Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Mad World’ Category

File 1.1

Apa itu membela kebenaran?

Aku masih ingat, seakan baru kemarin, saat aku tiba di depan kantor ini dan mengetuk pintunya, dengan harapan akan dijadikan partner, oleh detektif swasta profesional yang direkomendasika editorku dulu.

Sebagai wartawan, aku sudah capek dengan media cetak yang dikuasai oleh bos-bos gangster dan penjahat itu. Dan aku tidak menyesal keluar dari sana, meskipun aku hanya dijadikan sekretaris oleh bosku yang baru ini.

Orang yang menarik, meskipun agak aneh. Sepertinya dia belum dapat melupakan partnernya yang tewas 2 tahun lalu itu. Meskipun kadang-kadang tingkahnya tidak bisa ditebak, sesekali dia nampak berwajah sendu seperti sekarang. Matanya yang gelap, dalam, terpaku pada kartu misterius yang kami pungut di lokasi pembunuhan kemarin malam.

Dahinya berkerut serius, sejak tadi pagi dia duduk di mejanya, menatap barang bukti yang mungkin saja kunci dari kasus ini dan kasus-kasus sebelumnya. Ah, aku dapat melihatnya. Keringat menetes di wajahnya yang diam kaku, berkonsenterasi penuh kepada kasus di hadapannya. Tubuhnya bergeming tak bergerak, sesekali bergetar, menahan desakan adrenalin, rasa kesal terhadap penjahat yang menantangnya terang-terangan.

Dia se

“Clara…”

Ah, beliau memanggilku. Bantuan apa yang bisa kuberikan pada detektif ini?

“Uhh… Bisa ambilkan obat diare di lemari? Aku… sakit perut sejak tadi pagi… Tidak… tahan lagi.. sekarang… aku harus ke wc…”

……………………………………………………….

It’s a Mad, Mad World
File 1.1: Partner in Crime

“Terimakasih, Clara…”kataku sembari mengelap tanganku dengan saputangan. “Ah.. lebih enakan sekarang… Untung wc kita yang mampet sudah diperbaiki. Ingatkan aku untuk membeli pengharum ruangan besok…”

Aku kembali duduk di mejaku. WC adalah tempat yang bagus untuk memikirkan kasus, kalau boleh kubilang. Tapi kali ini sangat sedikit, kalau boleh kubilang hampir tidak ada, kemajuan yang kuperoleh dari berdiam satu setengah jam di kamar privat itu, berpikir sambil melakukan urusan ‘itu’.

Clara kembali meneruskan ketikannya. Sebenarnya, entah apa yang diketiknya, aku kurang tahu. Kantor kami agak… jarang mendapat kasus, sehingga jarang pula laporan harus diketik. Tapi siapa peduli. Seorang sekretaris memang tugasnya mengetik, aku sudah terbiasa mendengar suara ketikannya yang berirama. Bagus untuk membuatku tidur siang.

Kembali ke kasus… Aku baru sedikit sekali memperoleh kemajuan pada kasus yang satu ini. Padahal sudah 2 tahun aku mengerjakannya. Satu-satunya petunjuk yang kuperoleh adalah… kartu-kartu ini.

Kartu Joker.

Aku tahu siapa pemiliknya. Pernah bertemu dengannya sekali. Kartu joker ini bukan kartu biasa. Kita bisa lihat dari tanda-tanda khusus yang tersirat di kartu ini. Terutama tulisan

“BLACK PHANTOM.
WORLD’S MOST HANDSOME AND FAMOUS THIEF.
CALL 1800-200-THIEF.”

Di belakang kartu.

Tentu saja, seperti semua detektif brilian lainnya, aku langsung menelepon nomor itu. Sebentar, biar kuambil transkrip percakapanku yang diketik Clara.

…………………………

-Halo, 1800-200-THIEF?

-Ya, benar. Siapa di sini?

-Ini detektif swasta, Faris P. Sherlock. Apakah….

-Detektif swasta?

-Ya.

-Ah, maaf tuan Faris. Di sini tidak ada pencuri paling tampan dan terkenal di seantero negeri. Terutama yang namanya BLACK PHANTOM

-Oh, maaf mengganggu kalau begitu

…………………………

Sudah selama ini aku memandangi transkrip itu. Tapi aku tetap tidak bisa menarik petunjuk dari dalamnya. Sudahlah, sepertinya sudah saatnya aku memikirkan petunjuk lain. Tapi sebelum itu, sepertinya sudah saatnya makan siang.

