Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2008

Daily Daydream

Beberapa hari ini saya mulai menulis cerita 100 kata. Awalnya saya berencana untuk menulisnya di blog ini, tapi karena jumlahnya, saya memutuskan untuk membuat satu blog lagi khusus untuk cerita-cerita itu.

Take a look at my other blog: Daily Daydream

Will be updated daily

Iklan

Read Full Post »

Author’s Note: My attemot on 100 words short stories.

Di sebuah hutan, hiduplah sekelompok Serigala. Hewan lain membenci serigala karena mereka rakus dan pemarah. Serigala juga suka mencuri makanan hewan lain.

Suatu hari hewan-hewan di hutan melihat beberapa manusia. Serigala tahu kalau manusia hidup berkelompok. Kalau beberapa manusia terlihat berarti teman-teman mereka akan segera datang. Dan manusia suka berburu hewan.

Para serigala tidak suka bergaul. Meski begitu sebelum pergi mereka sempat memberi tahu penghuni hutan tentang kebiasaan manusia. Tetapi para hewan saling berkata:

“Serigala pencuri dan menyebalkan. Karena itu perkataan mereka tidak mungkin benar.”

Keesokan harinya manusia datang membawa busur dan panah. Dan penghuni hutan habis diburu oleh manusia.

Read Full Post »

Fairy in a Bottle

Fairy in a Bottle

Fairy. Fae. Fey.

The wee folk. The fair folk.

Peri

Nyaris seluruh kebudayaan di dunia memiliki cerita tentang mereka. Mahkluk indah yang hidup di dunia lain. Bertubuh kecil dan memiliki kekuatan ajaib. Sebagian orang bercerita, kau bisa melihat mereka menari di bawah sinar bulan jika kau menemukan lapangan tempat mereka berkumpul di tengah hutan.

Sampai malam sebelumnya aku masih tidak percaya akan keberadaan mereka.

Sampai aku menangkap satu.

Aku memandang peri yang meringkuk di dalam toples kaca yang kutelungkupkan itu. Tadinya aku akan menggunakan toples ini untuk menangkap serangga, tapi aku malah mendapat sesuatu yang jauh lebih menarik.

Matahari mulai terbenam dan pinggir hutan ini menjadi semakin gelap. Seharusnya sekarang teman-temanku sudah mulai menyalakan api unggun untuk memasak makan malam di kemah.

Aku membungkuk dan mendekatkan kepalaku ke tanah agar dapat melihat peri yang kutangkap dengan lebih jelas. Tubuhnya terlihat berpendar di kegelapan hutan. Kuperhatikan, peri itu nyaris persis seperti manusia, dengan dua tangan, dua kaki, dan dua mata yang hitam besar dan menatapku dengan penuh rasa ingin tahu. Tetapi ukuran tubuhnya hanya sebesar burung kecil.

Mahkluk itu tidak mengenakan pakaian sedikitpun, tapi sepertinya tidak ada tanda khusus apa peri ini jantan atau betina. Dia duduk memeluk lutut, matanya menatapku tanpa ekspresi lain. Rambut coklat panjangnya tergerai menutupi sayap di punggung. Sayapnya berkilauan bagai perak, dan terlihat seperti sayap kupu-kupu. Mahkluk ini adalah mahkluk paling indah yang pernah kulihat seumur hidupku.

Kami berdua hanya saling berpandangan untuk beberapa lama. Toples itu memiliki ventilasi, jadi aku tidak takut peri itu akan kehabisan nafas. Matahari sepertinya telah terbenam dengan sempurna, tapi kukira teman-temanku tidak akan khawatir dan mencariku. Aku memang biasa pergi ke hutan saat matahari terbenam begini untuk mencari serangga atau mahkluk menarik lain.

Aku mencoba berbicara.

“Kamu ini peri?” tanyaku. Tidak ada respons.

“Kamu mengerti ucapanku?”

Awalnya kukira tidak ada respons, tapi kulihat dia menggerakkan kepalanya. Entah itu tanda kalau dia bisa mendengar suaraku atau dia mengerti ucapanku.

Peri itu terlihat begitu rapuh dan sedih. Dia menempelkan tangannya yang kecil ke dinding toples, dan menatap tangannya yang tertempel di kaca itu. Kemudian dia kembali memeluk lututnya dan memandang ke arah bulan yang telah terbit di langit. Aku jadi merasa sedikit bersalah.

Pendar cahaya dari tubuhnya menerangi wajah dan tubuhku. Kukira belum pernah ada orang yang berhasil menangkap peri dan memperlihatkannya ke dunia luar. Kalau aku bisa jadi orang pertama yang melakukannya, aku akan jadi orang yang sangat terkenal.

Seharusnya aku segera berlari ke kemah dan mengumumkan penemuanku, tapi peri ini begitu cantik dan misterius, begitu ajaib sehingga aku merasa ingin menikmatinya sendiri untuk beberapa saat lagi. Peri itu mengetuk-ngetuk dinding toples dengan tangan yang kecil.

“Kau ingin keluar?” tanyaku. Dia mengangguk. Ternyata peri ini memang mengerti bahasa manusia. Dia memandang ke dalam hutan dengan tatapan rindu.

