Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Once Upon an Adventure’ Category

Sepertinya saya mulai ingin meneruskan cerita ini. Sementara ini, ada beberapa gambar yang saya buat sewaktu iseng.

meryll

Meryll :heart: :heart:

Digambar menggunakan (dan hanya menggunakan) microsoft paint. Turned out better than what I expected, dan gambar ini yang membuat saya kembali percaya diri untuk menggambar.

Once Poster

Poster untuk Once upon an adventure, hehehe. Tapi kayanya ga bakal sanggup/sempet ngewarnainnya sih.

Dan terakhir, meskipun sebenernya gambar yang udah dibuat berbulan-bulan yang lalu, versi super deformed dari cast Once Upon an Adventure.

Iklan

Read Full Post »

Chapter 5: Cult of the Damned
aka There Are No Such Thing As Free Lunch
Kilat menyambar nyambar di malam yang gelap dan sepi itu. Hutan yang biasanya ramai oleh suara hewan malam kini senyap, para penghuninya mengamankan diri di sarang mereka yang hangat.Hanya jangkrik yang terdengar terus bernyanyi. Juga katak dan kodok yang bersuara gembira menyambut perubahan cuaca. Dan burung hantu yang ber uhu-uhu dengan cueknya. Terdengar serigala yang sesekali melolong. Dan kambing yang mengembik. Dan kucing mengeong kadang-kadang. Dan anjing yang menggonggong saat bertemu mereka. Cukup sepi.

Jalan setapak yang biasanya tidak jelas terlihat, kini nyaris hilang sama sekali, karena bulan hanya menyembul sedikit dari balik awan gelap yang menggantung.

Di jalur yang gelap itu, sesosok manusia berlari dengan nafas terengah-engah. Sesekali dia terjatuh, tapi dia tidak mempedulikan rasa sakitnya dan terus berlari sekuat tenaganya. Saat kilat menyambar sekali lagi, terlihatlah bahwa sosok itu adalah seorang gadis muda berpenampilan sederhana. Gadis itu sibuk melihat ke belakang, sehingga dia tidak menyadari batu yang menghalangi jalannya.

Gadis itupun terjatuh. Dia meringis menahan sakit, menggosok kakinya, dan berusaha untuk bangkit. Tapi saat itu kilat memaksanya memejamkan mata untuk sesaat. Dan saat ia membuka matanya, sesosok bayangan gelap menaunginya.

Mata gadis malang itu membelalak ketakutan. Mulutnya terbuka lebar, tapi tak ada suara yang sempat keluar. Sebab seluruh pikirannya telah terfokus pada mahkluk yang berdiri di hadapannya. Dan saat kilat menyambar sekali lagi, dia melihat mahkluk yang seharusnya tak boleh dilihat itu. Mahkluk yang melayangkan tangannya ke arahnya untuk membekapnya.

Mahkluk yang mengerikan.

Mengguncang jiwa.

Yang merupakan perwujudan dari mimpi buruk terdalam manusia.

Sebuah sosok

Manusia berkepala timun raksasa!

Mungkin juga itu pare sih.

Well, salah satu diantaranya. Tak begitu jelas terlihat pada malam hari seperti ini. Tapi gadis itu tak sempat memperhatikan lebih jauh. Sebab kini ia tergeletak pingsan. Dan sayur ranum, segar, berjubah itu berjalan ke arah kegelapan malam, membawa sang gadis di gendongan tangannya.

Dan berharap tidak ada kambing yang mengikutinya dan menggigitnya.

Bagi para pengelana, lampu jalanan kota itu terlihat bagai mercusuar. Kota itu terletak di pinggir hutan lebat, menjadi tempat persinggahan untuk menambah bekal, dan beristirahat setelah menembus alam yang liar selama beberapa saat. Malam itu, dari dalam hutan terlihat empat sosok pengelana berlari dengan tangan di atas kepala mereka, melindungi kepala mereka dari rintik rintik hujan yang mulai menetes.

Salah satunya menaiki seekor lembu. Perlahan terlihat bahwa yang menaikinya adalah seorang gadis dengan gaun pendek berwarna hitam, sebelah tangannya memeluk keranjang yang ditutupi oleh selimut. Tudung kepala dan jubah menutupi leher dan pundaknya yang terbuka, dan dia duduk menyamping di sapi yang berlari perlahan itu, sembari memegang tumpukan barang yang diikat di sebelahnya.

Di sebelahnya terlihat seorang pemuda berambut perak berlari sembari menaungi wajahnya dengan sebelah tangan. Dia menggandeng sesosok lain, pemuda yang susah payah berlari mengikutinya sembari memanggul sebuah gitar di pundaknya.

Dan di depan mereka, memegang tali yang menuntun sang hewan memamah biak, seorang pemuda berkulit cokelat nampak menahan topi kulitnya agar tidak tertiup angin saat mereka berlari.

Perlahan mereka memasuki kota yang terlihat sepi itu.

Setelah mandi dan mengeringkan badan, keempat pengelana itu nampak bercengkrama di lantai bawah penginapan tempat mereka istirahat malam itu. Api di perapian bergemeretak dengan ramainya, sementara mereka menghabiskan makanan mereka di meja sudut ruangan.

Finn menghirup meadnya di antara kesibukannya menyetem gitar. Sesekali dia terdengar mendentingkan beberapa nada. Di sebelahnya, Clarice duduk bersandar dengan handuk di tangan, sembari menyapukan pandangannya ke ruang makan yang sepi itu. Dia membatin, betapa sepinya penginapan itu. Sedikit pengunjung yang ada pergi begitu mereka tiba, dan sisanya sudah tak ada begitu mereka turun dari lantai dua.

Di seberang mereka, Meryl dan Ed bercakap-cakap dengan bersemangat. Selain suara api yang bergemeretak, bisa dibilang hanya suara mereka yang terdengar bergaung di ruangan batu itu.

”Wah, romantis sekali tuan Ed. Anda kabur dari rumah karena menolak dijodohkan?” terdengar suara Meryl yang bersemangat. Rambutnya masih basah, dan wajahnya memerah karena dihangatkan oleh makanan dan api. Sesekali dia memperbaiki letak syal di labu yang dipangkunya.

”Begitulah,” balas lawan bicaranya. Pemuda itu melanjutkan ceritanya. “Keluargaku bisa dibilang cukup terpandang di daerah asalku. Mereka ingin aku melanjutkan usaha keluargaku, padahal yang kuinginkan hanyalah berkelana bersama sahabatku Jean. Saat aku tahu mereka menjodohkanku tanpa sepengetahuanku, aku mengambil pelana dan pergi dari rumah. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun yang lalu.”

Ed memandang ke langit-langit. ”Setahuku mereka masih mencari-cari aku sampai sekarang. Yah, mungkin itu bisa dibilang bukti kalau mereka memang mencintaiku. Atau mungkin mereka hanya masih marah atas seluruh peralatan makan yang kubawa lari dan kujual untuk dijadikan modal perjalanan, sih.”

Di sela-sela kegiatannya menyetem gitar dan meminum fermentasi madu, Finn memandangi Clarice yang sedang mengeringkan rambut perak panjangnya. Clarice terlihat sesekali mencuri pandang ke arah Ed, tapi saat Ed melihat ke arahnya, pemuda cantik itu memalingkan wajahnya dengan ekspresi kesal.

Finn mendekatkan wajahnya ke arah Clarice.

”Sudahlah Clare, kan dia sudah minta maaf. Dia tidak tahu kalau kamu cowok saat menciummu waktu itu.”

Clarice membuang pandangannya ke arah lain. “Aku bukan marah karena itu…”.

Finn memperhatikan rekannya itu sembari menghirup minuman. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya, kali ini lebih perlahan.

”Jadi Clarice, bagaimana pendapatmu tentang pengelana kita yang satu ini?”

Clarice memastikan sejenak bahwa Ed tidak dapat mendengar obrolan mereka, baru ia membalas.

”Menurutku… sebaiknya kita jangan terlalu percaya dulu kepadanya…”

Sang mantan putri raja memandangi Ed yang sedang mengobrol bersama Meryl, kemudian dia melanjutkan kata-katanya. ”Sekilas aku melihat chainmail yang dipakainya di balik tuniknya, Finn.”

”Bukannya biasa pengelana mengenakan chainmail dibalik baju luar mereka?”

”Masalahnya, itu bukan bahan sembarangan, bahkan mungkin campuran mithril. Aku tahu karena aku sering melihatnya dipakai para bangsawan pada acara-acara kerajaan.”

”Selain itu… dia tahu kamu membawa pedang Elridge hanya dengan melihat sekilas. Dan dia tidak mengungkit-ungkitnya lagi sekarang, justru itu yang membuatku curiga.”

Tanpa sadar Finn menyentuhkan tangannya ke pedang terkenal yang berada di pinggangnya itu.

”Jadi Meryl, apa urusan kalian di kota perdagangan? Jarang banget orang melakukan perjalanan jauh pada musim seperti ini. Belum lagi isu perang yang akan segera terjadi.”

”Oh, kami mencari sesuatu…. kami mencari Gi…”

”..gi palsu…” Sambung Clarice secara tiba-tiba, mengucapkan kata pertama yang terpikir di kepalanya setelah melihat pemilik penginapan yang bergigi tak lengkap sedang membereskan sisa makanan mereka. ”Kami mencari gigi palsu.” Dia berkata demikian sambil memandang meryl dengan senyum seorang ibu yang melihat anaknya memasukkan kucing ke dalam mesin cuci dengan ekspresi tidak bersalah.

”Begitu…” kata Ed, diikuti sedikit keheningan.. ”Dan serombongan pemuda pemudi sehat dengan gigi lengkap mencari gigi palsu untuk…”

” untuk …me… menuhi permintaan terakhir kakek kenalan kami…” sambung Finn setelah merasakan tekanan pandangan mata tolong-bantu-aku-atau-kau-kujadikan-sup dari Clarice di sebelahnya.

”Kakek itu kehilangan giginya akibat bertarung menyelamatkan kami dari monster gabungan harimau-kambing-ayam yang sangat ganas. Tapi kakek itu merasa waktu hidupnya sudah tidak lama lagi. Kakek malang itu tidak punya sanak saudara, jadi kami merasa berkewajiban membantunya memenuhi keinginan terakhirnya, makan kue nanas dengan gigi lengkap. Tentu saja kue nanas mudah dicari, tapi gigi palsu berkualitas baik hanya dapat…”

”E-HEM.” Suara batuk clarice memutus cerita Finn. Bard itu baru sadar kalau rasa sakit menusuk di pinggangnya bukan ginjal yang menderita akibat seringnya menahan buang air kecil selama perjalanan ini, melainkan sikutan-sikutan Clarice.

“Kurasa sudah cukup, Finn.” Kata Clarice. Kemudian dia menguap. “Rasanya sudah cukup larut. Sebaiknya kita istirahat sekarang kalau kita ingin berangkat pagi-pagi besok. IYA kan, Finn dan Meryl?”

Tanpa banyak komentar, Finn dan Meryl mengangguk. Clarice menggelengkan kepala dan memberikan sejumlah uang kepada Meryl untuk dibayarkan ke pemilik penginapan, sebelum berjalan menyusul Ed dan Finn yang sudah naik duluan.

Meryl memasangkan topi rajutan wol ke labunya, sebelum mendekati pemilik penginapan dan istrinya yang mengamati mereka sedari tadi. Tapi setiap Meryl melangkah mendekati mereka, ekspresi kedua orang itu semakin tidak nyaman. Tapi mereka tak bisa mundur, karena hanya ada tembok di belakang counter mereka.
”Ung… Jadi pak, berapa untuk makanan kami tadi?”

Sang pemilik penginapan memandang istrinya dengan ekspresi tak jelas, sebelum membalas pertanyaan Meryl. ”Tentu… tentu saja gratis untuk nona dan teman-teman nona… ”

”…Bercanda?”

”Tentu tidak, mana berani kami bercanda kepada nona.” kata si pemilik penginapan. Dia memandang Meryl sekali lagi dari atas sampai bawah, memperhatikan labu bersyal dan bertopi yang dibawanya, lalu melanjutkan kata-katanya. ”Kami… kami hanya ingin nona dan teman-teman nona mengingat servis yang diberikan oleh penginapan kami yang sederhana ini.”

Meryl hanya terdiam selama beberapa saat, berusaha mencerna percakapan itu dan menganalisa apa yang mungkin terjadi. Tapi 30 detik kemudian dia mengambil kesimpulan bahwa apapun yang terjadi tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat dari menghemat uang perjalanan, mengangkat bahu, dan naik ke lantai atas.

Penyihir itu masuk ke kamarnya dan melihat seorang pemuda cantik yang mengenakan jubah mandi berwarna pink dan handuk melilit rambutnya sedang merawat kukunya.

Meryl meletakkan labu di meja dan mulai bersiap-siap untuk tidur.”Kukira hari ini kamu tidur bersama para cowok, Clarice? Yang kemarin kita bicarakan setelah Ed datang, membiasakan diri menjadi cowok untuk sementara dan agar lebih wajar kalau ada orang asing yang melakukan perjalanan bersama kita.”

Clarice memandang sahabatnya dengan wajah yang ditutupi masker. ”Yeah, itu sampai aku masuk kamar dan mendapati Ed biasa tidur dengan pakaian seminim mungkin, kalau kamu mengerti maksudku. Apapun yang kalian bilang, aku tetap cewek. Titik.”

Meryl mengangguk. Kemudian dia teringat hal aneh yang baru saja terjadi dan membuka mulutnya untuk menceritakannya kepada Clarice. Tapi saat itu clarice sudah berbaring dengan potongan timun di kedua matanya. Meryl tahu lebih baik tidak mengganggu putri raja yang sedang dalam posisi seperti itu. Gadis itu mengangkat bahu dan mengingat hari-hari mereka tidur di luar ruangan, kemudian mengikuti jejak Clarice untuk bersantai sejenak.

Kata orang bijak, tidur cepat dan bangun pagi merupakan kunci hidup sehat. Tapi, kali ini para pengelana yang sehat itu jadi tidak mendengar suara-suara misterius dari lantai bawah penginapan.

