapa pemain Jazz di sisi ruangan, dan bartender setengah baya yang berpakaian rapi itu melihatku dengan pandangan penasaran, saat aku pertama kali memasuki ruangan.

“Baru pertama kali datang?” tanyanya, diiringi dentingan pelan piano dari sisi ruangan.. Aku mengangguk sambil duduk di salah satu kursi di depan counter, mengambil rokok dari saku mantelku, dan menyalakannya.

“Sudah kuduga.” Lanjutnya. “Meskipun aku sudah tua, aku bisa mengingat semua orang yang pernah datang kesini.” Katanya sambil mengelap gelas, dan membawakan pesananku.

“Kalau begitu,” sambungku. “Anda masih ingat dengan Profesor William?”

Dia memandangiku sebentar, sebelum menjawab pertanyaanku dengan nada kasual. “Tentu aku ingat. Profesor William, ahli benda-benda mesir itu. Dia salah satu temanku, dan pelangganku yang paling lama. Aku benar-benar kaget saat dia meninggal bulan lalu.”

Bartender itu memandangiku dengan muka penasaran, sementara bunyi saxofon mengalun menghangatkan suasana bar.
“Kira-kira beberapa minggu lalu, ada seorang wanita datang ke sini menanyakan hal yang sama kan? Wanita berambut pirang, yang selalu membawa notebook?” tanyaku.

Untuk beberapa saat, kami hanya suara musik dan percakapan orang-orang di sekitar yang terdengar. Aku menghirup minuman dari gelas yang disodorkannya tadi, sementara dia malah mengalihkan perhatiannya dariku dan meneruskan membereska gelas-gelas. Aku merasa perlu membuatnya berbicara lebih lanjut, sebab nampaknya dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini.

“Wanita itu tewas tadi pagi…”

Bartender setengah baya itu nampak terkejut. “Sarah tewas? Padahal sudah kuperingatkan… Apa yang dikejarnya kali ini berbahaya…”

Aku sudah sering menyelidiki berbagai jenis kasus. Dan aku punya banyak pengalaman mencari informasi. Tapi entah kenapa, kali ini aku ingin langsung ke inti dari permasalahan ini.

“Aku detektif swasta, tuan bartender. Nona Sarah adalah temanku. Karena itu, sekarang aku sedang menyelidiki kematiannya…”

“Jadi dia tidak tewas secara wajar?”

“Setidaknya aku tidak menganggapnya begitu.”

Aku menghisap rokokku dalam-dalam, sebelum menanyakan pertanyaan lebih lanjut. “Sebenarnya, apa yang sedang diselidikinya, pak tua? Kenapa menyelidiki kematian seorang professor semi pensiun bisa mematikan?”

Bartender itu menuangkan lagi minuman ke gelasku yang kosong dan menjawab. “Aku tidak tahu banyak, tuan detektif. Aku cuma memberitahu gadis itu apa yang kuketahui. Sebelum meninggal, professor William sering datang ke sini dengan ketakutan, terkadang mengoceh hal-hal yang tidak kumengerti.”

“Sejujurnya, aku tidak begitu peduli dengan profesor itu, pak tua. Yang ingin kuselidiki sekarang adalah kematian temanku ini. Apalagi yang anda bicarakan dengan Sarah?”

“Well.. bisa dibilang, hanya itu saja. Terakhir kali aku bertemu Sarah, dia bilang dia akan menyelidiki sesuatu di mansion professor”

“Menyelidiki sesuatu? Kira-kira apa lagi yang dicarinya?”

“Dari ocehan-ocehan professor, aku mendapat pikiran kalau sepertinya dia menyembunyikan sesuatu di rumahnya. Tapi dia tidak pernah menceritakannya secara langsung. Sepertinya temanmu itu pergi untuk mencari benda yang disembunyikan professor.”

Aku memikirkannya sejenak sembari menghirup gelas minuman keduaku. Sewaktu ditemukan oleh polisi, tidak ada benda aneh di mayat Sarah. Dan aku tidak menemukan benda tidak biasa di apartemennya. Apa maksudnya? Apa berarti Sarah tidak menemukan hal tersembunyi di mansion itu? Atau dia menemukannya, dan entah karena apa, dia meninggalkannya disana? Kemunginan terbesar adalah, dia menitipkannya di suatu tempat, sebelum meninggal.

