Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2009

Minaret

A/N: Sebuah dongeng pendek dari negeri seribu satu malam.

Minaret-minaret istana megah Kesultanan Baldebaran menjulang tinggi di antara bangunan ibukota kerajaan . Dari salah satu balkon, Sultan Al Unalun mengamati hiruk pikuk kota dengan kesal. Moodnya masih tidak enak, meski dia baru saja mengusir duta besar kesultanan sebelah dan membatalkan pertemuannya dengan para menteri. Sang sultan menggerakkan tangannya untuk menyuruh gadis-gadis pembawa buah-buahan pergi, sebelum menyandarkan diri di pagar balkon yang berukir indah.

“Patih, apa ada kegiatan yang menarik hari ini?” tanyanya. Patih Kerajaan yang berambut putih dan berjenggot lebat itu tidak menjawab. Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk dijawab. Sang patih yang sudah bergenerasi-generasi melayani kerajaan menghela nafas. Sayang sekali, padahal sultan sebelumnya adalah sultan yang baik. Tapi penerusnya hanya bisa bersenang-senang dan menghambur-hamburkan kas istana tanpa berminat sedikitpun untuk mengurus kerajaan.

Bau rempah-rempah, kain bercorak rumit nan indah, dan seribu satu macam barang dagangan yang eksotis dari negeri yang jauh dan dekat berkelebatan diantara hiruk pikuk pasar kerajaan , tapi sang sultan hanya menguap tanpa minat sedikitpun. Tiba-tiba, sang sultan muda mencondongkan badannya. “Lihat, Patih. Pemuda itu mirip sekali denganku!”

Sang patih melongokkan kepalanya. Benar, pemuda berbaju rombeng itu bagaikan pinang dibelah dua dibandingkan dengan sang sultan. “Ya, Sultan. Kata orang, memang di dunia ini ada tiga manusia yang wajahnya persis sama.”

Wajah sang sultan berubah. “Prajurit, bawakan pemuda itu ke singgasanaku.” Patih Faraj memandang sultan dengan tatapan tajam, tapi Sultan mengacuhkan tatapan kakek tua itu.

Sang Sultan duduk di singgasana emasnya dengan wajah terhibur. Di sebelahnya, Patih Faraj mengamati pemuda yang bingung itu. Dari dekat, dia semakin mirip dengan sultan muda.

“Tidak usah takut.” Kata sang sultan. “Siapa namamu? Ceritakan sedikit tentang kehidupanmu”

Takut-takut dan masih bingung, sang pemuda mulai berbicara. “Nama saya Harun bin Huran, yang mulia. Saya berasal dari kota Bulanul. Saya baru saja tiba di kota ini bersama Kafilah Musim Dingin. Orang tua saya sudah lama meninggal. Saya tidak punya harta maupun tempat tinggal. Saya hidup dengan berpindah dari satu kota ke kota yang lain, mengikuti kafilah pedagang, berjualan sembarang benda yang bisa saya dapat dan mengerjakan apapun yang bisa saya kerjakan sekadar untuk makan.”

Sang Sultan tersenyum. “Gantilah bajumu rombengmu dengan jubah yang sudah disediakan, Harun.” Sebentar kemudian, Harun kembali dengan pakaian sutra halus dan rompi berbordir benang emas. Sang sultan bangkit dari singgasananya dan berjalan berdampingan dengan Harun.

“Harun, menurutku, hidup di istana ini sangat membosankan. Aku hanya makan, tidur. Makan, tidur.” Kata Sultan Al Unalun. “Aku bisa membayangkan kehidupanmu. Berpetualang dari kota ke kota. Berjalan bersama kafilah unta di gurun pasir tak bertepi yang memantulkan cahaya keemasan bulan purnama…”

Sultan Al Unalun berhenti berjalan. Harun juga berhenti di sebelahnya.

“Bagaimana kalau kita bertukar tempat untuk sementara? Kamu tinggallah di istana, dan biarkan aku menggantikan tempatmu di Kafilah Musim Dingin.”

“Yang Mulia!” Patih memprotes keras. Tapi Sultan Al Unalun hanya mengayunkan tangannya acuh.

“Tidak ada tapi atau protes, Patih! Dan kamu pasti mau menerimanya kan?”

Dan Harun mengerti kalau dia harus menerimanya kalau masih ingin hidup lebih lama.

“Bagaimana dengan urusan kerajaan?” kata Patih Faraj yang masih kebingungan. Sementara itu Harun hanya bisa terdiam.

“Urus saja sendiri. Suruh Harun menghadiri rapat atau semacamnya untuk menggantikanku. Jangan ganggu aku dengan hal remeh semacam itu.”

