Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2009

serial jurnal Komun Seinz

The Curious Tale of The Missing Villagers under the Moonlit Night

Hari itu tanpa diduga, sebuah kasus aneh menghampiri kami tanpa dicari. Kami bertiga sedang menghabiskan gaji kami yang baru saja kami terima dengan santai di sebuah kafe yang tenang. Aku sedang memperdebatkan perbedaan jeruk dan apel secara kualitatif dengan Attreides saat tiba-tiba seorang gadis cantik berambut hitam menghampiri kami dan berkata bahwa dia butuh petualang.

“Tolonglah. Bukankah kalian prajurit bayaran?”

Zeppelin yang melintas di langit memecah keheningan dan membuatku lupa akan argumen yang sudah kususun semalaman sementara gadis itu menatap mata pemuda di depannya.

“Kami lebih suka menyebut diri kami petualang freelance, nona.” Kata Hattori “Joker” Ranzou, assassin-maling-extraordinarie dan playboy kelas kambing sambil memegang tangan gadis cantik yang duduk di hadapannya itu dan menciumnya. “Tapi aku tak peduli meski kau menyebutku sampah masyarakat sekalipun asalkan kau mau memberi telingaku siraman suara indahmu yang bahkan lebih memukau dari kecantikan wajahmu…”

Pemuda berambut coklat yang duduk di sebelahnya menatap gadis itu dengan pandangan ‘anggap-saja-orang-di-sebelahku-sapi’ sebelum membuka mulutnya yang diam sejak tadi.

“Kami memang biasa menerima misi dengan bayaran, nona.” Katanya dengan nada suara yang berbeda 180 derajat dari rekannya. Sebenarnya bukan hanya nada suaranya. Segala hal mulai dari gerak tubuhnya yang agak feminin dan wajahnya yang sok cool, berbeda 180 derajat dari Ranzou yang banyak menebar senyum dan merasa sok gaul.

“Namun kami sedang tidak menerima misi. Bos kami sedang tidak ada, dan kami memiliki peraturan untuk tidak menerima pekerjaan tanpa bos kami.” Roland Attreides sang penembak jitu kelompok kami memperbaiki letak mantelnya sebelum melanjutkan menyeruput kopi.

“Yeah, terutama sejak insiden Sphagetti di kota Rensia.” Kataku. Aku Komun Seinz, anggota ketiga dari grup petualang yang terkenal di seluruh benua. Kami tidak punya nama grup secara resmi, meski banyak orang mengenal kami sebagai Celadohr’s Magnificent Bastards.

“Menurutmu kita masih dilarang berada dalam radius 100 kilometer dari kota itu?” Tanya Ranzou.

“Heh, tapi harus kukatakan kalau ledakan luar biasa dari…”

“Tapi kepada siapa lagi kami harus minta tolong?” Potong gadis itu.

Gadis itu mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Selain kami, tidak ada lagi pengunjung di café luar ruangan itu. Kota Firense memang bukan kota yang terlalu besar. Kota itu hanyalah kota perbatasan yang jauh dari mana-mana, dengan sebuah pangkalan airship dan stasiun kereta kecil, berbatasan dengan hutan lebat di satu sisi dan padang rumput luas di sisi lain.

Aku curiga kalau memang itu alasannya Celadohr meninggalkan kami di sini.

“Jangan begitu, ‘Treides. Masa kau mau membiarkan gadis secantik ini kesusahan? Lihat sedih di matanya, kesulitan di bibirnya, kesusahan yang terasa di kulitnya yang lembut… Lagipula Celadohr pasti senang kalau kita mendapat sedikit uang tambahan sementara dia… melakukan entah apa yang sedang dilakukannya di ibukota.

Attreides melirik ke arahku. Aku itu hanya memainkan magic wandku sambil mengangkat bahu.

“Komandan bilang dia bakal pulang setelah seminggu. Secara teknis ini sudah seminggu dan dia belum datang-datang juga.” Lanjutku

Desis kereta api yang berhenti perlahan menggetarkan trotoar batu tempat kursi dan meja kami terhampar. Attreides menatap kami berdua dengan sebelah matanya yang tidak tertutup eyepatch.

