Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Short Stories’ Category

Rio Sang Sapi Petualang

Author notes: Hadiah ulang tahun untuk adik. Ulang tahun yang ke tujuh kan? Tujuh?

Di sebuah peternakan hiduplah seekor sapi bernama Rio. Setiap hari Rio hidup dalam damai, memamah biak dan bergelindingan di rumput dengan riang bersama teman-temannya sesama sapi. Tapi lama kelamaan Rio bosan dengan hidup di peternakan. Dia ingin berpetualang melihat dunia luas, seperti yang diceritakan oleh burung-burung yang sering lewat.

 

Pada suatu hari, Rio melihat pintu pagar peternakan terbuka. “Inilah kesempatanku,” pikir Rio. Maka tanpa mempedulikan peringatan teman-temannya, Rio-pun berlari menembus pintu pagar yang terbuka. Dan sesaat kemudian, Rio-pun sudah berada di alam bebas.

 

“Jadi inilah dunia luar!” Kata Rio. Segalanya terasa berbeda. Rerumputan terasa lebih manis. Matahari terasa lebih terang. Rio berjalan di tepi hutan dengan riang sambil bersenandung.

 

Pada hari berikutnya Rio tiba di hadapan sebuah kubangan air yang luas. Rio belum pernah melihat air sebanyak ini sebelumnya. Air terbanyak yang pernah dilihatnya adalah air di ember air minum peternakan.

 

“Ini pasti laut yang sering diceritakan oleh para burung!” kata Rio. Setelah menguatkan hati, Rio-pun menceburkan diri ke kubangan. Kakinya berkecipak ramai, mengayuh di air agar dia dapat mengapung dan bergerak maju. Akhirnya dia pun berhasil melewati kubangan air tersebut.

 

Rio mengeringkan dirinya dengan bangga. “Aku berhasil mengarungi lautan. Aku memang sapi petualang yang hebat!” katanya kepada dirinya sendiri sebelum beristirahat.

 

Hari selanjutnya, Rio melanjutkan perjalanan. Dia melihat mahkluk aneh yang belum pernah ditemuinya. Seekor kucing liar yang sedang santai menjilati bulu-bulunya.

 

“Mahkluk ini pasti singa yang sering diceritakan burung-burung!” katanya. Rio memandang sang mahkluk misterius dalam-dalam, sebelum melenguh sekuat tenaganya. Sang kucing yang sedang santai pun meloncat terkejut, sebelum lari terbirit-birit.

 

“Aku berhasil mengusir singa! Ini adalah petualangan terhebat yang pernah dialami sapi manapun!” katanya bangga.

 

Pada hari ketiga, Rio sudah merasa lelah dan bosan. Ternyata setelah dipikir-pikir, rumput di luar sama saja rasanya dengan rumput di peternakan. Matahari juga sama warnanya. Dia rindu teman-temannya. Dia rindu makanan di peternakan. Karena itu, Rio memutuskan untuk kembali ke peternakan tempatnya lahir dan dibesarkan.

 

Saat Rio kembali ke peternakannya, dia mendapati para sapi sedang dicekam ketakutan. Ternyata, selama tiga malam terakhir, sekelompok serigala tiada hentinya melolong dari puncak bukit. Tinggal menunggu waktu saja sampai mereka turun untuk memangsa para sapi.

 

Rio mengembik di hadapan teman-temannya dengan semangat. “Jangan putus asa!” katanya. “Sapi-pun bisa melakukan apa saja jika mau berusaha. Lihat saja aku. Aku hanya seekor sapi seperti kalian, tapi aku berhasil mengarungi lautan dan melawan singa dalam petualanganku!”

 

Sapi-sapi yang selama beberapa hari itu terus menggigil ketakutan, perlahan mulai dapat kembali berdiri tegar. Cerita Rio tentang petualangannya memberi mereka semangat dan keberanian.

 

Maka pada saat serigala pertama turun dari bukit pada malam berikutnya, para sapi telah bersiap. Begitu serigala kurus yang kurang makan itu meloncati pagar, para sapi yang dipimpin Rio segera menyeruduk. Kaing! Begitu suara sang serigala yang kaget. Serigala itu tidak menyangka kalau sapi incaran mereka kali ini akan melawan.

 

“Kami tidak takut kepada kalian!” kata para sapi. “Di sini ada Rio sang sapi petualang! Dia pernah berenang mengarungi lautan dan bertarung melawan singa!”

 

Sang serigala sebenarnya sulit percaya. Tapi buktinya, kini ada sapi yang berani melawan! Dia pun lari terbirit-birit kembali ke kelompoknya, untuk bercerita tentang kelompok sapi aneh ini. Sang pemimpin serigala memutuskan, kelompok sapi ini terlalu merepotkan untuk dimangsa! Sebaiknya mereka mencari mangsa yang lebih aman, yang tidak akan ramai-ramai menyeruduk.

 

Para serigala pun pergi meninggalkan peternakan. Para sapi-pun kembali ke kehidupan damai mereka, merumput dengan santai dan bergelindingan dengan riang gembira. Dan kini di padang rumput, Rio dikenal sebagai sebagai Rio sang sapi petualang yang pernah mengarungi lautan, melawan singa, dan menyelamatkan peternakan dari gerombolan serigala.

Iklan

Read Full Post »

Sepatu Kaca

Sebuah cerita detektif  noir-fantasi yang saya tulis untuk lomba menulis Fantasy Fiesta 2012 kastilfantasi.com beberapa bulan yang lalu. Sayang nggak menang apa-apa, tapi saya cukup suka dengan cerita ini.

Pagi itu, bunyi ketokan di pintu membangunkanku dari tidur. Aku mengangkat wajahku dari meja dan memegang kepalaku yang berdenyut, sambil mencoba mengacuhkan aroma kopi basi yang menguar memenuhi ruangan.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban. Daripada menjawab, sang pengetok pintu malah memutar-mutar pegangan pintu. Dia berdehem.

Sialan, aku tahu siapa itu.  Aku meraih revolver yang tergeletak di sudut, menjatuhkan semua kertas, bekas makanan, serta teko kaleng yang sudah seminggu berkerak di atas meja. Setelah aku mendapatkannya, akupun berlari ke jendela, melompati sampah-sampah yang berceceran di lantai. Sepuluh detik yang menegangkan berlalu sebelum aku berhasil membuka jendela berkarat sialan itu.

Tapi sebelum aku berhasil menuruni tangga darurat itu sepuluh langkah, dua mahkluk berpakaian rapi menghadangku.  Seorang buto jelekyang membuatku merasa seperti anak kecil, dan seorang kurcaci berjenggot lebat yang hanya setinggi dadaku. Mereka berdua mengacungkan senapan mesin hitam ke arahku.

“Hehe.” Aku terkekeh. “Aku bertaruh pasti kalian dipasangkan karena bos kalian punya selera humor yang jelek.”

Mereka tidak menjawab selain dengan sebuah tonjokan ke muka. Tanpa berkata apa-apa, mereka menyeretku kembali ke kantorku.

Di depan mejaku, seorang lelaki paruh baya berjas resmi duduk santai, seakan tanpa dosa. Kedua anak buahnya menjatuhkanku ke meja tanpa kuatir dengan kesehatanku sama sekali.

“Halo, Don Brotosuwarno” Kataku, berusaha tersenyum sekarismatis mungkin dengan bonyok yang ada di mataku. “Aku sumpah, utangku bakal terbayar minggu depan.Adaseorang nenek…”

“Faris… Faris…” Dia memandangku dengan pandangan kebapakan. Ditambah rambut separuh-berubannya yang tersisir rapi, sulit dipercaya kalau dia adalah lelaki paling berbahaya di kerajaan ini.

“Lupakan saja urusan remeh temeh itu. Aku disini bukan untuk menagih uang receh yang kau pinjam itu.”

“Apa ini mungkin tentang orang jelek yang kutonjok di jalan minggu lalu? Aku sumpah, aku tidak tahu dia anak buahmu.”

Don Brotosuwarno tersenyum dan mengatupkan ujung-ujung jarinya. Aku benci bila dia melakukan itu.

“Sebenarnya, aku kesini karena aku membutuhkan jasamu. Kau masih bekerja sebagai detektifkan? Setidaknya jika papan nama di depan pintu gedung ini tidak bohong. Gurumu itu teman lamaku.”

“Y…ya. Tentu saja.” Kataku. Dulu memang kantor bobrok ini terkenal sebagai kantor detektif terhebat di kerajaan ini, saat guruku masih hidup. Aku tidak bilang ke Don Brotosuwarno kalau kasus terakhir yang kutangani adalah kucing hilang yang kutuntaskan sebulan yang lalu.

Dia menyodorkan sebuah bungkusan ke hadapanku. Aku membukanya sambil mengeraskan hatiku. Apa ini? Kepala manusia? Potongan jari? Tapi yang ada di dalamnya adalah sesuatu yang sama sekali lain.

“Sepatu…  kaca?” Tanyaku.

Sebuah sepatu kaca yang indah, dengan hak tinggi lancip dan desain menawan yang memantulkan cahaya suram dari sela-sela kerai jendela ke segala arah.

“Ya. Kau tahu keributan dua hari yang lalu bukan?”

Tentu saja aku tahu. Semua koran di kerajaan ini menuliskannya dengan judul besar-besar. Kekacauan Di Pesta Tahunan Brotosuwarno.

“Seorang… wanita tak dikenal,” katanya sambil menggertakkan gigi, kemarahan seakan membakar kumis hitamnya, “membunuh anakku satu satunya! Di depan orang banyak!” Dia menggebrak meja. “Anakku… pewaris klan Brotosuwarno, ditusuk tepat di dadanya!  Hanya sepatu itu satu-satunya petunjuk yang ada.  Tertinggalkan oleh sang pembunuh di tengah kekacauan yang terjadi.”

Dia menenangkan nafasnya, sebelum kembali tersenyum.

“Kalau polisi menangkapnya, pembunuh itu hanya akan masuk penjara. Itu sebabnya aku minta tolong pada kepala polisi untuk menangguhkan penyelidikan. Aku tahu kau dalam kesulitan finansial. Temukan sang pembunuh dan bawa ke hadapanku. Kalau kau berhasil, semua hutangmu akan kuanggap lunas.”

Dia bahkan tidak merasa perlu mengatakan apa yang bakal terjadi kalau aku gagal.

Siangnya, aku sudah berada di lokasi pesta dengan jas coklat dan topi fedora kesayanganku. Aku berlutut di tempat sang pangeran klan Brotosuwarno tewas. Pekerjaan yang rapi. Orang awam selalu mengira lokasi penusukan akan banjir darah. Di lain sisi, aula megah itu bagaikan sehabis diterpa puting beliung. Sisa-sisa hiasan dan hidangan pesta masih tersebar di segala arah, dan barang-barang pecah belah berceceran di lantai marmer indah.

“Sangat mengerikan!” Kata salah seorang pelayan. “Pesta itu begitu mewah, begitu ramai, begitu mempesona. Orang-orang kaya dan bangsawan dari segala penjurukotadatang dengan pakaian dan perhiasan mereka yang mahal-mahal. Tuan muda sedang berdansa dengan gadis bertopeng misterius yang datang tanpa diundang.  Saat tiba-tiba, gadis itu menusuknya dengan pisau tepat di jantungnya! Tuan besar Brotosuwarno langsung mengamuk, lihat saja semua piring dan gelas yang pecah ini.”

Aku memandang lukisan keluarga Brotosuwarno yang tergantung di dinding. Sang pangeran terlihat begitu tampan, dengan rambut pirangnya yang bagaikan sutra, dan mata biru-safirnya. Bahkan mayatnya yang kulihat tadi di persemayaman terlihat mempesona. Kulit pucat dan bibir kebiruan malah terlihat mempertegas keeksotisannya. Sulit dipercaya kalau dia adalah pewaris keluarga Brotosuwarno yang melilitkan tentakel mereka di 90% bisnis illegal di kerajaan ini.