Badai semakin ganas. Hujan yang tadi hanya rintik-rintik, kini bagai air yang langsung ditumpahkan dari langit. Suara air yang bertubi-tubi memukuli atap membangunkan Meryl dari tidurnya. Dia mengejap-kejapkan matanya sejenak dan merapatkan selimutnya. Ruangan begitu gelap, sebab lampu yang ada telah dimatikan. Gadis itu melihat ke sisi tempat tidurnya, Clarice masih tidur dengan lelapnya.

Kilat yang tiba-tiba menyambar mengagetkan Meryl. Ternyata mereka lupa menutup tirai jendela, sehingga kilat menyilaukan itu menerangi kamar untuk sekejap. Tapi saat dia bergerak ke arah jendela untuk menutupnya, dia melihat sesosok bayangan hitam memantul dari kaca jendela.

Meryl berbalik dan melihat mahkluk berjubah berdiri tepat di hadapannya. Penyihir itu membuka mulutnya untuk berteriak, tapi sebelum dia sempat bersuara, mahkluk itu membekap mulutnya. Hal terakhir yang diingat Meryl adalah aroma manis menidurkan dari kain yang ditutupkan di depan hidungnya.

Sebelum tertidur, Meryl hanya sempat menggoreskan sepatah kata menggunakan sisa cat kuku yang teraih olehnya.

….

Keesokan paginya, sebuah diskusi terdengar dari kamar tempat Meryl dan Clarice tidur.”Pisang?”Terdengar suara Clarice.”Kenapa pisang?”

Finn, Clarice, dan Ed, berdiri mengelilingi sebuah meja kayu dan mengamati sebuah kata yang tertulis dengan cat kuku.

”Yah, Clarice. Memang aku mengenalnya lebih lama dari kamu, tapi akupun tak mengerti kenapa cewek itu menghilang dan hanya meninggalkan sepatah kata ”Pisang” menggunakan cat kuku.” kata Finn.

”Apa kalian bertengkar kemarin?” tanya Ed sembari mengamati Clarice. ”Atau kau melakukan hal buruk dengan pisang di tempat tidur kemarin malam? Hei, no offense, bagiku tiap orang bebas dengan fetish mereka masing-masing, tapi mungkin gadis itu merasa tidak nyaman.”

”Hentikan pikiran jorokmu Ed…” kata Clarice dengan pelototannya yang terkenal.

Finn mengelilingi kamar itu dengan tangan di dagu.

”Mungkin dia diculik?” terdengar teori baru Finn.

”Sebenarnya itu masuk akal. Tapi hal yang aneh adalah…. Kenapa cewek itu hilang beserta LABUnya? Ayolah, kenapa seorang penculik repot-repot membawa labu saat menculik seorang gadis?”

Ed membuka mulutnya dan sepertinya hendak mengeluarkan suatu kata yang diawali dengan ”fet” tapi tatapan Clarice sekali lagi menghentikannya.

”Sebaiknya kita turun dulu. Mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk dari orang-orang di bawah.”

Tapi tak ada orang di bawah. Mereka memang satu satunya, tepatnya tiga-tiganya (tadi empat-empatnya) tamu yang menginap di sana. Meskipun begitu, seharusnya ada orang-orang yang sarapan di ruang makan penginapan itu.

Tapi saat mereka turun, tak ada orang. Bahkan sang pemilik penginapan dan istrinya juga tak terlihat.

”Servis buruk, kubilang.” kata Ed. ”Kita tak diberi sarapan. Dan bahkan jam segini belum ada yang mulai memasak. Pantas saja penginapan ini sepi.”

”Menurutku ini lebih dari sekedar servis buruk Ed…” kata Clarice. ”Sebaiknya kita mulai melihat-lihat kota ini sejenak.”

”Sekalian sarapan.”

Dan mereka keluar untuk menyongsong hari yang indah itu. Mereka bertiga berjalan mencari tempat untuk makan pagi, sekaligus melihat-lihat apa mungkin ada petunjuk lain yang bisa membantu mereka memecahkan misteri yang mereka hadapi kali ini. Clarice berjalan di depan dengan tangan di dagu, Ed menoleh ke kiri dan ke kanan, dan Finn melamun di belakang mereka.

Finn disadarkan dari lamunannya oleh tepukan dari Ed.

”Jangan khawatir” kata cowboy itu sambil lalu.

”eh?”

”Sudah berapa lama kalian bertiga berjalan bersama?”

”Semingguan kukira.”

”Ah, pantas kamu tidak sadar. Jangan kuatir. Kamu masih punya kesempatan.” lanjut Ed.

”Maksudmu?”

”Dia itu gay.”

”…”

Ed tersenyum dan menepuk punggung Finn.

Cowboy itu menyadari kalau Finn seperti baru mendengar penjelasan kalau Bumi ini sebenarnya dodol raksasa, jadi dia melanjutkan kata-katanya dengan senyum ramah.

”Kau suka pada gadis penyihir itu kan? Tapi kaukira gadis itu dan cowok cantik itu… well… sudah sangat dekat, tidur bersama dan semacamnya. Jangan khawatir. Clarice itu gay. Cewek suka berteman dengan cowok seperti dia, sudah hukum alam. Kau masih punya kesempatan.”

Finn bengong selama beberapa saat sebelum Ed pelan-pelan melanjutkan. ”Apa aku salah?”

“Be…gitulah.”

“Owh… Maaf kalau begitu.”

Ed memperhatikan Finn yang mempercepat langkahnya sambil menggelengkan kepala.

Cowboy itu memutar bola mata dan berkata pelan pada dirinya sendiri. ”Ah… I see.. aku salah mengerti. Rupanya kamu bukan mengincar Meryl, tapi Clarice toh…”

Saat hari telah benar-benar terang. Mereka bertiga terlihat duduk di sebuah rumah makan yang terletak di pasar kota.

”Kota ini benar-benar aneh.” kata Clarice membuka rapat penyelidikan. Dia meletakkan sendoknya dan melanjutkan pembicaraan. ”Kalian lihat, sedikit sekali orang yang berlalu lalang di jalanan. Dan sebagian besar dari mereka berekspresi, kalau boleh kubilang, takut.”

Ed menelan rotinya, sebelum menyambung kata-kata Clarice. ”Selain itu, kalau kuperhatikan, kemana semua gadis di kota ini? Dari tadi hanya ada laki-laki dan nenek-nenek. Mana para cewek seksi kota ini???”
.
”Finn, kudengar Bard pintar mencari informasi dengan halus. Bisa praktekkan?”

Finn berpikir sejenak sambil mengulum sendok, sebelum membuka mulutnya. ”Menurut buku panduan petualang, penginapan atau tavern adalah tempat terbaik untuk mencari informasi. Tentu saja hal itu bisa dicoret sekarang. Berarti, kita beranjak ke tempat terbaik kedua: Pasar.”

Dia melhat sekelililing dan menetapkan pandangannya pada kios terdekat.

”Baiklah, saksikan pertunjukan kemampuan hebat seorang bard dalam mencari informasi dengan sangat halus dan diam-diam.

Finn berjalan mendekati kios terdekat dan tersenyum.

”Selamat pagi pak?”

Pedagang kios sayur itu menggigil dan langsung berkata dengan cepat.

”Maafakutidakterlibatdenganpenculikangadisberambutcoklatbermatabirudanmembawalabubesaritu. Akujugatidaktahukenapaparagadisdiculikdandibawakeguaditimurlautkota-di-bawahpatungtomatraksasayangbisadibukadenganmemutarnyakekanan. Akusamasekalitidaktahuapaapatentangsekteterkutukkotainisumpah!”

Lalu pedagang itu langsung lari terbirit-birit.

Finn memandangi sang penjaga toko sampai dia hilang dari pandangan dengan mulut menganga.

”Benar-benar hebat…” kata Clarice sambil menepuk punggungnya.

Dan mereka bertiga menghadap ke arah timur laut, bersiap untuk menyelidiki sekte misterius yang menguasai kota kecil itu.

Mengikuti penyelidikan mereka yang ternyata berlangsung lebih lancar dari dugaan itu, siangnya mereka telah menyusuri lorong sebuah gua, dengan obor di tangan masing masing. Lorong itu sempit dan menurun. Tapi adanya jalur untuk dilewati menandakan lorong itu sering dilewati banyak orang.

”Menurutmu ini bukan jebakan?” tanya Finn kepada Ed yang memimpin jalan.

”Mungkin saja, tapi sementara ini kita tidak punya petunjuk lain.”

Tiba-tiba Ed mengangkat tangannya. Dia memberi isyarat untuk memadamkan obor yang mereka bawa. Suasana langsung gelap gulita. Tapi mereka melihat cahaya di ujung lorong. Ketiga pengelana itu merayap perlahan, mendekati cahaya di ujung lorong itu.

Jalur menurun masih berlanjut. Tapi mereka tiba di sebuah ruangan yang luas dan tinggi, dengan lantai rata di bawah mereka, dan obor di dinding-dinding. Secarik sinar nampak turun dari lubang di atap gua menuju lantai. Mereka meninggalkan jalur turun yang akan membawa mereka ke lantai ruangan luas itu, dan bersembunyi di antara stalaktit dan stalagmit untuk mengamati apa yang terjadi di bawah.

Apa yang mereka lihat membuat mereka terkesiap.

Gerombolan berjubah hitam, membentuk lingkaran dan terlihat berkomat kamit di tengah ruangan.

Dan gerombolan itu tidak terlihat berkepala manusia. Melainkan berkepala

Sayuran.

Ada Ubi, tomat, terong, kol, timun, pisang, kubis, dan pepaya. Di tengah lingkaran, sesosok Kentang berjubah tampak berdiri di podium dan berpidato.

”Brethren…” terdengar suaranya bergema. ”Saudara-saudaraku sekalian…”

”Masa yang dijanjikan telah hampir tiba. Kekacauan, dan kehancuran di kerajaan ini merupakan tanda tanda bahwa hari dimana kita bisa tampil secara terbuka sudah semakin dekat. Masa kesetaraan dan persamaan hak dan derajat! Masa dimana tak ada lagi yang diperlakukan semena-mena karena dianggap berbeda. Karena kita semua sama. Kita semua adalah pemakan sayur!”

Jantung Finn dan Clarice berdetak kencang. Sekte ini menginginkan kehancuran kerajaan? Apakah…. Mau tak mau mereka teringat alasan perjalanan mereka. Mereka merangkan mendekati sisi tebing untuk melihat lebih jelas.

Dia mengangkat tangannya. ”Amin! Hidup Sekte Sayur!”

Semua orang di sekelilingnya mengangkat tanganya dan ikut berteriak. ”Hidup Sekte Sayur! Hidup Sekte Sayur! Hidup Sekte Sayur!”

Setelah itu, satu demi satu mahkluk berjubah hitam nampak melepas kepalanya. Terlihat bahwa mereka sebenarnya manusia biasa, lelaki dan wanita yang mengenakan… Sayur raksasa di kepala mereka. Kecuali sang pembicara yang masih mengenakan kepala kentang raksasanya.

Salah satu di antara mereka maju dan berlutut. ”Wahai sayur mulia, ini laporan kegiatan sekte kita minggu ini.”

Sang kentang membaca laporan itu menggunakan api obor. ”Penculikan gadis-gadis untuk percobaan rahasia kita tampaknya berjalan lancar. Dengan begini, sebentar lagi, apa yang kita idamkan akan benar-benar terwujud. Kita akan menguasai kerajaan ini!”

Dia mengangkat tangannya dan semua orang mulai mengangkat tangan dan berteriak. ”Hidup Sekte Sayur! Hidup Sekte Sayur! Hidup Sekte Sayur!”

”Bagaimana dengan gadis yang mengaku sebagai anggota sekte kita itu.”

”Kami sudah menangkapnya sayur mulia, dia memang membawa labu besar. Hal itu membuat pemilik penginapan bodoh itu mengira dia anggota sekte kita. Namun kita sudah mengatasinya. Kini dia sudah bergabung dengan para gadis lain sebagai bahan percobaan rahasia kita!”

Finn dan Clarice saling berpandangan dengan mata terbelalak. Apakah mereka terlambat…

“Bagus. Tapi jaga labu itu baik baik. Aku merasakan kekuatan dahsyat terpancar dari labu itu. Labu itu adalah artifak luar biasa.”

”Kemudian, untuk masalah administrasi. Subsekte buah masih ingin memisahkan diri dari sekte kita. Mereka tidak setuju dengan…”

”Cukup…” kata kentang yang di tengah. Dia melihat ke arah sinar matahari yang kini tepat tegak lurus dengan sebuah meja batu di tengah ruangan.

”Saatnya sakramen.”

Finn, Ed, dan Clarice hanya bisa melihat dengan tegang saat salah seorang berjubah masuk dengan menggendong sesuatu yang tertutup kain hitam. Dia meletakkannya tepat di tengah sinar matahari, kemudian bergerak mundur. Saat satu anggota maju dengan mengangkat sebilah golok besar, baru mereka sadar apa artinya. Ed langsung meloncat kebawah dan berteriak. ”HENTIKAN!”

Disusul oleh Clarice dan Finn.

Tapi terlambat. Sebab golok itu sudah meluncur turun dan menghunjam sosok berkain hitam itu. Cairan merah terciprat kemana-mana, sebagian mengenai Ed, Finn, dan Clarice. Cairan yang encer, dingin, dan…

Manis.

Hening sesaat, ketika mereka menatap semangka besar yang terletak di tengah meja terbelah menjadi dua. Sementara seluruh anggota sekte menatap mereka bertiga.

”ADA NON SAYUR!!!”

Dalam sekejap mereka bertiga harus melindungi diri dari lemparan tomat, pisang, semangka, kubis, dan kol. Sementara setengah anggota sekte mengambil tongkat panjang dan menyerbu mereka seakan mereka adalah daun ubi yang harus ditumbuk. Finn mencabut pedang elridge, dan Clarice merebut salah satu tongkat penumbuk. Mereka berusaha menebas setiap sayur yang melayang ke arah mereka. Sementara Ed mencabut pedangnya dan memutar-mutarnya, menjauhkan sebisa mungkin para anggota sekte yang menggila.