“Clara, bisa kamu lihat apa yang ada di lemari makanan? Sepertinya sudah waktunya makan siang.”
“Segera, Sherlock.” Kata gadis itu, beranjak dari depan mesin ketiknya.

“Seperti jawabanku kemarin, tadi pagi, dan 5 menit yang lalu, Sherlock. Roti Kering. Ada juga selada dan wortel kalau anda mau…”

“Ini benar-benar gawat, Clara. Seorang detektif perlu makanan bergizi tinggi. Dalam jumlah yang banyak. Itu diperlukan agar sel-sel kelabu di otak kita bisa bekerja dengan semestinya. Dan agar perut tidak berbunyi yang aneh-aneh saat kita sedang meneliti. Bagaimana kita bisa bekerja tanpa makanan seperti ini?”

“Sudah kubilang Sherlock, sebaiknya kita terima saja kasus perceraian, kehilangan hewan peliharaan, dan pencurian lolipop itu. Orang tadi membawa kasus kehilangan anjing ke duapuluh lima yang kita tolak minggu ini…”

“Ini masalah prinsip Clara…”

Saat aku sedang memikirkan kata-kata untuk menjelaskan, mengapa kami tidak menerima kasus anjing hilang, terdengar suara ketukan pelan di pintu kantor kami yang lusuh dan kumuh.

….

“Jadi nona… Wethersby. Benar?” kataku kepada wanita muda di hadapanku yang baru saja selesai menceritakan masalah yang dihadapinya. Kami duduk di ruang kantor berdebu yang dengan buru-buru kubersihkan sebelum calon klien kami masuk. Aku selalu bilang, klien harus mendapat kesan pertama yang bagus.
Clara mencatat percakapan kami sembari duduk di kursi sebelahku.

“Majikan anda, Nyonya Miles yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya saat ini, mendapat surat ancaman pencurian?” tanya Clara.

“Benar…” kata gadis muda berpotongan rapi itu. “Baru kemarin, saya sendiri yang menemukan sepucuk surat di antara antaran koran harian. Surat…tanpa nama, yang mengatakan bahwa tanggal 18, yaitu 2 hari lagi, dia akan mengambil harta Nyonya yang paling berharga. Bersama sepucuk kartu joker…”

Clara membaca catatannya. “Seperti yang anda bilang sebelumnya. Yaitu sebuah koin tembaga 1 sen yang pernah tergigit oleh Presiden pertama George Washington. Menjadi incaran para kolektor, karena adanya cetakan gigi sang presiden sebelum dirinya menjadi ompong.”
“Baiklah nona… kalau begitu kami akan menerima kasus yang menarik ini, dengan syarat, segala pengeluaran selama penyelidikan ditanggung, TERUTAMA MAKANAN. Ditanggung oleh anda.

“Uhm… baiklah…” kata Wethersby yang agak bingung mendengar tekanan pada frase terakhir kalimat Sherlock itu.

Gadis itu beranjak pergi. “Sebelum anda pergi…”kataku sambil tetap duduk, “anda sebaiknya jangan lagi membeli roti daging di waserba Lane Road itu, apalagi kalau anda sedang berusaha menjalani diet vegetarian. Makanan disana mahal dan terlalu berlemak…”

“…Apa!? Bagaimana anda tahu?”

Aku tersenyum kepada wanita muda itu. “Lipstik anda terlihat baru dipoles, artinya anda baru saja merapikan lipstik. Apa yang bisa membuat anda merapikan lipstik sebelum berkunjung ke sini? Hanya dua, berciuman atau makan sesuatu. Anda tadi bilang, anda naik taksi, berarti anda tidak mungkin tak sengaja mencium sesuatu dalam perjalanan.”

“Sepertinya anda tidak baru saja berciuman dengan seseorang tentunya, karena saat berbicara dengan saya, tercium aroma mint yang masih baru dari mulut anda. Orang tentunya makan permen mint untuk menyegarkan nafas, sebelum berciuman, bukan sesudahnya. Kalau anda berciuman, aroma permen itu tidak akan sebaru ini. Jadi anda baru saja makan sesuatu.”

“Noda minyak masih tersisa di saputangan anda. Ditambah dengan sedikit serbuk coklat kemerahan, yaitu remah roti dan serbuk cabe yang menempel karena saus tomat, sudah jelas anda baru saja makan roti daging. Penampilan anda sedikit pucat, dan kartu yang sekilas terlihat di dompet anda sewaktu anda mengeluarkan kartu nama, adalah kartu nama sebuah toko makanan khusus sayuran beberapa blok dari sini. Karena itu saya untung-untungan mengambil kesimpulan bahwa anda sedang menjalani diet vegetarian, dan baru saja mulai, sehingga belum terbiasa.

