Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Ellysium Chronicles’ Category

Chapter 2: Awakening

“…jadi, bisa diperhatikan dari ukiran-ukiran di reruntuhan kuno yang tersebar di seluruh Terran…”

“…dor”

Fri menatap dosennya yang terus menjelaskan di depan ruangan sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangannya lagi dibentuk menjadi pistol dan pura-pura ditembakkan ke arah dosen di depan. Sinar matahari memasuki ruang kuliah yang berundak-undak dari jendela besar di sisi ruangan, menghangatkan para mahasiswa jurusan arkeologi yang terkantuk-kantuk mendengarkan sang dosen.

“…ada teori bahwa ide Humvee yang pertamakali dibuat oleh Forad corporation, terinspirasi gambar-gambar di reruntuhan-reruntuhan kuno tentang raksasa-raksasa dalam legenda…”

“dor…” kata Fri sekali lagi dalam hatinya.

Dosen berambut jarang itu menatap arlojinya, dan menatap ke arah mahasiswa-mahasiswa di ruang itu. “Baiklah, kuliah hari ini sampai di sini. Jangan lupa untuk mulai membuat karya tulis kalian yang akan dikumpul setelah liburan panjang minggu depan.”

Fri menatap teman-temannya yang meninggalkan kelas satu persatu, sebelum dia membereskan buku-bukunya dan menuruni undakan ruang kelas menuju pintu keluar di bawah.

“Fri…” kata seorang gadis yang menunggunya di bawah sambil memeluk sebuah tas.
“Halo Sylvie…” kata pemuda itu sambil tersenyum kepada sang gadis berambut merah.

“Err… kamu mau ketempat Kyle?”
Fri mengamati gadis yang wajahnya memerah lembut itu. “/… Yeah. Mau ikut?”
“Te… terima kasih.. Fri” jawab Sylvie yang terburu-buru mengikuti Fri dengan langkah yang tertahan rok panjangnya.

“Kamu tidak bosan, tiap hari menunggui Kyle yang latihan pedang dari jendela, kemudian langsung pergi kalau dia selesai… -_-“

“*blush.*”

“..lagipula, sebenarnya aku heran apa bagusnya dia… -_-“ gumam Fri perlahan.

Tadi pagi, Kyle menyuruhnya pergi ke laboratorium teknik mesin, tapi dia tahu kebiasaan sahabatnya itu… Kyle akan ada di ruang latihan pedang, berlatih pedang melawan para senior-seniornya…

Kedua orang itu tiba di depan ruang unit permainan pedang Universitas Terran. Fri menatap Sylvie yang menunggu Kyle sambil menatapnya dari jendela. “Hoi… Kyle…” kata Fri sambil mengetuk kaca jendela dengan jarinya.

Pemuda tampan di tengah ruangan itu sama sekali tidak memperhatikannya. Fri mengamati sahabat sejak kecilnya itu. Bagian mananya sih yang membuat sahabat sejak kecilnya itu terus digemari cewek-cewek sejak di highschool dulu?

Kyle bernafas satu-satu, saat dia menangkis pukulan pedang kayu lawannya. Rambut coklatnya yang basah oleh keringat, berayun saat pemuda itu berputar untuk menyabetkan pedangnya ke sisi lawan, kemudian berputar lagi untuk menangkis serangan balasan. Butiran keringat berkilauan, oleh sinar matahari yang menyusup dari sela-sela ventilasi di atas jendela. Fri berhenti mencoba mengganggunya, dan mengikuti Sylvie untuk menunggunya selesai berlatih, tenggelam menyaksikan Kyle dan lawannya saling beradu pedang, menangkis, berputar, bersatu dalam tarian berkilauan di tengah spotlight mentari yang menyusup dari ventilasi.

“Huff… huff..” terengah-engah Kyle berlutut dan menghapus keringat dari wajahnya, sementara dia meletakkan pedang kayunya di lantai.

“Pertarungan yang bagus, Kyle.” Kata teman berlatihnya yang memakai topeng pelindung wajah, sembari bernafas terengah-engah juga, sebelum meninggalkannya untuk duduk di bangku sudut ruangan.

Kyle membiarkan keringatnya menetes dari rambut dan wajahnya, sebelum ia melonggarkan leher baju pelindungnya yang putih dan tebal, yang ketat membalut badannya yang terlatih. Beranjak dari tengah ruangan latihan ke kamar ganti, saat itu dia menyadari ketukan di jendela dan bergerak ke sana.

“Siang, Fri…” kata Kyle sembari membuka jendela, untuk memasukkan udara segar ke dalam dojo itu.
“Yo, Kyle…” kata Fri sambil nyengir. “Ada seseorang yang menunggumu…” Fri tidak menyelesaikan kalimatnya, karena menyadari gadis di sebelahnya sudah menghilang. “Tidak jadi…”

Fri mencari-cari, dan menemukan Sylvie beberapa meter dari situ, merapikan rambutnya, dan membawa sesuatu. Sepertinya gadis itu sudah menetapkan hatinya hari ini. Dan sang gadis berambut merah menarik nafas, sebelum melangkahkan kakinya menuju Kyle yang sudah keluar dari pintu untuk menikmati udara segar sebelum berganti pakaian.

Tapi tiba-tiba Fri dan Kyle terhuyung ke depan.
“Siang Fri, Kyle!!!”

Kedua pemuda itu kehilangan keseimbangan karena dipeluk dari belakang oleh seorang gadis.
“Uhk… Rin?” kata Fri yang tergencet dalam pelukan tiga orang itu.
“Lepaskan kami Rin…“ kata Kyle.

“ngg? Kenapa? ” kata Rin sambil menatap kedua sahabat cowoknya itu.
“Karena rasanya canggung kalau dipeluk cewek sepertimu?” kata Kyle.

“Dasar… ” kata Rin sambil memukulkan kepalan tangannya. Kyle menghindarinya dengan mudah dan menangkap kepalan tangan temannya itu dengan sikap cuek.

Fri memandang kedua teman sejak kecilnya itu sambil tersenyum. Mereka bertiga, telah bersahabat sejak kecil, dan sejak sekolah dasar sampai sekarang. Sambil tertawa menyaksikan Rin mencekik Kyle secara main-main dengan sikunya, pandangannya beralih ke tempat dimana tadi Sylvie berada. Gadis itu sudah tidak kelihatan…

“Sedang senang, Rin?” tanya Fri sementara menunggu Kyle berganti pakaian.
“Bukan sesuatu yang terlalu penting,” kata Rin sambil tersenyum. Kalau sedang begini, dia benar-benar terlihat seperti seorang cewek yang manis dan pendiam, pikir Fri.

Sebelum Fri menyelesaikan pikirannya, Sebuah benda logam menghantam Rin secara ringan dan menghentikan lamunan Fri.

“Oops… sorry…” kata Kyle yang keluar dengan pakaian casualnya, membawa tas berisi baju latihan dan peralatan kuliahnya.

“ Dasar anak ini…” kata Rin kesal sambil mengambil benda logam yang terbungkus kain itu dan bersiap melemparkannya ke Kyle.

“Hei.. itu benda yang kamu titipkan padaku untuk diperiksa kemarin…” Kata Kyle. Rin tersadar dan tidak jadi melempar benda itu, hanya melempar sandalnya ke kepala Kyle.

“Wah…” kata Rin sambil mengeluarkan benda di dalam kantong itu. Sepasang Gauntlet, sarung tangan logam yang lembut, dan anehnya sangat lentur, dengan tebal yang mencolok di punggungnya.. “Terimakasih Kyle. Jadi apa kata ketua labmu?”

“Sama seperti kata yang lainnya. Dia tak tahu dari bahan apa sarung tangan itu, dan apa yang ada di dalamnya… Yang jelas, ada teknologi sangat canggih di dalamnya. Sesuai keinginanmu, aku sudah menambahkan beberapa peralatan di dalamnya…”
“Peralatan?” bisik Fri ke arah Kyle.

“Tali jangkar, lockpick… jangan tanya, dia yang minta -_-“

“Thanks Kyle” kata Rin sambil memasukkannya ke sakunya. Fri memandangnya dengan lembut. Gauntlet itu adalah kenang-kenangan terakhir dari ayahnya, soerang peneliti di Ellysium. Beberapa tahun yang lalu, ayah Rin mengirimkan gauntlet itu, tanpa pemberitahuan apa-apa. Beberapa hari kemudian, ayahnya dikabarkan tewas dalam kecelakaan di laboratoriumnya. Sarung tangan itu dianggap oleh Rin sebagai pelindungnya, dan itu memang benar. Lentur dan kokoh, benda itu terbuat dari alloy logam yang tak diketahui, yang bahkan lebih keras dari baja, tapi jauh lebih ringan, dan merupakan perlengkapan yang sempurna bagi Rin.

“Baiklah, jadi hari ini kita akan pergi mengunjungi Greenhal Ruins. Aku sudah mengantungi izinnya, ayo kita berangkat.” Kata mahasiswa arkeologi itu sambil tersenyum.

………..

Beberapa kilometer dari pusat kota Greenhal dan Universitasnya, sebuah kendaraan umum berhenti. Kota Greenhal dikelilingi pegunungan yang Asri, dan mereka berhenti di salah satu lembahnya.