Dalam sekejap, Ed mulai pusing. Sementara Clarice dan Finn mulai belepotan buah dan sayur.

”Berhenti!” teriak sang kentang mulia. Ketiga pengelana yang terjebak itu menggunakan kesempatan tersebut untuk mengambil nafas, sementara Sang kentang maju ke arah mereka.

”Non Sayur! Kalian harus menerima hukuman suci!”

Finn, Ed, dan Clarice memasang kuda-kuda, bersiap untuk apapun yang mungkin terjadi.

Dia mengangkat tangannya dan sebentar kemudian, bibit-bibit tanaman mulai tumbuh di sekitar mereka.

”Dia penyihir!” seru Clarice.

Dan bibit-bibit itu telah menjadi tunas. Perlahan lahan, tunas itu tumbuh merayapi kaki mereka…

”…”

Ed menendang dan seluruh tunas tercabut.

Kentang penyihir itu memandang mereka dengan berkacak pinggang. ”Tolong diamlah. Bagaimana aku bisa melilit kalian dengan tumbuhan kalau kalian bergerak terus? Bisa diam minimal… setengah hari?”

Finn, Ed, dan Clarice mengambil kesempatan untuk berteriak dan menyerbunya sambil berteriak keras. Para anggota sekte tidak sempat bereaksi, tapi pada saat terakhir sang kentang berhasil mengelak dengan menjatuhkan diri

”… Kau…”

Di balik jubah itu… ternyata terdapat seseorang berproporsi anak-anak dengan wajah dewasa sempurna. Wajahnya terlihat berumur 20 tahun atau lebih, tapi tubuhnya memiliki ukuran tubuh anak berumur sepuluh tahun. Tubuh kecil itu ternyata menaiki enggrang khusus yang kini tergeletak patah.

”Puas? Kalian manusia-manusia bajingan?”

“Half Goblin…”

Half Goblin itu menghapus darah yang mengalir d ari mulutnya dan berdiri tanpa enggrangnya. “Manusia selalu membenci ras lain. Manusia juga selalu membenci satu-sama lain. Dan mahkluk setengah-setengah sepertikulah yang paling menderita. Padahal kita semua sama! Kita semua makan sayur! Itulah kesamaan semua ras. KITA ADALAH PEMAKAN SAYUR!”

”Saudara-saudaraku pemakan sayur! Kita hancurkan jurang pemisah yang ada di antara semua mahkluk pemakan sayur! Serang mereka!”

Dan puluhan orang berjubah itu mengepung mereka. Berkomat kamit, dengan sayur, buah, atau tongkat penumbuk daun ubi di tangan mereka.

”Hidup sekte sayur. Hidup sekte sayur. Hidup sekte sayur.”

Perlahan kepungan itu semakin mengecil. Finn, Ed, dan Clarice saling memunggungi, berusaha menjauhkan pengepung mereka dengan mengayun-ayunkan senjata. Tapi sia-sia.

”CLARICE! FINN! ED!”

Terdengar teriakan dari sisi dalam gua.

”Meryl!”

Meryl, berdiri dengan gaun berkibar, berdiri di sisi lain gua.

”Meryl! Kukira kami terlambat! Kata mereka para gadis telah digunakan untuk percobaan atau semacamnya!”

Meryl mengangkat bahu. ”Oh. Percobaan itu percobaan membuat resep sayur baru. Untuk menciptakan sayur yang disukai semua orang di kerajaan ini, semacam itulah. Makanya gadis-gadis diculik. Karena mereka yang biasa memasak. Bahkan kami tidak dibelenggu atau semacamnya.”

Sang half goblin mengangkat tangannya. ”Lanjutkan! Memangnya apa yang bisa dilakukan seorang gadis tanpa senjata?”

”Mungkin kalian tidak tahu… tapi gadis itu seorang penyihir kerajaan! Dia bisa membuat kalian semua jadi barbeque sayur dalam sekejap!” teriak Clarice.

”Aku?” kata Meryl.

”Iya, Kau.” kata Clarice putus asa.

“Oh iya! Sayang sekali kalian menangkapku tanpa tahu kalau aku seorang penyihir!” kata Meryl dengan nada paling dahsyatnya (yang bisa dibandingkan dengan anak kucing yang mencoba mengaum).

Meryl mengangkat tangannya, dan salah satu pisang di lantai langsung remuk.

“Lihat. Jangan sampai aku melakukannya pada kepala kalian.” katanya, sementara menyembunyikan nafasnya yang terengah-engah padahal hanya meremukkan setengah pisang bonyok.

Perlahan gerombolan orang berjubah hitam itu mundur. Sedikit demi sedikit, Finn, Ed, dan Clarice bergerak mendekati Meryl.

”Kalian jangan takut pada penyihir seperti dia! Aku juga penyihir!” kata Half Goblin itu.

”Aku akan menahannya!” kata Meryl. ”Kalian cepat yakinkan para gadis yang diculik untuk melarikan diri! Dan jangan lupa ambilkan Sir Astral!”

Ed, Finn, dan Clarice mengangguk dan bergegas menuju ruangan dalam gua, sementara Meryl dan sang Half Goblin berpandang-pandangan.

Mereka berdua saling menatap, berkonsenterasi pada mata lawan mereka masing-masing, sementara peluh menetes dari dahi mereka yang berkerut-kerut. Dan aura pertempuran mereka membuat tak ada satu orangpun yang berani menyela duel itu.

Duel sihir tidak hanya berupa lempar-lemparan bola api atau petir atau kutukan. Terkadang, duel sihir adalah duel kekuatan pikiran. Duel yang lebih rapi (dan digunakan oleh mereka yang belum mampu melempar-lemparkan bola api atau petir). Meskipun hal itu membuat wajah mereka yang terlibat seperti sedang mengalami sulit buang air besar.

Sementara itu para anggota sekte yang lain mengejar Ed, Finn, dan Clarice. Finn menyadari kalau sebentar lagi mereka akan terkejar, dan dia memberi isyarat kepada kedua rekannya untuk maju.

”Kalian majulah. Biar aku yang memberi waktu.”

”Finn! Apa yang bisa dilakukan seorang bard menghadapi gerombolan sekte gila?”

”Sudah tidak ada waktu lagi! Pergilah!” kata Finn sembari mencabut pedangnya.

Ed menggelengkan kepalanya dan menarik Clarice pergi. ”Ayo Clarice. Percayalah padanya.”

Dan sekejap kemudian, Finn sudah berhadap-hadapan dengan puluhan orang berjubah hitam yang mengacung-acungkan senjata.

“Berhenti!” kata Finn. “Jangan dengarkan half goblin itu!”

Orang-orang itu terus maju dengan tatapan ganas.
”Hidup sekte sayur, hidup sekte sayur, hidup sekte sayur”

Finn memutar otaknya untuk mencari cara mengulur waktu kematiannya. ”Apa kehancuran kerajaan ini benar-benar apa yang kalian inginkan?”

”Hidup sekte sayur, hidup sekte sayur, hidup sekte sayur.”

”Kehancuran kerajaan ini juga akan membuat kalian sulit mendapatkan sayur!”

”Hidup sekte sayur, hidup sekte sayur, hidup sekte sayur.”

”Dan… dan…” kata Finn panik, mengayun-ayunkan pedang elridge asal asalan sementara para anggota sekte sudah sangat dekat.

”APAKAH KALIAN TIDAK RINDU DENGAN RASA STEAK!”

”Hidup sekt….”

”Rendang! Bistik! Kalkun panggang yang besar dengan isi yang banyak! Steak medium yang juicy dengan gravy yang menetes-netes. Sup ayam yang menghangatkan perut! Barbeque daging dengan aroma yang menggelitik hidung!”

”Hidup…”

Perlahan banyak para anggota sekte itu memperlambat gerakan mereka.

”Tanpa mengikuti sekte inipun kalian bisa suka sayur! Terserah kalau kalian hanya ingin menjadi pemakan sayur! Tapi kalian akan membuat jurang pemisah baru yang sebenarnya ingin kalian hancurkan!”

”…”

Tiba-tiba gua bergetar. Mulanya perlahan, tapi sedikit demi sedikit, bunyi getaran semakin jelas, dan gua bergoyang semakin hebat.

Beberapa saat kemudian, Meryl terlihat berlari ke arahnya sambil tersengal-sengal. Susah payah berlari di tengah gua yang bergetar hebat.

”Meryl! Apa yang terjadi!”

”Gua… Duel… Kami…” katanya di sela-sela nafasnya.

”Gua ini runtuh akibat duel kalian….”

Meryl mengingat sejenak. Beberapa menit setelah duel sihir dimulai, mereka berdua sudah kehabisan stamina sihir dan melanjutkannya dengan duel lempar-lemparan buah. Salah satu buah mengenai sang ’tombol-penghancur-markas-rahasia-yang-harus-ada-di-markas-rahasia” dan meruntuhkan gua.

”Kurang lebih….”

Dalam keadaaan kacau balau, semua orang berebut meninggalkan gua. Sebentar kemudian Clarice dan Ed datang membawa rombongan gadis yang diculik dan sebuah labu bersyal. Mereka semua keluar dari gua, dan sekejap kemudian, terasa getaran dahsyat yang menandakan gua itu runtuh di bawah tanah.

“Tidak!! Markas rahasia kita!!” teriak sang half goblin. “Kalian harus membayar!”

Keempat petualang yang kini sudah kembali berkumpul itu bergerak mundur bersama para gadis yang mereka selamatkan. Mereka kalah jumlah, dan para gadis itu hanya gadis desa biasa. Tapi tiba-tiba terdengar teriakan. Dari kejauhan, terlihat para penduduk kota berlari ke arah mereka.

”Berhenti! Kami setuju untuk menerima kenaikan harga sayur!!”

Dan seluruh anggota sekte berhenti menyerang.

”Eh…?” kata Finn, Ed, Clarice, dan Meryl bersamaan.

Mereka semua membuang senjata mereka, tak mempedulikan teriakan-teriakan sang half goblin.

Keempat petualang itu hanya bisa bengong lagi, saat mereka melihat para penduduk kota dan anggota sekte berjalan bersama ke arah desa.

”Berhenti! Apa kalian mau meninggalkan sekte? Apa kalian lupa jasaku yang membuat sayur menjadi besar?”

”Sudahlah Louis….” kata salah seorang berjubah hitam. “Kau juga tahu kalau kami ikut sektemu karena para penduduk desa tidak mau menerima kenaikan harga sayur yang kami, para pedagang dan petani sayur, minta.”

Dan mereka meninggalkan Louis sang Half Goblin mencak-mencak sendirian.

Para petualang hanya mengangkat bahu dan mengikuti para penduduk kota pulang.

Dan terdengar teriakan sayup-sayup dari Louis. ”Dengar para petualang! Aku akan mengingat kalian! Ini bukan pertemuan terakhir kitaaa…..”

Keesokan harinya, Finn dan teman-temannya sudah selesai mengepak barang dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan diiringi ucapan terima kasih penduduk kota.

”Terima kasih, berkat kalian kami jadi memutuskan untuk menerima saja kenaikan harga itu. Sebab sulit memasak apa-apa untuk menjamu pelancong seperti kalian tanpa sayur.”

Clarice membungkuk hormat ke arah mereka dan memperbaiki letak ranselnya yang penuh sayur dan buah hadiah dari para petani dan pedagang sayur. Finn menolong Meryl mengencangkan ikatan tasnya, dan Ed memperbaiki ikatan pelana Jean.

Tapi suasana bahagia itu terputus oleh deru suara berderap. Di kejauhan, terlihat serombongan ksatria berkuda dengan baju zirah berkilauan memantulkan cahaya mentari pagi.

“Oh tidak…”

Ed meloncat ke arah Jean dan mulai memacu sapinya.

“Maaf teman-teman. Aku harus pergi duluan! Kusarankan kalian lari sekuat tenaga sekarang! Kita akan bertemu di kota perdagangan!”

Dan cowboy itu berderap meninggalkan Finn, Ed, dan Clarice. Mereka bertiga saling berpandangan, dan juga lari karena alasan yang berbeda.

Beberapa saat kemudian, selusin ksatria berkuda berhenti di tengah kota, di tengah kerumunan penduduk.

”Wahai para penduduk kerajaan! Order of the White Hippopotamus meminta bantuan kalian! Apakah kalian pernah melihat orang ini?” tanya sang komandan ksatria.

Dia membuka selembar perkamen dan memperlihatkan wajah Ed.

Para penduduk desa saling berpandangan, kemudian berkata. ”Ya, tadi dia lewat kota ini dan pergi ke arah sana.” kata mereka sambil menunjuk ke arah hutan goblin.

”Baiklah! Ayo kita pergi!” kata komandan ksatria sambil mengacungkan pedangnya.

Salah satu penduduk kota maju dan bertanya. ”Maaf ksatria yang terhormat. Sebenarnya kenapa kalian mencari-cari dia?”

”Kalian tidak tahu?” tanya sang ksatria. ”Dia adalah Yang Mulia Lord Edward Ignatius VII, sang calon pewaris tahta kerajaan ini dan tunangan dari Putri Clarice! Kami harus menemukannya untuk upacara pewarisan tahta!”

Dan rombongan ksatria itu berderap menuju hutan.

Read Full Post »


Chapter 4: The Lonely Cow-Boy

Matahari baru saja muncul di ufuk timur beberapa saat yang lalu. Embun masih mengambang di udara, dan burung-burung terdengar berkicau dengan ributnya . Gerombolan-gerombolan pohon nampak tumbuh di sana sini, dan di kejauhan, nampak sebuah gunung yang tinggi menjulang.

Dari kejauhan, terdengar derap langkah kaki hewan.

“I’m a lonely wanderer,
and a long way from home…”

Dan dari balik bukit, terdengar suara nyanyian santai yang seirama dengan derap langkah kaki hewan tersebut. Perlahan, nampaklah sesosok pengelana.