Jadi, karena anda baru saja, sembunyi-sembunyi makan roti daging, hanya ada 1 toko di dekat sini yang sesuai dengan hipotesa saya, yaitu waserba di Lane Road, yang sejalan dari Manor nyonya Miles, dan terletak beberapa blok dari sini. Selesai, sesederhana itu.” Kataku sambil tersenyum dan menyatukan ujung-ujung buku jariku, perlahan-lahan dengan dramatis.

“Uhm… tuan Sherlock..�” kata gadis itu. “Memang saya makan roti daging di waserba Lane Road, dan baru mulai menjalani diet vegetarian. Tapi saya tidak pakai lipstik, ini warna alami bibir saya, dan noda di saputangan saya adalah keringat dan debu… Serta saya tidak makan permen mint.”

...

“Uh.. pokoknya, tunggu kami besok…” kataku sambil mempersilakannya ke pintu keluar.

Aku menghembuskan nafas lega. Hmm.. bau mint.
“Sherlock…” terdengar suara Clara. “Uh… tadi anda sikat gigi pakai pasta gigi mint kan?”

…………………

Aku melempar kartu joker itu ke udara, dan menangkapnya kembali. Black Phantom? Tak kusangka kita akan bertarung lagi secepat ini…

………………….

“Semoga kami tidak mengganggu” kataku sambil tersenyum, saat beberapa pelayan datang dan menghidangkan nampan-nampan bertutup di atas meja. Lampu kristal berkilauan di bawah atap.

“Anda datang pada saat yang sangat tepat, tuan Sherlock…” kata seorang wanita paruh baya yang lembut, tapi berekspresi kuat itu. Dia dan anggota keluarganya, duduk mengelilingi meja makan besar di ruang yang mewah ini, bersamaku dan Clara. Nona Wethersby nampak duduk beberapa kursi di sebelahnya.

Nyonya Miles termasuk salah satu orang terkaya di kota ini. Rumahnya yang terletak di pinggiran kota, merupakan sebuah Manor besar bergaya klasik, yang ditinggali sedikit anggota keluarganya dan beberapa orang pelayan.

“Aku selalu bilang, kalau ingin bertamu, datanglah saat makan siang.” Kata seorang pemuda ceria dengan potongan tidak begitu rapi. “By the way, sudah lama aku ingin bertemu seorang detektif swasta betulan.”

“Ah, Randy…” kata nyonya Miles sambil tersenyum ramah. “Perkenalkan, ini keponakan saya Randy. Dia kuliah di Smithsonian art institute, dan sedang kemari untuk berlibur.”

“Anda sudah bertemu dengan asisten saya nona Withersby bukan” kata sang nyonya rumah sambil mengangguk ke arah asistennya yang mengangguk sopan.

“Lalu, dokter pribadi saya… dokter Stevens…”
Seorang berpakaian rapi yang sedikit pincang, memasuki ruangan, mengangguk, dan duduk perlahan di salah satu kursi. “Dokter, ini detektif Faris P. Sherlock dan asistennya Clara Hastings.”

“Salam kenal.” Katanya ramah.

“Kita tunda perkenalannya, dan sekarang mari kita makan siang terlebih dahulu.” Kata nyonya Miles, saat semua pelayannya sudah pergi.

Aku berbisik terharu ke arah Clara yang duduk di sebelahku. “Akhirnya… makanan sesungguhnya…” Kataku sambil berkaca-kaca. Clara hanya menatap sembari mengenakan serbetnya. “Kamu tahu, aku sudah sengaja tidak makan dari kemarin untuk hari ini…”tambahku…

“Mari makan…”

Dan aku membuka tutup nampan untuk menyantap sepiring besar.

Roti kering.

“Ah, sepertinya nona Withersby belum bilang.”Kata Nyonya Miles sembari memotong rotinya. “Saya mengidap suatu penyakit dan dokter hanya memperbolehkan menyantap roti kering… Ada juga selada dan wortel kalau anda mau…”

“…tidak terimakasih…”

Read Full Post »

File 1

1932
Tahun-tahun puncak dari masa yang dikenal sebagai The Great Depression
Masa dimana seorang milyuner hari ini, bisa menjadi peminta-minta besok. Masa dimana pemimpin-pemimpin dunia hitam menguasai semuanya, mulai dari penjualan permen, sampai distribusi alkohol (atau setidaknya begitulah setting cerita ini).
Masa dimana setiap orang berusaha sebaik-baiknya agar tetap memiliki uang untuk membeli makanan. Sebagian berusaha tetap jujur, tetapi sisanya terpaksa melakukan apa saja demi hidup.