Aku mengeluarkan kaca pembesar, dan mencocokkan sebuah noda di lantai dengan sepatu kaca yang kutimang-timang sedari tadi. Nodanya cocok. Tentu saja, inilah alasan kenapa kekuatan seluruh keluarga Brotosuwarno tidak berhasil menemukan sang pembunuh.

Debu peri.

Tanpa banyak pikir lagi, akupun langsung menuju ke satu-satunya tempat dimana aku bisa mendapatkan informasi tentang ini. Sejak kerajaan ini mengilegalkan debu peri, nyaris semua peri menjadi pengangguran. Sebagian besar meninggalkan kerajaan ini, kembali ke hutan mereka.  Hanya sedikit peri keras kepala yang tetap tinggal disini, melakukan pekerjaan serabutan, dan sesekali, menjual debu peri dibawah tangan.  Dan mereka semua, kaya atau miskin, selalu menghabiskan uang mereka di Bar Silmarillion yang kukunjungi ini.

Semua pengunjung bar remang-remang itu menatapku curiga begitu aku masuk, aku pasti satu-satunya non-peri di tempat itu.  Kipas angin murah berputar di langit-langit, membuat semua bayangan terlihat menari mencurigakan. Tapi aku tak punya banyak waktu. Tanpa basa basi, aku langsung mengunjungi bartender. Peri cantik berambut emas itu menyodorkan minumanku di gelas langsing dan rapuh khas para peri. Jarinya yang lentik kemudian menunjuk ke sudut sebagai jawaban pertanyaanku, ke arah seorang peri yang menenggelamkan mukanya ke lipatan tangan.

“Halo, Fingolfin. Lelah setelah kerja berat?” kataku setelah aku menempatkan diri di kursi reyot di hadapannya.

“Kau ngoceh apa?” Katanya sambil mengangkat muka. Botol di hadapannya setengah penuh oleh cairan hijau berbau tajam, dan sebatang rokok tergantung di wajahnya yang secantik manusia wanita manapun.

Aku menjentikkan jari dan menyalakan rokoknya dengan api sihir yang tercipta. Cahaya muram menerangi wajah kami berdua.

“Aku sudah dengar bagaimana gadis itu tiba di pesta. Limosin labu… gaun berlapis tujuh… Pasti banyak sekali debu peri yang kau gunakan untuk menciptakan semua konstruksi sihir itu. Tentu saja, konstruksi sihir hanya bertahan beberapa jam. Itu sebabnya raja mengilegakan debu peri.

Debu peri adalah salah satu dari sedikit hal illegal diluar telapak tangan keluarga Brotosuwarno. Mereka tidak akan menyangkanya. Dan semua bukti akan langsung hilang malam itu bersama menguapnya konstruksi sihir.

Tapi entah kenapa, kau tidak berbuat sesederhana itu dengan sepatu kaca ini. Ini kaca asli, diperkuat dengan sihir peri. Harganya senilai gaji pegawai kerajaan setahun.”

“Kau tidak bisa membuktikannya!” tegasnya, ekspresinya tiba-tiba menajam.

“Oh, kukira Don Brotosuwarno pasti bisa membuktikannya, cepat atau lambat…”

Dia membalikkan meja dan melompat keluar. Aku mengejarnya. Peri bisa lari sangat cepat, tapi dia setengah mabuk. Aku berhasil menubruknya di gang belakang, sebelum dia berhasil mempercepat larinya atau merapal mantera.

Aku mencengkram kerah bajunya. “Kenapa kau melakukan ini, Fingolfin? Siapa yang menyewamu, katakan! Mungkin kalau kau jujur aku bakal lupa menyebutkan namamu saat melapor kepada Don Brotosuwarno!”

Fingolfin mulai bercucuran air mata. Oke, aku tidak menyangka ini bakal terjadi. “Itu bukan salahku! Aku berusaha membantu mereka! Aku punya hutang budi besar kepada mereka semua, oke? Sebelum kau lahir!” Dia menangis.

“Siapa mereka, Fingolfin?”

“Keluarga Capullet dan Brotosuwarno! Sepatu itu… dititipkan oleh mendiang Don Capullet kepadaku sebelum dia dibunuh. Ternyata ini memang takdir mereka…”

Aku memandang si mahkluk menyedihkan untuk terakhir kali, setengah kasihan setengah jijik, sebelum meninggalkannya menangis sendirian di gang kotor itu. Minuman memang bisa merusak ras manapun.

Keluarga Capullet terlibat?

Semakin jauh aku menyelidiki kasus ini, semakin ingin aku meninggalkannya jauh-jauh. Tapi tidak seperti biasanya, aku terus terdorong maju. Ancaman kematian memang merupakan pendorong yang terkuat.

Keesokan harinya, aku mengunjungi target penyelidikanku selanjutnya. Mansion keluarga Capullet adalah sebuah mansion kuno berpilar indah yang terletak di tepi tebing pinggir laut.  Pasti dulunya ini properti yang menawan, tapi kurangnya perawatan terlihat jelas. Sejak Don Capullet dibunuh, mantan rival keluarga Brotosuwarno ini terpinggirkan. Tapi wanita yang menyambutku bergaun mewah dan indah, berlawanan drastis dengan kondisi tempat tinggalnya.

Wanita paruh baya itu terlihat begitu cantik dan sombong. Tapi tetap saja iming-iming hadiah menggelitik keingintahuannya.

“Tentu kau boleh mencocokkan sepatu itu,” katanya sembari menepukkan tangan. Dua orang gadis muda bergaun indah yang mirip dengannya segera muncul. Aku melanjutkan sandiwaraku sebagai pesuruh kerajaan, dan mencocokkan sepatu kaca itu ke kaki mereka. Tapi tidak ada yang cocok.

“Kudengar… keluarga ini punya tiga anak gadis?” Tanyaku.

Nyonya besar keluarga Capullet mendengus. “Kau tidak salah dengar. Tapi tidak mungkin anak pemalas itu cocok menjadi model resmi istana.”

“Sayang sekali kalau begitu. Uang kontrak ini besar sekali.”

Pancinganku berhasil. Dia mendengus lagi dan menyuruhku menunggu di gudang, gadis ketiga itu sedang berbelanja kebutuhan dapur.

Gudang kotor itu pasti mendobel sebagai kamar sang gadis, dengan lemari bobrok dan kasur buluk yang yang terhampar. Aku duduk disanabeberapa lama, tenggelam dalam lamunan, saat seseorang menyapa dengan suara lembut.

Gadis yang menyapaku itu berpakaian butut, tapi kecantikannya malah semakin memancar.  Rambutnya yang disanggul sederhana membuatnya terlihat anggun, dan wajahnya yang tidak dipoles membuatnya jauh lebih bersinar dari saudari-saudarinya.

Saat aku menunjukkan sepatu kaca itu, ekspresinya berubah.

“Keluar, sekarang!” tegasnya.

Aku menggelengkan kepala. “Percuma saja, nona…” kataku sebelum melemparkan sesuatu ke meja. Pisau berbekas darah di ujungnya yang kutemukan saat aku menggeledah kamar itu sebelum dia pulang. “Banyak penjahat yang melakukan hal bodoh seperti ini karena merasa sentimental. Seharusnya kau membuangnya jauh-jauh. Sama seperti pasangan sepatu itu.”

Dia terdiam sejenak, sebelum tersenyum sangat manis dengan mata berkaca-kaca.

“Kau benar…”

Setitik air mata mengalir dari matanya saat dia mengeluarkan pasangan sepatu itu dari persembunyian. Dia memakai keduanya. Cocok sempurna.

“Katanya sepatu ini peninggalan ibu kandungku.”

“Tidak akan ada yang menyangka kalau diantara mereka semua… kau, si gadis baik setengah-pelayanlah pembunuhnya…” Kataku kagum. “Bahkan kudengar kau tidak diizinkan datang ke pesta.  Alibi yang bagus.”

Sang gadis melanjutkan. “Ibu dan saudara tiriku tidak ada yang peduli dengan kehormatan keluarga, tapi aku harus membalas dendam kematian ayahku. Aku sudah lama mencoba mendekati sang pangeran, sampai aku berhasil mendapatkan kesempatan itu. Tapi kau benar, aku menyimpan semua ini karena aku merasa sentimental. Kau tahu kenapa?

Karena aku benar-benar jatuh cinta kepadanya!”

Air mata terus mengalir membasahi pipinya yang putih. “Tapi aku tidak bisa membuang semuanya begitu saja! Tidak setelah semua perencanaan yang kulakukan!”

“Menyerahlah kepada polisi…” Kataku lembut. “Mereka akan melindungimu.”

Dia tertawa. “Kau bercanda? Polisi ada di telapak tangan Brotosuwarno.” Dan tanpa kuduga, dia mengeluarkan sepucuk pistol dari balik mantel bututnya. “Pergi dari sini.”

Aku terdiam dan mundur perlahan, saat dia tiba-tiba berbalik.

Dia berlari meninggalkanku. Aku mengejarnya melewati halaman luas mansion yang tak terawat, melewati sisa-sisa taman dan patung-patung,  sampai ke tepi tebing. Suara ombak berdesir di telingaku, menjadi musik latar belakang percakapan.

“Jangan lakukan ini nona…” kataku sambil melangkah perlahan.

“Seperti yang kau bilang, detektif, percuma saja. Semua sudah berakhir.”

Dan sebelum aku dapat melakukan apa-apa, gadis tercantik yang pernah kulihat itu melompat dari tebing yang tinggi, menuju lautan berombak liar penuh karang tajam di bawah.

Satu hari lagi berlalu, sebelum aku menemui Don Brotosuwarno di kantornya yang elegan. Dia terlihat terkejut saat mendapatiku duduk di salah satu kursi mahalnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyanya, sembari berjalan berputar melewatiku menuju meja kayu jati miliknya.

Aku melemparkan sepucuk artikel koran, tentang bunuh dirinya gadis keluarga Capullet.

“Dialah sang gadis misterius itu. Ini buktinya.” Kataku sembari melemparkan pisau berbekas darah itu ke meja antiknya.

“Kau berhasil menemukan sang pembunuh? Luar biasa. Sayang aku tidak dapat melingkarkan jariku di lehernya.” Don Brotosuwarno berdecak kagum.

“Ternyata kau tidak mengenal guruku sebaik itu…” aku bergumam.

“Apa maksudmu?”

“Kau pasti benar-benar tidak menyangka kalau aku akan menyelidiki semuanya sejauh ini bukan? Kau hanya mengenalku sebagai detektif kacangan pemalas. Kau menyewaku agar kau punya alasan untuk menangguhkan penyelidikan polisi untuk keluargamu. Tapi seharusnya kau tahu, guruku tidak akan  memungut sembarang murid. Memang biasanya aku tak bisa diandalkan, tapi ancaman kematian adalah pendorong yang luar biasa.”

“Apa yang kau ocehkan, detektif!”

“Kubilang aku menemukan sang gadis misterius. Tapi aku tidak pernah bilang dialah pembunuhnya. Sebab kaulah yang membunuh sang pewarismu sendiri.”

Tak ada suara yang terdengar di ruangan itu selain detak jam di dinding. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menatapku dengan ekspresinya yang tidak bisa ditebak. Aku melanjutkan.

“Periksa saja pisau itu. Kau kira kenapa pisau itu tidak dibuat dari debu peri, padahal pisau itu adalah bukti terpenting? Itu pisau opera dengan mekanisme buatan para kurcaci untuk adegan tusuk-menusuk yang dramatis. Kalau pisau asli menusuk jantung, darah akan lebih membanjir.