Pengelana itu berkendara sendirian di tengah lautan rumput tak berbatas yang dibelah oleh sebuah jalan tanah yang rapi. Biasanya, jalan ini ramai dilewati pedagang, pengembara, dan pelancong yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tapi pada saat matahari baru terbit seperti ini, orang masih jarang terlihat.

Pengelana dengan topi kulit lebar dan mantel perjalanan termakan cuaca itu memakan rotinya sambil membaca sobekan selebaran bertanggal seminggu yang lalu.

“Tak terasa sudah seminggu, Jean.” Dia berbicara kepada tunggangannya sambil mengunyah rotinya. “Kegagalan besar kerajaan dalam operasi penyelamatan tuan putri… Aku masih belum percaya kalau ‘sir’ Cedric mati di sana. Kalau kubilang…”

Tiba-tiba tunggangannya berhenti melangkah dan mendengus. Pengelana itu membungkuk mendekati kepala tunggangannya dan mengelusnya. “Ada apa Jean?”

Tunggangannya hanya bersuara pelan.

“Mereka berhasil melacak jejak kita ya Jean? Baiklah, Giddy-up!” dia berseru sembari merapatkan sanggurdi ke perut tunggangannya.

Dan mereka berdua berderap menyusuri jalan, menuju hutan yang terlihat menyelimuti kaki gunung.

Di tempat yang sama, beberapa menit kemudian. Sekitar selusin penunggang lain nampak memacu kuda mereka menyusuri jalan tanah itu.

“Komandan, menurut penduduk desa yang kita lewati tadi, dia nampak melewati jalan ini. Kita tidak boleh melepaskannya kali ini!”

Baju besi mereka yang lengkap menutupi tubuh mereka dari ujung kaki sampai ujung rambut nampak berkilauan tersinari cahaya pagi. Embun bercampur dengan keringat membasahi tubuh mereka dan tunggangan mereka. Namun kalaupun mereka kelelahan, mereka tidak memperlihatkannya sama sekali.

Orang yang dipanggil komandan tadi menjawab tanpa memperlambat lari kudanya. “Sudah terlalu lama kita mengejarnya. Kali ini pasti berhasil. Kupertaruhkan nama Order of White Hippopotamus!” dia berkata sambil menatap hutan di kejauhan.

Tapi beberapa puluh meter dari situ, sang komandan mengangkat tangannya. Seluruh regunya langsung berhenti. Komandan itu memajukan kudanya mendekati sebuah tanda misterius di tepi hutan.

Sebelum memasuki hutan, jalan yang mereka tempuh tadi bercabang dua. Dan di salah satu jalan tadi, berdiri sebuah papan kayu.

Quote:
“Saya tidak lewat sini”

Selusin ksatria berbaju besi lengkap itu langsung mengerumuni tanda itu.

“Apa ini komandan?”

Sang Komandan mendengus. “Sudah jelas! Dasar sialan, dia mengira kita bodoh! Ini adalah tanda tipuan dari buruan kita. Dia kira kita akan tertipu, dan mengira kalau dia lewat jalan yang satunya lagi! Padahal sudah jelas sebenarnya dia lewat sini.”

Salah satu ksatria menyela.

“Tunggu komandan…” kata salah seorang ksatria. “Bisa jadi dia tahu kalau kita tidak sebodoh itu, dan dia sengaja memasang tanda ini agar kita mengira dia lewat sana padahal dia lewat sini sehingga kita lewat sana padahal sebenarnya dia lewat sini.”

“Benar juga…” kata seorang lagi. “Tapi bisa juga dia tahu kalau kita bakal mengira dia membuat tanda ini agar mengira dia lewat sana padahal dia lewat sini yang membuat kita lewat sini padahal dia lewat sana!”

“Benar, benar!” kata beberapa dari mereka.

Tapi seorang ksatria yang terlihat paling tua dan bijaksana mendekat.

“Kalian tenanglah.” Katanya dengan suara bijak “Dia orang yang cerdik. Kalau dia membuat tanda ini berarti dia tahu kalau kita bakal mengira dia membuat tanda ini agar mengira dia lewat sana padahal dia lewat sini yang membuat kita lewat sini padahal dia lewat sana sehingga kita lewat sana padahal sebenarnya dia lewat sini…”

Dan ditengah hutan… Buruan mereka menunggangi kendaraannya dengan santai.

“Biar mereka berdebat sampai malam, ya Jean?” katanya sambil nyengir kepada tunggangannya, sebelum kembali memacunya menuju cakrawala nan jauh di sana.

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, tuan Bard?”

“Kamu nanya aku seakan ini salahku…”

“INI MEMANG SALAHMU! Siapa yang bilang ‘aku sering lewat sini dan tidak pernah terjadi apa-apa’”

“Yah… Mana aku tahu kalau ternyata itu karena aku lewat dengan rombongan lengkap.”

Beberapa hewan kecil melangkah terburu-buru saat sebuah rombongan mengganggu acara sarapan mereka. Nampak bahwa sebagian besar rombongan itu hanya setinggi anak manusia. Namun kulit mereka yang hijau dan tubuh mereka yang gempal menegaskan bahwa mereka bukan anak kecil. Mereka mengenakan sedikit pakaian dari kulit hewan dan tumbuhan, dan membawa tombak kasar dari batu.

Mahkluk-mahkluk bertubuh kecil itu menggiring paksa tiga orang yang terikat. Berjalan di urutan paling depan, nampak seorang pemuda yang tertunduk lesu. Di belakangnya, sesosok pemuda dengan rambut perak nampak berpikir keras sambil menggigit bibir. Dan di belakang mereka, seorang gadis dengan gaun serba hitam diangkut di sebuah tongkat dengan mulut dibungkam oleh secarik kain.

Finn menggelengkan kepalanya. Minggu lalu mereka masih berada di ibu kota. Saat sedang memikirkan bagaimana cara mematahkan kutukan…

“Finn, jangan mulai flashback dan Bantu aku memikirkan cara lolos dari sini…” potong Clarice.

“Lagipula… siapa yang mau diberi flashback di tengah hutan seperti ini…”

“Oke, rencana A gagal. Rencana menggunakan sihir Meryl untuk melarikan diri menghasilkan komplikasi yang fatal. Jangan kuatir Clarice, kegagalan itu biasa Ayo pikir… rencana B…” gumam Clarice pelan.

Mungkin Clarice berhasil memikirkan rencana B, atau mungkin juga tidak. Tapi dia tidak sempat mengutarakannya, sebab sekejap kemudian mereka telah tiba di perkemahan para goblin di tengah hutan. Perkemahan atau kampong itu terdiri dari sebuah lapangan yang dibersihkan dari pohon-pohon, dan gubuk-gubuk kayu sederhana yang mengelilingi lapangan tersebut.

Finn menghela nafas dan menolehkan kepalanya ke arah pot besar yang mengepulkan asap di tengah lapangan. “Yah, masih untung kita tidak akan dimakan hidup-hidup, tapi direbus lebih dulu”

“Betapa aku ingin pandangan optimis sepertimu, Finn…” balas Clarice. Dia menggerak-gerakkan tubuhnya yang kini terikat di tiang dengan gelisah. “Meryl, tidak adakah yang bisa kamu lakukan dengan sihirmu? Dan kalau ada, tolong sekalian garukkan punggungku. Goblin-goblin ini mengikatku erat sekali sampai aku bahkan tidak bisa menggerakkan tangan…”

Meryl hanya menggelengkan kepala sambil menggumamkan sesuatu melalui kain yang membungkam mulutnya, sebelum kembali menatap ke goblin berbulu hidung sangat panjang yang kelihatan sangat kesal yang sedang mengasah pisau di depan sebuah labu.

“Aku tahu pasti ada alasan kenapa ada jalan memutar panjang melewati hutan ini, ada papan tanda dilarang masuk di jalan yang melewati hutan ini, dan oh, HUTAN INI DIBERI NAMA HUTAN GOBLIN. Tapi tidak, Finn bilang ‘menurut insting bardku, lebih baik kita lewat hutan ini… Dan thanks Meryl, meskipun kamu tidak bisa melepaskan kita, setidaknya kamu menggaruk punggungku… Kecuali itu bukan kamu…”

Clarice menoleh ke belakang dan melihat kepala bertopi kulit menyembul dari balik semak-semak..

“Ah, sudah kuduga. Pasti ada cara untuk membuatmu berhenti mengoceh.” Kata orang misterius itu sambil nyengir. “Sebab kalau kalian tidak ingin jadi makanan goblin, kita harus bergerak cepat.”

Dia memotong tali yang mengikat Finn, Clarice, dan Meryl dalam diam, kemudian berbisik. “Langsung ambil barang-barang kalian begitu kuberi tanda”

Setelah itu dia langsung menghilang kembali ke dalam semak-semak, meninggalkan mereka bertiga tanpa senjata berhadapan dengan lusinan goblin ganas dan lapar.

“Ung… bukannya seharusnya kamu memberi tahu apa tandanya…?”

Belum sempat Finn menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara gemerisik. Nampak sesosok manusia, jelas pemuda yang tadi, tapi bertelanjang dada dan hanya mengenakan rok dari daun-daunan, dan wajah penuh coretan mencoba meniru dandanan para goblin. Pemuda itu keluar dari semak-semak, dan sekarang mengendap-endap menuju sang pemimpin goblin yang sedang mengawasi anak buahnya menyiapkan makanan. Tapi entah karena ukuran tubuhnya yang minimal setengah meter lebih tinggi dari goblin yang lain, dandanannya yang jelek, atau warna tubuhnya yang tidak hijau, sebelum sempat berjalan lebih dari sepuluh langkah semua goblin di situ sudah mengalihkan pandangan ke arahnya.

Hening sejenak, sebelum pemuda berhenti mengendap-endap. “Betapa menyebalkan….” Dia bergumam sebelum berdiri tegak dan mencabut sebuah sebuah pedang dari pinggangnya. Kemudian dia bersiul keras, dan dari dalam hutan, terdengar suara derapan dahsyat yang menarik perhatian semua goblin.

“SEKARANG!” teriaknya.

Dan saat hewan yang dipanggilnya berderap dan menyeruduk goblin-goblin yang tak sempat bereaksi, Finn, Clarice, dan Meryl tersadar. Mereka segera meraih barang bawaan mereka yang digeletakkan di sebuah tunggul kayu besar. Kemudian mereka berlari ke arah tunggangan yang disiapkan pemuda itu.

“Meryl, Clarice, cepat naik!” teriak Finn sambil berusaha menahan para goblin agar tidak mendekat.

“Itu pedang Elridge di pinggangmu bukan hiasan kan?” terdengar teriakan orang yang menolong mereka. Finn tersadar dan mencabut pedangnya.

Finn mengayun-ayunkan pedangnya sebisanya, dan sebentar kemudian, teman baru mereka sudah ada di sisinya, membantunya menusuk tiap goblin yang berusaha mendekat. Sementara Clarice berusaha naik, Meryl mengayun-ayunkan tangannya dan berusaha mengutuk beberapa goblin. Salah satu goblin yang kesakitan akibat bisul yang tiba-tiba tumbuh di pantatnya, menyenggol panci besar tempat mereka seharusnya dimasak.

Dalam sekejap, kekacauan besar terjadi. Sementara api menyebar ke mana-mana dan para goblin sibuk lari kesana kemari dengan pakaian terbakar, Finn dan pemuda itu menyusul Clarice dan Meryl.

“Hahahah! Tadi itu nyaris saja!” terdengar tawa penolong misterius mereka yang sedang menghapus coreng moreng di wajahnya. Dia telah memakai lagi pakaiannya, dan kini sedang bersandar di pohon di samping tunggangannya bersama Finn, Clarice, dan Meryl. Para goblin tidak terlihat lagi, jelas mereka memilih menyelamatkan kampung mereka daripada mengejar bahan makanan merepotkan seperti mereka.

Sinar matahari yang telah tinggi menyusup masuk dari sela-sela kanopi pepohonan, menciptakan pola daun-daun di tubuh mereka semua..

“Biasanya aku tidak akan pergi mendekati kampung goblin seperti itu. Untung Jean mendengar keributan yang kalian timbulkan.

“Hmph… Sebenarnya tadi aku sedang memikirkan cara untuk membebaskan diri kami sendiri tanpa banyak keributan, tuan…” kata Clarice.

“Dengan berceloteh sampai mereka tidur?” kata pemuda itu. “Bagaimana kalau sedikit terima kasih, kalau tidak terlalu menyakitkan?” Dia merapikan pakaiannya dan melepas topi kulitnya.

Terlihat bahwa orang yang menyelamatkan mereka masih muda. Pemuda itu ternyata sangat tampan, dengan bentuk wajah kokoh dan rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai bebas. Matanya yang biru terlihat mencolok di kulitnya yang terbakar matahari.

“Terima kasih telah menyelamatkan kami.” Kata Finn. “Namaku Finn, dan ini rekanku Clarice dan Meryl. Kami sedang dalam perjalanan menuju kota perdagangan Leriat saat goblin-goblin itu menyergap kami.”

“Kalian bisa memanggilku… Ed.” Katanya sambil membungkukkan badannya dengan sopan. Dan tiba-tiba dia meraih tangan Meryl yang sedang memeluk labu dan menciumnya. Setelah itu dia beralih ke Clarice dan mencium tangannya juga.

Meryl yang tidak biasa diperlakukan seperti itu hanya tergagap dengan wajah merah padam.

Sementara Clarice yang sebenarnya sudah biasa diperlakukan seperti itu sebagai seorang putri raja juga tergagap dengan wajah merah padam. Mulutnya terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya terdengar sangat pelan.

Kemudian Ed menoleh ke arah hewan tunggangannya.

“Dan sapi ini Jean. Orang-orang biasa memanggil kami The Wandering Cow-Boy.”

Jean si sapi melenguh pelan. Moo.

Read Full Post »

Chapter 3: There’s Something Smelly Around Here

”Apa menurutmu kita beri saja dia nafas buatan?”

”Meryl… nafas buatan tidak digunakan untuk keadaan seperti ini.”