Tiga orang meloncat turun dari Bis itu. Mereka menatap bus yang pergi sambil menikmati udara pinggiran kota yang segar itu.
Sejak beberapa puluh tahun yang lalu, kendaraan bermotor sudah nyaris tidak mengeluarkan polusi lagi, dan akibat penghijauan besar-besaran dan penghisapan polusi yang digalakkan oleh TFFC, udara sudah semakin segar di beberapa negara. Di tempat mereka berdiri sekarang, hanya ada beberapa bangunan dan rumah.

Dan di bawah lembah, nampaklah 2 buah pekerjaan luar biasa dari dua masa umat manusia.
Greenhal Ruins.

Tersebar di seluruh Terran, banyak reruntuhan candi dan bangunan-bangunan lain yang dibangun oleh nenek moyang kebudayaan masing-masing, penuh dengan corak budaya yang berbeda-beda.

Tapi reruntuhan Greenhal ini merupakan reruntuhan yang paling terkenal di benua ini. Ditemukan secara tidak sengaja oleh para mahasiswa arkeologi universitas Terran beberapa tahun yang lalu, reruntuhan ini adalah salah satu yang terbesar di selurh Terran. Belum jelas apakah ini reruntuhan candi, atau istana, atau komplek perumahan sekalipun, tapi yang jelas, reruntuhan ini merupakan salah satu karya terbesar manusia dari masa yang terlupakan.

Dan pekerjaan luar biasa yang kedua adalah, ekskavasinya. Proses penggalian dan penelitian di reruntuhan yang dijadikan salah satu cagar budaya itu merupakan salah satu upaya ekskavasi terbesar yang pernah dilakukan oleh umat manusia di zaman modern. Setelah bertahun-tahun penggalian, para ahli bahkan belum yakin apakkah mereka sudah berhasil mengeluarkan separuh dari bangunan luar biasa yang tertimbun tanah dan ditumbuhi hutan itu.

Fri memandang kompleks bangunan batu seluas berhektar-hektar yang diselingi tenda-tenda peneliti, Dan dipenuhi oleh ratusan arkeolog dan peneliti dari seluruh dunia itu, sebelum menuruni tangga bersama kedua sahabatnya.

Perlahan, mereka bertiga berjalan melewati beberapa humvee arkeologi yang membawa setumpuk artifak dan peralatan penggalian. Debu dan pasir beterbangan di area yang sekarang telah disapu bersih dari hutan belukar di sekelilingnya itu.

“Wow…” kata Fri bergairah. Sejak dulu, dia benar-benar berminat pada penggalian arkeologi seperti ini. Itulah sebabnya dia masuk jurusan arkeologi setelah lulus dari sekolahl. Rin memotret sekelilingnya dengan penuh minat, sementara Kyle berjalan setengah acuh, dengan tangan di saku sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Tapi selain perkemahan arkeolog dan humvee-humvee penggali, mereka bertiga menyadari sesuatu yang lain.

“Kenapa tempat ini dipenuhi… polisi?” kata Fri heran.

Di sela-sela para peneliti berpakaian khaki dan menyandang tas berisi peralatan, mereka bertiga juga melihat orang-orang berseragam lalu lalang, menyandang senjata atau alat komunikasi.
Beberapa berteduh di tenda-tenda, yang lainnya berpatroli dalam pasangan-pasangan. Dan 1-2 mecha humanoid sederhana bersirine dengan emblem bintang nampak diparkir di tenda-tenda terlindung.

Rin mengeluarkan notebooknya dan berkata pada Fri. “Ini karena rencana kedatangan presiden TFFC itu. Seperti yang kamu ketahui khan, tidak semua orang senang kalau planet ini dipimpin oleh satu pemerintahan, ada banyak teroris yang terus berusaha mengacaukan kestabilan Terran. Dan salah satu sasaran mereka adalah tempat-tempat yang dibiayai oleh TFFC. Dengan kedatangan presiden TFFC ke sini, dikhawatirkan para teroris akan menggunakan tempat ini untuk menunjukkan ketidaksukaan mereka… Sebenarnya hari ini mereka juga akan mulai mengamankan universitas Terran.”

“Dan itu bukan urusan kita…” kata Kyle sambil lalu.

Mereka berhenti di depan gerbang kawat sederhana yang dibangun agar wisatawan tidak dapat masuk ke area penggalian seenaknya. Peneliti yang terkantuk-kantuk di depan gerbang itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada mereka setelah mereka menunjukkan kartu mahasiswa mereka.
“Kami volunteer dari universitas yang dikirim oleh profesor Keith. Beliau akan sedikit terlambat.” Kata Fri sambil menunjukkan surat keterangannya.
Petugas di pintu gerbang itu mempersilakan mereka masuk. Orang-orang dari universitas dihormati di sini, karena para mahasiswa universitaslah yang menemukan reruntuhan itu pada awalnya.

Dan dalam sekejap, Fri sudah berlari dengan bersemangat menuju puing-puing kuno yang bertebaran sejauh mata memandang.

“Lihat Rin, Kyle. Batu yang disana, sepertinya merupakan bekas dari menara kuno yang terlupakan dari masa antah berantah!!! Perhatikan relief di sana, lihat gambar di puing itu! Semuanya adalah catatan sejarah kuno yang menunggu untuk dibaca!!!”

“Ya Fri… tapi coba awas…”

Dan dia menabrak seseorang berambut perak yang sedang berjalan sambil melamun.

Penjelasan dan permohonan maaf pun menyusul…

“Hahaha… tidak apa-apa… aku saja yang sedang bengong…” kata orang berambut perak yang mengenakan kacamata kecil itu. Dia mengenakan jas laboratorium yang kotor oleh debu dan membawa ransel besar yang tidak cocok dengan penampilannya.

Kyle memperhatikannya menjauh sementara Fri membersihkan badannya dari debu dibantu oleh Rin.

“Kamu kenal dia?”

“Cuma seorang dosen eksentrik dari departemen teknik fisika… Sekadar kenal saja, dia kan beberapa kali mengajar kelasku. Apa yang dilakukan seorang dosen teknik fisika di reruntuhan seperti ini?” katanya sambil memungut kartu identitas yang terjatuh di tanah.

“Wadjet Shanahan, Phd MSc.” bacanya “Yah, lain kali akan kukembalikan…” Kyle bergumam sambil menatap dosen yang sedang dibicarakan itu sudah menghilang ditelan debu pasir yang beterbangan, sebelum mengantungi id card itu ke saku jaketnya.

 

Ekskavasi reruntuhan greenhal merupakan pekerjaan yang luar biasa besar. Alasannya, reruntuhan itu terkubur di dalam sebuah gunung, literally. Para mahasiswa arkeologi universitas Terran menemukannya secara tak sengaja akibat longsor yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Longsor itu menampakkan beberapa bagian dari sebuah bangunan yang luar biasa besar, yang selama ini terkubur di dalam tanah dan ditutupi hutan lindung. (semua hutan di dunia sudah menjadi hutan lindung sejak 20 tahun sebelumnya). Sebagian hutan di area itu sudah dibersihkan dengan alasan khusus dan wilayah itu kini menjadi lembah gundul berdebu, sekarang para arkeolog berusaha sebisa mungkin menggali tanah-tanah yang menutupi bangunan besar itu.

Tapi banyak ruang yang ditemukan terkubur jauh di dalam tanah, sehingga mau tidak mau para arkeolog harus puas membiarkan ruangan itu di sana.

“Nitrogen valve, closed…” terdengar suara dari earphone kecil di telinga Fri. Fri bernafas melalui masker oksigen di dalam helm tertutupnya itu, dan nafasnya terdengar bergema di telinganya sendiri.

“All Clear… mulai turunkan talinya…” kata Fri kepada microfon di maskernya.

Pada reruntuhan ruangan yang terkubur dalam, selama ribuan tahun oksigen tidak dapat masuk ke dalamnya. Dan kalau secara mendadak oksigen menghambur masuk dari luar, maka gas oksidator itu akan merusak semua artifak kuno di dalamnya tanpa ampun. Prosedur standar adalah, memompakan nitrogen murni ke dalam ruangan tersegel itu. Nitrogen yang lebih berat dari udara, akan memenuhi ruangan itu dan menghalangi oksigen merusak benda-benda di sana. Barulah salah seorang peneliti turun dengan masker oksigen, untuk melihat bagian dalam ruangan itu, tentu setelah pengamatan menggunakan fiberscope mengatakan ruangan itu pantas untuk diteliti.

Fri menyalakan lampu ultraviolet di samping gogglesnya. Cahaya kadang dapat merusak gambar-gambar yang ingin mereka abadikan. “Aku masuk semakin dalam…” katanya. “Setelah aku pastikan aman, tim alpha bisa mulai masuk…”

Peralatan ultrasonografi menemukan kalau di bawah lokasi penggalian itu, terdapat banyak ruang-ruang bawah tanah yang tersegel selama ribuan tahun. Sejauh ini, ekskavasi baru dapat menggali puncak-puncak bangunan, dan ratusan hektar ruang bawah tanah yang rumit dan penuh misteri, masih jauh di luar jangkauan penggalian. Jadi, yang bisa dilakukan adalah menggali lubang-lubang dalam dan memasukkan beberapa orang lewat sana untuk meneliti.