Sejak awal, pangeran pewarismu tahu kalau gadis itu dari keluarga Capullet. Diam-diam dia membuat perjanjian sendiri dengan Fingolfin sang peri. Kukira rencananya adalah, dia akan berpura-pura mati sebelum menemui sang gadis Capullet dan membujuknya untuk kawin lari dengannya.

Tapi dia tewas sungguhan. Bukan karena pisau, tapi karena racun. Bibir biru itu… kau meracuni makanannya bukan? Lalu kau obrak-abrik meja makan, agar tak ada bukti yang tersisa.”

Sang Don tersenyum dan mengatupkan ujung-ujung jarinya. Aku benci kalau dia melakukan itu.

“Tapi semua itu sama sekali tidak ada buktinya. Kenapa aku membunuh anakku sendiri? Lagipula, kenapa kau menceritakan semua ini kepadaku?”

“Kau pasti selalu benci pewarismu itu. Dia bukan anak kandungmu,kan? Kukira dia setengah-peri, hasil selingkuhan istrimu. Sejak awal kau berniat membunuhnya di pesta itu.

Kalau sang pangeran diotopsi, semua akan terbukti.  Aku tahu sedari awal kau tidak berencana menuruti janjimu, dan berencana menghabisiku.  Aku menitipkan jurnalku pada kenalanku di koran. Tepati janjimu, dan aku tidak akan menyebarkannya ke siapa-siapa.”

Senyumnya melebar.

“Sayang sekali, detektif. Kepala redaksi koran itu adalah sahabatku…”

Dan tiba-tiba, selusin mahkluk muncul dari berbagai tempat. Dari jendela, dari balkon, dari balik tirai. Manusia, kurcaci, peri, dan buto. Semua mengacungkan senjata api.

Aku mengumpat dan menarik senjataku secara refleks. Aku menembak dada Don Brotosuwarno. Tapi dia hanya mengernyit.

“Faris, kau kira seorang bos besar sepertiku akan berkeliaran tanpa perlindungan? Tapi tetap saja rasanya seperti dipukul godam… Kau akan membayarnya.”

Tentu saja. Mantera pelindung. Aku putus asa. Tak ada lagi yang bisa kulakukan sekarang…

Kukira aku sudah mati saat kudengar letusan senjata, tapi letusan itu datang dari luar ruangan. Seseorang masuk dari pintu, melangkahi sang penjaga pintu yang berlumuran darah, dan berjalan anggun di atas karpet beludru yang melapisi kantor itu.

“Benarkah semua yang kau katakan itu?”

Sang gadis keluarga Capullet! Dia mengikutiku sampai kesini! Bagaimana caranya dia bisa selamat dari tebing itu?

“Aku tidak menyangka aku bakal selamat.” Katanya seakan dapat membaca pikiran semua orang. “Tapi sepertinya, ayah dan ibuku menjagaku dari alamsana. Sepatu itu dimantrai. Mantra pelindung.” Lanjut gadis itu sembari mengacungkan pistol di tangan kanan dan granat di tangan kiri. Menurutku gadis ini benar-benar berpotensi menjadi mafia hebat. Lihat saja kemampuannya mendapatkan senjata.

Sang gadis menembak. Don Brotosuwarno mengernyit kesakitan, sebelum berteriak marah. “Habisi gadis itu!”

Aku melompat ke bawah meja saat peluru berdesingan dari segala arah. Saat aku mengintip keluar, aku melihat gadis itu masih berdiri. Mantera pelindung para peri memang sangat kuat. Tapi aku tahu dia pasti kesakitan setengah mati. Hanya adrenalin yang menyokongnya.

Don Brotosuwarno tertawa. “Percuma saja, nona! Aku juga dilindungi mantera pelindung! Granat itu tidak akan membunuhku!”

“Ya…” Gadis itu membuang granatnya tanpa menarik picu. “Tapi yang ini pasti dapat membunuhmu!”

Dia mencabut sepatu kacanya dan melompat ke arah Don Brotosuwarno. Sebelum ada yang sempat berbuat apa apa, dia menusukkan ujung sepatu yang tajam itu ke dada sang Don.

Kilauan cahaya singkat membutakan semua orang saat mantera pelindung bertemu mantera pelindung. Sedetik kemudian, peluru para pengawal kembali berdesingan.

Saat kilauan cahaya menghilang dan asap senjata berhenti mengepul, terlihat karpet beludru yang kini merah oleh darah. Don Brotosuwarno tergeletak tewas dengan sepatu kaca lancip menusuk jantungnya. Berakhirlah riwayat sang pria paling berbahaya di seantero kerajaan. Dan di sebelahnya, sang gadis cantik keluarga Capullet yang telah kehilangan perlindungan manteranya terbaring penuh lubang peluru, di tengah lautan darah yang perlahan menyebar bagaikan mawar mekar.

Hari sudah malam saat aku berada kembali di kantorku. Aku merapikan berkas-berkas yang berceceran di lantai, sebelum duduk termenung di kursi bututku.

Setelah mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, adik sang Don, pewaris selanjutnya keluarga Brotosuwarno, melepaskanku tanpa kurang suatu apapun. Dia bahkan setuju untuk menghapus hutang-hutangku. Kasus ini terpecahkan dengan sempurna, dan hasil kerja kerasku terbayar.

Tapi tetap saja, Roma Brotosuwarno dan Julietella Capullet mati sia-sia. Keluarga mafia Brotosuwarno tetap saja menguasai dunia hitam kerajaan ini. Keluarga Capulet tetap saja akan segera menghabiskan harta mereka yang tersisa dengan foya-foya. Matahari tetap saja akan terus terbit dari timur. Dan aku tetap saja perlu makan bulan ini.

Aku menghela nafas dan membaca berkas kasusku selanjutnya. Nenek kaya itu akan membayar mahal kalau aku berhasil menemukan anjing dalmatiannya yang hilang.

Read Full Post »

Minaret

A/N: Sebuah dongeng pendek dari negeri seribu satu malam.

Minaret-minaret istana megah Kesultanan Baldebaran menjulang tinggi di antara bangunan ibukota kerajaan . Dari salah satu balkon, Sultan Al Unalun mengamati hiruk pikuk kota dengan kesal. Moodnya masih tidak enak, meski dia baru saja mengusir duta besar kesultanan sebelah dan membatalkan pertemuannya dengan para menteri. Sang sultan menggerakkan tangannya untuk menyuruh gadis-gadis pembawa buah-buahan pergi, sebelum menyandarkan diri di pagar balkon yang berukir indah.

“Patih, apa ada kegiatan yang menarik hari ini?” tanyanya. Patih Kerajaan yang berambut putih dan berjenggot lebat itu tidak menjawab. Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk dijawab. Sang patih yang sudah bergenerasi-generasi melayani kerajaan menghela nafas. Sayang sekali, padahal sultan sebelumnya adalah sultan yang baik. Tapi penerusnya hanya bisa bersenang-senang dan menghambur-hamburkan kas istana tanpa berminat sedikitpun untuk mengurus kerajaan.

Bau rempah-rempah, kain bercorak rumit nan indah, dan seribu satu macam barang dagangan yang eksotis dari negeri yang jauh dan dekat berkelebatan diantara hiruk pikuk pasar kerajaan , tapi sang sultan hanya menguap tanpa minat sedikitpun. Tiba-tiba, sang sultan muda mencondongkan badannya. “Lihat, Patih. Pemuda itu mirip sekali denganku!”

Sang patih melongokkan kepalanya. Benar, pemuda berbaju rombeng itu bagaikan pinang dibelah dua dibandingkan dengan sang sultan. “Ya, Sultan. Kata orang, memang di dunia ini ada tiga manusia yang wajahnya persis sama.”

Wajah sang sultan berubah. “Prajurit, bawakan pemuda itu ke singgasanaku.” Patih Faraj memandang sultan dengan tatapan tajam, tapi Sultan mengacuhkan tatapan kakek tua itu.

Sang Sultan duduk di singgasana emasnya dengan wajah terhibur. Di sebelahnya, Patih Faraj mengamati pemuda yang bingung itu. Dari dekat, dia semakin mirip dengan sultan muda.

“Tidak usah takut.” Kata sang sultan. “Siapa namamu? Ceritakan sedikit tentang kehidupanmu”

Takut-takut dan masih bingung, sang pemuda mulai berbicara. “Nama saya Harun bin Huran, yang mulia. Saya berasal dari kota Bulanul. Saya baru saja tiba di kota ini bersama Kafilah Musim Dingin. Orang tua saya sudah lama meninggal. Saya tidak punya harta maupun tempat tinggal. Saya hidup dengan berpindah dari satu kota ke kota yang lain, mengikuti kafilah pedagang, berjualan sembarang benda yang bisa saya dapat dan mengerjakan apapun yang bisa saya kerjakan sekadar untuk makan.”

Sang Sultan tersenyum. “Gantilah bajumu rombengmu dengan jubah yang sudah disediakan, Harun.” Sebentar kemudian, Harun kembali dengan pakaian sutra halus dan rompi berbordir benang emas. Sang sultan bangkit dari singgasananya dan berjalan berdampingan dengan Harun.

“Harun, menurutku, hidup di istana ini sangat membosankan. Aku hanya makan, tidur. Makan, tidur.” Kata Sultan Al Unalun. “Aku bisa membayangkan kehidupanmu. Berpetualang dari kota ke kota. Berjalan bersama kafilah unta di gurun pasir tak bertepi yang memantulkan cahaya keemasan bulan purnama…”

Sultan Al Unalun berhenti berjalan. Harun juga berhenti di sebelahnya.

“Bagaimana kalau kita bertukar tempat untuk sementara? Kamu tinggallah di istana, dan biarkan aku menggantikan tempatmu di Kafilah Musim Dingin.”

“Yang Mulia!” Patih memprotes keras. Tapi Sultan Al Unalun hanya mengayunkan tangannya acuh.

“Tidak ada tapi atau protes, Patih! Dan kamu pasti mau menerimanya kan?”

Dan Harun mengerti kalau dia harus menerimanya kalau masih ingin hidup lebih lama.

“Bagaimana dengan urusan kerajaan?” kata Patih Faraj yang masih kebingungan. Sementara itu Harun hanya bisa terdiam.

“Urus saja sendiri. Suruh Harun menghadiri rapat atau semacamnya untuk menggantikanku. Jangan ganggu aku dengan hal remeh semacam itu.”

Patih Faraj hanya bisa tercengang. Bahkan sang sultan menolak diiringi pasukan pengawalnya. Tapi sultan muda ini memang keras kepala kalau sudah ada maunya.

“Jangan kuatir, kakek tua.” Kata sang sultan yang telah berganti baju. Kini dengan baju lusuhnya, penampilannya nyaris persis sama dengan penampilan Harun saat pertama kali dia muncul kemarin.

“Aku tidak sebodoh yang kamu kira.” Sambil tertawa dia menggoncangkan kantung uangnya yang penuh dinar emas, sebelum pergi menghilang diantara keramaian.

Sang patih menggelengkan kepala. Tapi dia tersenyum dalam hati. Diam-diam, dia telah menukar semua dinar emas di kantung uang sang Sultan dengan logam tak berharga.

Sekali-sekali, memang Sultan Manja ini harus diberi pelajaran. Kalau dia ingin petualangan, silakan saja berpetualang. Semoga dengan ini sang sultan mendapat pengalaman yang berarti.

Dan dibawah bayang-bayang menara istana dan bangunan-bangunan bata yang menjulang, sang patih menutup gerbang belakang istana dengan pikiran penuh. Besok ada pertemuan dengan duta besar kerajaan Rowami. Lalu janji dengan wakil perkumpulan pedagang yang sudah berkali-kali ditunda. Setidaknya Harun bisa membaca dan menulis. Kalau dia bisa belajar sedikit etiket dan tata Negara, sedikitnya bencana besar dan perang yang memakan korban jiwa akan dapat dihindari.