”Hei, dia sudah bangun.”

“Untunglah, berarti kita tidak perlu melemparkannya ke dalam bak mandi. Baunya mulai membunuhku…”

Finn mengejap-kejapkan matanya. ”Meryl? Clarice? Apa… yang terjadi? Kenapa kepalaku rasanya seperti baru ditimpuk batu bata dan jatuh ketinggian 5 meter? Uh… kenapa kemejaku sobek-sobek dan berada di tangan kalian? Dan ya Tuhan.. bau mengerikan apa ini…”

Perlahan dunia mulai kembali solid di mata bard itu. Entah kenapa dia terbaring di kamar tidur mereka. Meryl nampak memandanginya dengan ekspresi aneh, sementara Clarice menggerai rambutnya yang diekor kuda sebelum menutup pintu.

”Untuk pertanyaan pertama, kami berharap kamu bisa memberitahu kami,” kata Clarice. ”Untuk pertanyaan kedua, ya, sepertinya kamu memang baru ditimpuk batu bata dan jatuh dari lantai dua penginapan ini. Ketiga, kami membuka bajumu karena sepertinya ada beberapa belatung di sakumu. Bukan salah mereka, sepertinya ada ikan busuk di sana. Dan bau mengerikan ini adalah baumu.”

Meryl memalingkan perhatiannya sejenak dari labu berselimut yang diletakkannya di sebuah keranjang bambu. ”Finn, satu jam yang lalu seseorang menemukanmu tergeletak di tempat sampah penginapan ini, dengan benjol sebesar telur di jidatmu. Apa yang terjadi?”

”Yeah…” timpal Clarice. ”Kubilang kamu sedang mabuk, dan kalau kamu mabuk, kamu biasa mencari tempat sampah untuk tidur di sana. Untungnya semua percaya dan berhenti bertanya.”

Finn memegang kepalanya yang berdenyut.

”..edric dan astral… naga… raja… Meryl, Clarice! Aku ingat sekarang! Sepertinya aku mendengar sebuah konspirasi rahasia untuk menjatuhkan Raja, ayahmu!”

“Tidak berhubungan dengan 11 bumbu rahasia ayam goreng kerajaan dan elf kan? Karena, demi Tuhan, hanya Dia yang tahu betapa susahnya menjelaskan ke semua orang kalau bumbu rahasia itu bukan sihir elf untuk mencuci otak pemakannya. Sudah puluhan tahun isu itu beredar dan orang tetap saja percaya.”

”BUKAN! Aku membuntuti seseorang berkumis aneh.”
”Sejak kapan memelihara kumis yang jelek itu kejahatan?” tanya Meryl.

”Kumis itu aneh akibat sihiranmu, Meryl. Orang itu adalah salah satu bandit yang kita lawan di pertempuran tadi siang.”

”Teruskan, Finn.” kata Clarice, yang akhirnya mulai tertarik.

”Kemudian, dia masuk ke sebuah kamar dan mengunci pintunya. Aku masuk ke pintu kamar sebelah yang tidak dikunci, dan menguping pembicaraan mereka.”

”Lalu? Apa yang kamu dengar?”

”Ehm… kurang lebih begini…”

“… bagaimana?” kata seseorang.

“…rencana berjalan lancar” Finn hampir terjatuh dari tempatnya menguping. Dia mengenal suara itu sebagai suara penyihir yang berduel dengan Sir Astral.

”…Edric dan Astral berhasil disingkirkan. Renard bonus yang bagus. Naga itu menarik juga meski agak berlebihan… Penyingkiran raja…” lanjut penyihir itu.

”… raja tidak akan curiga… dia orang kepercayaannya…” kata seseorang yang lain.

”Putri Clarice…?” tanya orang yang pertama.

”…tidak perlu diperhitungkan lagi…”

”..kerajaan akan menjadi milik kita pada acara pengangkatan…”

”…secepatnya!”

Keheningan yang canggung.

”………”

”…wow. Itu… erh…” Clarice hanya bisa menggaruk kepalanya.

”Yeah… itu bakatku. Aku seorang bard. Menceritakan kembali adalah keahlian utama kami.” kata Finn dengan wajah memerah. ”Pokoknya, sepertinya itu benar-benar serius.”

”Yeah, kayanya itu serius banget,” Meryl menutup semua tirai jendela dan memeriksa kunci pintu dengan gugup. ”Trus, apa yang terjadi?”

”Aku bersin. Aku sudah berusaha menahannya… Tapi aku bersin.”

”Ya ampun… Kemudian mereka sadar kalau ada yang menguping? Lalu mereka masuk ke kamar itu, dan memergokimu! Kamu berusaha kabur, karena kamu tahu melawan akan percuma. Tapi salah satu di antara mereka melemparmu dengan vas dan kamu terjatuh. Kemudian, mereka melemparmu dari lantai dua, berharap lehermu akan patah. Tapi kamu beruntung dan mendarat di tumpukan sampah…”

”Uh, Meryl… sebenarnya, ternyata penghuni kamar itu ada di kamar mandi. Mendengar bersinku, dia keluar dengan terbalut handuk. Aku berusaha menjelaskan ke cewek itu kalau aku sebenarnya cleaning service, tapi dia tidak percaya dan melempariku dengan semua benda yang teraih olehnya. Salah satunya mengenai dahiku, dan aku terjatuh dari jendela….”

”Ehm, cukup dengan pengalamanku. Bagaimana pendapatmu, Clarice?”

Finn melihat ke arah pewaris tahta kerajaan itu. Pemuda cantik itu terlihat sedang berpikir serius dengan tangan memegang dagu.

”Orang itu mengatakan sesuatu tentang orang kepercayaan ayahku dan upacara penobatan… Apa maksudnya?”

Dia berkata ke Finn dan Meryl dengan wajah serius. ”Sepertinya besok kita harus ke ibukota, Finn, Meryl. Sepertinya ada sesuatu yang berbau amis di sini.”

”… itu kiasan.”

Setelah sarapan keesokan harinya, mereka menumpang sebuah gerobak barang yang langsung menuju ibukota. Sehari kemudian, mereka tiba di ibukota kerajaan Amnoria, Kota istana Claris

”Kita tiba, anak-anak.” kata kusir kereta itu. ”Kebanggaan kerajaan Amnoria, kota Claris yang megah. Maaf aku hanya bisa mengantar kalian sampai gerbang.”

”Terima kasih, pak,” kata Finn sopan. ”Ayo Meryl, loncat saja.”

Meryl menurunkan keranjang labunya, dan berpikir sejenak. Finn menghela nafas, dan membantu gadis itu turun dengan perlahan.

”Kenapa, Clarice?” tanya Finn saat dia melihat Clarice tidak melompat, tetapi malah diam dan memandanginya.

“Sigh.” Dia segera meloncat turun.

Mereka bertiga berjalan melewati jalan utama yang diapit rumah-rumah bertingkat. Jalan berubin itu dipenuhi orang dan kendaraan yang berlalu lalang dengan terburu-buru. Sisa-sisa pesta dan kekacauan beberapa hari yang lalu sudah tidak kelihatan sama sekali. Di kejauhan, Istana Kerajaan yang megah nampak menjulang.

”…seharusnya kita bisa sampai lebih cepat kalau kalian tidak begitu lama bersiap-siap.” Mereka bertiga mengobrol di sepanjang jalan menuju istana.

”Cowok memang ga bakal bisa ngerti. Ya kan, Clarice?”

Clarice hanya diam dan mendekap tasnya. ”Sudahlah, aku ingin melupakan perasaan saat terbangun dengan jenis kelamin yang berbeda pagi ini… Sekarang aku hanya ingin cepat-cepat ke istana, menunjukkan kalau aku ini Putri Clarice, kembali jadi cewek, dan memberitahukan kalau ada konspirasi misterius ke ayah…”

”Tapi suasana kota ini agak aneh…” kata Finn. ”Orang-orang nampak mengenakan pakaian warna gelap?”

Clarice berhenti di lapangan depan istana, dan bergerak menuju pohon besar di tengah tempat pengumuman biasanya diletakkan.

”Sepertinya… ini jawabannya…”

Meryl membaca pengumuman itu perlahan.

“Putri Clarice tewas dibunuh pemberontak!? Operasi penyelamatan oleh Sir Edric dan Sir Astral gagal, semua anggota pasukan tewas dalam penyergapan termasuk mereka berdua.”

Clarice memandang ke arah pemuda berambut pirang dan gadis yang memeluk labu itu. “Kalian tidak mengerti… Ini berarti… perang terbuka antara kerajaan dan pemberontak…”

Mereka bertiga berlari menuju gerbang istana. ”Senekat-nekatnya para pemberontak, mereka tidak akan berani mengadakan perang terbuka dengan kerajaan.” Clarice berkata di sela-sela nafasnya. ”Demikian juga ayahku tidak akan menyerang para pemberontak secara besar-besaran, karena itu berarti harus menyerang propinsi pinggiran yang menjadi tempat mereka bersembunyi. Tapi tentu ayah tidak akan tinggal diam kalau aku, putri semata wayangnya dan pewaris tahta kerajaan, dibunuh oleh mereka!”

Mereka berlari sampai gerbang masuk istana, tetapi mereka bertiga dihentikan oleh beberapa orang pengawal istana berzirah lengkap.

”Berhenti! Istana kerajaan tertutup untuk umum sampai saat yang tidak ditentukan.”

”Tapi aku ini Clarice…! Aku bisa membuktikannya, aku punya segel kerajaan!” kata Clarice yang memelas, terburu-buru sampai tidak dapat berpikir panjang lebar. Ketiga orang itu mengatur nafas sejenak di depan para pengawal. ”Ayahku pasti tahu kalau aku ini Clarice, aku bisa membuktikannya!”

Para pengawal nampak bermuka sedih, sebagian malah geram dan menaruh tangan mereka di gagang pedang. Tapi pengawal yang ditengah, yang memiliki tanda pangkat pembeda di zirahnya, mengangkat tangannya dan menghalangi yang lain. Dia memandang Clarice dari atas sampai bawah.

”Itu memang lelucon biasa, tuan, tapi pada saat seperti ini, anda bisa digantung untuk lelucon seperti itu. Seluruh kerajaan sedang berkabung atas kematian putri kita yang cantik dan dibanggakan. Dibunuh oleh para pemberontak bajingan bersama Sir Edric pahlawan kami….” Dia berhenti sejenak. ”Saya tidak tahu darimana kalian mendapatkan segel itu, tapi saya sarankan kalian pergi dari sini dan mengganti pakaian kalian dengan pakaian berkabung, seperti yang dianjurkan oleh selebaran, sebelum saya tidak bisa menahan anak buah saya.”

Clarice hampir saja memaksa masuk dan berteriak lagi kalau dia itu memang Putri Clarice, tapi Finn membekap mulutnya dan menahannya. Dia memberi isyarat ke Meryl, dan menarik Clarice pergi dari situ.

Di lapangan depan istana, mereka bertiga duduk di bangku yang mengelilingi pohon besar di tengah lapangan. Clarice berusaha menahan tangisnya sambil bergumam pelan, kalau dia memang putri mahkota, sementara Meryl berusaha menenangkannya. Finn berjalan mengelilingi pohon itu sambil berpikir.

”Ini benar-benar serius…”

Finn membaca beberapa pengumuman lagi. ”Clarice, kamu kenal Lord Edward?”

Clarice menghapus air matanya. “Ya… dia salah satu bangsawan yang berhubungan darah dengan ayah, meskipun aku belum pernah bertemu dengannya.”

“Baca ini Clarice…”

Clarice berdiri dan membaca surat kabar umum yang disobek oleh Finn.

“Upacara penobatan…”

Clarice mengusap matanya yang memerah dan berusaha menenangkan pikirannya. “Aku ingat. Garis keturunan penguasa kerajaan kita memang agak lurus sampai saat ini, kami tidak punya cabang langsung. Kalau ayah meninggal, aku akan menggantikannya. Tapi kalau aku meninggal sebelum ayah, dan ayah tidak menikah lagi atau ayah tidak mengangkat anak, Ignatius akan diangkat menjadi putra mahkota dan akan menggantikan ayahku menjadi raja. Upacara resmi diperlukan agar tidak terjadi perebutan kekuasaan setelahnya dan menunjukkan bahwa Raja yang sekarang berkenan…”

Finn membaca surat kabar itu lagi. “Hanya beberapa jam setelah menerima kepastian kegagalan operasi penyelamatan dan tewasnya Putri Clarice, Raja Arfred langsung mengumumkan bahwa Beliau akan melaksanakan perang terbuka terhadap pemberontak. Juru bicara istana mengatakan bahwa detilnya akan diumumkan setelah masa berkabung resmi selesai.

Sementara itu, Perdana Menteri Rize mengatakan bahwa kemungkinan besar, Raja akan memimpin langsung ekspedisi militer terhadap propinsi-propinsi pinggiran tersebut. Untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan terburuk, Raja telah diyakinkan bahwa Lord Edward harus diresmikan menjadi putera mahkota, paling lambat sebulan setelah ini. Seperti yang diketahui, Permaisuri Fiana meninggal tanpa meninggalkan pewaris kerajaan selain Putri Clarice, dan Raja tidak tampak berminat mengambil permaisuri atau anak angkat.”

“Sepertinya ini termasuk, atau ini adalah rencana mereka….” Kata Finn sembari melipat surat kabar itu.

”Finn… Kamu tidak mengerti. Kalau ini memang rencana mereka, berarti kemungkinan besar, ayahku akan dibunuh bulan depan! Kalau misalnya ayahku mengambil permaisuri atau anak angkat, hak mahkota Lord Edward akan hilang. Berarti, untuk menghindari kemungkinan itu, Ayahku, Raja Arfred Amnoria V, akan dibunuh setelah upacara penobatan!”