Kyle menatap dari monitor yang disambungkan ke fiberscope di sebelah goggles Fri, sementara dia menurunkan sahabatnya itu perlahan menggunakan mesin katrol. “12 meter, dan masih berlanjut…” katanya ke arah mikrofon. Sementara itu, suasana di tenda itu semakin tegang dan intens, setengah lusin peneliti dan mahasiswa lain menahan nafas sambil mengamati monitor. Memang begitulah seharusnya suasana saat sebuah ruangan yang sudah ribuan tahun tak terjamah manusia, dibuka untuk pertama kalinya. “Sepertinya aman. Tim alpha bisa bersiap…”

Pemuda yang turun menggunakan tali itu akhirnya menghela nafas lega saat kakinya menyentuh dasar ruangan. Dia menyapukan pandangannya ke sekeliling ruang, sementara fiberscope yang dibawanya mengabadikan semuanya. “Beres… tanah padat, dinding kokoh, semua aman…”

Fri berjalan perlahan menyusuri tembok ruangan tertutup itu sementara menunggu tim alpha datang. Dia mengamati gambar-gambar yang ada di ruangan itu. “Identifikasi…” katanya sambil menyapukan portable carbon counter miliknya. Alat itu digunakan untuk menghitung usia benda-benda yang tidak bisa dibawa ke lab untuk pengukuran C-14 yang standar. “Guys, sepertinya seluruh ruangan ini berasal dari zaman perunggu tua…” katanya sambil melihat gaya gambar dan ukiran di dinding ruangan. “Luar biasa… penemuan situs besar pertama dari masa itu!”

Terdengar bunyi sorak sorai ramai dari earphone Fri.

Diiringi bunyi nafas yang menggema di balik masker, Fri menyusurkan jarinya di gambar dan ukiran-ukiran dinding. Raksasa-raksasa dari dongeng masa lampau. Para pahlawan dan monster yang terlupakan… Semuanya terukir di dinding yang menunggu untuk dibaca

Berkeliling mencari artifak yang dapat dibawa, Fri mengambil beberapa benda logam dan keramik. “Kemana tim alfa?” pikirnya dalam hati. Secara hati-hati, dia memasukkan semuanya ke tas pinggang khusus di perutnya.

Tiba-tiba terdengar gemerisik suara Kyle.
“Keadaan tidak aman! Fri, segera naik ke pengangkut. Tim Beta baru menemukan struktur rusak beberapa meter dari situ dengan soundscope mereka!!! Diperkirakan dengan sedikit guncangan, struktur akan rubuh.”

“Roger, Kyle.” Gumamnya sambil melangkah kesal ke katrol. Sialan.. padahal tempat ini baru mulai menarik. Lampu ultravioletnya menangkap sesuatu yang berkilat di dekat kakinya, dia segera memungutnya. “Memangnya guncangan apa yang bisa terjadi…?”

Baru dia selesai berkata begitu, terdengar gemerisik dari earphonenya. “Apa yang… FRI! CEPAT NAIK!!!”

Kaget melihat elevatornya naik tanpa dirinya, Fri berlari dan meraih tali itu tepat sesaat sebelum tali itu di luar jangkauannya. Dia sadar, tiba-tiba, terjadi guncangan besar di daerah itu. “Si… sialan!!!” teriaknya. “KYLE!!! APA YANG TERJADI???” katanya panik di tengah hujan puing-puing.
Dengan cepat tali itu melesat membawanya, di tengah getaran raksasa dan puing-puing yang terus berguguran.

Tanpa peduli oleh silau yang membutakan, dia melepas maskernya dan bernafas terengah-engah, sementara ruangan itu runtuh di bawah kakinya. “Apa.. apa yang baru saja terjadi??”

Tapi dia disambut dengan diam oleh rekan-rekannya.

Fri menoleh ke luar tenda. Dan dia melihat.
Puluhan orang bersenjata berat menodongkan senjata mereka ke arah lembah itu.

“Apa yang…”
“Serangan teroris…”

Di luar, ledakan-ledakan terus terjadi. Pihak keamanan jelas tidak mampu menghadapi para teroris bersenjatakan senapan mesin berat dan peluncur roket itu. Beberapa polisi dengan sia-sia berhasil menaiki humvee mereka, sebelum diledakkan oleh roket yang meluncur dari atas bukit.

Fri, Rin, dan Kyle, bersama beberapa orang peneliti lain. merunduk di tenda jelek yang jelas tak melindungi sama sekali itu. “Sial… apa maksudnya ini?”
Satu hal yang melindungi mereka, tenda tempat mereka berada di dalam lubang, bekas penggalian awal ruangan tadi.

“Ini tempat netral, tak ada hubungannya dengan politik!!! Ini hanya tempat penggalian!!!” Teriak salah seorang peneliti di kejauhan. Hanya terdengar sedikit teriakan kaget saat dia diberondong peluru.

Saat berondongan peluru membabi buta itu berhenti, orang-orang itu perlahan berdiri.

“Gi… gila…” kata Fri kaget.

Semua pasukan pengaman telah habis. Perlahan, pasukan tanpa seragam itu menuruni tebing-tebing pegunungan, menuju lembah yang terkepung itu.

“Ketua…” kata salah seorang dari mereka.
Seorang berpakaian hitam, dengan rompi tahan peluru, meluncur menuruni tebing. Fri, dan semua orang di tenda tersebut melihat dari monitor sambil tetap merunduk, sementara Rin mengatur fiberscope dan perlahan mengeluarkannya lewat jendela.

Dari monitor, mereka dapat melihat lelaki yang dipanggil ketua tadi. Tubuhnya tinggi dan langsing, proporsional. Satu hal yang jelas, dia masih muda. Mulut dan wajahnya tertutup slayer merah, sementara matanya ditutupi kaca mata hitam. Rambut hitam panjang yang diekor kuda berkibar tertiup angin.

Dia menatap ke arah peneliti yang berlutut ketakutan di sebelah kakinya. Dengan dingin dia mencabut pistol dari holster di pinggang kanannya, dan menembakkannya ke kepala peneliti itu.

“Bunuh semua peneliti di sini…” monitor bervolume kecil di tenda itu mengeluarkan kalimat yang membuat para pendengarnya saling berpandangan.

“Apa maksudnya ini..?” bisik seorang peneliti panik.

Teriakan-teriakan menyayat dan permohonan-permohonan lirih yang sia-sia, diselingi suara-suara tembakan memenuhi tenda itu dari monitor di sudut tenda. Para peneliti yang terkumpul di tenda tersembunyi itu hanya bisa berdoa, agar tenda mereka tetap tersembunyi di tengah keributan itu

“.. maaf… tapi ini harus…” terdengar suara gemerisik dari monitor itu di sela-sela tembakan.

“Jangan berhenti… tanggal dan tempatnya sudah benar… Hari ini pasti mereka ada di sini. Jangan sisakan satupun, dan bunuh mereka semua.”

“Bagaimana ini?” tanya seorang peneliti lain, sementara temannya sudah menangis ketakutan. Fri tidak mampu berpikir apa-apa sembari meringkuk di tenda sempit itu..
Beberapa peneliti segera terpontang-panting ke peralatan komunikasi. Tapi hanya terlihat layar statis dari monitor telepon video itu.

“Mereka pasti menggunakan jammer…” kata orang yang berusaha menghubungi pihak luar itu.

“Ketua, kami menemukan tenda lain yang agak tersembunyi…” terdengar suara dari monitor fiberscope.

Sial!!! Fri menelan ludah. Sampai disini saja…

“Habisi isinya… Kalian, jangan lupa hancurkan tiap reruntuhan. Tanam bom plastik , bakar dengan napalm. Jangan ada satu lubangpun yang tersisa…”

Fri berpikir di tengah kekalutan pikirannya. Siapa mereka? Apa maksud ini semua? Mereka sekelompok orang gila dari mana?

Pintu tenda terbuka. Nampak seorang teroris bersenjatakan senapan mesin.
“Maaf, tapi ini demi planet ini…”

Sebelum dia menekan pelatuk, dia terjatuh berlutut akibat hantaman keras di perutnya.
“Uhk… apa..”
Dan sebelum dia berbuat apa-apa, Kyle yang sejak tadi bersembunyi di balik pintu, menghantam belakang kepalanya dengan pedang kayunya.

Para peneliti menatap tubuh orang yang tergeletak pingsan itu dengan takjub. Kyle mengambil walkie talkienya dan senapan mesinnya.
“(Semua, merunduk…)”

Pemuda itu mengosongkan senapan mesin itu, membuat lubang-lubang di tenda kecil itu. Lalu dengan suara yang diserak-serakkan, dia berbicara ke arah walkie talkie. “Tenda ini sudah beres…”

Terdengar balasan. “Roger, teruskan operasi pembersihan…”
Sementara di luar suara tembakan semakin sepi. Berganti dengan suara-suara ledakan bom.

“Kyle… kamu tidak apa-apa?” tanya Rin.

“Sementara ini kita selamat…” Kyle menghela nafas sambil meletakkan pedang kayunya yang berlumuran darah.

“Semua mundur, bumi hanguskan tempat ini dan jangan sisakan bukti…” Terdengar suara dari walkie talkie.

Semua orang di tenda itu berpandang-pandangan. Sial.. bagaimana ini?

Salah seorang dari peneliti itu bangkit, meskipun masih dalam keadaan bergetar. “Aku… aku tidak tahan lagi!!!!”
Dia mengambil salah satu pistol milik teroris yang terjatuh dan tas pinggang berisi amunisi dan bahan peledaknya, lalu belari keluar, tanpa sempat ditahan oleh teman-temannya.
“BODOH!!!!” kata nyaris semua dari mereka, lirih.