“Oke. Tapi kali ini AKU yang membawa perbekalan kita.” katanya sambil mengibaskan rambut yang menghalangi matanya.

Ranzou tersenyum dan mengangguk dan mengedipkan mata dan melemparkan cinta.

“Kamu benar-benar sudah meninggalkan pesan untuk komandan?” Tanya Attreides kepadaku.

Kami tiba sebuah kota yang sunyi di tengah hutan setengah hari kemudian. Kereta sihir yang kami tumpangi segera berangkat, meninggalkan kami di stasiun tanpa penghuni itu. Perang besar puluhan tahun lalu itu memang masih menyisakan bekas di mana-mana, tapi setidaknya orang-orang telah membangun infrastruktur kembali. Jaringan rel kereta yang terbentang kemana-mana ini adalah salah satu buktinya.

“Tenang saja.” Kataku itu sambil mengunyah roti. “Aku meninggalkan memo.”

Sementara itu di sebuah hotel ratusan kilometer dari situ, seorang petualang paruh baya berjenggot kumal duduk di lobby sebuah hotel sambil meremas  kertas kecil sampai jadi bola.

“Dasar orang-orang itu…” katanya sambil melempar kertas tagihan dengan jumlah diluar pemahaman manusia (memangnya berapa banyak jeruk yang bisa diminta ke room service dalam sehari) ke keranjang sampah. “Padahal aku sudah pesan kalau aku bakal kembali dalam seminggu.

Satu-satunya pesan yang didapatnya adalah memo yang ditinggalkan di resepsionis bertuliskan. “Kami pergi sebentar. Belum sempat bayar tagihan.”

Kesunyian kota itu cukup mengagetkan kami. Nyaris tak ada seorangpun yang ada di luar rumah, meski kota itu jauh lebih besar dari kota Firense yang kami tinggalkan. Ubin batu dingin menatap kami tanpa suara sementara rumah-rumah besar yang sebenarnya bisa dibilang indah berdiri suram.

Sebuah pohon besar yang meranggas menyambut kami begitu kami keluar dari stasiun dengan taburan daun gugur tertiup angin.

Attreides menggaruk rambutnya.

“Tadi apa ada yang sudah menanyakan apa sebenarnya misi kita itu?”

Ranzou tidak menjawab dan masih sibuk bertingkah di depan sang gadis. Sementara aku…

“Eh… Hm… Petualang sejati tidak pernah menanyakan misinya?.” Kataku sambil menaikkan sebelah alis.

Attreides menghantam mukanya sendiri dengan telapak tangan.

“Jadi… apa sebenarnya misi kami nona?” Tanya Ranzou sementara kami berjalan.

“Zombie…” gumam Attreides pelan. “Pasti zombie.”

Attreides memang nggak begitu suka zombie. Mereka sulit dibunuh, ehm, dibunuh ulang menggunakan riflenya. Aku sih nggak terlalu peduli. Masalah apapun, termasuk Zombie. bisa diselesaikan dengan pemanfaatan api yang cukup. Kalau masalah itu tidak terselesaikan dengan api, berarti apinya kurang banyak.

“Mungkin juga. Suasananya cocok. Tapi kurang potongan tubuh yang berceceran.” Bisikku.

Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya membawa kami menyusuri jalan-jalan yang sepi nyaris tanpa bersuara, melewati toko-toko yang terlihat ditinggalkan oleh pemiliknya, rumah-rumah yang terlihat bagaikan memiliki penghuni yang lebih malas menyapu halaman dibandingkan aku atau Ranzou, tapi anehnya, seperti yang sudah kubilang, tak ada potongan tubuh yang berceceran.

Setelah beberapa lama kami tiba di depan sebuah mansion besar bercat putih dengan gerbang besi berlilitkan mawar ditambah jendela-jendela kaca besar yang suram serta taman tak terawat dan semacamnya. Tahulah model mansion macam itu. Angin berhembus seakan mengerti bahawa dia diperlukan untuk membuat suasana semakin menyeramkan. Kami sedang berjalan perlahan melewati jalan batu yang ditumbuhi rumput liar saat kami sadar.