”Dan perang dengan pemberontak ini merupakan alasan yang benar-benar bagus kalau raja tiba-tiba tewas terbunuh…”

Read Full Post »

Chapter 2: Pumpkin, Curse, and When the Plot Thickens

Finn berdiri di tengah padang tandus gunung Midrift, dengan pedang Elridge di tangan. ”Tak kusangka… Sir Edric tewas…”

Bard itu melihat ke kiri dan ke kanan, mencari orang lain yang selamat. Tapi tak ada satupun yang terlihat bergerak. Sementara Putri Clarice dan Meryl masih berpelukan dan terisak. Baru kemudian bard muda itu sadar.

”Sir Astral!”

Dia berlari ke arah tempat Sir Astral terakhir terlihat, setelah terlempar akibat mantera Meryl. Tapi tak terlihat ada kakek tua yang bergerak. Finn meloncat ke atas batu besar dan menoleh ke kiri dan ke kanan, sampai dia melihat jubah dan tongkat kayu sir Astral.

”Sir! Sir Astral!” teriaknya sembari menuruni batu. Dia bergerak perlahan ke arah penyihir tua itu, memperhatikan apakah Jubah itu masih bergerak. Tapi jubah itu tidak bergerak sedikitpun.

Finn mendorong-dorong jubah itu dengan ranting yang ia pungut.

”Meryl, Putri Clarice… sepertinya ada masalah serius di sini…”

Meryl dan Putri Clarice berpelukan, kedua gadis itu saling menenangkan diri setelah terlibat kejadian dahsyat sehari itu. “Putri tidak apa-apa?” tanya Meryl yang terisak. Teman baiknya itu membalas. “Tenang saja, aku tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja?”

Tapi sembari berpelukan, mereka sadar kalau ada sesuatu yang kurang.

”Putri Clarice… Merasa ada sesuatu yang salah?”

“Sepertinya… iya…”

Sang putri batuk-batuk sejenak, berusaha menghilangkan efek debu dan sihir dan belerang yang membuat suaranya menjadi serak. Kemudian dia terdiam sejenak. Meryl juga diam sejenak, sebelum mereka memisahkan pelukan mereka.

“…Putri…?”

Putri Clarice berbalik sejenak dan memegang gaunnya di beberapa tempat, sebelum memandang ke langit dan jatuh pingsan.

”Finn… sepertinya ada masalah serius di sini…”

Finn berlari ke arah Meryl dan Meryl berlari ke arah Finn.

”sirputriastralabuberubahsihirkutukan” suara mereka bergabung tak jelas saat mereka berkata dengan cepat secara bersama sama. Ekspresi panik terlihat di wajah mereka berdua.

”Kamu duluan” kata mereka bersamaan lagi. Hening sejenak, sebelum Finn menarik nafas dan mempersilahkan Meryl bicara duluan dengan gerakan tangannya.

”Sihir… tadi… bukan… sekadar… memperlonggar ikatan…” kata Meryl perlahan. ”Ledakan itu menghasilkan kutukan baru… Mungkin lebih baik dari sihir pembunuh.. tapi sihir itu mengubah Putri Clarice! Menjadi… menjadi…”

Penyihir itu menggelengkan kepalanya kencang-kencang seakan ingin melepaskan sesuatu dari otaknya. ”Sudahlah, yang penting, kamu sudah menemukan Sir Astral kan? Sir Astral pasti bisa menghilangkan kutukan Putri Clarice.”

Tapi Finn malah menggelengkan kepalanya perlahan. ”Meryl… kamu ingat, sihir apa yang kamu gunakan saat mendorong Sir Astral…?”

”…sebenarnya aku hanya menggunakan sihir asal-asalan… Yang jelas, bukan sihir mematikan. Aku belum belajar sihir mematikan sedikitpun. Mungkin.”

”Yah… erh… sepertinya kali ini Sir Astral tidak akan dapat membantu…” kata Finn pelan.

”Kenapa?”

”Sebab…” Finn mengangkat jubah penyihir utama kerajaan itu. Jubah itu kosong sama sekali, tak terlihat tubuh Sir Astral di sana. Atau hanya kelihatannya begitu. Sebab, sesaat kemudian jubah itu melorot, dan nampak sekelebatan warna kuning.

”Labu ini sepertinya Sir Astral…”

Sepuluh menit kemudian, tiga pemuda pemudi itu duduk saling berhadapan di tengah reruntuhan kastil gunung Midrift. Pedang Elridge tersarungkan di sisi Finn, sementara Meryl memangku labu a.k.a Sir Astral.

“Baik. Jadi biar aku ulang sekali lagi,” kata Finn. ”Sir Edric dan kurang lebih seluruh pasukan kerajaan mati… Kemudian….”

”Aku mengubah Sir Astral jadi labu.” kata Meryl.

”Belum tentu labu itu memang Sir Astral. Tapi.. Itu kemungkinan terbesar. Yeah…” kata Finn.

”Aku mengubah Sir Astral jadi labu.”

”Kurang lebih.”

”Aku mengubah Sir Astral jadi labu.”

”Meryl, setelah sepuluh menit kamu mengulangi kalimat itu berkali-kali, kita sudah yakin kalau kalimat itu bukan mantera untuk mengubah labu itu kembali jadi sir Astral KALAU Labu itu memang Sir Astral.”

”Ya, tapi aku mengubah Sir Astral jadi labu.”

”…”

Putri Clarice yang memotong percakapan ‘intens’ itu.

“Bukan salahmu Meryl… Semua orang akan mengubah gurunya jadi labu dalam keadaan seperti itu. Mungkin. Kadang-kadang. Pada saat tertentu.”

”Anda tidak membantu, Tuan Putri…”

”Tapi aku bukan tuan putri lagi, Finn. Dan panggil aku Clarice saja.”

“Anda sudah tenang Clarice saja?”

“Cukup… Clarice…”

Finn menarik nafas dan bersyukur karena Clarice sudah melewati masa pingsan berturut-turut, masa penolakan terhadap kenyataan, masa berteriak histeris tanpa henti, dan masa ingin mencekik semua orang yang terlihat di hadapannya.

“Baiklah. Yang membuat kita masuk ke masalah selanjutnya. Karena Sir Astral berubah jadi labu, dia tidak bisa menghilangkan kutukan mendadak Clarice….”

”…yang mengubahnya menjadi laki-laki.”

Finn menyesal mengungkit-ungkit soal kutukan itu lagi, sebab Clarice menghela nafas, melihat ke dalam gaunnya lagi, lalu pingsan sekali lagi. Wajar sih.

Dan dialog di atas diulangi tiga kali lagi.

Tiga kali sepuluh menit kemudian, baru akhirnya percakapan berhasil dilanjutkan.

”Jadi, ada yang tahu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Finn.

”Yang pasti, pertama kita harus mencari kota terdekat dan melaporkan semua kejadian ini kepada pihak berwenang.” kata Clarice yang telah berhasil menerima keadaannya dengan lebih baik.

”Setuju.”

”Tapi aku mengubah Sir Astral menj… erh, maksudku, sebelumnya sepertinya kita harus melakukan sesuatu terhadap penampilanmu, Clarice.” kata Meryl.

Mereka bertiga memandang ke arah Clarice. Tuan putri yang dikutuk itu masih memiliki kulit sehalus susu, rambut pirang keperakan bagaikan sutra, dan mata biru yang indah. Tapi gaun berenda itu kini menutupi tubuh seorang pemuda langsing. Dan suara sang putri, meskipun tetap lembut, telah berubah menjadi suara seorang laki-laki.

Clarice berpikir sebentar. ”Sementara, ada beberapa alternatif. Aku bisa menyamar menjadi wanita, berpakaian seperti laki-laki, atau melakukan alternatif lain yang belum kupikirkan.”

Meryl dan Finn memandangi Clarice selama beberapa saat.

”Ung… Meryl, Finn, apa yang kalian lakukan…?” kata Clarice dengan wajah memerah.

”Sepertinya lebih baik kamu mengenakan pakaian laki-laki untuk sementara ini…” kata Finn dan Meryl hampir bersamaan, dengan alasan mereka masing-masing.

Clarice berdiri dan mengambil tas perjalanan Finn. ”Yah, Finn. Sementara aku pinjam pakaianmu dulu. Meryl, temani aku ganti baju dong. Dan jangan mengintip, Finn.”

”Anu, sepertinya kalimat tadi agak terbalik sekarang.” kata Finn sambil menggaruk kepalanya. Clarice berpikir sejenak sebelum melanjutkan.

”Sepertinya lebih baik aku ganti baju sendiri saja deh…”

Dan malamnya, mereka telah berada di sebuah penginapan di kota terdekat.

”Aku tidak percaya kalau kita tidak dipercaya.” kata seorang pemuda berambut perak yang duduk di hadapan sebuah meja bundar. Seorang gadis dan pemuda lain duduk bersamanya di meja itu.

”Yeah, seharusnya para prajurit itu langsung percaya kan, kalau pemuda ini adalah Putri Clarice, gadis berantakan ini adalah apprentice penyihir utama kerajaan, dan aku seorang bard resmi istana. Sebuah pertempuran dahsyat dengan naga raksasa sebagai bintang tamu terjadi tidak begitu jauh dari sini, dan Sir Edric the Brave tewas di sana. Ah, tak lupa kalau labu ini adalah sang penyihir utama kerajaan yang disebut-sebut tadi.” kata Finn sebelum meneguk meadnya dan menghantam meja dengan kepalanya. Benar-benar klise. ”Salahkan Sir Edric yang langsung menuju Gunung Midrift tanpa mampir di kota dulu, kukira.”

”Aku tidak tahu apakah kita beruntung atau sial, mereka tidak mempercayai bukti yang kita bawa. Bisa lebih buruk. Kita bisa saja ditangkap dengan tuduhan merampok pedang Elridge dan seal kerajaan entah dari mana.”

Clarice melanjutkan. ”Yang jelas, cepat atau lambat berita tentang pertempuran ini akan mencapai pihak berwenang, kemudian mencapai Istana. Kita tidak tahu apakah itu akan baik atau buruk bagi kita.”

”Meryl… tolong ambilkan aku mead lagi…” kata Finn dengan nada berat, memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

”Anda kedinginan, Sir Astral? Perlu kuambilkan sesuatu?” Kata Meryl sambil menyelimuti labu yang dipangkunya dengan mantel. Mendengar permintaan Finn, gadis itu hanya menggerakkan jari-jarinya sembarangan dan menggumam pelan, sembari tetap memandangi labu seakan takut labu itu tiba-tiba hilang dari pandangannya. Segelas minuman yang tersaji di dekat Meryl terbang perlahan, sebelum bergetar beberapa senti dari Finn dan berubah menjadi seekor landak.

Finn menghela nafas, sementara Clarice tetap berbicara. Dia tidak mendengarkan percakapan ga nyambung antara Clarice, Meryl, dan sang Labu, tetapi memperhatikan landak sihiran Meryl merangkak meninggalkan penginapan. Di luar sudah gelap, dengan langit berbintang menerangi jalan batu. Finn meminum meadnya yang tersisa. Untuk sementara, biaya perjalanan tidak akan menjadi soal, sebab dia mengambil tas milik kepala rombongan bard yang memuat biaya hidup rombongan. Kalaupun uang itu habis, mungkin aku masih bisa mengamen, pikir Bard itu.

Bard itu memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di jalan. Baginya, kerajaan ini merupakan sebuah kerajaan yang damai dan tentram. Yah, memang ada serangan monster dan bandit sesekali. Tapi kurang lebih, Kerajaan Amnoria yang dikenalnya merupakan kerajaan yang cukup baik. Tapi sepertinya orang-orang di propinsi-propinsi pinggiran tidak menganggapnya begitu. Kalau tidak, kenapa pemberontakan terus terjadi di daerah sana?

”…kita harus mencari cara untuk mengubah Sir Astral kembali jadi manusia…” terdengar sepintas kata-kata Meryl.

”Itu kalau labu itu MEMANG Sir Astral” balas Finn, sebelum dia kembali memperhatikan kota di luar. Finn tidak begitu mengerti sihir, dan dia tidak tahu, apa memang semudah dan serandom itu, sihir dapat mengubah seseorang jadi labu atau mengubah gender seseorang.

Bel pintu berdering, tanda seseorang memasuki ruangan. Beberapa pelancong nampak memasuki penginapan. Kota Vanoli memang merupakan sebuah kota peristirahatan di kaki pegunungan. Biasanya, mereka yang datang ke sini adalah turis, atau peneliti yang ingin menyelidiki gunung Midrift. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu. Salah seorang pelancong yang memasuki penginapan, memiliki kumis yang berbentuk begitu aneh. Dia terlihat berkali-kali berusaha merapikannya, tapi kumis itu terus kembali ke bentuk semula.

Orang itu adalah bandit yang terkena sihir Meryl tadi siang! Ternyata dia selamat.

”Girls, aku permisi sebentar,” kata Finn. Dia mengambil pedang Elridge yang ditaruhnya di sisi bangku, dan memasangnya di sabuknya, sebelum berjingkat mengikuti orang tadi. Lantai bawah penginapan yang berupa sebuah bar itu cukup ramai, sehingga orang-orang bisa bercakap-cakap tanpa takut kalau pembicaraan mereka terdengar secara tidak sengaja. Tapi orang yang diikutinya ini terus pergi ke lantai atas. Jadi entah dia hanya lelah dan ingin tidur, atau dia ingin melakukan sesuatu yang benar-benar rahasia.

Orang itu memasuki sebuah kamar dan mengunci pintunya. Finn berpikir, apa dia harus menyelidiki lebih lanjut, atau menyimpulkan saja kalau orang ini hanya lelah setelah bertemu naga dan terlibat pertempuran. Tapi terdengar suara sayup-sayup dari dalam kamar. Itu berarti orang itu terlibat percakapan.

Finn menoleh ke kiri dan ke kanan, sebelum menyelinap ke kamar sebelahnya dan menempelkan telinga di dinding.

Sayangnya, suara percakapan itu terlalu lirih. Finn hanya dapat mendengar sepotong-sepotong.

“… bagaimana?” kata seseorang.

“…rencana berjalan…” Finn hampir terjatuh dari tempatnya menguping. Dia mengenal suara itu sebagai suara penyihir yang berduel dengan Sir Astral.