“Aku akan pergi ke gua di tebing sana. Di sana ada perlengkapan komunikasi yang lebih lengkap. Vidphone cable kita tidak bisa dijam oleh mereka, aku akan menghubungi bantuan lewat sana.”

Para peneliti di tenda menatap dengan ketakutan dari monitor, saat dia berlari menyeberangi reruntuhan, tanpa sepengetahuan para teroris. Tapi baru beberapa meter, orang yang dipanggil ketua tadi mengambil RPG launcher dari salah satu anak buahnya, dan dengan dingin meluncurkan rocket propelled grenade itu ke arah peneliti yang panik itu.

“Ternyata masih ada yang tersisa…” RPG itu menghantam tanah satu meter di sebelah sang peneliti yang panik Sang peneliti itu sempat berguling masuk ke salah satu lubang penggalian ruang bawah tanah yang belum selesai digali.
Tapi ledakan granat berpeluncur roket itu menghantam wilayah yang sudah rapuh akibat penggalian.

“Sial!” kata Kyle. “Sebentar lagi… ruangan bawah tanahnya akan…”
Terasa getaran…

“RUNTUH!!!”

Dalam sekejap, wilayah seluas beberapa puluh meter persegi di sekitarnya amblas ke dalam. Membawa orang-orang dalam tenda itu, dan beberapa orang teroris yang belum sempat menjauh.

Orang yang dipanggil ketua tadi memperhatikan keruntuhan struktur bawah tanah itu dengan cemas. “SIAL!! Padahal inilah yang paling kukhawatirkan!!”

“Tidak ada jalan lain, ketua!” Teriak beberapa pemuda kepada orang berkacamata hitam itu. Mereka langsung berlutut dan mengarahkan peluncur roket mereka ke arah lubang yang terbentuk itu, bahkan sebelum debu-debu selesai beterbangan.

“Kalian!!! JANGAN!!!” teriak sang ketua.
Tapi terlambat. Roket-roket itu sudah terlanjur meluncur.

Sementara itu, beberapa teman mereka baru saja berhasil keluar dari lubang itu. Tanpa sempat berkata apa-apa, teman-teman mereka ikut jadi korban, terpanggang oleh campuran ledakan roket berhulu ledak High Explosive dan Napalm itu. Dan tiba-tiba saja, terjadi ledakan besar. Peneliti yang jatuh tadi membawa tas berisi peledak milik sang teroris yang pingsan, dan kini semuanya teraktivasi sekaligus.

Delapan orang peneliti dan mahasiswa yang ikut jatuh ke dalam lubang itu menunduk saat merasakan panas dari ledakan yang berjarak beberapa meter dari mereka, sementara mereka merasa ada gempa, karena seluruh struktur bawah tanah menjadi bergetar hebat.

Sementara itu, di luar lubang, sang ketua menatap lubang itu dengan dingin. “Sial… ternyata salah satunya malah dimulai oleh anggota kita sendiri…”

“Ketua?”

Pemuda berkacamata hitam itu tidak berkata apa-apa selain menjatuhkan RPG launcher kosong yang dipegang dan menarik pistol hitam besar dari pinggangnya.

“Sudah terlambat… kalian bersiaplah…” katanya sambil mereload pistolnya.

…Deg…

…Deg…

Saat Fri dan rombongan peneliti itu melongokkan kepala mereka dari reruntuhan, hanya terasa kesunyian…

Sampai tiba-tiba… semburan gas berwarna pucat dari bekas tembakan roket tadi.

Deg…

“Kita malah membuka segel pertama…” kata sang ketua, memandang semburan gas itu dengan butiran keringat mengalir di wajahnya.
Dia merogoh ke balik kerah bajunya, dan mengeluarkan sebuah kalung berliontin kristal.
“Tuhan lindungilah kami…”

 

Dari beberapa tempat di sekitar tempat penggalian itu, tampak retakan tanah kecil. Mulanya sedikit, tapi lama kelamaan semakin banyak.

Dan dari tiap retakan itu, keluarlah gas tak berbau itu. Di sela-sela gas itu, Dibawah tatapan kaget dari Fri dan para peneliti yang bersembunyi di balik reruntuhan.

Mencuatlah benda panjang.

Licin, berotot dan , berwarna keperakan Keluar dari tiap retakan yang semakin banyak. Belalai-belalai panjang dengan ujung lancip yang mengancam…
Menggeliat-geliat, bergerak ke sana kemari, mencambuk-cambuk di udara dan memukul-mukul tanah. Tentakel-tentakel berdiameter lengan orang dewasa yang bergerak-gerak tanpa ampun.

“Apa… yang hampir saja kita gali itu?” kata Fri sambil menahan nafas. Seluruh peneliti dan mahasiswa di tempat kecil itu terpana.

Para teroris tanpa disuruh langsung berjalan mundur, perlahan menjauh sementara tangan mereka menggenggam senjata-senjata pilihan mereka dengan lebih erat.
Meskipun, tanpa diduga, sering sebuah tentakel lain mencuat dari tempat yang tidak disangka-sangka. Semua hanya mampu menatap dengan tatapan horor saat salah seorang dari mereka yang tidak waspada, tidak menyadari kalau beberapa meter di sebelahnya mencuat belalai lain, dan membelitnya, menghancurkannya tanpa ampun.

Dari tiap lubang-lubang dan retakan yang dibuat oleh tentakel-tentakel itu, mengeluarkan sesuatu.

Sepasang tangan. Tangan kekar berotot, yang tertutup scale keperakan. Tangan-tangan itu menggapai-gapai dengan jari-jari mereka yang panjang dan gemuk, sebelum akhirnya beberapa berhasil mencengkram sisi lubang.

Dan tangan-tangan itu mengeluarkan sosok-sosok pemiliknya.

“Apa sebenarnya yang ada di bawah sana…” kata salah seorang peneliti yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sosok-sosok kekar dan berotot, besar dengan tinggi sekitar 2 meter. Sosok-sosok mirip manusia yang tak sempurna itu melompat keluar dengan kecepatan dan tenaga yang luar biasa.

Sunyi… saat puluhan mahkluk aneh itu menyesuaikan diri mereka dengan cahaya matahari yang menyilaukan, saat semua manusia di sana terpana.

Mahkluk-mahkluk itu berbentuk mirip manusia, tapi tangan mereka yang kekar dan berotot menjuntai dan kepalan tangan mereka tergeletak di tanah. Lengan mereka lebih panjang dari proporsi lengan manusia. Kaki mereka yang pendek dan gempal, melangkah dengan sigap dan membawa tubuh mereka yang tertutup kulit keperakan dengan kecepatan yang jauh melebihi kecepatan normal.

Menuju para teroris yang tidak siaga.

Dalam sekejap, para peneliti yang bersembunyi itu menyaksikan pertempuran mengerikan antara para teroris bersenjata melawan mahkluk-mahkluk aneh dengan kemampuan luar biasa itu. Karena sempat tidak siaga, mahkluk-mahkluk itu berhasil mendekat ke arah para teroris sebelum mereka sempat menembakkan senjata. Di satu tempat, salah seorang anggota milisi misterius itu memberondongkan submachinegun miliknya ke arah sang lawan, membuat lawannya terjatuh berlumuran cairan kehitaman.

Sementara di tempat lain, terdengar bunyi mengerikan saat seekor mahkluk humanoid lain menghancurkan tengkorak salah seorang milisi dengan sekali hantam.

Ledakan, rentetan senjata, teriakan-teriakan mengerikan, bergaung di lembah yang tadinya damai itu. Sulit ketahuan siapa yang lebih unggul, tapi para milisi sudah dicengkram ketakutan yang amat sangat, dan tidak bisa bertempur dengan memadai.

Si ketua menembakkan pistol besarnya ke arah salah satu monster yang mendekat. Berkali-kali, sampai akhirnya monster itu rubuh hanya beberapa meter di dekatnya. Tapi di belakangnya, beberapa monster lain yang berlumuran darah anak buahnya, mendekat mengancam.

Tak sempat menghindar, Fri mengira itulah akhir dari sang ketua muda itu. Tapi pelajar muda itu menyaksikan sesuatu yang tak dapat dimengertinya. Saat monster-monster itu tinggal beberapa langkah dari menghancurkan tubuh sang ketua, pemuda berkacamata hitam itu menggenggamkan tangan kanannya di liontin kristalnya.

Fri mengira dia berdoa sebelum mati, saat mahasiswa arkeologi itu melihat mulut sang ketua berbicara tanpa suara.

Tapi tiba-tiba, orang misterius itu mengacungkan tangan kirinya, sementara tangan kanan yang menggenggam liontin menyala misterius, kemerahan. Dalam sekejap, dua monster berlumuran darah yang mengancamnya, terbungkus kobaran api mengerikan, membakar keduanya hingga hangus dan terjatuh bagai kayu bakar.

Deg…

Para peneliti itu begitu sibuk menonton pertempuran di hadapan mereka, tanpa sadar sebuah tentakel lain mencuat beberapa meter dari mereka. “SEMUA!!! AWAS!!!”

Entah siapa yang berteriak, sebab tentakel itu sudah melesat dan menyerang gerombolan itu. Meskipun meleset, sebab gerombolan peneliti itu langsung berhamburan. Tapi… sepasang tangan lain keluar dari lubang.