Gadis yang membawa kami ke sini tak terlihat lagi.

.”….sial” kata Attreides pelan. Kini kami bertiga, berdiri di tengah halaman luas yang tak terawat, ditemani daun-daun yang bergugugran dan angin yang bertiup sendu.

Wajah konyol Ranzou pun berubah menjadi wajah tugasnya. “…kita lengah.” Katanya serius. Matanya menatap sekeliling dengan tajam, cengir begonya berubah menjadi ekspresi seorang pembunuh.

Attreides memegang revolvernya, Ranzou menyiapkan tangannya di gagang salah satu pisaunya yang banyak, dan aku menarik keluar salah satu tongkat sihirku.

“Kalau ini di film, kameranya bakal berputar mengelilingi kita” kata Attreides.

“Zombie?”

“Hantu. Kota ini kota hantu.”

“Ga mungkin, ini paling jebakan untuk komandan celadohr”

“Zombie!”

“Hantu!”

“Um, permisi?”

“Zombie Hantu?”

“Maaf, permisi?”

“Hantu Zombie!!”

“Tuan petualang!?”

Oke. Kukira aku akan melihat seorang laki-laki meledak bahagia secara nyata, saat sang pemilik rumah menyambut kami. Seorang ‘putri cantik’ beneran dengan rambut panjang dan gaun sutra halus dan seterusnya turun dari lantai atas dan mempersilakan kami ke teras mansionnya. Perlu kuakui gadis itu memang sangat cantik. Sewaktu gadis yang membawa kami ke kota ini muncul dengan gaun pelayan hitam putih berenda, Ranzou sudah cukup bahagia. Ekspresi serius 30 detik sebelumnya langsung berubah menjadi cengir bego kaya biasanya. Tapi sewaktu dia mempersilahkan tuan putrinya turun, Ranzou berubah menjadi pudding. Puding romantis.

Setengah jam selanjutnya diteruskan dengan adegan Ranzou bersikap gentleman dan semacamnya, jadi aku melewatkannya dengan main adu jempol (skor akhirnya 5-3 untuk tangan kanan). Sewaktu Attreides baru mau ikut bertanding, si pelayan yang akhirnya kami ketahui bernama Sophia itu mempersilahkan kami duduk, jadi duelku dengan Attreides ditunda untuk lain kali.

Kami duduk di teras bergaya klasik yang dipenuhi rambatan tanaman liar. Sophia menuangkan teh kepada kami dari teko perak antik yang kukira harganya senilai dengan gaji kami bertiga bulan ini.

“Jadi nona Anna, ada masalah apa sampai anda memerlukan petualang?” Tanya Ranzou. “Tapi masalah apapun yang anda hadapi, anda tidak perlu khawatir. Sebab kami bertiga adalah petualang kelas satu yang terkenal di seantero benua.”

“Untuk hal itu dia tidak bohong.” Tambah Attreides sambil menyesap teh, tanpa lupa menaikkan jari kelingkingnya.

“Apa ada hubungannya dengan sepinya kota ini?”

Gadis pirang bergaun putih itu mengangguk sedih.

“Zombie?” Tanya Attreides.

“ARGH! Berhenti bilang zombie zombie melulu kenapa sih?”

“Sebenarnya hal ini agak… tidak biasa. Kota ini dikepung…

Peri.”

Hening sejenak.

“Peri?” kata Ranzou dan Attreides bersamaan.

“Mahkluk imut, kecil, bersayap, menebarkan debu bintang, mengabulkan permintaan gadis yang tidak punya baju untuk dipakai ke pesta?” lanjut Ranzou.

Aku berhenti main adu jempol kaki. Ini lebih menarik dari yang kuduga. Aku mencondongkan badanku dan memegang daguku dengan sebelah tangan.

“Itu hanya satu bagian dari peri.” Kataku. “Peri, atau biasa disebut fair folk, sebenarnya adalah salah satu mahkluk tua penghuni benua ini. Mereka mahkluk dengan sihir alami, bisa dibandingkan dengan jin atau mahkluk penunggu seperti sylph dan dryad.”