Patih Faraj bin Abdul Fulan berdiri di balkon tertinggi istana sambil memandang ibukota yang ramai dan penuh aktivitas. Seramai keadaan kota kemarin, juga seramai keadaan kota bulan lalu saat semua peristiwa ini dimulai.

Selain dirinya, hanya Sultan sendiri dan Harun yang mengetahui semua kejadian itu.

Ternyata Harun adalah pemuda yang cerdas dan rajin. Memang masih banyak yang belum diketahuinya. Tapi semua bisa ditutupi oleh waktu dan usaha.

Kalau ada orang yang bisa membaca pikirannya, dia bisa dihukum mati meski dia patih kerajaan itu sendiri. Tapi bagaimana lagi. Entah kebetulan atau takdir, dia merasa Harun memang lebih cocok menjadi Sultan dibandingkan Sultan yang asli.

Dalam diam Patih Faraj membakar surat bersandi yang diterimanya dari mata-mata kerajaan. Besok dia akan menyuruh sang mata-mata dibunuh secara diam diam.

Sang Patih tua menatap abu surat yang melayang lamban di atas bangunan-bangunan ibukota Kesultanan Baldebaran yang disinari mentari senja.

Surat tentang ditemukannya mayat Harun bin Huran di tengah padang pasir.

Read Full Post »

Suburban Romance

Dengan versi yang lebih pendek di Daily Daydream

Setiap hari saat dia berangkat ke kantornya yang sepi dia duduk di halte depan toko bunga itu. Dan saat dia pulang ke kamarnya di rumah susun yang kusut itu dia melewati bunga-bunga itu kembali. Sambil termangu, di bis yang berjalan lambat dan dipenuhi asap rokok atau di halte abu-abu yang berkabut asap kendaraan, dia memandang bunga-bunga sederhana berwarna cerah yang belepotan jelaga kota.

Seberat apapun harinya dia akan tersenyum saat melewati toko itu, melihat bunga-bunga yang seakan berdiri menantang kemuraman kota dengan gagah berani. Dan sesekali dia melihat sekilas celemek putih. Atau kelebatan gaun sederhana dan rambut panjang sang floris misterius yang jarang kentara.

Bunga-bunga itu menjadi selingan yang menghibur di sela-sela kesibukannya. Bagaikan oasis melankolis penuh warna di kota tua hitam putih tempatnya tinggal. Setiap hari dia bertekad turun dari bis dan menyapa sang penjual bunga. Atau bangkit dari halte dan sekadar membeli seikat. Tapi hari berganti hari dan rencana tetap rencana. Entah kesibukan, keterlambatan, atau sekadar tak adanya keberanian. Meski sesekali dia tersenyum saat sang gadis bunga terlihat. Dan dia tahu gadis itu membalas sapaannya.

Kota terus berkembang dan dia bertambah tua. Sebelum dia sadar, toko itu telah hilang entah kemana.

Kini rambutnya sudah memutih dan dia juga sudah tidak bekerja. Kota hitam putih itu juga telah menjadi tempat baru yang nyaris tak dikenalnya lagi. Tapi sesekali dia masih naik sembarang bis, tersenyum sembari melihat ke luar jendela, dan berharap sambil bernostalgia.

Read Full Post »

Author’s Note: My attemot on 100 words short stories.

Di sebuah hutan, hiduplah sekelompok Serigala. Hewan lain membenci serigala karena mereka rakus dan pemarah. Serigala juga suka mencuri makanan hewan lain.

Suatu hari hewan-hewan di hutan melihat beberapa manusia. Serigala tahu kalau manusia hidup berkelompok. Kalau beberapa manusia terlihat berarti teman-teman mereka akan segera datang. Dan manusia suka berburu hewan.

Para serigala tidak suka bergaul. Meski begitu sebelum pergi mereka sempat memberi tahu penghuni hutan tentang kebiasaan manusia. Tetapi para hewan saling berkata:

“Serigala pencuri dan menyebalkan. Karena itu perkataan mereka tidak mungkin benar.”

Keesokan harinya manusia datang membawa busur dan panah. Dan penghuni hutan habis diburu oleh manusia.

Read Full Post »

Fairy in a Bottle

Fairy in a Bottle

Fairy. Fae. Fey.

The wee folk. The fair folk.

Peri

Nyaris seluruh kebudayaan di dunia memiliki cerita tentang mereka. Mahkluk indah yang hidup di dunia lain. Bertubuh kecil dan memiliki kekuatan ajaib. Sebagian orang bercerita, kau bisa melihat mereka menari di bawah sinar bulan jika kau menemukan lapangan tempat mereka berkumpul di tengah hutan.

Sampai malam sebelumnya aku masih tidak percaya akan keberadaan mereka.

Sampai aku menangkap satu.

Aku memandang peri yang meringkuk di dalam toples kaca yang kutelungkupkan itu. Tadinya aku akan menggunakan toples ini untuk menangkap serangga, tapi aku malah mendapat sesuatu yang jauh lebih menarik.

Matahari mulai terbenam dan pinggir hutan ini menjadi semakin gelap. Seharusnya sekarang teman-temanku sudah mulai menyalakan api unggun untuk memasak makan malam di kemah.

Aku membungkuk dan mendekatkan kepalaku ke tanah agar dapat melihat peri yang kutangkap dengan lebih jelas. Tubuhnya terlihat berpendar di kegelapan hutan. Kuperhatikan, peri itu nyaris persis seperti manusia, dengan dua tangan, dua kaki, dan dua mata yang hitam besar dan menatapku dengan penuh rasa ingin tahu. Tetapi ukuran tubuhnya hanya sebesar burung kecil.

Mahkluk itu tidak mengenakan pakaian sedikitpun, tapi sepertinya tidak ada tanda khusus apa peri ini jantan atau betina. Dia duduk memeluk lutut, matanya menatapku tanpa ekspresi lain. Rambut coklat panjangnya tergerai menutupi sayap di punggung. Sayapnya berkilauan bagai perak, dan terlihat seperti sayap kupu-kupu. Mahkluk ini adalah mahkluk paling indah yang pernah kulihat seumur hidupku.

Kami berdua hanya saling berpandangan untuk beberapa lama. Toples itu memiliki ventilasi, jadi aku tidak takut peri itu akan kehabisan nafas. Matahari sepertinya telah terbenam dengan sempurna, tapi kukira teman-temanku tidak akan khawatir dan mencariku. Aku memang biasa pergi ke hutan saat matahari terbenam begini untuk mencari serangga atau mahkluk menarik lain.

Aku mencoba berbicara.

“Kamu ini peri?” tanyaku. Tidak ada respons.

“Kamu mengerti ucapanku?”

Awalnya kukira tidak ada respons, tapi kulihat dia menggerakkan kepalanya. Entah itu tanda kalau dia bisa mendengar suaraku atau dia mengerti ucapanku.

Peri itu terlihat begitu rapuh dan sedih. Dia menempelkan tangannya yang kecil ke dinding toples, dan menatap tangannya yang tertempel di kaca itu. Kemudian dia kembali memeluk lututnya dan memandang ke arah bulan yang telah terbit di langit. Aku jadi merasa sedikit bersalah.

Pendar cahaya dari tubuhnya menerangi wajah dan tubuhku. Kukira belum pernah ada orang yang berhasil menangkap peri dan memperlihatkannya ke dunia luar. Kalau aku bisa jadi orang pertama yang melakukannya, aku akan jadi orang yang sangat terkenal.

Seharusnya aku segera berlari ke kemah dan mengumumkan penemuanku, tapi peri ini begitu cantik dan misterius, begitu ajaib sehingga aku merasa ingin menikmatinya sendiri untuk beberapa saat lagi. Peri itu mengetuk-ngetuk dinding toples dengan tangan yang kecil.

“Kau ingin keluar?” tanyaku. Dia mengangguk. Ternyata peri ini memang mengerti bahasa manusia. Dia memandang ke dalam hutan dengan tatapan rindu.

Aku berpikir sejenak, dan diluar pertimbangan terbaikku, aku mengangkat toples yang mengurungnya. Mungkin aku sudah gila, tapi aku bisa merasakan kesedihan peri cantik itu di dasar hatiku sampai aku tidak tega mengurungnya lebih lama. Peri itu mengembangkan sayap kupu-kupunya yang berkilauan memantulkan cahaya bintang, dan terbang meninggalkan tanah tempatnya terkurung.

Tapi dia tidak pergi menghilang begitu saja. Dia terbang berputar-putar di hadapanku, dan terbang mengelilingiku dalam sebuah tarian di udara yang mempesona. Debu berkilauan bertaburan dari sayapnya sehingga aku merasa seperti berada di tengah lautan bintang. Peri itu tersenyum begitu bahagianya sehingga segala sesalku saat aku melepaskannya dari toples langsung lenyap seketika.

Peri itu terbang di tempat untuk beberapa saat.

“Kau ingin aku mengikutimu?” tanyaku. Peri itu mengangguk.

Aku tahu seharusnya aku kembali ke perkemahan. Seharusnya sekarang teman-temanku sudah mulai mencariku. Tapi siapa yang bisa menolak tawaran seorang peri untuk mengikutinya? Lagipula satu peri ini begitu mempesonaku sehingga aku ingin sekali melihat apakah ada peri lain di hutan ini.

Peri itu terbang perlahan, tanpa suara di antara pepohonan hutan. Tapi aku tidak kesulitan mengikutinya karena cahaya yang berpendar dari tubuhnya.

Aku tahu seharusnya aku merasa takut tersesat, khawatir teman-temanku akan kebingungan mencariku, tapi tanpa berbicara aku tahu peri itu menghilangkan semua kekhawatiranku dan ketakutanku. Tidak ada hewan liar yang mendekati kami, tidak ada ranting dan batu yang membuatku tersandung. Cahaya hangat dari peri itu membuatku terjaga, dan aroma sang peri yang bagaikan ekstrak aroma seluruh bunga hutan menentramkan hatiku.

Akhirnya kami tiba di sebuah lapangan di tengah hutan, lapangan yang dikelilingi pepohonan dan bunga dan disinari oleh sinar bulan yang keperakan. Jantungku terasa berdebar, gabungan perasaan senang dan ingin tahu, dan pesona yang menakjubkan dari keindahan sempurna sinar bulan, bunga-bunga hutan di sekitarku, dan peri yang melayang mengelilingiku. Kukira pemandangan seperti ini hanya ada di dalam mimpi, khayalan keindahan yang tidak mungkin ada di dunia nyata.

Perlahan dari pepohonan, aku melihat sinar-sinar keemasan yang melayang di udara, seakan muncul begitu saja dari kegelapan. Ada begitu banyak peri. Semuanya cantik diluar bayangan manusia, dengan sayap kupu-kupu yang memantulkan cahaya perak, emas, dan perunggu, debu bintang yang berkilauan, dan aroma bunga-bunga hutan yang lebih harum dari aroma apapun yang kuingat.

Peri yang mengantarku ke sini berbalik, melayang di udara di hadapan wajahku dan tersenyum manis.

Senyumnya lebih lebar dari yang kuingat tadi, dan aku bisa melihat rangkaian gigi-gigi tajam mungil yang berbaris di dalam mulutnya.

Aku tahu aku seharusnya khawatir, tapi aku tidak bisa lagi merasakan perasaan takut atau cemas sedikitpun. Meskipun aku melihat semua peri yang mengelilingiku tersenyum dan memamerkan gigi-gigi mereka yang kecil dan tajam.

Meski aku ingat, bahwa cerita tentang peri yang baik dan penolong adalah karangan modern tanpa dasar.

Bahwa sebagian besar legenda kuno tentang peri adalah bagaimana cara melindungi diri dari mereka.

Tambahan Author’s Note:

Ternyata… banyak yang ga sadar/ga ngeh kalau ini sebenernya cerita horror…  Apa terlalu subtle ya?