Pinggiran salah satu kota kecil di daerah midwest.
Sebuah rumah kecil berpagar putih, dengan halaman kecil yang rimbun. Seekor anak anjing berjemur dengan malasnya, sementara sang pemilik rumah berjalan menuju kotak surat dan mengecek isinya.

Tuan dan Nyonya Richard, adalah orang-orang biasa. Mereka hidup secara biasa, berlangganan koran, membayar pajak mereka tiap bulan. Tuan Richard memiliki hobi bermain catur, seperti yang selalu dilakukannya setiap hari, selagi istrinya berkebun di depan rumah.

Pria setengah baya itu mengambil surat-surat yang diletakkan di dalam kotak pos. Lalu dia pergi ke teras dan melanjutkan permainan caturnya. Istrinya menyiangi petak tanaman begonia di bawah jendela.

Setelah itu, mereka makan siang. Sedikit kentang dengan daging bersaus.

Malamnya, sehabis bercengkrama sebentar dengan tetangga, mereka pergi tidur. Tidak lupa mematikan lampu, sebab mereka adalah orang yang hemat energi.

Mereka orang-orang biasa. Tak ada yang menarik dengan kehidupan mereka.

Malahan, karena mereka hanya orang biasa itulah, kita tinggalkan saja mereka, dan berpindah ke orang lain yang kegiatannya lebih menarik.

Kita berpindah ke.

New York City Subway Station…

Seorang lelaki yang menenteng sebuah tas, memasuki kereta bawah tanah yang berhenti di salah satu dari sekian banyak stasiun kereta di New York.
Jasnya tampak lusuh, dan wajahnya yang rapi sekaligus lelah menunjukkan kelasnya sebagai pekerja kantoran biasa, yang kehidupannya bergantung apakah perusahaan tempatnya bekerja bisa bertahan sampai besok atau tidak.

Lelaki itu mengelap keringatnya menggunakan sapu tangan, tas kerjanya terbaring di pangkuannya.
Dia merapatkan jas kerjanya, dan membuka tas untuk melihat berkas-berkas yang seharusnya di bawa pulang. Bagus, semua sudah lengkap.

Orang yang duduk di sebelahnya, merapatkan duduk ke arah dirinya.
“Maaf…�” kata orang itu.

“Tuan… Smith?”

“Sepertinya anda salah orang… nama saya bukan Smith…�? jawab lelaki itu.

“Ah.. cuacanya bagus ya?”

Sigh… orang aneh yang bertanya tentang cuaca. Sepertinya orang ini benar-benar tidak punya kerjaan lain.
“Ya, meskipun kadang-kadang hujan deras.”

Kereta itu berhenti, dan sang lelaki yang dikira tuan Smith itu turun. Orang bermantel yang duduk di sebelahnya, juga ikut turun.

“Anda lebih suka… jeruk atau apel”

Apa maksud orang ini?

“Saya tidak suka dua-duanya, saya lebih suka pisang…”

Si misterius bermantel yang mengikutinya dari tadi menganggukkan kepala. “Bagus… anda memang.. ‘pekerja kantor biasa’ ”

… memangnya orang bisa tahu pekerja kantor biasa dari pertanyaan-pertanyaan aneh tadi…

Lelaki bermantel itu mengeluarkan sesisir pisang dari balik mantelnya, dan memberi isyarat, seakan-akan dengan menunjukkan pisang tersebut, lelaki itu menunjukkan kartu nama.

“Ikut saya, ‘pekerja kantor biasa’…” kata orang misterius itu.

What the… apa sih maksudnya?

Dia memandang sang misterius bermantel gelap, memasuki sebuah sudut di stasiun subway itu. Sigh.. hanya gelandangan gila. Tak usah dipedulikan…

Dia menatap arlojinya, sudah malam… tapi masih ada waktu sedikit untuk minum kopi di café subway ini..

Pada jam segini, stasiun subway ini sudah cukup sepi. Pria itu menghirup kopi hitamnya perlahan, dalam kesendirian.

Sampai tiba-tiba terdengar, suara teriakan memekik mengerikan.

Kucing yang malang… pikir lelaki itu sambil menggelengkan kepala. Akhir-akhir ini, semakin banyak kucing yang berkeliaran dan terinjak buntutnya. Dimana badan perlindungan hewan saat mereka membutuhkannya?