Mereka semua melihatku. Yah, ini memang tugasku sebagai Mr. Exposition.

“Seperti mahkluk ‘halus’ lainnya” kataku dengan tak lupa memberi tanda kutip isyarat dengan jari saat menyebut kata halus, “Peri adalah salah satu penghuni asli tanah ini. Mereka tinggal disini bahkan sebelum manusia dan le’ak tiba di benua ini. Tapi meski mereka memiliki sihir alami, teknologi dan budaya mereka tidak semaju kaum pendatang, dan mereka perlahan-lahan semakin terusir.

Meski begitu, bukan berarti mereka kalah atau mereka lebih lemah dari kita. Beberapa peneliti bilang mereka hanya pindah ke realita lain yang tidak bisa kita amati. Itu sebabnya kaum mereka disebut ‘mahkluk halus’ “ lanjutku.

Saat mereka memandangku dengan bengong, aku melanjutkan. “Maksudku mereka bisa pindah ke dunia peri” kataku sambil menghela nafas.

“Hmm… kukira peri itu mahkluk baik hati, rajin menabung, dan suka menolong.” Kata Ranzou. “Apa masalahnya, nona?”

Anna melanjutkan.

“Sebenarnya, sudah sejak dulu peri sering terlihat di kota ini. Katanya kota ini didirikan di dekat hutan peri.

Sesekali… peri itu menukar sesuatu dengan hal lain…”

“Maksudnya?”.

“Sesekali… mereka mengambil warga kota… Tapi kami menganggap itu resiko tinggal di dekat hutan peri seperti resiko orang dimakan hewan buas. Tapi akhir-akhir ini… mereka… mengambil terlalu banyak…”

Sophia sang pelayan melanjutkan. “Akhir-akhir ini kami menyadari kalau mereka tiba-tiba semakin banyak mengambil anak muda. Remaja. Lelaki dan Wanita dibawah umur tertentu.. Sampai akhirnya… tak ada lagi orang muda yang tersisa di kota ini. Banyak keluarga memilih untuk pindah. Tapi kemanapun mereka pindah, anak keluarga itu tetap hilang.

Kami berdua adalah wanita muda terakhir yang ada di kota ini.”

Ekspresi Ranzou saat mendengar peri-peri itu menculik wanita muda sulit digambarkan.

“Aku mengerti nona.” Kata Ranzou. “Peri-peri itu sebenarnya bukan sekedar mengambil gadis muda. Mereka mengambil perawan seperti kalian untuk dikorbankan kepada dewa kegelapan terkutuk yang mereka sembah!”

“Tapi hal itu dapat dengan mudah diatasi.” Lanjutnya dengan senyum gentleman sembari memegang tangan kedua gadis itu dan menatap penuh arti. “Cukup semalam…”

Aku menatap Attreides dan dia mengangguk.

“Zou.” Panggilku.

“Ya?”

Saat dia lengah dan melihat ke arahku Attreides berputar dan menendangnya sampai dia terpental keluar area meja.

Saat aku yakin Ranzou tidak akan mengganggu lagi, aku meneruskan penjelasanku.

“Peri adalah mahkluk halus yang paling ingin tahu, jika dibandingkan dengan jin atau lainnya. Makanya secara relatif mereka termasuk sering terlihat dan berinteraksi dengan manusia. Mereka tidak baik atau jahat, hanya saja system budaya dan moral mereka berbeda dengan system budaya dan moral kita.”

Aku menggaruk daguku, pikiranku bekerja memperhitungkan berbagai kemungkinan dan menyusun strategi. “Baiklah. Kami akan mencoba mengatasi ini. Kami belum punya pengalaman menghadapi mahkluk halus, tapi kami suka pengalaman baru.”

Malamnya, aku bersiap di posisi yang sudah kuatur dengan goggles pendeteksi sihir di mataku. Kukira Attreides dan Ranzou telah siap di posisi mereka dengan goggles yang sama.