Read Full Post »

Strawberry Cake

Post terakhir… 3 bulan yang lalu o_0? oh well…
Saya masih ingin jadi jelly, tapi ini ini ada sebuah cerita petualangan, versi non fanfic dari cerita yang saya submit untuk Ragnafilia’s Unofficial Art Festival di Ragnafilia’s Fanfic and Fanart subforum.

Matahari bersinar dengan cerahnya di langit yang biru bagaikan sepatu baru. Seorang pemuda berbaring di padang rumput nan hangat, sembari mengulum bunga manis yang dipetiknya di pinggir jalan.

Ksatria berambut pirang itu memejamkan mata, menikmati damainya rune midgard diiringi alunan suara kebahagiaan para pemburu yang membunuh kelinci-kelinci jinak dan menjadikan banyak anak kelinci yatim piatu hari itu. .

Tiba-tiba ketenangan hari itu dipecahkan oleh suara orang yang terengah-engah. Ksatria itu membuka matanya dan melihat seorang tua berambut dan berjenggot putih panjang nampak tersengal-sengal, sembari menuntun seseorang yang diselimuti tudung.

Kakek itu terjatuh di hadapan pemuda yang kaget itu. Saat sang pemuda membantu kakek itu berdiri, sang kakek terbelalak kaget. “Bintang takdir….!”

Kakek itu menggenggam tangan si pemuda yang memiliki tanda lahir misterius. Sejak lahir, dia selalu bertanya-tanya apa arti tanda lahir berbentuk buah strawberry disambar petir mabuk itu.
“Anak muda… kamu adalah orang yang ditakdirkan!” kata kakek itu sebelum batuk nggak karu-karuan. “Ini adalah takdirmu…” katanya lagi sebelum kembali batuk-batuk parah. “Jagalah tuan putri..” adalah kata-kata terakhirnya sebelum kakek itu batuk-batuk-batuk yang benar-benar-benar gawat dan jatuh tidak bergerak.

Pemuda itu terbelalak kaget saat melihat orang satu lagi membuka tudungnya. Dia adalah gadis tercantik yang pernah dilihatnya. Rambutnya bagaikan mayang terurai keunguan. Matanya bagaikan Bintang kejora hijau yang terbit di ufuk. Alisnya bagaikan semut beriring khidmat. Bibirnya mungil bagaikan delima merekah indah. Pemuda itu merasa ada sesuatu yang mengikatnya dengan gadis yang baru ditemuinya itu.

Di balik jubahnya, gadis itu mengenakan sedikit kain tipis yang menutupi bagian-bagian penting. Jelas gadis ini seorang penyihir. Hanya para penyihir yang punya selera berpakaian tak praktis seperti itu. Penyihir pria mengenakan jubah wol tebal yang mengumpulkan tiga ratus macam aroma tak sedap dalam sehari, sedangkan penyihir wanita nyaris tak mengenakan apa-apa. Tapi, hei, memangnya siapa aku sampai berani-beraninya mengomentari selera berpakaian penyihir, pikir sang pemuda. Aku tidak protes sama sekali, tidak.

Meninggalkan kakek tua yang kini sudah tak bergerak dan tak berguna itu, mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat takdir menuntun mereka. “Ini adalah hal yang digariskan para dewa untukku” kata gadis bernama Alynna itu. “Tapi aku bersyukur karena akhirnya ksatria pelindungku telah ditemukan, tuan Renald.”

“Apakah petualangan besarmu itu?” tanya Renard.
Gadis itu menggenggam tongkatnya dan memandang ke awan yang berarak di kejauhan. Rambutnya berkibar pelan saat mata hijaunya yang indah dan sedih menerawang.
“Aku ditakdirkan untuk… Membeli Cake Strawberry di St Pierrantasia bakery…”

Takdir! Begitu kejam! Renard menahan nafas mendengar ikatan takdirnya dan gadis itu. Dia harus membeli Cake Strawberry di St Pierrantasia bakery! Cake yang terkenal akan keindahan dan kekuatannya itu! Cake yang diabadikan dalam puisi dari bahasa yang terlupakan… Gadis itu tanpa sadar mengalunkannya.

Ash nazg durbatulûk, ash nazg gimbatul, ash nazg thrakatulûk, agh burzum-ishi krimpatul.

One Cake to rule them all, One Cake to find them,
One Cake to bring them all and in the sweetness bind them
In the Land of Midgard where the Strawberries lie.

Tanpa sadar pemuda itu menggenggam pedangnya lebih erat. Selama ini, dia tahu dia ingin mengalami petualangan yang lebih dibandingkan membasmi tikus di saluran pembuangan kota. Tapi ternyata dia dihadapkan pada takdir yang lebih gelap.

Mereka berjalan semakin menjauhi keamanan kota. Saat tiba-tiba terdengar suara. “Kalau ingin selamat, serahkan harta kalian!”
Suara itu datang dari seorang Pemanah tampan berambut perak panjang. Dengan mata bagaikan jade gelap yang dalam dan penuh kesedihan. Renard menyambutnya dengan pedang. Mereka bertarung dengan latar belakang mentari yang terbenam kemerahan, dan daun-daun yang berguguran di luar musimnya. Begitu menawan, indah, sekaligus memilukan. Saat Renard nyaris mengalahkan Archerbandit itu, Alynna berlari. “Berhenti!”

Pemanah itu nyaris terbunuh tanpa alasan yang jelas. Tapi dia diselamatkan oleh gadis yang tidak dikenalnya. Terharu atas ketulusan hati gadis itu, sang bandit tampan mencium tangannya dan bersumpah setia kepadanya. Renald melirik cemburu, tapi pertarungannya sangat seru! Tak ada yang bisa menjalin persahabatan pria lebih baik daripada saling menghajar satu sama lain. Dalam sekejap mereka telah bersahabat bagaikan teman sejak lahir. Penyamun bernama Lyaann itu kini saling bahu membahu dengan Renard, melindungi putri penyihir dari rusa kejam dan kelinci pembunuh.

Keesokan harinya, mereka dikepung oleh segerombolan mahkluk mematikan! Alynna nyaris tak tega bertarung, sebab mahkluk yang menyerang mereka dikendalikan dendam. Betapa kejam takdir mereka, telur-telur yang dijadikan telur dadar dan telur mata sapi tanpa sempat menetas, tanpa sempat menikmati hidup dan dijadikan ayam goreng atau chicken nugget. Hantu-hantu mengerikan itu memojokkan mereka dengan rintihan suara memelas mereka.
Saat mereka mengira para dewa telah meninggalkan mereka, O! Cahaya putih menyambar dan mengirim hantu-hantu malang itu ke akhirat dengan sambaran energi suci membakar nan menyakitkan.. Ternyata ada takdir lain yang bersilangan! Seorang klerik mungil nan imut menyelamatkan mereka. Renard ingin berterima kasih dengan suara, tetapi dia tak yakin klerik itu gadis atau pemuda, jadi dia membungkuk hormat saja. Penyihir aliran putih berambut pink natural itu bernama Popo, dan dia berpetualang bersama dua sahabat. Seorang pencuri nakal nan playboy bernama Ludo dan seorang pedagang berkacamata bernama Albert. Siapa mengira, mereka juga sedang menuju bakery St Pierrantasia yang melegenda!

Alynna teringat pesan kakek pengawalnya dulu. Bintang takdir akan mengumpulkan enam petualang untuk bertarung bersama! Maka dibawah sinar bulan dan diiringi kobaran api unggun, mereka menyatukan senjata di atas kepala. Satu untuk semua dan semua untuk satu! Fellowship of the Cake telah resmi ada.

Tapi Alynna menyimpan satu ramalan takdir yang disimpannya dengan hati berduka. Dan tidak diberitahunya kepada siapapun.

Mereka berjalan bersama, berpetualang bersama. Bertarung dan berkeliaran bersama. Ludo yang ceria menggoda Popo dan Alynna. Renard bahu membahu bersama Lyaann sahabatnya. Dan Albert yang menghitung biaya.

Mentari berganti mendung dan mendung berganti hujan. Dibawah sambaran petir dan kilat membahana, keenam petualang muda berdiri. Setelah petualangan panjang dan berbahaya, akhirnya mereka tiba.

St Pierrantasia Bakery Menjulang dihadapan mereka.

O! Bakery yang melegenda. Dimana orang-orang bergelimpangan di sekelilingnya, tak sanggup menahan lapar dan dahaga. Sebab antrian panjang bagaikan naga gila dari mimpi buruk melingkar di sekelilingnya. Betapa mengerikan! Betapa kejam! Hanya demi sepotong kue nan luar biasa dari bakery St Pierrantasia!

Keenam petualang bersiap mempertaruhkan nyawa. Namun apa yang terjadi! Dibawah rintik hujan, Ludo dan Albert maju perlahan.
“Sahabat! Pergilah! Kami akan menahan mereka!”

Betapa memilukan. Dengan kekuatan persahabatan di hati mereka, Ludo dan Albert maju menghunus senjata. Teriakan perang mereka bergema, membuka jalan untuk Alynna. Langit seakan ikut bersedih, dengan hujan yang turun dan petir menyambar.

“Ludo! Albert!” teriak Alynna dengan air mata bercucuran. Dia memberontak, dia ingin membantu mereka. Namun Renard dan Lyaann menahannya. “Jangan sia-siakan pengorbanan mereka…” kata Renard sembari maju menerobos, membawa Alynna yang berlinangan air mata. Sembari menggigit bibir dengan hati terluka, Renard maju. Sementara Ludo dan Albert bertarung melawan naga antrian yang tak terkira panjangnya, pertarungan tak seimbang, tanpa kemungkinan menang.

“Kau tega Renard!” kata Popo dan Alynna bersamaan. Tapi mereka tidak melihat, betapa terlukanya hati Renard. “Apa kalian ingin menyia-nyiakan pengorbanan Ludo dan Albert! Kau harus mengingat takdirmu!” kata Lyaann tiba-tiba. “Mereka akan terus ada di hati kita, maka kita harus maju! Jangan sampai mereka sia-sia!”

Maka keempat orang yang tersisa maju menerjang gerbang St Pierrantasia Bakery, dengan kenangan akan Ludo dan Albert di hati mereka. “Kalian tak akan kami lupakan!” teriak Renard, Alynna, Popo, dan Lyaann di dalam hati.

Oh, aroma yang tak terkira lezatnya membahana di istana kenikmatan itu. Coklat! Vanilla! Jeruk! Dan ribuan kombinasi aroma tak terlukiskan mengalun. Diiringi etalase kaca bagai kristal jernih yang dipenuhi aneka warna. Warna permata kenikmatan, yaitu cake dan bakery tak terlukiskan lezatnya.

Alynna tanpa sadar maju mendekati salah satu etalase kaca. Jangan Alynna! Teriak yang lain. Tapi aroma dan kilauan harta memang memiliki efek tak terkira pada mereka yang tak siap.

“Ingat takdirmu! Kamu harus membeli Cake Strawberry!”

Tapi Alynna tidak mendengarnya. Sebab jiwanya terbujuk oleh iblis penggoda. Cake coklat! Oh betapa nikmat terlihat, betapa menggoda aroma. Perlahan Alynna berjalan mendekat, tak mempedulikan suara sahabat-sahabatnya. Tangannya tanpa sadar terulur, berusaha meraih penggoda berlapis kilauan manis beraroma.

Sesuatu yang tak terkira terjadi. Popo meloncat maju! Seakan dalam gerakan lambat, Renard dan Lyaann hanya bisa terpana.

Popo mengorbankan dirinya.

POPO!!!! teriak Alynna yang telah tersadar. Demi takdir mereka, popo mengorbankan dirinya. Gadis/Pemuda imut itu meraih kue coklat penggoda dan mengunyahnya!