Teriakan itu masih berlanjut. Kucing itu cukup berisik…

Saat terdengar teriakan minta tolong yang ketiga, barulah dia, dan beberapa orang lain yang tersisa di café itu, menyadari bahwa itu bukan suara kucing.

Tapi itu adalah suara… yah, sesuatu yang suaranya mirip kucing.

Bersama beberapa orang lain, lelaki itu bergegas berlari menuju gang gelap, dimana suara tersebut berasal. Betapa terkejutnya dia, saat melihat, orang misterius bermantel, yang tadi mengajaknya bicara, telah telungkup bersimbahkan darah. Dengan pisau terhunjam di punggungnya. Dan pisang yang dibawanya berserakan di sekelilingnya.

“…pegawai kantor biasa…” katanya sebagai dying message… sebelum dia menjatuhkan kepalanya dengan lemas.

Lelaki itu terjatuh karena kaget. Tapi orang-orang tidak memperhatikannya. Sedikit orang yang berkerumun juga tidak ada yang memperhatikan, saat sang pegawai kantor merayap mundur, dan berlari meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, dua sosok lain tampak mendekat. Entah dari mananya, aura “penyelidik” dan “swasta,” seakan-akan tertulis di pakaian mereka. Mungkin dari kostum mereka yang berupa jas coklat besar dan mantel perjalanan kedodoran. Mungkin dari pipa yang dihisap oleh salah satu dari mereka. Atau mungkin juga dari notebook kecil yang digenggam oleh yang lain.
Tapi mungkin juga, dari tulisan PENYELIDIK SWASTA yang terpampang jelas dan besar di punggung salah satu dari mereka.
Salah satu, yang mengenakan jas coklat dan kacamata kecil di atas hidungnya. Dia berlutut mengamati mayat berlumuran darah itu. “Kita terlambat…�? gumamnya. “Padahal petunjuknya sudah kita dapatkan…”

Sementara itu, rekannya yang bertubuh lebih kecil mengamati sekeliling. Saat rambut coklat gelapnya terurai dari balik topi pet yang diangkatnya, barulah nampak jelas kalau dia seorang wanita. “…sudah kubilang kalau seharusnya kita tidak berhenti di obral pakaian bekas itu, Sherlock…�?

It’s A Mad, Mad World
File 1: The Agent, The Investigator, The Apprentice

Aku berdiri tegak dan menggoyangkan jari telunjukku, dengan mata tertutup, dan pipa di mulut. “Tsk..tsk.. mon ami… catat ini. Peraturan seorang private eye profesional: 1. Bergayalah seperti seorang private eye profesional. Poin terpenting ini dapat dilihat dari: a. Gaya berpakaian, itu sudah jelas yang paling penting. b. Cara bicara, itu adalah hal terpenting yang kedua….”

Sementara itu, sepertinya hanya perasaanku, tapi ada suara merintih dari arah korban. Hanya khayalanku… Sudahlah, yang penting saat ini, memberi kesan kepada para penonton kalau aku seorang private eye yang keren dan profesional.

Orang-orang yang berkerumun sudah mulai bubar, saat beberapa polisi berseragam mulai berdatangan.

“Kasus pembunuhan…” kataku menjelaskan, kepada beberapa polisi berpangkat rendah yang datang, sembari menunggu atasan mereka yang berwenang. “Clara, jangan pedulikan suara-suara rintihan aneh itu, dan bantu aku memberi impresi yang bagus kepada para polisi ini…” kataku itu kepada Clara Hastings, gadis yang tinggal bersamaku di kantor, yang sekarang sedang berusaha menangkap dari mana asal suara-suara aneh berbunyi seperti orang minta tolong itu. Sigh, padahal aku sudah sering bilang padanya, seorang private eye tidak boleh mudah teralihkan perhatiannya.

“Umm… sherlock…”
“Shush, diam Clara… aku sedang menjelaskan di sini…” kataku, saat gadis yang menganggap dirinya apperenticeku itu menunjuk ke bayangan di dinding. Bagi orang yang tak terlatih, akan terlihat bagai bayangan sesosok tubuh dengan pisau di punggung yang berusaha bangkit sambil merintih, tapi aku tahu, itu hanya ilusi cahaya. Tak usah dipedulikan… Aku segera melupakannya saat para polisi berpangkat rendah itu membuka jalan untuk atasan mereka yang baru datang.

Wajahku langsung menunjukkan muka tidak nyaman.

