Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2008

Strawberry Cake

Post terakhir… 3 bulan yang lalu o_0? oh well…
Saya masih ingin jadi jelly, tapi ini ini ada sebuah cerita petualangan, versi non fanfic dari cerita yang saya submit untuk Ragnafilia’s Unofficial Art Festival di Ragnafilia’s Fanfic and Fanart subforum.

Matahari bersinar dengan cerahnya di langit yang biru bagaikan sepatu baru. Seorang pemuda berbaring di padang rumput nan hangat, sembari mengulum bunga manis yang dipetiknya di pinggir jalan.

Ksatria berambut pirang itu memejamkan mata, menikmati damainya rune midgard diiringi alunan suara kebahagiaan para pemburu yang membunuh kelinci-kelinci jinak dan menjadikan banyak anak kelinci yatim piatu hari itu. .

Tiba-tiba ketenangan hari itu dipecahkan oleh suara orang yang terengah-engah. Ksatria itu membuka matanya dan melihat seorang tua berambut dan berjenggot putih panjang nampak tersengal-sengal, sembari menuntun seseorang yang diselimuti tudung.

Kakek itu terjatuh di hadapan pemuda yang kaget itu. Saat sang pemuda membantu kakek itu berdiri, sang kakek terbelalak kaget. “Bintang takdir….!”

Kakek itu menggenggam tangan si pemuda yang memiliki tanda lahir misterius. Sejak lahir, dia selalu bertanya-tanya apa arti tanda lahir berbentuk buah strawberry disambar petir mabuk itu.
“Anak muda… kamu adalah orang yang ditakdirkan!” kata kakek itu sebelum batuk nggak karu-karuan. “Ini adalah takdirmu…” katanya lagi sebelum kembali batuk-batuk parah. “Jagalah tuan putri..” adalah kata-kata terakhirnya sebelum kakek itu batuk-batuk-batuk yang benar-benar-benar gawat dan jatuh tidak bergerak.

Pemuda itu terbelalak kaget saat melihat orang satu lagi membuka tudungnya. Dia adalah gadis tercantik yang pernah dilihatnya. Rambutnya bagaikan mayang terurai keunguan. Matanya bagaikan Bintang kejora hijau yang terbit di ufuk. Alisnya bagaikan semut beriring khidmat. Bibirnya mungil bagaikan delima merekah indah. Pemuda itu merasa ada sesuatu yang mengikatnya dengan gadis yang baru ditemuinya itu.

Di balik jubahnya, gadis itu mengenakan sedikit kain tipis yang menutupi bagian-bagian penting. Jelas gadis ini seorang penyihir. Hanya para penyihir yang punya selera berpakaian tak praktis seperti itu. Penyihir pria mengenakan jubah wol tebal yang mengumpulkan tiga ratus macam aroma tak sedap dalam sehari, sedangkan penyihir wanita nyaris tak mengenakan apa-apa. Tapi, hei, memangnya siapa aku sampai berani-beraninya mengomentari selera berpakaian penyihir, pikir sang pemuda. Aku tidak protes sama sekali, tidak.

Meninggalkan kakek tua yang kini sudah tak bergerak dan tak berguna itu, mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat takdir menuntun mereka. “Ini adalah hal yang digariskan para dewa untukku” kata gadis bernama Alynna itu. “Tapi aku bersyukur karena akhirnya ksatria pelindungku telah ditemukan, tuan Renald.”

“Apakah petualangan besarmu itu?” tanya Renard.
Gadis itu menggenggam tongkatnya dan memandang ke awan yang berarak di kejauhan. Rambutnya berkibar pelan saat mata hijaunya yang indah dan sedih menerawang.
“Aku ditakdirkan untuk… Membeli Cake Strawberry di St Pierrantasia bakery…”

Takdir! Begitu kejam! Renard menahan nafas mendengar ikatan takdirnya dan gadis itu. Dia harus membeli Cake Strawberry di St Pierrantasia bakery! Cake yang terkenal akan keindahan dan kekuatannya itu! Cake yang diabadikan dalam puisi dari bahasa yang terlupakan… Gadis itu tanpa sadar mengalunkannya.

Ash nazg durbatulûk, ash nazg gimbatul, ash nazg thrakatulûk, agh burzum-ishi krimpatul.

One Cake to rule them all, One Cake to find them,
One Cake to bring them all and in the sweetness bind them
In the Land of Midgard where the Strawberries lie.

Tanpa sadar pemuda itu menggenggam pedangnya lebih erat. Selama ini, dia tahu dia ingin mengalami petualangan yang lebih dibandingkan membasmi tikus di saluran pembuangan kota. Tapi ternyata dia dihadapkan pada takdir yang lebih gelap.