Betapa besar jasamu, Popo! Alynna jatuh berlutut dan tersedu, mengutuki kelemahan dirinya. Popo terpaksa mengorbankan dirinya dan memakan kue coklat itu, dia harus membayarnya dengan uangnya sendiri. Dengan berlinangan air mata, ketiga petualang yang tersisa maju.

Awalnya mereka bertiga. Kini mereka kembali bertiga. Takdir yang mempertemukan mereka. Takdir pula yang memisahkan mereka. Dan takdir yang membawa mereka tiba di sini.

Sang koki sekaligus kasir. Sang pemilik St Pierrantasia Bakery. Jubah putihnya menjulang di hadapan mereka. Topi tingginya mengancam, spatulanya berkilauan. Suaranya bergema bagiakan suara ribuan butir gula, dan strawberry, dan vanilla, bagaikan aliran susu dan coklat cair penuh aroma.

“Mau pesan apa?” tanyanya.

Alynna bergetar. Inilah takdirnya. Dia mengingat semua yang telah dilaluinya untuk sampai ke sini. Semua petualangannya. Pengorbanan teman-temannya. Ludo… Albert… Popo… Pengorbanan kalian tidak sia-sia…

“Strawberry Cake satu.”

Bagaikan mukjizat para dewa, sang koki menggerakkan tangannya. Dengan satu gerakan mulus, dia membuka etalase bercahaya. AH! Aroma yang keluar, nyaris tak tertahankan. Uap dingin mengembus keluar, bergulung bagai kabut, dan jatuh di lantai yang berkilauan. Cahayanya menyilaukan, bagaikan cahaya sang dewa pencipta sendiri.

Potongan itu! Potongan utuh. Dimasukkan ke dalam kotak dengan segel St Pierrantasia yang termahsyur di seluruh benua.

Cake Strawberry kini berada di tangannya….

Tapi sesuatu yang tak terkira terjadi. Setelah Alynna memberikan uang untuk membayar dan cake itu diambil oleh Renard, terdengar suara.

“Serahkan cake itu.”

Lyaann! Ternyata dia pengkhianat! Renard dan Alynna terkesiap! Mereka sama sekali tak menyangka. Benar-benar sama sekali tak menyangka kalau Lyaann akan mengkhianati mereka di akhir petualangan. Lyaann menodongkan busurnya kepada Alynna dari jarak dekat. Alynna tak akan sempat merapal mantera. Dan Renard tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua tangannya membawa kotak cake besar itu sementara pedangnya tersampir di pinggang.

“Lyaann!! Apa maksudmu! Apa kau melupakan pengorbanan Ludo! Albert! Popo! Kukira kau sahabatku!” kata Renard dengan air mata berlinang. “Seharusnya kita berbagi cake itu dengan ceria!”

“Hah! Jangan bercanda. Aku tidak akan puas dengan sebagian! Aku ingin semuanya! Semua cake ini milikku”

Oh! Godaan cake itu ternyata begitu besar. Ternyata sejak awal Lyaann memang ingin merebutnya, saat semua mengira petualangan sudah berakhir. Pemanah tampan itu seorang musuh dibalik selimut.

Tanpa pilihan lain, Renard terpaksa menyetujui. Tapi saat Lyaann bersiap membawa kotak cake itu, barulah Renard berteriak kepadanya. “Kau tidak menyadari, ada kesalahan fatal pada rencanamu! Kalau kau membawa kotak kue itu, kau tidak bisa menarik busur!”

Lyaann mengumpat. Dia tidak menyangka ada lubang pada rencana besarnya! “Kalau begitu, aku terpaksa harus mengalahkan kalian dulu!”

Lyaann mencabut busurnya. Renard mencabut pedangnya. Sementara Alynna terduduk di tepi, terkoyak hatinya. “Lyaann… Renard… jangan bertarung…”

Petir menyambar di luar. Badai bergemuruh. Tapi badai di dalam St Pierrantasia Bakery bergelora lebih dahsyat. Kedua sahabat, yang ternyata terikat takdir kejam. Awalnya mereka bermusuhan. Lalu mereka bersahabat bagaikan teman sejak lahir. Tapi kini, takdir memaksa mereka bertarung.

“Sayang sekali Renard. Padahal aku benar-benar menganggapmu sahabat!” kata Lyaann di tengah-tengah pertarungan. “Kau sebenarnya teman terbaikku!” katau Renard juga sembari mengayunkan pedang. Tapi Cake Strawberry ada diantara mereka.
Keduanya seimbang. Keduanya tangguh. Mereka bertarung dengan latar belakang kematian. Kalau ada yang melihat, mereka akan merasa ratusan penyanyi opera dan orkestra kerajaan ada di situ, bernyanyi, bermusik sebagai latar belakang pertarungan epik mereka. Pertarungan yang mengakhiri sebuah petualangan besar. Pertarungan yang begitu menyedihkan.

Lyaann meluncurkan panahnya, tepat saat Renard terjatuh dan tidak bisa menghindar. Renard mengira hidupnya akan berakhir. Tapi Alynna menghalangi. “Renard!”

Sesaat mereka mengira panah menancap di tubuh Alynna. Tapi tidak! Liontin warisan keluarga Alynna, yang tidak ada yang tahu kalau dia selalu memakainya sejak awal, ternyata menyelamatkannya! Liontin itu terjatuh ke lantai.

“…tidak mungkin…” Lyaan mengeluarkan liontin di sakunya. Liontin yang sama.

“Lyaann… kau kakakku yang hilang!” kata Alynna. Begitu jelas! Kenapa mereka tidak sadar sejak awal!? Lyaann dan Alynna adalah anagram dari huruf-huruf yang sama! Itu menjelaskan takdir mereka, dan obsesi Lyaann terhadap cake strawberry itu. Belum lagi warna mata mereka yang serupa.

Lyaann terduduk. Sementara suara suci begema di bakery itu.
“Perhatian-perhatian. Bakery akan tutup sebentar lagi. Diharap para pengunjung segera menyelesaikan transaksi.”

Lampu-lampu mulai dimatikan. Pintu-pintu mulai ditutup. Renard berlari menyambar kotak cake strawberry dan Alynna. Mereka tidak akan sempat!

“Kalian pergilah!” kata Lyaann. “Aku akan menahan pintu ini!” Sebelum Alynna dan Renard sempat protes, Lyaann menendang mereka. Tepat sebelum pintu yang ditahannya tertutup.

“LYAANN!!!” teriak mereka berdua. Tetapi mereka belum lolos. Mereka harus berlari dengan sekuat tenaga, melewati pintu-pintu yang menutup. Lebih dari sekali mereka berdua nyaris tidak berhasil lewat. Sampai pintu terakhir. Saat itu Renard menyadari, satu-satunya kemungkinan lolos.

Dan Alynna teringat. Satu ramalan takdir yang tidak diberitahunya pada siapapun. Tapi Renard tahu.

Renard melempar kotak cake dan Alynna. “Penuhi takdirmu!” teriakan terakhir Renard terdengar.

“TIDAK RENARD!” kata Alynna. Diluar dugaan siapapun, Alynna mengganjal pintu terakhir dengan kotak cake strawberry. Saat Renard masih terkesima, Alynna menariknya. Pintu terakhir tertutup saat mereka berhasil lewat. Kotak kue itu hancur.
“Cake Strawberrynya…. Takdirmu… Takdir kita…” kata Renard.

“Tidak Renard… ada yang lebih penting dari takdir para dewa…”

Hujan telah berhenti dan bulan purnama bersinar indah di langit Rune Midgard yang penuh bintang. Mereka saling berpandangan selama beberapa saat, dibawah sinar perak rembulan, diatas permadani kehijauan yang mengeluarkan aroma kehidupan.

“Mimpi dan Harapan umat manusia… Kita akan membuktikan kalau kita bisa berpetualang tanpa harus memenuhi takdir para dewa.”

Dibawah sinar bulan yang keperakan mereka berciuman.

One Cake to rule them all, One Cake to find them,
One Cake to bring them all and in the sweetness bind them
In the Land of Midgard where the Strawberries lie.

TAMAT
…………



Epilog.



Setelah dipukuli orang yang mengantri dan diserahkan ke satpam, Ludo dan Albert keluar dengan luka-luka ringan dan tangan dibebat gips.
Popo agak kekenyangan dan uangnya habis, tapi dia keluar dengan selamat.
Saat pemilik toko menyadari kalau ada pengunjung yang tertinggal, dia membuka pintunya dan membiarkan Lyaann keluar.
Cake Strawberrynya ternyata lebih kuat dari perkiraan. Meskipun penyok, tetapi cake itu masih bisa dimakan.

Read Full Post »

Dompet

Cerpen untuk anak.

Dompet

Dompet itu tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Adit menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepertinya orang-orang yang berlalu lalang tidak ada yang melihat dompet itu. Udara yang panas membuat orang menjadi terburu-buru. Adit menelan ludah dan membungkuk untuk mengambil dompet itu.

Dompet itu hanya dompet kulit biasa yang sudah tua dan jelek. Tidak ada yang khusus atau yang istimewa. Tapi saat Adit mengintip ke dalamnya, dia melihat selembar lima puluh ribuan! Tidak ada apa-apa lagi di dalam dompet itu selain selembar kertas bertuliskan alamat yang tidak dikenal Adit.

Aditpun berpikir sejenak. Apa mungkin ini alamat pemilik dompet itu? Tapi alamat itu cukup jauh. Dan kalau tabungannya dijumlahkan dengan uang dalam dompet ini, akhirnya uangnya akan cukup untuk membeli radio control yang dia idam-idamkan.

Jadi setelah memastikan tidak ada orang lain yang melihatnya, Adit memasukkan dompet itu ke dalam tasnya dan melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan hati Adit berdebar-debar. Dia tidak sabar ingin segera sampai ke rumah. Setiap dia melewati kedai yang menjual es krim atau jus buah, adit menelan ludah. Di siang bolong yang terik seperti ini pasti enak sekali minum jus. Tapi adit memantapkan pikirannya. Uang ini untuk beli radio control idamannya.

Tapi, dipakai sedikit sepertinya tidak apa-apa, pikir Adit. Jadi dia mendekat ke salah satu kios yang menjual es krim. Tapi siapa itu? Rasanya adit pernah melihat orang berkacamata hitam itu? Orang itu terlihat sedang bertanya kepada penjual es krim. Kemudian dia keluar dan menoleh ke kiri dan ke kanan.

Ah iya! Orang itu tadi terlihat di dekat tempat Adit menemukan dompet! Hanya kebetulan, pikir adit. Aditpun melanjutkan perjalanannya.

Beberapa menit kemudian, Adit melewati tokomainan langganannya. Adit mendekat ke etalasenya. Sebentar lagi radio control idaman itu akan menjadi miliknya. Tapi sebelum Adit tiba di toko itu, langkah kakinya berhenti. Orang berkacamata hitam yang sedang berdiri di sebelah kios majalah itu, bukannya orang yang dilihatnya tadi? Masa sih mereka berpapasan lagi?

Adit merasa orang itu mengamatinya. Tiba-tiba orang itu berjalan ke arahnya. Adit berbalik arah dan berjalan lebih cepat. Mungkin hanya kebetulan, pikir Adit. Tapi apa mungkin orang itu pemilik dompet ini? Ah, tidak ada buktinya, pikir Adit. Tidak ada surat identitas di dompet itu. Dompet itu hadiah dari Tuhan untuk membantunya membeli radio control idamannya.

Aditpun tiba di persimpangan jalan. Rumahnya sudah semakin dekat. Adit melambatkan kakinya dan menghapus keringat di wajahnya. Dan dia kembali berjalan dengan santai. Dia melihat ke etalase kaca rumah makan padang yang dilewatinya. Ah, enaknya kalau sudah sampai di rumah. Nanti aku akan makan yang banyak sebelum pergi ke toko mainan.