“Dari semua polisi yang bisa datang…”

Sementara lawan bicaraku juga menampakkan emosi yang sama.

“Dari semua detektif swasta yang bisa berada di sini pertama kali…”

Kami saling memandang sesaat, dengan tatapan penuh tantangan dan senyum di mulut. Atau setidaknya begitulah tatapannya ke arahku, sementara aku yakin aku bisa memberi tatapan yang lebih keren dari itu.
“Well..well… aku selalu bilang. ‘dimana ada apel, disitu ada jeruk…’ Ternyata rekanku, Faris P. Sherlock sang detektif swasta…” kata polisi berpakaian preman yang berwajah tampan itu.

“Letnan Beaumont dari Interpol… entah kenapa aku merasa, cepat atau lambat, kita akan bertemu lagi…�? balasku.

Kami terus saling memandang dengan dingin, dalam malam yang semakin larut, sementara aku tahu Clara menatap kami berdua dengan tatapan pasrah. Tidak ada orang lain di gang gelap situ selain kami bertiga. Dan sang ‘mayat’ tentunya. Sigh, dari mana sih suara merintih menyedihkan itu.

Kami masih saling menatap. Mayat itu bisa menunggu, mayat tak bisa pergi kemana-mana. Apa dia bisa berusaha berdiri? (haha)

Terdengar suara seperti pisang yang tergencet sesuatu dan bunyi orang terpeleset di belakang kami, lalu suara benturan keras, seakan seseorang menghantamkan kepalanya ke lantai. Hei! akhirnya suara rintihan di latar belakang itu berhenti! Akhirnya kami bisa saling memandang dengan keren, tanpa gangguan. Dan Clara berhenti menarik-narik bajuku.

“Mereka selalu bilang… ‘buaya tidak pernah jauh dari kulitnya’…” kata Beaumont “Mau tak mau aku tetap harus menghormatimu sebagai sesama penyelidik, Faris. Jadi, bagaimana analisismu kematiannya, sire?” kata letnan Beaumont, setelah aksi tatap menatap antara dia dengan aku selesai. Tugas tetap harus didahulukan…

Aku berlutut di dekat mayat. Sudah saaatnya aku melanjutkan penyelidikanku yang terganggu oleh kedatangannya tadi… “Sudah jelas. Tusukan di punggung ini tidak langsung membawa kematian. Hantaman benda keras di kepala/kepala menghantam benda keras, itu yang menyebabkan kematiannya… Sedangkan dilihat dari suhu tubuh, dan penggumpalan darah, waktu kematiannya tidak lebih dari 15 menit yang lalu. Atau bahkan 1 menit yang lalu, siapa tahu… Tentu, 1 menit yang lalu kita sudah berada di sini, dan tak mungkin dia terbunuh saat itu.”

“Kecuali mayat ini tadi berdiri dan menghantamkan kepalanya sendiri ke lantai saat kita tidak melihat, tentunya…” aku tertawa dengan nada sarkastis. Heh.. konyol. Masa mayat ini bisa berdiri dan menghantamkan dirinya ke lantai…

“Setuju… dan lagi, sang pembunuh menggunakan senjata yang menarik sekali… kulit pisang… Benar-benar jenius dan inovatif… “ sambung Beaumont sambil mengangkat sisa-sisa kulit pisang dan pisang hancur dari sepatu mayat. Aneh, tadi aku tidak merasa melihatnya. Ah, sepertinya terlewatkan… Dan lagi, posisinya nampak agak bergeser. Khayalanku saja… aku perlu mengurangi minum kopi…

“Kata mereka, ‘harimau di pelupuk mata tak tampak, belang di seberang lautan kelihatan,’ Bagaimana kamu bisa ada di sini, Faris?”

“Kamu tahu sendiri. Dengan adanya aku di sini… berarti kasus ini berkaitan dengan kasus ‘itu’… Pertanyaan yang sama juga bisa kuajukan kepadamu, wahai agen Interpol?”