“Kita harus pergi ke gua yang dituju Alex tadi…” salah seorang dari peneliti yang tersisa bergumam sambil menatap tangan monster itu. “Panggil bala bantuan!!! Mumpung teroris-teroris dan monster-monster itu sibuk…”

Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, monster yang beberapa detik sebelumnya masih di dalam tanah, sudah melesat keluar dan menghantamnya tanpa ampun. Para peneliti yang lain, termasuk Fri, Rin, dan Kyle, langsung berlari sekuat tenaga menuju gua komunikasi yang disarankan.

Kyle tersandung mayat salah seorang satuan pengamanan, sementara dia melihat rekan peneliti lain hancur dibelit tentacle nyasar.
Pemuda itu merogohkan tangannya ke saku mayat itu dan mengeluarkan sebatang logam sepanjang 30 cm. Dia mengayun-ayunkannyaa sebentar, sebelum menekan sebuah tombol. Sebilah pedang titanium alloy sepanjang 1 meter mencuat dari atas batang logam itu. Sementara dia melihat Rin memasang gauntletnya.

“Fri… tangkap ini!” teriak Kyle sembari melemparkan sesuatu ke arah temannya. Fri yang masih berlari menangkap benda kehitaman yang dilemparkannya.
Fri berhenti sambil menimang pistol 9mm semi otomatis yang menjadi senjata standar pasukan militer terran itu. Dia mereloadnya, sebelum melanjutkan larinya dan berterimakasih kepada Kyle.

Di kejauhan, pertempuran utama masih berlangsung. Tapi beberapa monster yang lebih dekat, mengalihkan perhatian mereka kepada rombongan peneliti.

Kyle menebaskan pedangnya dan memutuskan lengan salah satu monster yang berusaha mencekik seorang peneliti, sebelum dia berputar dan melepaskan kepala lawannya dengan satu tebasan rapi. Tapi mahkluk misterius itu masih mengamuk menghantam peneliti targetnya. Dengan putus asa, Kyle menambahkan beberapa tebasan, sampai mahkluk itu akhirnya rubuh juga. Di sebelahnya, Rin menutup mata dan berkonsenterasi. Nampak gauntlet misterius di tangannya bersinar kehijauan.

Dengan mengalirkan ribuan robot berukuran nano ke otot pengguna, Gauntlet itu dapat menambah kekuatan dan kecepatan penggunanya berkali-kali lipat. Eksoskeleton semacam itu banyak digunakan oleh prajurit dan pekerja untuk membawa beban berat.  Sementara Rin menutup mata, salah satu monster sudah berada sangat dekat dengannya, dan mengayunkan lengannya yang besar. Tapi Rin menunduk dengan kecepatan yang luar biasa, merapatkan tubuhnya ke monster itu, dan sebelum ada yang sempat berkedip, dia menghantamkan tangannya ke tengah monster itu dengan sedikit menyudut ke atas. “Rimonchochu!”

Monster itu langsung rubuh hanya dalam satu pukulan. Tapi dengan cepat, monster itu langsung bangkit dan dengan gerakan kilat, menghantam Rin. Rin menghindarinya dengan kaget, sebelum berusaha lagi menambahkan pukulan-pukulannya.

Fri berlari dengan susah payah, berguling menghindari cambukan salah satu tentakel, menunduk dari pukulan salah satu monster.
Dia berdiri dan mengosongkan magazin senjata berisi 15 peluru itu ke kepala monster yang menyerangnya tadi. Satu demi satu selongsong kosong berkelontangan di dekat kakinya. Terengah-engah, dia meninggalkan monster yang terjatuh itu, nyaris jatuh terpontang panting. Tiba-tiba monster lain mendekat dari sisinya. Sebelum Fri sempat ketakutan, monster itu terbelah dua, dan tubuh Kyle yang berlumuran cairan hitam nampak terengah-engah. Beberapa meter dari situ, Rin merobohkan satu monster lagi sebelum berteriak kepada Fri.

“Cepatlah ke ruang komunikasi! Kami akan memancing mereka!”
Fri hanya sempat mengangguk sebelum berpikir apa-apa. Dia menekan tombol untuk menjatuhkan magazin kosong berbau mesiu dari senjatanya sebelum tertatih berlari ke arah mayat petugas lain, dan menjarah persediaan amunisinya. Lalu dia berlari sekuat tenaga ke gua di kejauhan.

“Seperti mimpi saja… Apa yang sedang kulakukan sekarang?? Berlari dengan senjata di tangan, di tengah hujan peluru dan monster di sekelilingku…”
Dia menoleh ke belakang, kearah Rin dan Kyle bersama peneliti lain yang memancing monster untuk menjauh dari arahnya.

Deg…

Entah kenapa, Fri merasakan sesuatu…

Di tengah hujan peluru dan darah itu… pemuda itu berdiri terdiam. Seakan di sekelilingnya berhenti dalam waktu, sementara dia memandang ke pertempuran di sekitarnya.

Dia melihat… sesuatu yang tidak cocok di tengah kekacauan ini. Seorang kakek tua, berambut putih, sedang mengamati semuanya dari atas tebing.

Deg…

Seekor monster mendekat dari sisi kanannya. Fri mengangkat pistolnya dan menghabiskan isi satu magazine lagi untuk merobohkan mahkluk itu. Saat dia melihat lagi ke atas, kakek itu sudah hilang.

Deg…

Dia terus berlari. Teman-temannya percaya padanya. Dia menghindari cambukan satu tentakel lagi dan berguling memasuki gua tempat peralatan komunikasi.
Hanya untuk melihat tempat itu dihancurkan oleh sebuah belalai yang menggeliat-geliat di dalam gua.

Tak ada lagi vidphone cable…

Fri membuang magazine kosongnya, mengisi magazine baru, kemudian berlari ke luar gua. Terasa tanah semakin bergetar, pasukan teroris yang kalah jumah semakin terbantai, meskipun senjata mereka cukup.

Lalu, dari tengah reruntuhan beberapa tentakel mencuat sekaligus. Tentakel-tentakel itu melesat, menusuk beberapa teroris yang lengah dan beberapa monster yang tanpa sengaja berada di jalannya, sebelum masuk kembali ke dalam tanah. Tanpa aba-aba, tanah sekitarnya amblas.

Dan melesatlah keluar, sesosok mahkluk raksasa.

Monster berbentuk setengah manusia, dengan lengan-lengan tajam menjulur dari beberapa tempat di tubuhnya secara acak. Fri mengira-ngira, ukurannya pasti sebesar rumah.

Dengan satu teriakan mengerikan, Monster itu mengibaskan tangan-tangannya dan menghempaskan mahkluk-mahkluk yang tak siap.
“Dia bangkit!!!” teriak sang ketua milisi. Tubuhnya sudah berlumuran darah dan cairan hitam.

“SEMUA MUNDUR DAN FOKUSKAN SERANGAN KE MAHKLUK ITU!!!”

Tapi tak ada yang sempat mundur. Mahkluk berbentuk gorila raksasa yang salah bikin itu melesat dengan kecepatan luar biasa. Menginjak-injak monster dan milisi di sekitarnya tanpa ampun. Fri menggigit bibir saat melihat Rin dan Kyle susah payah menghindari lengan-lengan belalai tak terkendali miliknya.

Fri melihat sekeliling. Harus ada yang bisa dia kerjakan. Apa saja. Dia terjatuh saat getaran lain meruntuhkan mulut gua tempatnya berada.

Sekarang dia malah terpisah dari dunia luar…

Deg…

Dia berlari menjauhi mulut gua, gua itu jadi bercabang. Ada dinding yang runtuh. Dia menghindari arah ruang komunikasi, dan berlari menyusuri jalan yang anehnya semakin halus. Sepertinya ruangan bawah tanah yang lain… Pikirnya.

Dia melihat sekitarnya sembari berlari. Gambar-gambar kabur, relief relief di sekelilingnya tampak tak jelas karena tak ada sinar sedikitpun. Semoga tak ada monster apapun di sini.. pikirnya.

Jalan semakin bercabang. Dia berlutut untuk menarik nafas sejenak, sebelum memilih jalan.

Dia menyapukan tangannya ke lantai tanah.

Deg..

Fri merasakan sesuatu di ujung jarinya… Relief… Tulisan…
Tulisan? Pada masa ini belum ada tulisan.

Dengan perasaan bingung, dia membersihkan tanah di lantai itu.

Huruf-huruf kasar dan kaku terpahat di sana.

F R I

Deg…

Tempat ini tak pernah dimasuki orang selama ribuan tahun. Apa maksudnya ini?

Dia menelusurinya dengan tidak percaya. Ada lanjutannya..

Simbol.. Anak panah..
Menunjuk ke kanan…

Sekitarnya nyaris gelap sama sekali. Sunyi, pertempuran di luar sama sekali tidak terdengar.
Tak terpikir apa-apa… dia mengikuti petunjuk itu.

Deg…

Semakin dalam, udara semakin dingin dan lembab. Tak ada monster, suara, cahaya, apapun.

Hanya kegelapan, sementara dia berlari di jalan yang landai dan menurun. Sementara langkah kakinya bergema, bergaung berulang-ulang.

Sampai di suatu ruangan besar. Lumut bercahaya memberi sedikit penerangan yang nyaris tidak cukup. Tapi tempat itu terlihat dipenuhi patung batu. Dan patung raksasa di tengahnya. Dari batu dan tanah. Nampak berwarna keabu-abuan di tengah cahaya suram itu.