Peri memang bisa pindah ke dunia mereka dan manusia juga bisa diseret ke sana. Tapi bukannya para peri atau mahkluk halus lain bisa seenaknya pindah-pindah dunia. Sudah jadi pengetahuan umum kalau ada tempat-tempat tertentu dimana batas dunia melemah. Tempat-tempat itu yang biasa dibilang sebagai tempat angker atau semacamnya. Menurut dugaanku, hutan peri ini adalah salah satu tempat itu. Jadi kukira mereka keluar dari lubang dimensi itu, menghilang dengan sihir alami mereka, dan menyeret target mereka ke dunia mereka. Mencari lubang itu seperti mencari jarum tak kelihatan di tumpukan jerami seluas hutan. Jadi kukira bakal lebih praktis kalau kami menangkap satu peri itu dan memukulinya sampai dia menunjukkan dimana lubang dimensi itu berada.

Kedua gadis itu tidur di satu kamar yang sudah kusiapkan (kuakui hal itu membuat kami semua jadi berimajinasi yang bukan-bukan). Kamar itu memiliki pintu yang langsung menghadap ke halaman, tapi aku sengaja memilihnya karena pintu itu adalah satu-satunya jalan keluar masuk dan dapat diawasi dengan mudah. Attreides membidik kamar itu dari atap di seberangnya dengan rifle dan goggles detector sihirnya, sementara Ranzou bersembunyi di suatu tempat di sekitar pintu kamar itu (juga kuakui kalau serius dia hebat juga. Bahkan aku tak bisa mendeteksinya sedikitpun).

Aku? Aku berjaga di kamar atas sambil minum teh. Biasanya hal itu lebih aman daripada terlibat langsung. Hei, aku ini penyihir-strip-ahli strategi, bukan tukang pukul.

Tapi aku tidak bersantai seenaknya. Dari posisiku aku bisa melihat keadaan keseluruhan dan mengkoordinasi gerakan.

Bulan perlahan terbit dan menyinari mansion sunyi itu, membuat bayangan-bayangan terlihat menari dan membuat kami semakin curiga akan setiap gerakan dan bunyi sekecil apapun.

“Aku mendeteksi sesuatu.” Terdengar suara Attreides dari alat komunikasi kami. “Tidak terlihat, terlalu jauh. Tapi sihirnya terdeteksi jelas. Boleh kutembak?”

“Jangan” bisikku. Karena aku tahu ketepatan tembakan Attreides. “Dari tempatmu kamu pasti bisa menembaknya. Tapi tanpa visualisasi, kemungkinan kamu bakal mengenai bagian vital. Kita tidak perlu peri mati, kita perlu peri setengah mati. Serahkan saja pada Ranzou.

Zou, bersiaplah.”

“Aku sudah siap dari tadi.” Katanya kalem.

“Jangan dibunuh.”

“Mungkin bakal sulit, tapi kuusahakan.”

Aku bergidik membayangkan dia sekarang sedang mencabut pisaunya. Peri itu bernasib sial.

Dari earpieceku, aku bisa mendengar suara tawa kecil. Seperti tawa anak-anak. Itu bukan suara Ranzou.

“Ranzou?”

Bulu kudukku berdiri dan aku merinding. Aku mencabut tongkat sihirku. Penyembur api sepanjang sebelas inci itu terasa basah di genggamanku.

“Attreides?”

Sunyi.

“ZOU! ATTREIDES!” kataku, tidak lagi mempedulikan kalau kami harus bersuara sesedikit mungkin.

Terdengar bunyi keresekan. “…engsek” Suara Attreides.

Suara tembakan.

Sunyi.

Tembakan lagi.

Aku berlari ke arah kamar yang seharusnya kami jaga. Dari posisiku tidak terlihat apa-apa. Aku mencabut goggles pendeteksi sihirku dan menjatuhkannya ke tanah.

“Ranzou!”

Hanya terdengar suara cekikikan anak-anak itu lagi dari earpieceku.

Saat aku tiba di sana, aku melihat Ranzou berdiri. Pisaunya tergeletak di lantai.