Adit berhenti sejenak. Sepertinya seseorang yang dikenalnya terpantul di kaca. Orang yang sedang minum the botol di seberang jalan itu, itu orang berkacamata hitam yang tadi! Ini tidak mungkin kebetulan, pikir Adit.

Orang itu selesai minum teh botol, dan melihat Adit di seberang jalan. Adit melihat dari pantulannya kalau orang itu berjalan mendekatinya. Tanpa pikir panjang adit lari.

Tadi orang itu mengeluarkan dompetnya sendiri untuk membayar the botol. Berarti sepertinya ini bukan dompetnya. Tapi kenapa orang itu terus mengikutiku? Adit berpikir sembari mengambil nafas di ujung gang dekat rumahnya.

Apa mungkin dia mengenali dompet itu sebagai dompet temannya? Tapi dompet itu sama sekali tidak memiliki ciri khusus.

Berarti satu-satunya kemungkinan adalah, orang itu menginginkan alamat yang ada di dompet. Jangan-jangan orang itu perampok, dan alamat itu adalah alamat tempat persembunyian hasil rampokannya? Mungkin dia menjatuhkannya secara tidak sengaja dan sekarang ingin mendapatkannya lagi.

Atau jangan-jangan, orang anggota gerombolan pencuri itu sudah berjanji dengan temannya. Temannya berpura-pura menjatuhkan dompet yang berisi alamat tempat bersembunyi mereka di tempat tertentu, dan orang berkacamata hitam itu harus mengambilnya. Tapi sebelum dia sempat mengambilnya, Adit telah mengambilnya duluan! Kalau orang itu menangkapku, pasti aku akan diculik! Sebab aku sudah mengetahui tempat rahasianya!

Adit menoleh ke belakang. Syukurlah orang itu tidak kelihatan lagi. Rumahnya tinggal beberapa meter lagi. Aditpun berjalan dengan santai.

Jantung adit serasa berhenti berdetak. Di depan rumahnya, itu orang berkacamata hitam tadi! Dia sudah tahu alamat rumahnya dan kini sedang menunggunya. Adit berjalan mundur. Apa yang harus dia lakukan?

Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Itu ayah! Adit segera berlari ke rumahnya tanpa mempedulikan orang berkacamata hitam itu. “Ayah! Tolong aku. Aku dikejar perampok karena menemukan dompet berisi alamat markas rahasia mereka! Ayah Adit hanya menatapnya dengan heran. Dan, kenapa orang berkacamata hitam itu malah mendekat?

“Apa maksudmu,Dit?” Tanya orang berkacamata hitam itu. “Mana perampok yang mengejarmu?” Orang itu membuka kacamatanya dan melihat ke kiri dan ke kanan.

Adit merasa mengenalnya. “Kak Agus?” tanyanya. Itu sepupunya yang sudah beberapa tahun tidak bertemu dengannya.

“Wah, kamu masih kenal aku ternyata.” Kata kak Agus. “Dari tadi aku mencari alamat rumah ini tapi nggak ketemu-ketemu. Sudah 5 tahun sih. Waktu aku melihatmu, aku pikir, ini mungkin Adit. Tapi tiap kudekati kamu malah lari.”

Adit tertawa. Pantas saja orang itu terlihat terus di sepanjang jalan menuju rumah.

“Adit,” kata ayah. “Kak Agus bawa hadiah untuk ulang tahunmu bulan lalu. Berterima kasih dong?”

Adit menatap tidak percaya. Itu radio control idamannya! “Terima kasih kak Agus!” seru adit dengan gembira. Dan Adit bergegas membuka pembungkusnya. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Ayah, nanti temani aku ya? Aku mau mengantar dompet yang kutemukan di jalan.”

Read Full Post »

Hmm.. Semacam pilot episode untuk rencana serial dongeng anak-anak. Karena belum jelas, makanya belum ditaruh di kategori sendiri, hahah.

Andi dan Kapten Jenggot Biru

Andi sudah lama bercita-cita ingin menjadi pelaut. Bukan sekadar nelayan seperti ayah dan kakeknya. Andi ingin naik kapal yang besar, melihat lautan lepas tak berujung, dan singgah di tempat-tempat yang belum pernah didengarnya.

Desa tempat tinggal Andi adalah desa kecil di tepi pantai. Sebagian besar penduduknya nelayan. Semua belum pernah pergi lebih jauh dari kota tetangga dibalik bukit. Tapi Andi ingin melihat peri, naga, dan raksasa.

Karena itu begitu dia cukup besar, dan ada kapal dagang kurcaci yang singgah di desanya, Andi langsung mendaftarkan diri untuk menjadi pelaut di sana.

Tapi kini Andi terapung dalam sebuah tong kayu.

Baru sehari perjalanan, kapal itu diserang badai. Andi yang tidak beruntung terseret oleh ombak. Dia hanya sempat meraih sebuah tong apel. Andi hanya bisa melihat dengan sedih saat kapal kurcaci itu terseret angin dan menjauhinya tanpa daya.

Setelah tiga hari hanya makan apel dan minum air hujan, Andi mulai bosan. Dan khawatir kalau-kalau dia akan terapung seperti ini selamanya. Selama tiga hari tak terlihat apapun di laut. Karena itu dia sangat kaget saat dia mendengar suara.

“Kapten, kita mendapat tangkapan aneh!”

Sebelum Andi sadar, dia merasa tong tumpangannya melayang di udara. Dalam sekejap dia sudah berada di dek sebuah kapal yang baru dilihatnya.

“HAH HAH HAH” terdengar suara tawa menggelegar. “Ada anak pemberani yang berlayar dalam tong apel!”

Andi dikeluarkan dari tong dan dikelilingi oleh rombongan aneh. Andi belum pernah melihat rombongan seunik ini sebelumnya. Ada manusia, kurcaci, dan orang kerdil. Bahkan sepertinya ada mahkluk setengah peri. Semuanya memakai baju yang lebih unik dari baju pelaut biasa.

Ada yang memakai baju dari perca aneka warna. Ada yang memakai tutup mata dari kulit penyu. Ada yang memakai ember sebagai topi.

Kapal itu besar dan meriah. Ada tong dan peti berwarna warni. Ada meriam dan jala. Ada juga tali panjang, tempat baju-baju dijemur berkibar. Berdampingan dengan layar dan senar.

Tapi yang paling menarik. Ada patung jagung besar. Bertengger dengan tenang di ujung haluan.

Lalu Andi melihat ke atas. Dia melihat bendera hitam. Andi langsung sadar, ini kapal bajak laut! Sewaktu kecil dia sering mendengar cerita kakeknya. Mengenai bajak laut yang kasar. Mereka senang mencari harta karun. Dan suka memaksa orang berjalan di atas papan. Untuk diceburkan ke laut.

“Ampun tuan bajak laut,” Kata Andi. “Jangan ceburkan saya ke laut, ambil saja semua apel yang saya punya.”

“HAH HAH HAH HAH HAH”

Suara tawa menggelegar itu terdengar lagi. Dibarengi oleh berbagai jenis tawa lain.

“Kami punya cukup apel untuk sebulan, anak kecil,” kata suara menggelegar itu.

“Sekarang siapa namamu? Dan bagaimana kamu bisa ada dalam tong?” Suara itu berasal dari seorang bajak laut bertubuh besar. Sebelah tangannya digantikan sendok besar bengkok dan sebelah kakinya terbuat dari kayu. Satu matanya ditutupi kain hitam bergambar jagung. Tapi yang paling menarik perhatian adalah jenggot lebatnya yang panjang dan berwarna biru, seperti rambutnya yang lucu.

Andi masih ketakutan, tapi dia mulai bercerita. “Tuan bajak laut, nama saya Andi, dan saya berasal dari desa Gelundung. Saya bercita-cita ingin menjadi pelaut. Tapi saat saya naik kapal kurcaci, saya terseret ombak bersama satu tong apel.”

“Dan sepertinya kamu sudah bosan dengan laut sekarang?” bajak laut besar tadi tersenyum nakal. “Yah, biasanya kami membawa anak sepertimu ke sirkus untuk dijadikan pembantu badut atau asisten penjinak singa. Tapi kami sedang bosan dengan sirkus. Dan kebetulan kami sedang berlayar ke arah desa Gelundung. Jadi kami akan menurunkanmu dekat sana.”

Tapi Andi langsung berdiri dan memohon.

“Jangan kembalikan saya ke desa Gelundung, tuan bajak laut. Kalau saya kembali, pasti ayah saya akan melarang saya untuk pergi lagi. Saya masih ingin berlayar, melihat peri, naga, dan raksasa! Tapi jangan jual saya ke sirkus, sebab nanti saya akan dipaksa menjadi badut atau membersihkan kandang singa. Sehingga saya tidak bisa berlayar juga!”

Para bajak laut itu kaget dengan jawaban Andi. Kemudian mereka semua tergelak-gelak karena jawaban itu.

“Kita mendapatkan anak aneh yang pemberani, kapten!” kata salah seorang dari mereka.

“Apa kita jadikan umpan untuk memancing paus saja?” kata seorang lagi.

Sang kapten tertawa paling keras dan paling lama. “Sudah lama kami tidak bertemu anak sepertimu. Kalau saja kita berada di laut tenggara, aku akan menurunkanmu di kota terdekat. Kamu pasti bisa menumpang kapal dagang lain. Sayangnya kita sedang berada di tengah laut Barat. Tidak ada pelabuhan selain desa Gelundung sejauh berkilo-kilo”

Seorang bajak laut yang paling tua dan paling bungkuk berjalan mendekat. Sepertinya dia orang yang dituakan di kapal. “Kapten Jenggot Biru. Kapten ingat petugas pengepel dek kita? Dia memutuskan untuk berhenti melaut dan menjadi petani pisang minggu lalu.”

Andi mengangkat tangan dan berseru. “Saya bisa mengepel lantai. Bolehkah saya bergabung dengan kapal ini, tuan bajak laut? Asal saya diperbolehkan melihat gurita raksasa atau putri duyung.”

“HAH HAH HAH” Sang kapten menepuk punggung Andi. “Apa kamu berjanji kamu tidak akan kabur, atau tiba-tiba ingin bertani pisang? Atau rindu rumah?”

Andi mengangguk. Mungkin dia akan rindu ayahnya, tapi kelak dia akan pulang. Sebelumnya dia ingin berlayar sepuas hatinya.

“Ini bukan kebetulan. Kapal kita yang mengantar kita ke pertemuan ini. Mulai hari ini, kita mendapat anggota baru. Aku menamainya, Andi si Tong Apel!”

Dan semua bajak laut bersorak. “AYE KAPTEN!”

Kemudian mereka semua mengangkatnya. Ada pria dan wanita, manusia dan mahkluk ajaib. Semua berseru gembira. Bahkan Andi merasa si kapal ikut tertawa. “Selamat datang di kapal Jagung Terbang,” sorak mereka.

Andi menerima salam mereka semua dengan jantung berdebar. Dia bisa melihat laut biru luas di sekelilingnya, dan awan putih ringan mengapung di atas kepalanya. Dia menatap ke kejauhan, ke tempat desa Gelundung berada. Angin laut berhembus membawa aroma garam. Suara camar terdengar di telinganya. Dan petualangan berdesir di benaknya.

Andi memang selalu ingin menjadi pelaut. Bukan sekadar nelayan seperti ayah dan kakeknya. Dia ingin naik kapal yang besar, melihat lautan lepas tak berujung, dan singgah di tempat-tempat yang belum pernah didengarnya.

Tapi dia tidak pernah menyangka. Kalau kelak dia akan menjadi bajak laut.

Bersama Kapten Jenggot Biru dan kapalnya yang unik, Jagung Terbang.

Read Full Post »

Sepatu

Sebuah cerpen-dongeng. Seperti biasa didedikasikan untuk Neil Gaiman, kali ini untuk novelnya ‘Anansi Boys.