Deg…

Fri baru sadar.

Ini bukan patung biasa..

Sebuah Humanoid Vehicle… Setinggi hampir 3 meter, dengan bentuk yang anehnya agak berbeda dengan humvee lain yang biasa dilihatnya. Lebih… streamlined.

Robot humanoid yang terlihat lusuh dan tertutup debu selama ribuan tahun. Dengan bentuk yang lebih halus dari humvee biasa…

Apa… maksudnya?

Fri melakukan satu hal yang terpikir oleh pikirannya yang kacau sekarang. Dia mendekatinya dan meraba sisi-sisi Humvee itu. Tangannya menyapu debu-debu tebal, sampai dia menyentuh sebuah panel.
Debu-debu berguguran, sementara sebuah pintu palka terangkat secara halus.

Fri memasuki kendaraan itu.
…………..

Fri tenggelam dalam kegelapan pekat. Tak ada cahaya sama sekali saat dia terjatuh di kursi kokpit robot humanoid itu. Tanpa perintah, pintu palka menutup, menghilangkan sedikit cahaya yang tersisa.

Debu semakin berguguran di luar.

Deg..

Gelap dan dingin. Sama sekali tak terlihat apa-apa.

Fri mendudukkan dirinya di kursi pilot itu. Setahunya, humvee adalah kendaraan eksklusif, customized. Setiap humvee dibuat khusus untuk satu pilot. Tapi kokpit ini… seakan khusus diproduksi untuknya. Menyangga tiap bagian tubuhnya dengan nyaman dan ergonomis. Fri menggerakkan tangan kanannya dan menyentuh sebuah tombol, yang dia tahu harus ada di

sana.

Di depannya, sebuah monitor besar menyala kebiruan.

Fri mengerjap-kerjapkan matanya sejenak sebelum terbiasa dengan cahaya biru itu. Dia menggerakkan tangannya lagi, dan menyentuh panel lain. Jaraknya tepat sesuai jangkauan tangannya. Fri meluruskan kakinya, dan terasa sepatunya menyentuh beberapa pedal.

Humvee ini… khusus tercustomized untuknya…

Arkeolog muda itu melihat sebuah keyboard kecil terselip di bawah monitor utama. Dia menariknya. Segera setelah itu, monitor-monitor kecil langsung menyala di kiri dan kanan kepalanya. Panel-panel LED berkelap-kelip. Di kiri dan kanan tempat duduknya, ada tempat memasukkan tangan yang ukurannya sempurna sesuai besar tangannya.

Tiba-tiba, monitor utama di hadapannya mengeluarkan berbaris-baris tulisan acak dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Sebelum akhirnya berhenti, dan menampilkan huruf-huruf cetak beserta kursor yang berkedip-kedip.

Code:

MAIN POWER SUPPLY OFF_

CONVERTING TO SECONDARY SUPPLY_

Berbaris-baris lagi tulisan acak, sebelum sebuah frase muncul di sudut kiri atas monitor.

Code:

PILOT RECOGNITION COMPLETE_

BOOTING MAIN OS_

Anehnya, Fri merasa pikirannya kosong. Memang sewajarnya, memangnya apa yang bisa dipikirkan pada saat seperti ini..

Oh iya… Rin dan Kyle… sedang apa mereka di luar.
Sebenarnya, apa yang kulakukan di sini sekarang?
Ini gila… benar-benar gila.

Fri merasakan deruman lembut di sekelilingnya, sebelum monitor di depannya berganti tulisan.

Code:

HMV_00

ENTER PERSONIFICATION KEYWORD_

Deg…

Sebelum humvee ini berjalan, dia memerlukan keyword pribadi sang pilot, yang ditetapkan sejak humvee ini dibuat. Apakah…

Anehnya, Fri merogoh tas pinggangnya. Dia meraih sesuatu dari sana. Benda tipis berkilau yang dipungutnya tadi.

Dia menatapnya ditengah cahaya remang-remang dari berbagai monitor dan LED di sekelilingnya.

Ada sesuatu di situ. Sebuah tulisan.

Wadjet Shanahan, Phd, MSc.

Apa? Ini kan kartu identitas yang dipungut Kyle barusan? Tapi dia ingat kalau kyle sudah memasukkannya ke dalam saku jaket. Sedangkan yang ini… dipungut dari ruangan bersegel yang tak pernah dibuka selama ribuan tahun.

Fri membalik kartu itu. Di balik id card dari mika tersebut, tercoret sebuah tulisan menggunakan pensil.

Fri menutup mata sejenak, sebelum mengetikkan tulisan itu di keyboard.

Sama sekali tidak mengerti..

Sama sekali…

Code:

D_

What if…

Code:

DE_

The…

Code:

DES_

Past…

Code:

DEST_

Future…

Code:

DESTI_

Present…

Code:

DESTIN_

Collides…

Code:

DESTINY_

Terdengar dengungan pelan.

Code:

HMV_00  –DESTINY–_

START_

 

Read Full Post »

ELLYSIUM: CHRONICLES
Chapter 1: The Beginning

…Gelap…?

“Bangunlah…”

Dimana ini?

“Bangun…”

Siapa di sana?

Pemuda itu meraba-raba sekelilingnya. Kacamataku… gumamnya saat menyentuh sebuah benda yang telah dihapalkan oleh indera perasanya.
Dia terus meraba-raba dalam gelap, sampai ia menemukan sebuah batang besi yang dingin, dan menggenggamnya erat-erat. Dia mengerjap-kerjapkan matanya yang baru terbuka tadi, terbangun dari tidur tanpa mimpi di tengah kegelapan pekat.

“Siapapun disana… bersiaplah…”

Dan dia maju, meloncat, menerjang memukulkan batangan besi yang digenggamnya ke arah suara yang terus mengganggunya sejak tadi, di tengah kegelapan tanpa cahaya sedikitpun.

THWANG!!!!!!

“YEOUCH!!!!”

Pemuda berkaca mata itu menyipitkan matanya saat cahaya terang mulai membanjiri ruangan sempit yang tadi gelap gulita itu. Kamar tidur yang berantakan dan penuh buku di sana-sini itu, baru diterangi oleh sinar matahari saat seorang pemuda lainnya, membuka gorden yang menutupi jendela besar di salah satu sisi kamar, pemuda yang menangkis pukulan pengaris besi panjang dengan penggaris besi lainnya.

“KAMU GILA YA FRI!!!” teriak pemuda berambut coklat gelap yang bernapas terengah-engah, dengan wajah kaget, karena kepalanya hanya dipisahkan satu inci dan sebuah penggaris besi lain yang dipungutnya secara mendadak, dari batangan besi yang akan membuat kepalanya cedera.

“Waiks! Kyle??? Sorry…!!!” kata pemuda berambut gelap acak-acakan yang baru bangun tidur itu, setelah dia menyadari hampir saja dia membuat bengkak satu sisi kepala sahabatnya itu.

Cahaya mentari pagi memasuki ruangan itu, sementara hari yang baru itu dimulai dengan keributan yang membuat beberapa kepala menongolkan wajahnya dari jendela-jendela yang tersebar di gedung besar yang asri itu.

Kyle menenangkan nafasnya yang memburu, sambil meletakkan penggaris besi yang digunakannya untuk menangkis tadi. Dan dia menatap ke luar jendela setelah melempar kepala temannya dengan kotak pensil, untuk membangunkannya dari kondisi setengah tidurnya.

Dan hari baru yang indah dimulai, di asrama universitas terbesar di planet Terran….

…………………………………

“Kamu… nyaris saja menghancurkan kepalaku tadi -_-“

“Heheheh… sorry Kyle…” kata temannya yang berjalan di sisinya, yang memanggul tas ransel sambil memukul kepalanya sendiri secara main-main. Pemuda itu berambut hitam acak-acakan dan mengenakan kacamata kecil, mengenakan sweater turtleneck gelap yang ditutupi oleh kemeja khaki, dan celana panjang krem yang penuh kantung. Di punggungnya, sebuah ransel coklat besar menggantung.

“Kurang keras, bodoh!” kata Kyle, sambil memukul kepala Fri dengan buku tebal yang dibawanya. Pemuda yang satunya itu, berambut coklat gelap yang tergantung lemas di atas wajahnya yang kelihatan cuek dan dingin. Kemejanya ditutupi jaket berkantung banyak, sementara sebuah tas pinggang berisi berbagai benda yang berkelontangan, tergantung di atas celana panjang hitamnya. Sementara tas kain kecil tergantung di pundaknya, bersama sebatang benda panjang yang dibungkus kain.

Kedua pemuda itu berjalan bersisian menyusuri sebuah jalan asri yang cukup lebar, jalan pinggir kota yang ditumbuhi pepohonan peneduh di kiri kanan. Fri menggosok kepalanya yang baru dipukul temannya itu, menolehkan kepalanya ke kiri, dan menatap ke kota yang baru terbangun.

“Yah… Mulai ramai…” katanya sambil tersenyum. Dan dari jalan setapak yang berada di dataran tinggi pinggir kota itu, kedua pemuda itu melanjutkan perjalanan mereka sambil memandang ke kota Greenhal yang mulai ramai.