Aku ingat, di hadapanku berdiri peri. Apa cuma satu? Atau ada beberapa? Aku tidak bisa mengingatnya.

Yang jelas mereka cantik. Sangat cantik. Lebih cantik dari apapun yang pernah kutahu dan bisa kubayangkan.

Lucunya, sekarang aku tidak bisa mengingat atau membayangkan seperti apa wajah mereka. Tapi aku tahu pasti mereka sangat cantik.

Sepertinya mereka tidak memakai busana sama sekali. Atau mereka mengenakan gaun? Atau itu dedaunan?

Yang jelas, salah satunya sedang mencium Ranzou. Dan sialan itu kelihatan sangat senang.

Aku mengangkat tongkat sihirku dan bersiap untuk menyerang. Tapi mereka tidak mempedulikanku. Aku menyumpah dan berlari ke dalam kamar. Hanya ada Anna di situ, tertidur lelap. Terlalu lelap.

Aku berlari ke luar. “Ranzou! Mana Sophia!?”

Ranzou hanya nyengir. “Dibawa pergi.”

“BRENGSEK!” kataku sambil melihat sekelilingku. Aku baru sadar, kalau peri-peri itu sudah tak ada.

Atau mungkin mereka memang sudah tak disini sebelum aku tiba.

Keesokan harinya kami duduk di ruang makan. Ranzou masih tersenyum kosong.

“Percuma.” Kata Attreides. “Bahkan aku sudah melakukan taktik terlarang F-8 kepada Ranzou. Dia tidak bereaksi.”

Aku bergidik. Ouch. Ranzou tidak bakal senang kalau dia sadar nanti.

Anna terlihat sangat gugup dan sedih. Berikutnya gilirannya.

“Ada yang salah. Ada yang salah.” Kataku. “Ada sesuatu yang salah di sini.”

Ini bukan salah Ranzou. Ini salahku sebagai ahli strategi. Aku meremehkan peri-peri itu. Aku tidak yakin di dunia ini ada yang bisa melawan ilusi mereka.

“Lupakan saja, Seinz.” Lanjut Attreides. Dia mengokang riflenya. “Berikutnya kita lakukan dengan caraku. Istirahatlah, Anna. Nanti malam kita akan mengembalikan Sophia.”

Malamnya, aku duduk di kamar bersama Anna. Dia tidak terlihat tertarik untuk tidur sama sekali.

“Kami lengah kemarin.” Kataku. “Tenang saja.”

Sebab hari ini kami akan memakai cara Attreides. Tembak semua yang bergerak, tembak semua yang tidak bergerak, cari yang masih hidup kemudian.

Bulan terbit dalam gelap.

Attreides berlutut di balkon, matanya yang tersisa menempel di teropong senapannya.. Jubahnya berkibar tertiup angin. “

“Mereka datang.”

Terdengar suara tembakan. Satu tembakan lagi bergema. Di luar, terlihat dua mahkluk seukuran burung tergeletak berdarah di tanah. Yang lain masih berwujud gadis cantik, dan kini mereka melihat ke balkon tempat Attreides menembak.

Attreides menembak lagi.

Tapi tak ada yang jatuh. Sebab…

Aku tidak yakin. Mereka bergerak sangat cepat. Atau mereka menghilang? Atau mereka melakukan teleportasi-teleportasi jarak pendek?

Attreides terus menembak. Aku bergerak untuk membantunya.

Tapi Anna menarik lengan jubahku.

Lagipula sudah terlambat. Peri-peri itu sudah berada di seberang halaman sekarang, berhadapan langsung dengan Attreides di atas balkon. Attreides menjatuhkan senapannya dan menarik revolvernya. Dia menembak mereka tanpa henti.

Tapi sia-sia. Aku tidak tahu, berwujud apa peri-peri itu sekarang. Tapi mereka… bercakar tajam… dan bertaring… dan…

Rentetan tembakan itu akhirnya berhenti. “Attreides?” panggilku dari alat komunikasi.

Aku menggenggam tangan Anna, tongkat sihirku siap di tangan lain.

Hening.