“Sudah kuduga… ‘itu’… Berarti, kematiannya berhubungan dengan ‘itu’ dan ‘itu’ yang kamu selidiki selama ini membawamu ke tempat ini… Untuk pertanyaanmu, jawaban yang sama juga kuberikan. Alasan kenapa Interpol menugaskanku untuk menyelidiki… karena kasus ini memang berhubungan dengan ‘itu’…”

“Benar… ‘itu’. Tapi ‘itu’… uhm, sudahlah. Entah kenapa, tanpa alasan tertentu aku merasa ada yang tidak mengerti kalau kita bicara menggunakan kata ‘itu’ dan ‘itu’… Aneh, padahal tidak ada orang lain di sini selain kita bertiga dan sang mayat… Tanpa alasan tertentu juga, tiba-tiba aku jadi ingin menjelaskan, kalau ‘itu’ yang kita bicarakan dari tadi, adalah suatu kasus yang sudah kuselidiki sejak 2 tahun yang lalu yang mulai menarik minatku setelah kematian rekanku…”

“Mereka selalu bilang. ‘Permen tak pernah jauh dari toplesnya,’ maksudku, ya, aku mengerti perasaanmu… Tapi karena alasan tertentu juga, aku merasa kalau kelak kamu akan punya kesempatan untuk melakukan flashback atau semacamnya dan menjelaskan lebih lanjut tentang ‘itu’…”

….

Malam semakin kelam, dan udara kota new york yang berkabut semakin dingin. Clara merapatkan mantelnya, sementara polisi-polisi telah menyegel tempat kejadian, memotretnya, dan memungut semua benda yang kira-kira bisa menjadi barang bukti. Kemudian mereka mengangkat mayat lelaki itu keluar stasiun subway.

Clara bersamaku dan Letnan Beaumont, mengawasi semuanya dari kejauhan. Kami minum kopi sembari berdiri, sebelum melanjutkan penyelidikan kami. Sejauh ini, kami telah menyelidiki dan mengumpulkan petunjuk sejauh yang kami bisa.
“Orang bijak bilang ‘Kopi-kopi dahulu, berenang-renang kemudian.’ Sebelum kita menyelidiki lebih lanjut, biarkan mereka melakukan pekerjaan kasarnya…” kata Letnan Beaumont.

Letnan polisi muda berwajah tampan menatap itu kami berdua, sebelum menggelengkan kepala dan menyisir rambut pirangnya. “Aku ingat perkataan mereka… ‘Kalau ada ikan di laut, boleh ada sapi di gunung.’ Kalau ada 2 orang yang berpasangan, kenapa seseorang yang begitu indah selalu berpasangan dengan sesuatu yang merusak pandangan…” Kata sang agen interpol berkebangsaaan Prancis itu sambil menatap Clara yang berdiri di sebelahku.
Gadis itu tersipu malu sambil merapatkan mantel perjalanannya yang kebesaran untuk tubuhnya yang mungil.

“Meskipun aku tersanjung dengan pujianmu Beaumont, tapi aku selalu menganggap Clara cukup cantik.”

“Maksudku bukan begitu sebenarnya…”

“Lagipula, kuingatkan sekali lagi. Clara di sini BUKAN partnerku… Aku tidak butuh… partner…”Kataku sembari menatap langit kota new york yang gelap. Berawan…

“Aku tidak butuh… orang… untuk tewas di sampingku lagi…” Sial… mulai gerimis. Mengingatkanku pada malam 2 tahun yang lalu itu… “Tapi yah, aku memang perlu orang untuk bersih-bersih rumah, belanja, memasak, mengurus pembukuan dan mengatur jadwal…”

Kenapa Clara menghela nafas mendengarnya yah…?

Sementara malam semakin larut…

Keinginanku untuk menjelaskan siapa Clara, Siapa Letnan Beaumont, bagaimana aku bisa berada di sini, dan apa itu “itu” itu, terpaksa menunggu…

Read Full Post »

It’s a Mad, Mad World

Prologue

New York, 1930

Hujan deras… membasahi jalanan kota New York yang gelap, membersihkannya dari kabut asap yang menyesakkan…. Setidaknya sampai hujan berhenti dan mobil-mobil hitam itu kembali berlalu lalang…
Aku memandang ke luar jendela, menatap ke lampu-lampu gas yang berkelap-kelip redup di sepanjang jalan.

In a world going mad…

Aku membuka pintu, sebelah tangan membawa kantong belanjaan, mendekapnya di depan dada. Dengan susah payah aku menahan kantong itu, sementara sebelah tangan membuka pintu.

It’s going to be madder than ever…

James Redford and Co.
P.I (Private Investigator)

Aku baru menyadari… Darah kelihatan begitu berkilauan di dalam gelap…

Jatuhlah semua buncis, sarden, brokoli, mentega, sabun, pisang, sikat gigi, deterjen, roti, biskuit, korek, sepatu, penghapus, boneka teddy bear, kopi, gula, pensil, kentang, majalah, buku tulis, celana dalam, tali sepatu, yang kubeli dari toko di depan. Sial, aku lupa beli susu.