 

Perlahan, sinar matahari pagi yang lembut menembus dari sela-sela gedung-gedung kota besar yang terkesan ramah itu. Gedung-gedung tinggi dari berbagai bentuk itu, tidak terlalu banyak sampai menghalangi sinar mentari dari sisi sebelah sana, tapi cukup memberi kesan sebuah kota besar yang maju. Sementara, bangunan-bangunan yang lebih rendah berada dalam komplek-komplek asri yang diselingi taman dan pepohonan. Jalan raya membagi komplek-komplek bangunan itu, sementara jalan layang yang bertingkat-tingkat, bersilangan di berbagai ketinggian, mulai dipenuhi oleh berbagai kendaraan yang melintas.

Kota Greenhal, dikenal di seluruh Terran sebagai kota universitas, karena di sana terletak Universitas Terran yang terbesar di seluruh planet, dan dibiayai oleh pemerintah TFFC seluruhnya. Malahan, sebenarnya seluruh kota itu dibangun untuk melengkapi universitas besar yang menempati area seluas sebuah kota kecil itu,d an bisa dibilang, nyaris semua penduduknya adalah pelajar Universitas Terran.. Fri dan Kyle, kini berjalan di jalan di atas pematang yang membatasi kota Greenhal dan Universitas Terran, yang terletak bersisian.

“Pagi Kyle, Fri.” kata seorang pemuda lain yang melintas dengan sepedanya di jalan, melepaskan mereka dari lamunan mereka.
“Yo, pagi Hendry!’ kata Kyle membahas sapaannya. Dia memperhatikan pemuda bersepeda itu sampai dia menghilang di ujung jalan. Keputusan yang salah, untuk melamun pada pagi hari seperti itu, karena kita tak akan pernah tahu apa yang bisa terjadi.

“KYLE!!! AWAS!!!” kata Fri yang lebih dulu menyadari bencana yang akan menimpa mereka itu. Tapi terlambat…

GEDUBRAK!

“YEOWCH!!!”
“…langit… runtuh…”

“APA MAKSUDMU BODOH!!!” kata seorang gadis yang tadi jatuh menimpa mereka. Gadis itu menonjok wajah Kyle yang langsung terpelanting beberapa meter. “AKU KAN RINGAN!!!”

“Rin…“ kata Fri sambil menatap teman wanitanya yang tiba-tiba jatuh dari atas pohon kemudian langsung menonjok Kyle itu.

“Aaa.. halo, Fri, Kyle…” kata Rin sambil menunduk malu dan membersihkan tubuhnya yang berdebu itu.

“Cewek mana… yang pagi pagi langsung jatuh menimpa teman-temannya dari atas pohon, kemudia menonjok orang yang menahan jatuhnya sampai terpelanting…” kata Kyle sambil menggosok wajahnya yang memar.

“Maksudku…Selamat pagi…” kata Rin tersenyum dan membungkukkan badannya untuk memberi salam kepada kedua sahabatnya itu.
Gadis itu berambut pirang kecoklatan yang dipotong pendek dan bertubuh mungil, tidak sesuai dengan kekuatan yang baru ditunjukkannya saat memukul jatuh temannya tadi. Sebuah kamera kecil tergantung di dadanya, di depan T-Shirt putih agak ketat yang ditutupinya dengan kemeja tebal berwarna krem, dimana beberapa alat tulis dan notes menyembul dari sakunya. Celana jeansnya yang agak pendek juga memperlihatakn beberapa notes dan pena yang menyembul.

“Pagi….” Kata kedua teman lelakinya, yang merasa sudah terlambat baginya untuk berlagak seperti cewek manis yang imut.

Sementara itu, mentari mulai beranjak dari sisi kota, dan mulai menebarkan kehangatannya di Terran.

 

“Sigh… hari ini sepertinya akan menjadi hari yang sial…” kata Kyle sambil menggosok pipinya sekali lagi. “Saat aku membangunkanmu, kamu nyaris menmbuatku babak belur.” Katanya sambil menatap Fri. “Dan baru saja aku mulai menikmati hari ini, seorang cewek tomboy entah dari mana jatuh menimpaku, kemudian langsung menonjokku tanpa bertanya-tanya…”

Kini mereka bertiga berjalan bersisian di jalan pinggir kota yang teduh itu, sementara jalan itu mulai dipenuhi orang-orang yang berlalu lalang. Di ujung jalan, sebuah bangunan besar mulai tampak memperlihatkan menaranya yang anggun sekaligus angkuh. Mereka melewati serombongan pekerja yang sedang memperbaiki jalan, salah satunya mengendarai sebuah HumVee, humanoid vehicle, model lama yang lusuh, mengangkut barang-barang berat dan membersihkan jalan

“Tapi kan kyle, kamu bisa menangkisnya” kata Fri sambil nyengir. “Aku memukulmu karena aku yakin, sebagai anggota perkumpulan pedang universitas, kamu harus bisa menangkisnya” kata Fri nyengir dan memukul pedang kayu panjang yang dibawa di punggung Kyle.

“Terserahlah…” kata Kyle sambil menatap Fri dengan pandangan. “Tapi tetap saja, aku tidak akan bisa menangkis pukulan cewek galak di sebelahku…”
“Ngomong apa kamu Kyle” kata Rin sambil mengepalkan tangannya. “Bagaimanapun, aku ini wartawan, dan seorang wartawan, harus bisa bela diri.” katanya sambil memeluk tasnya dengan sebelah tangan, dan memukulkan tangan satu lagi ke depan wajah Kyle.

“Jadi, sedang apa kamu di atas pohon tadi?” tanya Fri.

“Ah… aku sedang menunggu…”

Belum sempat Rin menyelesaikan kata-katanya, terdengar bunyi berat berderap dari sisi sebelah jalan.

Serombongan Humvee berkilauan, berwarna putih dan biru, berbaris dengan berbagai senjata di tangan mereka. Mecha-mecha humanoid itu setinggi sekitar 3 meter, membawa pedang atau senjata api ukuran khusus di tangan mereka, sementara di dada mereka, emblem pedang yang dililit daun berwarna hijau, nampak jelas.

“Mereka…”

Orang-orang di jalan yang sebenarnya cukup sepi itu minggir dan menatap barisan mengagumkan itu sambil saling berbisik. Barisan yang rapi dan berderap seirama itu terus maju tanpa mengacuhkan orang-orang di sekeliling mereka.

“Pasukan elit humvee dari TFFC…” kata Fri yang ternganga. TFFC, Terran Federation of Free Country, sebagai persatuan resmi negara-negara bebas di Terran, memang tidak memiliki kekuasaan yang nyata. Tapi mereka memiliki angkatan tempur elit yang bebas dari pengaruh negara manapun, yang bertugas mengamankan Terran dari konflik. Dan yang paling terkenal dari angkatan tempur mereka adalah, pasukan khusus, Humvee Elite Task Force, HETF.
Dimanapun, orang-orang yang mengendarai Humvee selalu dianggap lebih elit dari rekan-rekannya. Karena, tiap Humvee harus dicustomize secara khusus bagi tiap pengendara. Dan karena harga Humvee yang mahal, maka hanya orang-orang terpilih yang dianggap mampu, yang diberi kesempatan mengendarai Humvee.

Mereka bertiga terus mengamati satu regu Humvee yang berjalan melewati mereka itu, sementara Rin tanpa henti memotret semuanya dari berbagai sudut.
“Apa… yang dilakukan satu regu humvee tempur di sini, Rin?” tanya Kyle yang hanya sedikit terkesan dengan pameran Humvee elit yang baru saja melewatinya.

Rin berdehem, dan mengambil sebuah notebook dari sakunya, kemudian membaca isinya. “Masa kalian tidak tahu? Dijadwalkan, presiden TFFC akan tiba di sini hari ini, untuk menghadiri peresmian kedutaan TFFC yang baru. Memang bukan acara yang terlalu penting, tapi pasukan HETF khusus dipanggil kesini untuk itu. Dan yang membuatku penasaran adalah, rumor tentang komandan baru mereka.

“Komandan?”

“Kabarnya, komandan mereka yang baru diangkat adalah seorang pemuda… umurnya tidak beda jauh dari kita. Karena itu aku menunggu mereka lewat dari pagi, siapa tahu aku bisa melihat sekelebatan wajah sang komandan baru dari dalam Humveenya.”

 

Sementara mereka bercakap-cakap, tidak jauh dari sana tiba-tiba humvee yang paling depan mengankat pedangnya. Seluruh Humvee yang bergerak seirama itu langsung berhenti.

“Tidak mungkin!!!” teriak Rin sambil merogoh kameranya, dan dengan lincah langsung memanjat pohon terdekat. Dia meletakkan kameranya di depan matanya, dan berbisik ke kameranya. “Zoom… in!” katanya.
…………………

Dari Humvee terdepan, terdengar suara. “Semua berhenti…”

Hening sejenak, sebelum sebuah pintu palka terbuka dari bagian atas humvee tersebut. Dan dari sana, sesosok tubuh keluar.
“…komandan!” kata para anak buahnya.

Sosok yang keluar itu nampak masih muda, tapi keseluruhan sikapnya menunjukkan sikap seorang prajurit profesional. Dia tidak mengeluarkan seluruh badannya dari humveenya, hanya mengeluarkan setengah badannya dari palka, dan menatap ke regu yang dipimpinnya.

Sosok itu mengenakan seragam pasukan TFFC yang menyerupai jas ketat berwarna merah, dengan celana panjang berwarna hitam. Lencana pedang berselimutkan daun tersemat di dadanya.

“Benar… dia masih muda…” gumam Rin dari atas pohon.