Sepatu

Hari itu seperti biasa aku berjalan kaki dengan terburu-buru menuju tempat kerjaku. Aku mengutuk jam beker yang entah punya dendam apa padaku sehingga mati sejam sebelum waktu seharusnya dia membangunkanku. Jam terkutuk. Memang kesiangan ataupun tidak kesiangan, aku selalu berjalan dengan langkah cepat, tapi hari ini moodku jauh lebih buruk dari biasanya.

Bukannya aku suka dengan pekerjaanku. Aku juga heran kenapa aku selalu datang pagi pulang petang seperti ini. Pekerjaanku adalah jenis pekerjaan yang bisa dilakukan simpanse yang dilatih menggunakan komputer dan menghitung. Ruang kerjaku pun sepertinya memang didesain untuk ukuran primata itu.

Bayangkan betapa inginnya aku membunuh saat seseorang menginjak sepatuku. Dan jenis injakannya adalah injakan kritis tepat di sisi sol sepatu yang bertepatan dengan momen aku sedang mengangkat kakiku. Jenis injakan yang merenggut bagian atas sepatuku dari solnya yang memang hanya disatukan oleh selapis lem murah menyedihkan.

Aku hampir melakukan tindak kriminal pertamaku, saat aku melihat bahwa orang yang menginjak sepatuku adalah seorang kakek-kakek pedagang asongan. Tapi memang itu salahnya, entah bagaimana dia berjalan dengan begitu santainya sampai-sampai dia tidak melihat kedepan.

Kejengkelanku sedikit berkurang karena kakek itu meminta maaf berkali-kali. Tapi maaf tidak membuat sepatuku tiba-tiba kembali baik.

“Kakek, sudahlah.” kataku setelah mencak-mencak tidak karuan dan menarik perhatian segerombolan orang kurang kerjaan. “Saya sudah terlambat kerja, dan maaf kakek tidak membuat saya tiba-tiba sampai di kantor dengan tepat waktu.”

“Maaf kakek merusak sepatu adik,” katanya entah yang keberapa kali. “Kalau cuaca cerah seperti ini kakek memang suka tidak memperhatikan jalan. Terlalu banyak hal menarik.”

Saat aku sedang berdebat di dalam hati apakah aku harus melanjutkan perjalanan ke kantor dengan sepatu rusak atau tanpa sepatu, kakek itu merogoh-rogoh tasnya.

“Sebagai permintaan maaf, kakek cuma bisa memberi ini. Memang tidak sebagus sepatu adik, tapi paling tidak adik bisa melanjutkan perjalanan dengan alas kaki.”

Bersamaan dengan itu, perdebatan di kepalaku berakhir dengan kesimpulan bahwa, meski tidak ada aturan berpakaian khusus di kantorku, aku tetap harus memakai sepatu di kantor. Karena itu dengan enggan aku memperhatikan sepatu pemberian kakek itu. Setelah melihat sepatu itu, aku mulai berdebat lagi.

Sulit menjelaskan bentuk sepatu itu. Atau mungkin secara fisik sepatu itu memang sepatu biasa, hanya imajinasiku yang berlebihan. Tapi yang jelas, itu bukan jenis sepatu yang pernah atau akan kupakai.

Sepatu itu bukan sepatu untuk dipakai pergi ke kantor. Orang yang memakai sepatu itu adalah orang yang diharapkan akan menari tap-dance atau berdansa di panggung. Sepatu itu tidak untuk dipakai melangkah biasa, mau tak mau penggunanya harus berjalan sembari menarik perhatian penonton.

Pengalaman terakhirku dengan penonton adalah muntah karena gugup saat dipaksa menyanyi dalam ujian seni musik sewaktu sekolah.

Yang jelas, aku belum pernah dan sampai hari ini, kukira tidak akan pernah memakai sepatu sejenis itu.

“Maaf kek, saya tidak bisa menerimanya,” kataku dalam berbagai arti.

Tapi kakek itu menekankan sepatu itu ke tanganku. Dia mendekatkan kepalanya ke sisiku, dan berbisik. “Tapi ini sepatu ajaib.”

Dia tersenyum, dan sebelum aku bisa memastikan apakah dia bercanda atau hanya ingin menggangguku, kakek itu sudah pergi.

Pragmatisme mengalahkan nostalgia masa sekolahku. Aku segera mengenakan sepatu itu dan melesat menuju kantor.

Benar saja, dalam perjalanan semua mata menatap ke arahku. Tepatnya ke arah sepatuku. Bahkan dengan baju pesta, sepatu itu akan menarik perhatian. Apalagi jika dipakai oleh orang dengan baju kerja. Kebanyakan orang tersenyum dan mengangguk kearahku. Sebagian hanya berbisik-bisik dan menunjuk. Sebagian bahkan dengan beraninya tertawa terang-terangan. Aku berusaha mengacuhkan mereka dan memfokuskan seluruh pikiranku untuk pergi ke kantor.

Tiba terlambat tidak membantuku mengurangi perhatian ke arah sepatu ini. Penjaga pintu kantor dengan jenaka tersenyum dan menyapaku. “Sepatu baru?” Seumur-umur baru kali ini dia berbicara kepadaku. “Ya,” kataku kesal, bosan dengan semua perhatian kepada sepatu konyol ini. Kalau dipikir-pikir, itu juga pertama kalinya aku bicara dengannya.

Setiba di ruangan kantor, aku menggigit bibir dan memaksa kakiku untuk melangkah menuju ruangan bosku yang terletak di jalur pandangan seluruh rekan kerjaku. Oh kenapa bosku tidak mengambil ruangan di sebelah gudang. Dan kenapa semua orang bukannya bekerja menatap komputer seperti pekerja kantor yang baik, tapi malah memperhatikan seorang rekan mereka yang terlambat dan datang dengan mencolok dari pintu.

“Maaf pak, saya terlambat.” kataku kepada bos yang sedang menghadapi tumpukan laporan entah apa.

“Ya, kita memang harus selalu disiplin.” katanya. “Ini keterlambatan pertamamu dalam… oh, bertahun-tahun.” entah kenapa aku curiga pikirannya tidak sedang tertuju kepada catatan kedisiplinan pegawai.

“Ngomong-ngomong, sepatu bagus,” katanya sambil nyengir. Aku tersenyum sopan sebelum meninggalkan ruangan itu.

Beberapa jam berikutnya aku terbenam dalam tumpukan angka-angka di bilik kerjaku. Tapi aku tahu beberapa orang sengaja lewat untuk menyapaku, hanya karena ingin melihat sepatuku lebih jelas. Aku merasa bahwa jam istirahat akan menjadi neraka.

Aku bukan orang yang ekstrovert. Aku jarang mengobrol dengan orang. Aku tidak suka mengobrol dengan orang. Liburanku juga biasa kuisi dengan main game atau menonton dvd di rumah, atau sekali-sekali nonton bioskop di luar. Aku tidak suka nonton bioskop bersama, untuk apa bayar mahal-mahal dan terganggu oleh percakapan?

Aku biasa menghabiskan jam istirahatku untuk merenung, memandangi wallpaper komputer, atau tidur setelah makan. Tapi selagi aku makan di kantin, aku tahu aku tidak bisa melakukan kebiasaanku hari ini.

Seingatku, baru kali ini aku pernah makan bersama lebih dari 4 orang selain saat makan malam keluarga.

“Hai.” kata seseorang.

“Halo.” kataku sambil tersenyum basa basi.

“Makan?” kata orang lain sambil meletakkan nampannya di sebelahku.

“Aku suka sepatumu.” kata seorang rekan yang namanya belum pernah kutanyakan.

“Bagus lho.”

“Lucu.”

“Kamu suka dansa?”

“Namamu siapa sih? Sudah lama kita sekantor kok aku lupa nama kamu?”

“Ngomong-ngomong, sebenernya kamu single atau sudah nikah ya? (disambung dengan tawa orang-orang).

Pada satu jam itu aku berbicara dengan lebih banyak orang dari yang biasa kuajak bicara selama sebulan.

Aku tersenyum saat seseorang bercerita tentang paman tuanya yang masih suka menari.

Aku bertukar kartu nama dengan banyak orang yang sebenarnya sudah duduk di kantor yang sama selama setahun lebih.

Saat jam istirahat usai, seseorang menepuk punggungku. “Malam ini ulang tahun Nita. Nanti datang ke restoran ya?”

“Oh, maaf, aku tidak bisa…”

“Sudah datanglah. Pasti menyenangkan.”

Aku tidak ingat kapan terakhir aku datang ke pesta. Apalagi pesta yang diadakan di restoran. Apalagi restoran terkenal dengan banyak pengunjung dan sebuah panggung tempat orang menyanyi. Karena itu aku nyaris berkata ‘tidak.’ Tapi entah kenapa aku tidak menjawab, dan rekanku itu menganggap kediamanku sebagai ‘ya.’

Aku langsung diseret menuju taksi begitu waktu pulang kantor. Malamnya aku duduk di sebuah restoran yang ramai, berusaha memikirkan kenapa aku datang ke sini sambil menyesap minumanku. Lagu-lagu dimainkan di panggung yang sengaja disewa untuk acara pesta ulang tahun ini. Penyanyi restoran menyanyikan beberapa lagu dengan lumayan. Rekan-rekan kerjaku bergantian menyanyikan beberapa lagu dengan memalukan. Aku tidak habis pikir.

Aku memang tidak habis pikir. Sebab sebelum aku sempat selesai memikirkannya, lampu sorot mengarah padaku dan orang yang duduk di sebelahku mendorongku dari kursi.

Aku baru ingat. Sepatu terkutuk. Belum sempat kuganti. Membuat orang menganggap penggunanya adalah artis yang wajib disuruh menari dan menyanyi.

Aku hampir muntah. Tidak bercanda, sudah terasa asamnya cairan lambung di tenggorokanku. Tapi aku terseret arus kedepan. Dan mike sudah berada di tanganku saat musik latar belakang mulai dikumandangkan.

“Sepatu bagus,” kata pemain gitar.

Aku sudah memikirkan cara untuk bunuh diri sepulang dari pesta ini. Tapi pertama, aku harus menyanyi. Mungkin kata kakek itu sepatu ini sepatu ajaib, tapi sepatu ini tidak membuat suaraku tiba-tiba bagus atau aku bisa menari. Jadi aku menyanyi dengan suara sumbang dan tubuh sekaku patung di atas panggung. Sambil memikirkan cara untuk bunuh diri dengan tidak sakit. Bisakah orang mati karena malu?

Saat lagu itu selesai, aku merasa seperti baru berendam air dingin selama berjam-jam. Dan aku menunggu cemoohan rekan-rekanku. Tapi mereka ternyata tidak mencemooh.

Mereka tertawa, bertepuk tangan, dan menyorakiku (dengan cara yang kuduga tidak dimaksudkan untuk menghina). Aku berbisik kepada orang yang duduk di sebelahku.

“Bagaimana suaraku?”

“Sumbang. Tapi siapa peduli? Kamu kan bukan penyanyi?”

Dan entah kenapa, aku lebih menikmati malam itu.

Keesokan harinya, aku berangkat agak siang (karena pesta itu) meski belum terlambat. Dan aku berjalan dengan sedikit lebih pelan dari biasanya. Orang-orang tersenyum padaku meski aku tidak mengenakan sepatu ajaib itu (mungkin karena aku tersenyum pada mereka). Dan aku menunggu cukup lama di tempat kakek itu menginjak sepatuku kemarin. Tapi dia tidak lewat.

Aku menghela nafas dan berjalan ke kantorku dengan bersenandung. Tadinya aku ingin mengembalikan sepatu itu ke si kakek. Tapi sepertinya aku akan menyimpan sepatu ini.

Untuk berjaga-jaga seandainya aku menginjak sepatu orang lain.

Read Full Post »

Older Posts »