Kemudian terdengar cekikikan anak-anak itu lagi.

Aku melepaskan pengangan Anna, mengumpat dan menendang pintu kamar sampai terbuka, dengan kedua tangan mengacungkan tongkat.

Tapi yang ada di hadapanku…

Aku berteriak dan menyemburkan api dari tongkat yang satu dan listrik dari tongkat yang lain. Aku melemparkan bom asap dan bom api dan bom cahaya. Tapi sia-sia.

Mahkluk itu melewatiku yang jatuh berlutut tanpa mampu berbuat apa-apa lagi.

Mahkluk itu melewatiku yang duduk putus asa sambil membawa Anna di tangannya.

Tapi tiba-tiba ada sesosok bayangan lain berdiri di hadapanku.

Ranzou, tersenyum dengan senyum pembunuhnya, pisau di satu tangan dan tangan lain tergantung berdarah..

Sepertinya dia menusuk tangannya sendiri untuk membebaskan dirinya dari ilusi.

Ranzou meloncat menerkam mahkluk itu. “Seharusnya dari kemarin kalian berwujud seperti ini!” teriaknya.

Ranzou menyabet, menendang, menusuk. Mahkluk itu kesulitan menghindari serangannya sembari membawa Anna, dan dia tidak bisa membalas. Dia menjatuhkan Anna ke tanah.

Mahkluk itu membuka mulutnya dan menunjukkan deretan giginya yang setajam belati. Dia mengayunkan cakarnya yang lebih banyak dari yang bisa diterima logika. Tapi Ranzou tidak berhenti.

Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Aku hanya ingat aku menyeret Anna ke kamar, mengunci pintu, dan menggigil sendirian dalam gelap.

Saat aku sadar, hari sudah pagi. Anna masih ada di sisiku. Tapi tak ada tanda-tanda Ranzou atau Attreides. Hanya ceceran darah, bekas sabetan pisau, lubang peluru.

Aku membangunkan Anna. Dan perlu kuakui, caranya tidak terlalu lembut.

“Ada yang salah disini.” Kataku meracau. “Kau tidak menceritakan semuanya!”

Aku tidak mempedulikan interupsinya dan terus meracau sambil berjalan mondar mandir di kamar yang besar itu.

“Peri. Peri. Peri. Mereka bukan mahkluk baik atau jahat. Hanya system budaya dan moralitas mereka berbeda.”

Aku melanjutkan. “Seharusnya dari kemarin kita mulai dari sini. Dari ujungnya. Pangkalnya.”

“Mereka tidak mungkin sengaja menculik manusia tanpa alasan. Oke, sesekali mereka mungkin membawa manusia ke alamnya. Tapi itu rasa ingin tahu! Rasa ingin bermain! Peri adalah mahkluk halus yang paling ingin tahu.

Tapi mereka tidak akan menyerang kota seperti ini. Jelaskan Anna, JELASKAN!”

Anna hanya terduduk sambil menatap lantai.

“Hadiah…”

Aku hampir meracau lagi, tapi saat aku sadar dia mengatakan sesuatu aku diam.

“Mereka tidak menculik warga. Mereka memberi hadiah.”

Hening.

“Kalian sadar? Kota ini terlalu bagus, terlalu besar, terlalu kaya untuk kota terpencil di perbatasan seperti ini. Itu karena… para peri.

Kami tidak sadar. Kami tidak mengerti. Kau ingat? Perang besar? Aku belum lahir waktu itu. Tapi kata ayahku, kota ini hancur. Ekonomi di seluruh benua morat-marit.

Peri-peri itu memberi hadiah. Mereka memberi kami keberuntungan. Mereka memberi kami kekayaan. Dan sesekali mereka mengambil warga kami.

Saat itu kota ini putus asa. Dan kota ini… meminta… bantuan para peri. Kata ayah, saat itu para peri tidak meminta apa-apa.

Mereka hanya… minta… saling bertukar hadiah… yang senilai… nanti… saat ini… Penduduk kota bilang mereka akan menukarnya dengan hadiah yang senilai kelak. Harta yang dihasilkan dari hadiah para peri itu.”