”…Edric… Astral… berhasil disingkirkan… Renard bonus yang bagus… Naga menarik… Penyingkiran raja…” lanjut penyihir itu.

”…orang kita… raja tidak akan curiga… orang kepercayaannya…” kata seseorang yang lain.

”…Putri Clarice…?” tanya orang yang pertama.

”…tidak perlu diperhitungkan lagi…”

”..kerajaan… milik kita… pada acara pengangkatan…”

Read Full Post »

Naga dan Ksatria Bergitar
Part 2

Dan pertempuran dimulai.

Dalam sekejap, pertempuran yang dahsyat pun terjadi. Panah, pedang, dan sihir bersilangan. Sang ksatria bergitar menarik beberapa pisau tersembunyi dari balik gitarnya dan melontarkannya ke arah para ksatria. Mereka terjatuh dengan pisau menancap di sendi-sendi mereka yang tak tertutup baju zirah. Kemudian, dia menarik sebatang pedang panjang dari ujung gitarnya, dan meloncat ke arah Putri Clarice.

Sir Edric tidak membiarkannya begitu saja. Setelah menjatuhkan beberapa pemberontak, dia berlari ke arah sang putri, dan tiba tepat sebelum beberapa bandit menusuk putri raja yang terikat itu. Setelah sang pemimpin pemberontak tiba, mereka langsung terlibat duel dahsyat.

Finn juga mencabut pedangnya, tapi dia hanya dapat menunduk dan berlari ke sana kemari. Dia melihat sir Astral yang melemparkan beberapa kutukan ke arah salah seorang bandit, dan Meryl yang susah payah mengayun-ayunkan tongkat kayunya yang besar ke sana kemari. Finn berlari ke arah temannya itu.

”Kini aku ingat kenapa aku tidak cocok jadi prajurit kerajaan…” Kata Finn sembari menunduk menghindari anak panah yang melesat. Meryl menggumamkan beberapa mantera dan mengacungkan tongkatnya, namun bandit yang ditujunya hanya menumbuhkan kumis.

”Arh… sudah kuduga, ini bukan kutukan pembuta mata!”

Meryl membuka-buka buku manteranya, sementara Finn mengayun-ayunkan rapiernya sembarangan dan mengusir siapapun yang mendekati mereka. Sementara itu, pertempuran berlangsung semakin seru. Sir Astral membakar beberapa bandit dengan sihirnya, sementara seorang penyihir bertopeng, tiba-tiba muncul dan melemparkan petir ke arah para prajurit. Dalam sekejap, mereka berdua terlibat duel sihir sengit dengan korban orang-orang di sekitar mereka.

Finn menyadari sesuatu dan menarik baju Meryl yang berhasil merontokkan bulu hidung salah seorang bandit dengan sihirnya. ”Meryl! Kita harus menolong Putri Clarice!” Dia menunjuk ke arah sang putri yang terikat, dengan mulut disumpal, terlempar ke sana kemari, nyaris terlupakan di tengah pertempuran sengit.

Mereka berlari di tanah yang berbatu, menghindari prajurit kerajaan dan prajurit pemberontak, panah yang berseliweran dan jubah yang terbakar. Para pemimpin pasukan masih berduel dengan sengit, saat Finn dan Meryl memeluk Putri Clarice yang terikat dan membawanya lari ke dalam reruntuhan. Finn menusuk seorang pemberontak yang mengikuti mereka, kemudian mereka bersembunyi dan mengambil nafas di balik tembok batu. Meryl dan Finn segera berusaha melepas ikatan dari tubuh sang Putri.

”Biar kugunakan mantera pelepas simpul,” kata Meryl sambil membuka-buka catatan sihirnya. Tapi Finn segera menolaknya. ”Aku tidak ingin gigi Putri Clarice copot atau sejenisnya, Meryl…” Bard muda itu meraih pisau kecil dari tali pinggangnya dan mencoba memotong tali pengikat sang putri.

”Jangan… bergerak… gerak… Tuan Putri…” kata Finn, saat dia bersusah payah berusaha memotong tali kuat yang mengikat Putri Clarice. Tapi Putri Clarice malah menggelengkan kepalanya dan bergumam panik.

”Finn…” kata Meryl. ”Sepertinya, memang bukan Putri Clarice yang bergerak…”

Dengan cepat Meryl menarik sumpalan di mulut sang putri. Putri cantik itu langsung berkata panik. ”Ruangan ini akan runtuh!”

Finn sadar, kalau memang bumi bergetar hebat. Batu-batu longgar mulai berjatuhan dari tembok dan atap. Dan bukan Cuma mereka yang menyadarinya.

”Tipuan apa lagi ini, wahai pengecut bertopeng!” kata sir Edric kepada lawannya. Mereka menghentikan duel mereka untuk sesaat, berusaha berdiri tegak di tengah getaran bumi.

”Bukannya ini salah satu rencanamu, oh peliharaan kerajaan?” balas lawannya.

Sir Astral juga menghentikan duelnya. Dia menatap prajurit musuh yang berubah menjadi katak (bukan kodok) akibat manteranya yang nyasar, dan menyadari kalau gerakannya bukan gerakan wajar seekor katak (bukan kodok).

”Ini tidak mungkin bagus…”

Ledakan keras terdengar, dan lava menyembur di kejauhan, di puncak gunung Midrift. Tapi bukan itu yang membuat mereka khawatir, sebab lava akan mengalir melalui alur yang telah dibuat letusan terakhir sepuluh tahun yang lalu. Yang membuat mereka khawatir adalah, raungan mengerikan yang terdengar setelah itu.

”Demi kue apel dan rum yang masih baru…” gumam Sir Astral. Saat dia melihat sesosok naga raksasa, benar-benar raksasa, memanjat keluar dan terbang dari kawah gunung midrift ke arah medan pertempuran. Pertempuran langsung terhenti, karena semua peserta telah melihat mahkluk mengerikan itu. Sulit dideskripsikan, bayangkan saja kadal jelek gede berwarna hitam bersisik gosong berkilap dengan sayap kelelawar robek-robek dan gigi sepanjang pedang.

”Mer… Meryl…” kata Finn setelah mereka berhasil keluar dari reruntuhan yang akan runtuh lagi. ”APA ITU!”

Meryl hanya bisa tergagap, sementara putri Clarice meloncat loncat karena ikatannya belum dilepas. ”Itu tidak mungkin…” kata sang putri. ”Sebab.. itu Naga Landus Gigantus! Naga itu seharusnya sudah punah!”

Tapi sepertinya naga itu tidak tahu kalau seharusnya dia sudah punah. Sebab dia malah terbang mendekat dengan kecepatan tinggi dan mendarat dengan suara keras di tengah tengah pertempuran. Tiba-tiba, pertempuran langsung berakhir. Sebab semuanya ingin menyelamatkan diri mereka sendiri.

”Astral!” teriak sir Edric di sela sela keributan. ”Mahkluk apa ini? Aku biasa melawan monster sebesar rumah, namun kadal ini lebih besar dari istana raja!”

”Aku juga tidak mengerti sir Edric… Naga ini seharusnya tidak mungkin ada! Dan lagi, kenapa dia tiba-tiba ada di sini! Dan deskripsimu agak berlebihan, naga ini tidak lebih besar dari istana raja kok.. ”

Naga itu menyemburkan api, dan dalam sekejap selusin prajurit kerajaan dan pemberontak langsung berubah menjadi arang. Dalam satu ayunan cakar, selusin lagi terlempar dan tewas. Dan dengan satu ayunan ekor, sebuah menara batu runtuh menimpa orang-orang di bawahnya. Sang ksatria bergitar kini tidak lagi tampak tenang. Dia sibuk berteriak memerintah anak buahnya. Tapi teriakan-teriakannya memancing perhatian sang naga. Naga raksasa itu meloncat ke arahnya. Ksatria bergitar sadar kalau dirinya dalam bahaya, dan dia berusaha meloncat menjauh. Tapi saat naga itu meraung, reruntuhan di sekitarnya bergetar dan runtuh. Pemimpin pemberontak itu tak sempat mengumpat, dan dia hilang ditelan asap debu dan batu besar.

Setelah menguburkan bandit bergitar dalam reruntuhan, kini naga itu menoleh ke arah Finn, Meryl, dan Putri Clarice.

”Meryl… ada mantera untuk mengubah naga jadi anak kucing? Kalau ada, bisa coba praktekkan sekarang…”

Finn tak sempat mendengar jawabannya. Saat Meryl membolak balik buku sihirnya, naga itu menerkam. Tapi Sir Edric meloncat ke depan mereka dan berteriak sembari mengayunkan pedangnya, membuat arah kepala naga itu berubah.

”Maju, naga kebesaran badan!” katanya di hadapan naga raksasa itu, sembari melesat kedepan dan menyerang naga itu dengan pedangnya.

Tak perlu dibilang, naga itu menganggap Sir Edric sang pembunuh naga tidak lebih berbahaya dari anak sapi. Kepalanya melesat kedepan dengan kecepatan yang sulit dibayangkan. Sir Edric tak sempat menghindar, dan dalam sekejap dia sudah ada di dalam mulut naga.

Sang ksatria hanya bisa menatap ke Finn yang berada paling dekat dengannya.

”Lindungi tuan putri…” katanya sebelum naga itu mendongak dan menelannya dalam satu gerakan cepat.

Finn, Meryl, dan Putri Clarice hanya bisa menatap tanpa sempat berpikir. Baru sedetik kemudian mereka sadar apa yang telah terjadi.

”Sir Edric…”

”Mati…”

Finn menatap pedang Elridge yang tertancap di tanah. Dia mencabutnya. Baginya, untuk sementara, dunia telah menjadi sunyi dan bergeming. Satu-satunya yang bergerak dan bersuara… adalah dirinya dan pedang Elridge…”

Tapi kemewahan itu tidak dapat dirasakannya lama-lama. Sebab raungan naga menyadarkannya. Naga itu telah mengalihkan perhatian dari mereka, dan kini sedang membuat daging bakar a-la naga dengan beberapa orang malang sebagai bahannya. Finn, Meryl, dan Putri Clarice yang masih terikat saling berpandangan. Mereka tahu, mereka bisa mati dalam sekejap. Hanya ada waktu beberapa detik untuk berpikir.

Meryl yang pertama melihat harapan. Dia berteriak ke arah gurunya yang sibuk melindungi beberapa prajurit dari api.

”GURU ASTRAL!!! SIR EDRIC MATI!!!”

Sir Astral terdiam beberapa saat sebelum berhasil mencerna maksud kata-kata apprenticenya itu. Sambil bergumam tak jelas, penyihir tua itu berlari ke arah muridnya yang panik. Orang di medan pertempuran sudah semakin sedikit, sebagian besar menjadi makanan naga, sebagian kecil berhasil kabur. Naga yang tiba-tiba muncul itu-pun sepertinya sudah agak bosan, jadi kini dia hanya menyentil orang-orang lewat dengan cakarnya sampai tewas.

Penyihir bertopeng yang menjadi lawan Sir Astral tadi melihat sang penasehat kerajaan berlari ke arah sang putri.

”Oh, tidak semudah itu…” katanya. ”Rencana kami hancur, jadi Putri Clarice harus hancur!”

Tanpa mempedulikan naga yang berada beberapa puluh meter darinya, Sir Astral, dan sang putri, dia menggumamkan mantera dan mengayunkan tongkat kayunya.

Sir Astral menyadari gerakan lawannya, dan dia bergerak ke antara mantera penyihir bertopeng dan Putri Clarice. Nampaknya dia berniat mengorbankan dirinya untuk sang putri, sebab tak sempat untuk merapalkan mantera penangkis, jarak antara putri clarice dan cahaya kutukan itu tinggal beberapa meter.

”GURU!” teriak Meryl sembari menyorongkan tongkatnya ke arah sang Sir Astral. Dengan satu ledakan dahsyat, Sir Astral terdorong ke samping, membuatnya terhindar dari mantera mematikan sang penyihir bertopeng. Tapi sepersekian detik itu membuat Sir Astral, sempat mengucapkan sedikit mantera dan membuat arah mantera berubah. Setelah itu sang penyihir utama kerajaan jatuh bedebam di tanah.

Sihir yang bercampur memiliki efek yang tak terprediksi. Kedua sihir itu bercampur menjadi satu dan pecah dengan kilatan cahaya hebat, bagaikan kilat yang menyambar tepat di depan mata. Putri Clarice yang berada beberapa meter dari situ terlempar dengan dahsyatnya.

Hening sesaat ketika Finn dan Meryl berlari ke arah Putri Clarice yang terbaring di bebatuan. Sementara sang naga, sepertinya terganggu dengan kilatan cahaya dahsyat itu. Atau sekadar sudah bosan, mungkin, sehingga naga itu hanya meraung sebentar, dan pergi meninggalkan medan pertempuran. Setiba-tiba saat dia muncul. Sang penyihir bertopeng sudah hilang entah kemana, pertempuran telah berakhir, dan kini yang ada di pikiran Finn dan Meryl hanyalah nasib Putri Clarice.

Tapi Putri Clarice nampak tak terluka parah. Sebab dia bangun sendiri, meskipun masih terikat, dengan wajah terlihat agak bingung dan kehilangan orientasi.

Mereka sadar kalau tali yang mengikat Putri tiba-tiba saja telah melonggar. ”Sepertinya gabungan dua mantera tadi menghasilkan sihir pelonggar ikatan?” kata Finn sambil nyengir. Sementara Meryl sibuk melepaskan ikatan Putri Clarice, dan sesaat kemudian mereka berdua sudah berpelukan sambil menangis.

Angin berhembus di tengah-tengah padang tandus gunung midrift, begema di antara reruntuhan kastil Midrift yang kini benar-benar hancur. Dan Finn berdiri di tengah
gelimpangan tubuh prajurit dan pemberontak yang tewas.

Read Full Post »

Saat masa depan kerajaan tergantung kepada seorang bard, seorang murid penyihir, putri raja yang dikutuk, dan sebuah labu.