Mereka berjalan semakin menjauhi keamanan kota. Saat tiba-tiba terdengar suara. “Kalau ingin selamat, serahkan harta kalian!”
Suara itu datang dari seorang Pemanah tampan berambut perak panjang. Dengan mata bagaikan jade gelap yang dalam dan penuh kesedihan. Renard menyambutnya dengan pedang. Mereka bertarung dengan latar belakang mentari yang terbenam kemerahan, dan daun-daun yang berguguran di luar musimnya. Begitu menawan, indah, sekaligus memilukan. Saat Renard nyaris mengalahkan Archerbandit itu, Alynna berlari. “Berhenti!”

Pemanah itu nyaris terbunuh tanpa alasan yang jelas. Tapi dia diselamatkan oleh gadis yang tidak dikenalnya. Terharu atas ketulusan hati gadis itu, sang bandit tampan mencium tangannya dan bersumpah setia kepadanya. Renald melirik cemburu, tapi pertarungannya sangat seru! Tak ada yang bisa menjalin persahabatan pria lebih baik daripada saling menghajar satu sama lain. Dalam sekejap mereka telah bersahabat bagaikan teman sejak lahir. Penyamun bernama Lyaann itu kini saling bahu membahu dengan Renard, melindungi putri penyihir dari rusa kejam dan kelinci pembunuh.

Keesokan harinya, mereka dikepung oleh segerombolan mahkluk mematikan! Alynna nyaris tak tega bertarung, sebab mahkluk yang menyerang mereka dikendalikan dendam. Betapa kejam takdir mereka, telur-telur yang dijadikan telur dadar dan telur mata sapi tanpa sempat menetas, tanpa sempat menikmati hidup dan dijadikan ayam goreng atau chicken nugget. Hantu-hantu mengerikan itu memojokkan mereka dengan rintihan suara memelas mereka.
Saat mereka mengira para dewa telah meninggalkan mereka, O! Cahaya putih menyambar dan mengirim hantu-hantu malang itu ke akhirat dengan sambaran energi suci membakar nan menyakitkan.. Ternyata ada takdir lain yang bersilangan! Seorang klerik mungil nan imut menyelamatkan mereka. Renard ingin berterima kasih dengan suara, tetapi dia tak yakin klerik itu gadis atau pemuda, jadi dia membungkuk hormat saja. Penyihir aliran putih berambut pink natural itu bernama Popo, dan dia berpetualang bersama dua sahabat. Seorang pencuri nakal nan playboy bernama Ludo dan seorang pedagang berkacamata bernama Albert. Siapa mengira, mereka juga sedang menuju bakery St Pierrantasia yang melegenda!

Alynna teringat pesan kakek pengawalnya dulu. Bintang takdir akan mengumpulkan enam petualang untuk bertarung bersama! Maka dibawah sinar bulan dan diiringi kobaran api unggun, mereka menyatukan senjata di atas kepala. Satu untuk semua dan semua untuk satu! Fellowship of the Cake telah resmi ada.

Tapi Alynna menyimpan satu ramalan takdir yang disimpannya dengan hati berduka. Dan tidak diberitahunya kepada siapapun.

Mereka berjalan bersama, berpetualang bersama. Bertarung dan berkeliaran bersama. Ludo yang ceria menggoda Popo dan Alynna. Renard bahu membahu bersama Lyaann sahabatnya. Dan Albert yang menghitung biaya.

Mentari berganti mendung dan mendung berganti hujan. Dibawah sambaran petir dan kilat membahana, keenam petualang muda berdiri. Setelah petualangan panjang dan berbahaya, akhirnya mereka tiba.

St Pierrantasia Bakery Menjulang dihadapan mereka.

O! Bakery yang melegenda. Dimana orang-orang bergelimpangan di sekelilingnya, tak sanggup menahan lapar dan dahaga. Sebab antrian panjang bagaikan naga gila dari mimpi buruk melingkar di sekelilingnya. Betapa mengerikan! Betapa kejam! Hanya demi sepotong kue nan luar biasa dari bakery St Pierrantasia!

Keenam petualang bersiap mempertaruhkan nyawa. Namun apa yang terjadi! Dibawah rintik hujan, Ludo dan Albert maju perlahan.
“Sahabat! Pergilah! Kami akan menahan mereka!”

Betapa memilukan. Dengan kekuatan persahabatan di hati mereka, Ludo dan Albert maju menghunus senjata. Teriakan perang mereka bergema, membuka jalan untuk Alynna. Langit seakan ikut bersedih, dengan hujan yang turun dan petir menyambar.