Aku mengerti. Semua masuk akal. Pandangan para peri itu berbeda. Bagi mereka, gadis-gadis ini, orang-orang yang mereka culik, hanyalah harta, hadiah yang seperti keberuntungan dan emas yang mereka berikan dulu. Para peri tidak mengerti kalau manusia menghargai benda hidup dan benda mati secara berbeda. Mereka tidak mengerti nilai benda. Mereka hanya mau hadiah juga, benda yang didapatkan dengan menggunakan hadiah para peri itu.

Anna semakin bersemangat. “Kau tidak mengerti! Penduduk kota sudah berusaha menyelesaikan semua ini! Mereka memberi emas, permata senilai yang telah diberikan peri-peri itu dulu. Tapi peri-peri itu tidak peduli! Mereka terus mengambil anak-anak orang yang telah mendapat hadiah mereka dulu!”

“Tidak perlu dilanjutkan. Aku mengerti.” Kataku dingin. “Aku tahu cara menyelesaikan semua ini.”

Malam itu aku berdiri di alun-alun kota, di tempat terbuka. Tempat dimana aku bisa melihat sekeliling dan sekelililing bisa melihatku. Anna duduk di sampingku, menatapku setengah heran setengah takut. Tapi aku tidak peduli lagi.

Bulan kembali bersinar dari balik awan. Bangunan-bangunan mewah tanpa penghuni berdiri mengelilingiku bagaikan raksasa-raksasa yang membatu.  Dan suara-suara itu terdengar lagi. Suara tawa. Suara cekikikan.

Bola-bola cahaya muncul dari balik pepohonan. Dari semak-semak. Dari kegelapan. Sesekali aku bisa melihat kelebatan tangan atau sayap.

Aku berdiri tanpa ekspresi. Jubahku berkibar ditiup angin malam.

“Kalian curang, para peri!” teriakku sekeras mungkin. “Kalian tidak mengikuti perjanjian yang kalian buat sendiri!”

Anna dan para peri menatapku, mengelilingiku dengan heran. Kali ini tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun.

“Hal yang kalian ambil lebih berharga dibandingkan hal yang kalian berikan!

Manusia menganggap anak mereka lebih berharga dari emas yang kalian berikan!”

Peri-peri itu mengelilingiku. Bergerak naik turun, bersuara penuh ingin tahu.

“Karena itu, aku minta pembayaran ulang! Kembalikan. Kembalikan semua hadiah yang sudah kalian ambil. Sebagai gantinya, kalian bisa mengambil hal lain. Hal lain yang didapat para penduduk kota dari hadiah kalian selain anak dan keluarga mereka.

Ambil kota ini.”

Keesokan sorenya, kereta melambat di stasiun kota Firense sesuai jadwal. Aku meloncat turun sebelum kereta itu benar-benar berhenti, diikuti Attreides dan Ranzou. Mereka menabrakku.

“Oi, Seinz! Kamu ngapain sih?”

Di hadapanku, berdiri Komandan kami beserta Sabarande, sekretaris cantiknya.

“Umm… halo komandan?” kataku.

“Ada yang bisa jelaskan apa maksud jeruk-jeruk itu?” tanyanya sambil melipat bahu.

“Uh… untuk penelitian…” kata Attreides sambil menggaruk kepalanya.

Celadohr menggelengkan kepala.

Alchemist paruh baya itu menghembuskan asap pipanya.“Ayo gerak! Aku sudah mendapat petunjuk tentang benda yang kita cari. Tak ada waktu untuk santai santai lagi, dasar kalian.

Aku sudah menyewa pesawat udara untuk mengantar kita. Skyline Express dibayar perhari, jadi sehari yang terbuang karena kalian hilang, DIPOTONG DARI BAYARAN KALIAN!”

Pesawat itu mengudara dengan perlahan, memberiku waktu untuk melamun sambil menatap kota Firense yang semakin mengecil.

Dan aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah penduduk kota itu masih menganggap… nyawa keluarga mereka sebanding dengan kota yang kutukarkan untuk mereka….

Iklan

Read Full Post »