Rambut hitamnya yang dipotong pendek tampak tersisir rapi, sementara matanya tertutup goggles, meski tidak dapat menutupi wajahnya yang terlihat dingin dan tenang. Dia mengangkat Gogglesnya dan menaruhnya di dahinya, memperlihatkan mata yang dingin tanpa ekspresi.

“Komandan Zacht…”

Rin tidak sempat melihat apa yang dilakukan oleh pasukan itu, sebab tiba-tiba terdengar bunyi dari jam besar yang terletak di atas menara beberapa ratus meter dari situ.

“…SUDAH JAM SEGINI!!!”

Mereka bertiga pun lari pontang-panting menuju gerbang universitas yang terletak beberapa puluh meter dari sana. “Sial, kuliah pertama oleh dosen galak itu lagi…” gumam Kyle. Dan sepertinya mereka bertiga sama-sama akan terlibat masalah, kalau terlambat masuk pada kuliah kali ini.

Merekapun berpisah di depan gerbang. “Aku ke gedung arkeologi dulu, sampai jumpa semua!” kata Fri sambil melambaikan tangan. “Jangan lupa janji kita nanti siang!”

“Nanti temui aku di ruang praktek teknik mesin -_-“ gumam Kyle sambil berlari ke arah lain.

“Ah, ya, mungkin aku akan terlambat nanti siang.” Kata Rin sambil mengeluarkan buku diktat ilmu komunikasinya yang tebal.

Dan mereka bertiga berlari menuju ruangan masing-masing…

Read Full Post »

The History
Sejak jutaan tahun yang lalu saat manusia mulai menengadahkan kepalanya ke langit malam.
Mereka sudah menyadari suatu benda langit yang berbeda dari kelap-kelip cahaya kecil di sekelilingnya.

Berkat cakram perak itulah malam hari tidak menjadi gelap, dingin sedikit terobati dengan cahayanya yang lembut, dan sejak dulu… Penduduk Terra sudah menyebut dewi mereka itu… Ellysium.

Pada abad pencerahan… saat-saat pengetahuan mekar di Terra dan keingintahuan memenuhi hati setiap ilmuwan yang penasaran, Ellysium terus menjadi sumber penelitian yang tak kunjung habis. Tidak ada lagi yang mengaggap Ellysium itu dewi, tapi kini mereka mengaguminya sebagai ciptaan tuhan yang menakjubkan, yang menantang setiap orang waras untuk meraihkan tangan mereka ke sana.

Salah seorang dari mereka tanpa sadar menemukan instrumen mengagumkan… Instrumen yang mampu memperpendek jarak ribuan kilo, meskipun hanya dari pandangan… Dia menyebutnya Teleskop.
Saat dia mengarahkan ujung teleskopnya yang sederhana ke Ellysium, pemandangan menakjubkan yang tak terperi menghantam kalbunya.

Pegunungan, Padang pasir yang luas, Kehijauan hutan, Samudera yang Biru. Ellysium bagaikan cermin yang sedikit terdistorsi dari Terra yang mereka tinggali.

Ada kehidupan di sana , itu sudah pasti.

Maka dimulailah suatu era ketika orang berlomba-lomba mencari cara untuk pergi ke Tanah impian Ellysium, bahkan saat belum seluruh Terra terpetakan…

Ditemukan bahwa Ellysium, yang besarnya kurang lebih setengah dari Terra, bersama sang kakak saling mengelilingi membentuk putaran ganda yang anggun.
Ellysium dan Terra bukanlah paangan satelit dan planet.
Mereka adalah pasangan saudara planet kembar yang berda mengarungi tata surya Terran yang luas

Selama beberapa ratus tahun, impian itu kadang terlupakan, kadang kembali muncul, terputus oleh kejadian-kejadian besar lainnya, penemuan mesin uap, penemuan alat untuk terbang, beberapa perang besar yang menghancurkan dunia, namun impian itu tak pernah mati.

Sampai suatu era dimana persaingan antara beberapa negara industri besar terjadi. Saat salah satu dari mereka meluncurkan sebuah kendaraan yang mampu menembus atmosfer yang menyelimuti Terra.
Disaingi oleh sang saingan yang terbang semakin tinggi dan lebih lama.

Sedikit demi sedikit.

Impian untuk mencapai Ellysium kembali merekah.

Saat bersejarah, tanggal 15 bulan kedua, tahun 1949 TC (Terranian Calendar, yang ditetapkan menjadi kalender resmi seluruh planet).
Salah satu negara berhasil mendaratkan kendaraan antariksa mereka di Ellysium.

Saat yang dikenal oleh seluruh dunia sebagai \”The Great Leap\”
Sejak tahun itu, Nyaris semua negara mendaratkan kendaraan mereka di Ellysium. Semua berebutan untuk menancapkan bendera mereka di tanah yang baru itu.
Bahkan beberapa pribadi kaya dan perusahaan besar ikut mendaratkan kendaraan mereka di tanah yang masih perawan itu.
Saat itu pula ditemukan bahwa Ellysium ditinggali oleh banyak kehidupan, meskipun tanpa kehidupan cerdas. Hewan-hewan itu mengembangkan ketahanan yang jauh lebih tinggi dari hewan Terra, karena Ellysium sebagian besar terdiri dari padang pasir tandus.

The Great Leap menandai era penjelajahan Ellysium…

Tetapi Ellysium memiliki jauh lebih banyak tantangan daripada yang bisa dipersiapkan oleh manusia.
Mulai dari medan magnetik yang menyelimutinya sehingga hanya bisa ditembus dari beberapa sisi oleh pesawat antariksa.
Atmosfer lembut yang menyelimutinya tetapi tak dapat tertembus radar saat itu.
Hewan-hewan ganas yang menghuninya.
Semuanya membuat hanya beberapa individu terpilih yang berhasil menjelajahi Ellysium dan pulang dengan hidup dan bangga.
Dan Ellysium tetap menjadi misteri favorit umat manusia selama tahun-tahun berikutnya.

……………………….


Tahun 1998 TC, sebagian besar negara di dunia menyepakati terbentuknya ‘Terra Federation of Free Country’ (TFFC).
TFFC dibentuk karena meningkatnya persaingan antar negara dalam ekonomi, politik, militer, dan penjelajahan Ellysium. Selain itu, TFFC juga dibentuk karena kekhawatiran akan makin besarnya pengaruh Kartel-Kartel perusahaan besar di Terra.
TFFC memiliki kabinet sendiri, dewan negara, dan meskipun tidak terlalu, tetapi dianggap banyak orang sebagai pemerintahan resmi untuk seluruh planet Terra.

Tahun 2003 TC, dibangun pelabuhan udara resmi antar planet pertama di Ellysium oleh TFFC. Dengan adanya pelabuhan tersebut, transportasi Terra-Ellysium menjadi lebih lancar, dan orang menyebutnya sebagai \”The Second Great Leap.\” Manusia kembali berlomba untuk singgah di Ellysium.

Tahun 2014 TC seorang ilmuwan menemukan apa yang disebut dengan Mana Crystal, sel surya sangat efektif yang dapat mengubah tenaga matahari menjadi listrik yang termanfaatkan dengan sangat efisien.
Dapat diduga bahwa dengan ditemukannya ‘Mysthall’ secara melimpah, bahan tambang untuk membuat Mana Crystal di Ellysium, Mana Crystal menjadi bahan bakar kedua setelah bahan bakar fosil yang semakin menipis. Meskipun karena biaya transportasi mysthall dari Ellysium ke Terra, bahan bakar fosil tetap menjadi lebih murah. Tapi di Ellysium sendiri, bahan bakar Mana Crystal mulai menjadi favorit.

Tahun 2015 TC, tanpa sengaja ditemukan reruntuhan sebuah bangunan saat penggalian Mysthall di Ellysium.
Bagaimana bisa ada reruntuhan bangunan di Ellysium tanpa adanya mahkluk cerdas di sana terus menjadi pertanyaan seluruh dunia selama bertahun-tahun.

Tahun 2028 TC ditemukanlah MPHV oleh perusahaan Forad Heavy Engineering and Manufacture.
MPHV, Multi Purpose Humanoid Vehicle, biasa disebut dengan slangnya, ‘HumVee’ dalam waktu singkat menjadi kendaraan versatil yang sangat populer bagi banyak pihak, meskipun harganya sangat mahal dan perlu orang-orang berbakat dan terlatih untuk mengendalikannya.

MPHV ‘HumVee,’ kendaraan berbentuk humanoid dengan ukuran 2-4 M dengan berat mulai ratusan kilo sampai beberapa ton, dapat digunakan untuk bebagai keperluan mulai dari pengamanan kota oleh polisi, Pembangunan oleh perusahaan konstruksi, Upaya Search and Rescue dari tim SAR, sampai militer, dalam waktu singkat membuat Forad HE and M menjadi perusahaan terbesar di Terra. Menggunakan Mana Crystal sebagai bahan bakarnya, Humvee sangat efisien dalam penggunaan bahan bakar.
Meskipun dalam sepuluh tahun, perusahaan-perusahaan lain berhasil membuat HumVee yang sebanding, kalau tidak lebih baik dari buatan Forad, dan menghilangkan monopoli Forad, tetapi selama beberapa waktu, Forad tetap menjadi perusahaan terbesar di planet itu.

Tahun 2045 TC…
Sekarang…

Read Full Post »