Once Upon an Adventure

Not your ordinary fairy tale

Chapter 1: Naga dan Ksatria Bergitar
part one


…..

Sir Edric yang pemberani
Menebas sang naga dengan pedang sakti
Naga yang meneror desa selama berhari-hari
Sir Edric yang pemberani

Dengan satu ayunan pedang
Kepala naga langsung melayang
Naga raksasa tak lagi terbang
Kini rakyat bisa tenang…”

Rombongan bard berseragam kerajaan yang memainkan berbagai alat musik itu berhenti memainkan musiknya dan menunduk ke arah para penonton. Para penonton yang berkerumun di lapangan depan kastil itu langsung bertepuk tangan dengan semangat. Sementara, seorang ksatria senior nampak tersenyum bangga dengan kepala naga di tangannya.

”Sekali lagi…” kata raja yang duduk di sebelah ksatria itu. ”Sir Edric the Brave berhasil menjaga perdamaian di kerajaan kita.” Raja yang sudah tua itu mengangkat tangan sir Edric yang mengenakan armor lengkap. ”Sejak sepuluh tahun lalu…”

Pidato raja hanya terdengar sekilas dari tempat para bard kerajaan membereskan peralatan mereka. Salah seorang bard melihat sekilas ke arah podium sembari memasukkan gitarnya. Bard berambut pirang itu menghela nafas, saat seseorang menepuk punggungnya.

”Finn!”

Dia menoleh dan menatap seorang gadis di belakangnya. Gadis itu berambut coklat panjang, mengenakan topi penyihir yang nampak terlalu besar bagi kepalanya, dan baju penyihir yang acak-acakan seperti rambutnya. Mata biru tuanya yang besar menatap wajah orang yang baru disapanya tadi tanpa bergerak.

”Meryl,” kata Finn sambil menaikkan kerah pakaian gadis itu yang turun sampai ke bahu. ”Kalau bajumu ngga rapi terus seperti ini, orang bisa mengira yang tidak-tidak…”

”Aww, daripada memikirkan hal itu, ceritakan perjalananmu bersama sir Edric dong. Laporan – pandangan – mata – langsung!” kata gadis penyihir itu.

”Semuanya nyaris sama dengan yang diceritakan ketua di panggung,” katanya, menganggukkan kepalanya ke arah bard senior yang membawa biola. ”Ngga ada yang perlu kutambahkan…” Kemudian dia melihat kembali ke arah podium. Nampak sang raja masih berpidato dengan berapi-api. Perdana Menteri Rize, dan Kepala angkatan bersenjata, Sir Ronald, nampak duduk di belakang raja. Dan di singgasana di samping raja…

Meryl mengikuti arah pandangan mata Finn, dan tersenyum mengerti. Dia menyenggol-nyenggol lengan bard itu dengan sikunya, mukanya memerah.

”Aaah… aku mengerti. Romantis dan klasik sekali. Kisah cinta antara rakyat biasa dengan sang putri… Sang pemuda hanya bisa memandang sang putri dari kejauhan…” Meryl memandang dengan berbinar-binar ke seorang gadis yang duduk di sisi raja. ”Sang putri memang sangat cantik, dengan rambut pirang keperakan yang halus bagaikan sutra… kulit yang selembut… ya selembut kulit putri raja, mata yang mengundang rasa ingin melihatnya dari dekat… dan memeluknya… dan… dan…”

”Kalau kamu mau, aku bisa menceritakan yang baik-baik tentang kamu loh. Kami kan selalu belajar bersama di bawah Sir Astral.”

Finn menghembuskan nafas. ”Kalau begitu, kamu saja yang pacaran dengan dia. Aku ngga memandangi dia kok. Aku sedang melihat sir Edric…”

Meryl memandang sahabatnya itu sembari mundur sedikit. ”Finn… aku ga pernah menyangka kalau kamu…”

”BUKAN!!! Bukaaan!” kata Finn panik. ”Dasar cewek yang selalu salah ngerti!”

Finn menarik sebilah rapier tipis dari sarung yang terdapat di pinggangnya dan mengacungkannya ke udara, kemudian menatap bilah yang berkilauan tersinari matahari itu.

”Ksatria terbaik di negeri ini. Sudah tak terhitung berapa kali beliau menyelamatkan kerajaan… Mengalahkan monster. Tercatat dalam sejarah. ”

Meryl menggelengkan kepalanya. ”Kamu gagal lagi dalam tes menjadi prajurit kerajaan ya?” Finn menganggukkan kepalanya.

”Su.. Sudahlah Finn…” Meryl menepuk pundak temannya. ”Kamu memang ngga cocok untuk jadi prajurit kerajaan kok. Kamu memang cocoknya ngamen seperti sekarang.”

Finn mengayunkan gitarnya ke arah Meryl, yang dihindari dengan mudah…dengan jatuh terduduk. Kemudian Meryl bangkit dan memegangi topi penyihirnya yang hampir lepas, sebelum berlari menjauh. ”Ah! Nampaknya sir Astral sudah mulai mencariku.” Finn melihat ke arah seorang kakek berambut dan berjenggot putih panjang di podium. Kakek berkacamata yang mengenakan jubah panjang itu nampak celingukan di sebelah sang putri.

Finn menatap temannya yang berlari sambil menggosok-gosok bagian belakang tubuh itu sembari menghela nafas.

Tiba-tiba…

Terdengar ledakan keras. Asap membubung di mana-mana, menghalangi pandangan. Petir menggelegar, jelas akibat sihir.

Suasana perayaan langsung berubah menjadi kepanikan.

Sir Edric cepat tanggap. Dia menjatuhkan kepala naga di genggamannya, dan mengangkat pedangnya. Dengan cepat dia turun ke bawah podium, dan berteriak ke arah para pengawal dan prajurit kerajaan. ”Jangan panik! Berkumpul di sekeliling podium!” Perdana Menteri Rize dan Sir Ronald langsung berdiri untuk melindungi raja. Sementara itu Sir Astral berlari ke sisi podium dan mengangkat tongkatnya, berusaha menghilangkan asap dengan sihirnya. Meryl nampak celingukan di sisi Sir Astral, terbatuk-batuk akibat asap yang menutupi podium.

Terdengar suara dentingan gitar.

Semua mata langsung menuju ke arah sumber suara. Di puncak sebuah pohon. Saat asap di sana mulai menipis nampak seorang bermantel coklat dan bertopeng, sedang memainkan gitarnya. Di sekeliling lapangan, nampak orang-orang bertopeng yang memegang pedang atau crossbow. Seorang penyihir berjubah hitam nampak berdiri mengancam di sisi orang bergitar tersebut.

”Sang bandit bergitar!”

Para penduduk berlari-lari panik, meskipun sebagian malah terdiam dan berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk ke arah orang misterius di atas pohon tersebut.

Orang bergitar itu nampak memainkan beberapa nada lagi sebelum menggantungkan gitarnya di punggungnya, dan meraih tali yang menggantungkan salah satu spanduk. Dia menarik-nariknya sejenak, sebelum meloncat dan berayun. Para ksatria dan prajurit yang sedang berlari ke arahnya hanya bisa memandangnya lewat di atas kepala mereka.

”Tangkap pimpinan pemberontak itu!!!” Teriak sang raja panik dari balik asap.

Tapi sang pimpinan pemberontak berdiri dengan tenang di podium, sementara para ksatria sibuk melawan anak buahnya. Sir Edric mengalahkan beberapa di antaranya dengan mudah, sebelum menyadari kalau pimpinan mereka ada begitu dekat dengan raja. Dia langsung berlari ke arah podium bersama beberapa ksatria. Dalam sekejap, podium itu sudah terkepung.

”Menyerahlah, bandit bergitar!”

”Diam, wahai peliharaan kerajaan…” katanya setengah berlagu. ”Aku disini mewakili penduduk kota-kota yang terpinggirkan, meminta sang raja untuk berhenti menjajah mereka.”

Kemudian dia memainkan beberapa nada dengan gitarnya.

”Tidak akan!” balas raja dengan keras. ”Mana mungkin aku menyerahkan wilayah kerajaaku ke perampok seperti kalian!”

”Sudah kuduga…” katanya sambil mengibaskan rambut pirangnya. ”Kalau begitu, ucapkan selamat tinggal…”

Saat asap menghilang, semua terkejut melihat kursi di sebelah sang raja sudah kosong.

”Putri Clarice!!!”

Sir Edric langsung meloncat ke podium dan menebaskan pedang Elridge, pedang terkenalnya. Tapi Bandit Bergitar menghindarinya dengan meloncat ringan.

”Saya memberi waktu 3 hari, yang mulia. Ambillah surat tanah milik propinsi pinggiran yang selalu anda tindas, beserta uang pajak mereka yang telah anda pungut bulan ini. Bawa semuanya ke Reruntuhan Kastil Gunung Midrift. Kalau tidak, keselamatan tuan putri tidak akan saya jamin.”

Setelah berkata begitu, asap tebal kembali membumbung, dan setelah asap menipis kembali, sang bandit beserta para anak buahnya telah menghilang, meninggalkan lapangan istana dalam kekacauan.

Finn hanya dapat melihat semuanya sembari bersembunyi di balik meja.

…………………………

Tak perlu dibilang, raja sama sekali tak ingin menurut kepada pimpinan pemberontak. Setelah diskusi dengan para menteri dan penasehat kerajaan, pengumpulan pasukan besar-besaran dilakukan. Raja mengumpulkan ksatria-ksatria terbaiknya, yang dipimpin oleh Sir Edric. Untuk dukungan, raja juga meminta Sir Astral, penasehat kerajaan dan penyihir tinggi istana, mengumpulkan penyihir-penyihir terbaik kerajaan untuk berangkat bersama mereka.

Sesuai kebiasaan, beberapa bard kerajaan juga ikut bersama mereka sebagai penulis catatan perjalanan. Finn menggosok gitarnya dengan gugup, saat ketua rombongan bard mem-briefing mereka. Sekilas, dia melihat Meryl yang tetap berantakan, mempersiapkan perlengkapan Sir Astral sebagai apprentice beliau. Meryl nampak cukup khawatir, sebab dia juga berteman baik dengan Putri Clarice.

Tanpa membuang waktu, mereka tiba di tempat tujuan sesuai jadwal. Gunung Midrift merupakan daerah yang tandus, tanpa penghuni sedikitpun. Garnisun prajurit yang ditugaskan di sana telah dibubarkan sejak letusan terakhir gunung berapi itu sepuluh tahun yang lalu. Nampak asap belerang membubung dari celah-celah bebatuan. Pohon-pohon mati menambah seramnya suasana.

”Berhati-hatilah, Sir Edric.” Sir Astral berkata dengan nada penuh kebijaksanaan kepada ksatria senior yang memimpin di depan. ”Ada kabar kalau naga bersarang di sekitar sini.”

”Jangan khawatir, Astral yang baik” Sir Edric membalas perkataan sang penasehat kerajaan. ”Satu atau dua naga sudah menjadi sarapan sehari-hariku. Lagipula, kita bersama ksatria-ksatria dan penyihir-penyihir terbaik kerajaan.”

Saat hari menjelang sore, mereka tiba di reruntuhan kastil midrift. Dulu, pada masa kekuasaan kakek raja yang sekarang, kastil ini merupakan tempat perlindungan keluarga kerajaan. Namun sebuah letusan gunung midrift melantakkan kastil batu itu. Kini kastil itu menjadi sarang perampok gunung dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Sir Edric berdiri di atas salah satu reruntuhan menara istana dan bersuara sekeras-kerasnya. ”Kami sudah tiba, wahai pemberontak!”

Suaranya bergema di antara reruntuhan batu dan tebing-tebing gunung Midrift.

”Keluarlah sekarang. Dan ambil sendiri peti berisikan emas dan surat berharga yang kalian minta!”

Dari salah satu jendela reruntuhan yang gelap, sesosok bayangan menjawab.

”Sir Edric the Brave sendiri yang mengantarkan tebusan. Aku jadi tersanjung. Awalnya, aku tidak berencana menunjukkan diri, namun kini rasanya tidak sopan kalau aku tidak menyambut kalian secara pribadi.”

Sang bandit bergitar, perlahan muncul dari balik bayangan reruntuhan. Dia menatap sejenak ke sekitar selusin ksatria dan penyihir yang mengelilingi sebuah tandu. Tandu itu kini berisikan sebuah peti besar.

”Tunjukkan dimana Putri Clarice, wahai pemimpin pemberontak!”

“Tunjukkan dulu tebusannya.”

Salah seorang ksatria membuka tutup peti. Nampak emas berkilauan dan beberapa lembar perkamen. Pemimpin pemberontak bersiul, dan di bawah jendela tempat dia berdiri, beberapa anak buahnya mengawal Putri Clarice yang terikat erat.

”Aku percaya kamu tidak menyakiti putri kerajaan, wahai pemberontak.”

Bandit Bergitar hanya tersenyum dan menunduk sopan. ”Seorang gentleman tidak akan menyakiti wanita tanpa alasan.”

Tapi tiba-tiba terdengar suara. Di atas peti, entah sejak kapan seorang bertopeng berjongkok dan menggenggam sedikit emas.

”Bos! Ini Palsu!”

Orang itu segera meloncat menjauh. Tapi dia tidak bisa lari, sebab dari balik bebatuan, para ksatria dan penyihir yang sedari tadi bersembunyi, muncul dengan senjata di tangan.

“Menyerahlah, pemberontak. Kamu telah terkepung. Kamu kira raja mau menurut begitu saja kepada bandit sepertimu?”

”Tak kusangka, Sir Edric yang terkenal mau berbuat seperti ini.”

”Huh, aku tidak perlu berlaku ksatria terhadap pemberontak sepertimu!”

Tapi bos pemberontak itu tidak nampak panik. Matanya memandang para pengepungnya, kemudian dia memainkan beberapa nada.

Dari tebing-tebing yang mengelilingi reruntuhan, muncullah puluhan orang bertopeng.

”Aku juga tidak perlu berlaku ksatria terhadap anjing peliharaan kerajaan sepertimu, bukan begitu?”
….

To be continued

….

Read Full Post »