Aku berpikir sejenak, dan diluar pertimbangan terbaikku, aku mengangkat toples yang mengurungnya. Mungkin aku sudah gila, tapi aku bisa merasakan kesedihan peri cantik itu di dasar hatiku sampai aku tidak tega mengurungnya lebih lama. Peri itu mengembangkan sayap kupu-kupunya yang berkilauan memantulkan cahaya bintang, dan terbang meninggalkan tanah tempatnya terkurung.

Tapi dia tidak pergi menghilang begitu saja. Dia terbang berputar-putar di hadapanku, dan terbang mengelilingiku dalam sebuah tarian di udara yang mempesona. Debu berkilauan bertaburan dari sayapnya sehingga aku merasa seperti berada di tengah lautan bintang. Peri itu tersenyum begitu bahagianya sehingga segala sesalku saat aku melepaskannya dari toples langsung lenyap seketika.

Peri itu terbang di tempat untuk beberapa saat.

“Kau ingin aku mengikutimu?” tanyaku. Peri itu mengangguk.

Aku tahu seharusnya aku kembali ke perkemahan. Seharusnya sekarang teman-temanku sudah mulai mencariku. Tapi siapa yang bisa menolak tawaran seorang peri untuk mengikutinya? Lagipula satu peri ini begitu mempesonaku sehingga aku ingin sekali melihat apakah ada peri lain di hutan ini.

Peri itu terbang perlahan, tanpa suara di antara pepohonan hutan. Tapi aku tidak kesulitan mengikutinya karena cahaya yang berpendar dari tubuhnya.

Aku tahu seharusnya aku merasa takut tersesat, khawatir teman-temanku akan kebingungan mencariku, tapi tanpa berbicara aku tahu peri itu menghilangkan semua kekhawatiranku dan ketakutanku. Tidak ada hewan liar yang mendekati kami, tidak ada ranting dan batu yang membuatku tersandung. Cahaya hangat dari peri itu membuatku terjaga, dan aroma sang peri yang bagaikan ekstrak aroma seluruh bunga hutan menentramkan hatiku.

Akhirnya kami tiba di sebuah lapangan di tengah hutan, lapangan yang dikelilingi pepohonan dan bunga dan disinari oleh sinar bulan yang keperakan. Jantungku terasa berdebar, gabungan perasaan senang dan ingin tahu, dan pesona yang menakjubkan dari keindahan sempurna sinar bulan, bunga-bunga hutan di sekitarku, dan peri yang melayang mengelilingiku. Kukira pemandangan seperti ini hanya ada di dalam mimpi, khayalan keindahan yang tidak mungkin ada di dunia nyata.

Perlahan dari pepohonan, aku melihat sinar-sinar keemasan yang melayang di udara, seakan muncul begitu saja dari kegelapan. Ada begitu banyak peri. Semuanya cantik diluar bayangan manusia, dengan sayap kupu-kupu yang memantulkan cahaya perak, emas, dan perunggu, debu bintang yang berkilauan, dan aroma bunga-bunga hutan yang lebih harum dari aroma apapun yang kuingat.

Peri yang mengantarku ke sini berbalik, melayang di udara di hadapan wajahku dan tersenyum manis.

Senyumnya lebih lebar dari yang kuingat tadi, dan aku bisa melihat rangkaian gigi-gigi tajam mungil yang berbaris di dalam mulutnya.

Aku tahu aku seharusnya khawatir, tapi aku tidak bisa lagi merasakan perasaan takut atau cemas sedikitpun. Meskipun aku melihat semua peri yang mengelilingiku tersenyum dan memamerkan gigi-gigi mereka yang kecil dan tajam.

Meski aku ingat, bahwa cerita tentang peri yang baik dan penolong adalah karangan modern tanpa dasar.

Bahwa sebagian besar legenda kuno tentang peri adalah bagaimana cara melindungi diri dari mereka.

Tambahan Author’s Note:

Ternyata… banyak yang ga sadar/ga ngeh kalau ini sebenernya cerita horror…  Apa terlalu subtle ya?

Read Full Post »

Cooking

chocolate cookiesI love to cook. Specifically I love to bake pastries, appetizers, desserts, and cakes. I don’t cook dishes like meat or veggies, except if it’s filling for my pastries. I can’t cook in my rented room, but I always spend some time cooking when I got home.

Most of my favourite recipes had their own personal ‘taste’ for me from my experience with them. It won’t make sense for anyone else beside me.

Simple chocolate cake taste like my childhood.

Pancake taste like lost old dreams.

And chocolate cookies have the taste of forgotten promises and broken friendship…

I guess I’ll start to post recipes again from now on.

Have a cookie?

Read Full Post »

Miracle

Nature is the place where miracle not only happen, it happens every time.

Thomas Wolfe

Kalau keajaiban adalah saat hal dengan kemungkinan satu banding sejuta berhasil dilakukan, keajaiban lebih sering terjadi dari yang kita kira. Kalau misalkan masing-masing 6 milyar penduduk bumi membutuhkan satu keajaiban setiap hari, berarti setiap hari di dunia ada potensi untuk 6 ribu keajaiban terjadi.

Just random musing. Mungkin saja hari ini kesempatan kita untuk mendapat keajaiban, tapi kita melewatkannya karena tidak mencoba apa-apa.

And I know statistic doesn’t work like that. It’s just random musing.

Read Full Post »