Patih Faraj hanya bisa tercengang. Bahkan sang sultan menolak diiringi pasukan pengawalnya. Tapi sultan muda ini memang keras kepala kalau sudah ada maunya.

“Jangan kuatir, kakek tua.” Kata sang sultan yang telah berganti baju. Kini dengan baju lusuhnya, penampilannya nyaris persis sama dengan penampilan Harun saat pertama kali dia muncul kemarin.

“Aku tidak sebodoh yang kamu kira.” Sambil tertawa dia menggoncangkan kantung uangnya yang penuh dinar emas, sebelum pergi menghilang diantara keramaian.

Sang patih menggelengkan kepala. Tapi dia tersenyum dalam hati. Diam-diam, dia telah menukar semua dinar emas di kantung uang sang Sultan dengan logam tak berharga.

Sekali-sekali, memang Sultan Manja ini harus diberi pelajaran. Kalau dia ingin petualangan, silakan saja berpetualang. Semoga dengan ini sang sultan mendapat pengalaman yang berarti.

Dan dibawah bayang-bayang menara istana dan bangunan-bangunan bata yang menjulang, sang patih menutup gerbang belakang istana dengan pikiran penuh. Besok ada pertemuan dengan duta besar kerajaan Rowami. Lalu janji dengan wakil perkumpulan pedagang yang sudah berkali-kali ditunda. Setidaknya Harun bisa membaca dan menulis. Kalau dia bisa belajar sedikit etiket dan tata Negara, sedikitnya bencana besar dan perang yang memakan korban jiwa akan dapat dihindari.

Patih Faraj bin Abdul Fulan berdiri di balkon tertinggi istana sambil memandang ibukota yang ramai dan penuh aktivitas. Seramai keadaan kota kemarin, juga seramai keadaan kota bulan lalu saat semua peristiwa ini dimulai.

Selain dirinya, hanya Sultan sendiri dan Harun yang mengetahui semua kejadian itu.

Ternyata Harun adalah pemuda yang cerdas dan rajin. Memang masih banyak yang belum diketahuinya. Tapi semua bisa ditutupi oleh waktu dan usaha.

Kalau ada orang yang bisa membaca pikirannya, dia bisa dihukum mati meski dia patih kerajaan itu sendiri. Tapi bagaimana lagi. Entah kebetulan atau takdir, dia merasa Harun memang lebih cocok menjadi Sultan dibandingkan Sultan yang asli.

Dalam diam Patih Faraj membakar surat bersandi yang diterimanya dari mata-mata kerajaan. Besok dia akan menyuruh sang mata-mata dibunuh secara diam diam.

Sang Patih tua menatap abu surat yang melayang lamban di atas bangunan-bangunan ibukota Kesultanan Baldebaran yang disinari mentari senja.

Surat tentang ditemukannya mayat Harun bin Huran di tengah padang pasir.

Read Full Post »

Chocolate Pudding

Chocolate Pudding

A.k.a The ASCCP. Setelah beberapa eksperimen, akhirnya ketemu juga cara buat puding coklat yang enak dan luar biasa gampang, sebagai versi sederhana dari Puding Coklat Super Mewah yang saya buat di rumah.

Bahan:

1 Butir Telur
1 Gelas Susu Coklat
(Susu instant mungkin bisa dipakai, tapi jauh lebih baik kalau pakai susu full cream yang dicampur 2-3 sdm bubuk kakao. Saya sih pakai Susu Full Cream yang dicampur Delfi Hot Cocoa Mix 3 in 1.)
1 sdm tepung maizena
2 sdm gula
1 sdt mentega/margarin
1 sdt vanili

Cara Membuat:

1.Kocok telur, gula dan tepung maizena sampai rata
2.Sementara itu, panaskan susu coklat  sampai hampir mendidih. Kecilkan api
3.Sisihkan kurang lebih seperempat gelas susu panas. Campurkan seperempat gelas susu panas itu dengan adonan telur sedikit demi sedikit sambil diaduk.
4.Masukkan campuran telur dan susu ke panci. Aduk terus dan jaga jangan sampai mendidih. Masukkan mentega/margarin. Puding siap diangkat kalau mulai terbentuk lapisan di sendok pengaduk.
5.Angkat puding, masukkan vanili, aduk sebentar sambil mendinginkan, lalu taruh di gelas.

Bisa segera dinikmati hangat-hangat, atau dinginkan di kulkas dan nikmati setelah mengeras.
Untuk puding yang lebih padat, gunakan 2 kuning telur sebagai ganti 1 telur.

Untuk 1-2 Porsi

Read Full Post »