Intinya, semua belanjaanku jatuh, sekaligus kantongnya, saat aku melihat darah menggenang di ruangan gelap itu. Dan terutama, dari mana darah itu mengalir…

“JAMES!!!!�?

Aku berlari mendekatinya, melupakan dunia di sekelilingku, termasuk lupa kalau aku baru menjatuhkan mentega, dan menginjaknya. Gelap banget. Brengsek, sudah kubilang kalau batas pembayaran uang listrik itu kemarin, tapi partnerku yang bodoh itu tetap saja merengkel. Lihat akibatnya, saat kita perlu lampu, lampunya tidak nyala. Kenapa perlu lampu? AH! iya, dia sedang berlumuran darah…

Satu-satunya sumber cahaya, adalah jendela yang bercahaya di latar belakang, memasukkan cahaya lampu gas dari luar. Siluet meja, lemari, James, dan aku, bersatu dalam ruangan remang-remang itu.

Kilat menerangi bumi, saat aku berlutut di samping partnerku yang bernafas dengan susah payah itu. Berkas-berkas berserakan di sekelilingnya, merah, merah oleh darah.

“F…Faris…” katanya dengan susah payah.

“James… jangan bicara.. Eh, maksudku, bicara dulu. Ada apa ini? Siapa yang melakukan ini!!!”
Jas coklatnya kini basah, seakan terendam cairan merah.

Dia terbatuk. “Kasus itu…” katanya dengan susah payah…

Aku ingat… Kami memang hanya biro penyelidikan yang lebih banyak berurusan dengan kasus perceraian, kehilangan hewan peliharaan, atau pencurian lolipop. Tapi baru tadi pagi, saat aku pergi meninggalkan kantor untuk makan setengah siang (maksudnya, makan setelah sarapan dan sebelum makan siang, tidak termasuk cemilan setelah sarapan dan cemilan sebelum makan siang tentunya), seorang wanita dengan gaun hitam dan topi berjaring yang menutupi wajah, datang memasuki kantor.

Baru tadi sore partnerku ini bilang…
“Kasus ini akan menjadi kasus terbesar kita…”

“James!! kasus apa? Tunggu sebentar, aku akan telepon ambulan…”

“Percuma…”

“Mereka.. memotong kabel telepon?”

“…kita belum bayar tagihan…”

Aku terdiam… sementara sahabat, sekaligus guruku itu kembali terbatuk. “…ris… tetap saja.. sudah terlambat…. Kasus ini… lebih besar dari yang kubayangkan…”

Aku kembali melihat ke arah berkas-berkas yang berserakan. Tentu saja… berkas tentang kasus yang sedang diselidiki James sudah dibawa pergi…

James menggenggamkan tangannya ke tanganku. “Selain itu… mereka juga memakan… Pizzanya…”

Kilat menyambar, seakan membenarkan hatiku yang begitu terkejut. Siapa yang tega…
Aku menolehkan kepala dengan pandangan penuh horor ke meja kerja. Kotak Pizza pepperoni keju dengan taburan sosis dan tomat ukuran extra large itu… Kini tinggal kotaknya!!! Pizzanya telah habis!!!!

“Tidak.. tidak mungkin. Siapa yang tega memakan makanan para detektif yang kekurangan gizi dan kelaparan ini….”

“Karena itu Ris…” kata James yang semakin melemah. “Balaskan dendamku…”

Bersamaan dengan itu, aku melihat cahaya kehidupan mulai menghilang dari matanya. Aku membuka genggaman tangannya… Sebuah petunjuk… selembar kartu joker yang remuk. dengan sebaris nomor di belakangnya, tertulis dengan tergesa-gesa menggunakan darah… Eww…

“..jangan lupa ris…” terdengar bisikan terakhirnya. “matikan kompor, tadi aku sedang masak air…”

Dan dia tak bergerak atau bernafas lagi.

“James… hei.. James…” aku menggoyangkannya. Tapi aku tahu itu sia-sia.
Sebab dia telah tewas… “Tidak.. james…”

Aku mematikan kompor dulu.

Lalu teriakanku, bergema di kantor kecil nan gelap itu, bergaung bersama suara petir yang menyambar dan hujan yang semakin deras. Dan aku bersumpah… akan membuat siapapun yang melakukan ini membayarnya…

…………………

New York, 1932

Pintu kantor itu diketuk. Pintu yang kini bertuliskan.

Faris P. Sherlock
Private Investigator

(tidak menerima kasus perceraian, kehilangan hewan piaraan, atau pencurian lolipop)

Read Full Post »