Aku membayar minuman yang kupesan, dan melangkah meninggalkan bar itu. Meskipun aku merasa bartender itu masih menyimpan banyak hal dibalik kerahnya, aku meninggalkannya untuk saat itu. Aku merasa, aku harus pergi ke rumah Professor William dan mengecek mansion itu dengan kepalaku sendiri.

……………

Aku menghentikan Ford tuaku sekitar 1 blok dari mansion professor William. Merapatkan mantelku, aku meninggalkan mobilku dan berjalan menuju rumah besar tersebut.

Profesor William, tidak memiliki sanak saudara dekat. Setelah kematiannya, polisi menyegel rumah tersebut, sembari menunggu keterangan, warisan-warisan dan tetek bengek mengenai benda-benda peninggalan professor William. Tapi aku punya lebih dari satu cara untuk memasuki sebuah rumah yang disegel.

Aku merapatkan mantelku lagi, saat angin malam Newyork mulai mengigit kulitku. Hanya sedikit cahaya dari bulan yang ditutupi awan tipis yang menerangi jalanan, sebab daerah sekitar sini bukan daerah favorit untuk tempat tinggal maupun bisnis.

Hanya ditemani oleh bayanganku, aku tiba di tembok rumah Professor William. Sekali lagi aku menggigil, merasakan dinginnya udara malam saat aku berhenti bergerak. Setelah melihat ke kiri dan kekanan, aku meloncati tembok bagian belakang rumah tersebut dengan gerakan mulus, dan mendarat di halaman rumput bagian belakang.

Aku tidak ingin mengambil resiko terlihat oleh orang lain, jadi dengan perlahan, aku tiba di pintu belakang rumah. Sepotong kawat kecil membuka kunci pintu tersebut, dan aku masuk ke dalam rumah tersebut.

Polisi berjaga di gerbang depan, sebab mansion ini memiliki koleksi benda berharga yang cukup menggiurkan bagi orang-orang tak bertanggung jawab. Berhati-hati agar tidak ada sinar yang terlihat dari bagian depan, aku menyalakan senterku dan mulai berpikir, kira-kira apa yang kucari.

Sewaktu aku masih berpikir tentang akan mulai dari mana, bulu kudukku berdiri, bersamaan dengan terdengarnya suara pelan dari arah pintu. Aku merogoh ke dalam saku dalam mantelku, dan meraih revolverku.

Sejak keluar dari bar tadi, aku sudah merasa diikuti. Dan orang yang mengikutiku sepertinya cukup professional, sebab aku tidak merasakan lampu mobilnya. Tapi dia ceroboh, sebab aku masih bisa melihat kelebatan bayangannya dari spionku. Aku tahu, dia ada di balik bayang-bayang gedung-gedung, terus mengikutiku selagi aku berjalan kesini dari mobilku. Tapi aku tidak menduga kalau dia akan mengikutiku sampai ke dalam mansion.

“Siapa di sana.” Gumamku sambil mengacungkan pistol ke belakang. Aku perlahan berbalik,dan mencoba menajamkan indera-inderaku, mencari satu hal aneh yang bisa memberiku petunjuk.

Tidak ada suara lagi. Dan kegelapan ini menyembunyikannya dengan sempurna. Aku memicingkan mataku, berusaha mencari gerakan sekecil apapun. Sudut mataku menangkap sekelebatan bayangan bergerak ke sisi ruangan, dan aku berputar ke arahnya, mengancam dengan revolverku.

“Keluar atau kutembak.”

Tak ada jawaban. Hening untuk beberapa saat, sementara aku berharap polisi di depan tidak mendengar keributan ini.

Tiba-tiba bulu kudukku berdiri lagi, dan seluruh instingku berkata bahaya. Aku berputar dan langsung menembak, ke arah sosok yang melesat untuk menyerangku dari belakang itu. Para polisi sudah pasti mendengar letusan tersebut.

Aku tahu, aku berhasil mengenainya. Dengan cepat, aku bergerak ke arah sosok yang kutembak. Tapi aku tidak menemukan apa-apa. Bahkan tetesan darah juga tidak. Aku menggigit bibir, mencari-cari ke kiri dan kekanan, lalu melesat pergi dari tempat itu secepat mungkin, sebelum para polisi tiba di ruangan.
Aku lalu memacu fordku secepat-cepatnya, pergi dari tempat itu, masih merasa merinding akibat kedinginan dan serangan tadi.

Pikiranku berpacu, selagi aku melarikan mobilku dengan kecepatan penuh menuju kantorku. Apa yang baru saja terjadi? Siapa orang yang mengikutiku tadi? Apa maksud kasus ini?

Begitu aku tiba di kantorku, aku langsung masuk dan mengunci pintunya, sebelum bersandar terengah-engah di sebelah jendela. Apakah dia ada di balik bayangan gedung di luar? Semoga tidak.

Tapi, semua orang juga tahu kalau aku bukan seorang pengecut.

Aku mengisi revolverku dengan peluru, sebelum tidur dengan pistol di genggaman tangan.

Esok paginya aku terbangun dengan kepala pusing dan badan sakit. Aku mencuci muka sejenak, sebelum mencari bahan makanan yang bisa kugunakan untuk sarapan. Saat itu aku menyadari ada surat dari pos pagi, tergeletak bersama Koran di depan pintuku.

Aku mengepit koran pagi itu di ketiakku, dan memperhatikan surat bersampul putih tersebut. Surat itu dari Sarah, dikirim sebelum dia meninggal!

Perasaanku campur aduk selagi aku melempar koran pagiku, dan membuka surat itu dengan buru-buru. Masih tercium aroma parfum yang selalu dipakainya.

Sebuah foto terjatuh dari amplop, foto tablet bertulisan kuno yang tidak kumengerti.

Dan bersamaan dengan foto itu, terjatuh kertas surat lain.


“If the Watcher

should be broken,

the Dreamer

would arouse.

If the Dreamer

were overcome.

The Sleeper

would wake.”

Dibawahnya terdapat tulisan acak-acakan, yang kukenal sebagai tulisan Sarah, bersama dengan liontin aneh bergambar mata, mata yang dilukiskan oleh Profesor William dengan darah.

The Watcher.

……….

Jadi kini, aku memandang liontin itu dengan mata merah, seminggu setelah surat itu kuterima. Aku meminum minuman yang disodorkan oleh bartender, sebelum melanjutkan penyelidikanku yang nyaris tanpa hasil maupun tujuan ini.

Aku melihat ke kiri dan kekanan dengan gugup, mencari gerakan mencurigakan sekecil apapun dari salah satu penghuni bar, sebelum berdiri dengan sempoyongan dan berjalan ke luar sambil memegang revolverku di balik mantel.

…aku tidak pernah tahu kalau kota New York bisa semenakutkan ini.

Seumur hidupku, baru minggu ini aku tahu kota ini begitu mengerikan.

Berbahaya

Dan penuh hal yang tak diketahui oleh mereka-mereka yang tak ambil pusing.

Seminggu penyelidikanku penuh hal-hal yang tak kumengerti. Tapi juga membuatku bersyukur bahwa aku tidak mengerti.

Menggaruk wajahku yang sudah beberapa hari tidak bercukur, aku melangkah keluar bar, dan berjalan menyusuri jalanan kota New York yang gelap.

Penuh bayangan hitam.

Ya tuhan, seumur hidupku, baru kali ini aku tahu kalau kota ini begitu menakutkan di waktu malam.

Aku sudah ratusan, ribuan kali berjalan di kota ini pada malam hari, menghadapi berbagai kejahatan dan pembunuhan yang memuakkan, menyakitkan jiwa.

Tapi baru kali ini aku begini ketakutan.

Aku berjalan dengan bulu kuduk berdiri, tanganku menggenggam pistolku erat-erat. Sementara berbagai bayangan entah apa entah darimana menyusuri jalan bersamaku.

Aku terlonjak mendengar suara aneh sekecil apapun. Sesekali aku bersyukur saat tahu itu hanya suara kucing menyenggol tempat sampah. Atau burung malam entah apa yang menguak entah dimana.

Tapi sesekali aku mendengar suara-suara yang tak kutahu asalnya.

Seperti kali ini. Bersama ribuan bayang-bayang gelap yang mengikutiku di lorong-lorong kota yang berkabut.

Kegelapan datang.

Read Full Post »