“Ludo! Albert!” teriak Alynna dengan air mata bercucuran. Dia memberontak, dia ingin membantu mereka. Namun Renard dan Lyaann menahannya. “Jangan sia-siakan pengorbanan mereka…” kata Renard sembari maju menerobos, membawa Alynna yang berlinangan air mata. Sembari menggigit bibir dengan hati terluka, Renard maju. Sementara Ludo dan Albert bertarung melawan naga antrian yang tak terkira panjangnya, pertarungan tak seimbang, tanpa kemungkinan menang.

“Kau tega Renard!” kata Popo dan Alynna bersamaan. Tapi mereka tidak melihat, betapa terlukanya hati Renard. “Apa kalian ingin menyia-nyiakan pengorbanan Ludo dan Albert! Kau harus mengingat takdirmu!” kata Lyaann tiba-tiba. “Mereka akan terus ada di hati kita, maka kita harus maju! Jangan sampai mereka sia-sia!”

Maka keempat orang yang tersisa maju menerjang gerbang St Pierrantasia Bakery, dengan kenangan akan Ludo dan Albert di hati mereka. “Kalian tak akan kami lupakan!” teriak Renard, Alynna, Popo, dan Lyaann di dalam hati.

Oh, aroma yang tak terkira lezatnya membahana di istana kenikmatan itu. Coklat! Vanilla! Jeruk! Dan ribuan kombinasi aroma tak terlukiskan mengalun. Diiringi etalase kaca bagai kristal jernih yang dipenuhi aneka warna. Warna permata kenikmatan, yaitu cake dan bakery tak terlukiskan lezatnya.

Alynna tanpa sadar maju mendekati salah satu etalase kaca. Jangan Alynna! Teriak yang lain. Tapi aroma dan kilauan harta memang memiliki efek tak terkira pada mereka yang tak siap.

“Ingat takdirmu! Kamu harus membeli Cake Strawberry!”

Tapi Alynna tidak mendengarnya. Sebab jiwanya terbujuk oleh iblis penggoda. Cake coklat! Oh betapa nikmat terlihat, betapa menggoda aroma. Perlahan Alynna berjalan mendekat, tak mempedulikan suara sahabat-sahabatnya. Tangannya tanpa sadar terulur, berusaha meraih penggoda berlapis kilauan manis beraroma.

Sesuatu yang tak terkira terjadi. Popo meloncat maju! Seakan dalam gerakan lambat, Renard dan Lyaann hanya bisa terpana.

Popo mengorbankan dirinya.

POPO!!!! teriak Alynna yang telah tersadar. Demi takdir mereka, popo mengorbankan dirinya. Gadis/Pemuda imut itu meraih kue coklat penggoda dan mengunyahnya!

Betapa besar jasamu, Popo! Alynna jatuh berlutut dan tersedu, mengutuki kelemahan dirinya. Popo terpaksa mengorbankan dirinya dan memakan kue coklat itu, dia harus membayarnya dengan uangnya sendiri. Dengan berlinangan air mata, ketiga petualang yang tersisa maju.

Awalnya mereka bertiga. Kini mereka kembali bertiga. Takdir yang mempertemukan mereka. Takdir pula yang memisahkan mereka. Dan takdir yang membawa mereka tiba di sini.

Sang koki sekaligus kasir. Sang pemilik St Pierrantasia Bakery. Jubah putihnya menjulang di hadapan mereka. Topi tingginya mengancam, spatulanya berkilauan. Suaranya bergema bagiakan suara ribuan butir gula, dan strawberry, dan vanilla, bagaikan aliran susu dan coklat cair penuh aroma.

“Mau pesan apa?” tanyanya.

Alynna bergetar. Inilah takdirnya. Dia mengingat semua yang telah dilaluinya untuk sampai ke sini. Semua petualangannya. Pengorbanan teman-temannya. Ludo… Albert… Popo… Pengorbanan kalian tidak sia-sia…

“Strawberry Cake satu.”

Bagaikan mukjizat para dewa, sang koki menggerakkan tangannya. Dengan satu gerakan mulus, dia membuka etalase bercahaya. AH! Aroma yang keluar, nyaris tak tertahankan. Uap dingin mengembus keluar, bergulung bagai kabut, dan jatuh di lantai yang berkilauan. Cahayanya menyilaukan, bagaikan cahaya sang dewa pencipta sendiri.

Potongan itu! Potongan utuh. Dimasukkan ke dalam kotak dengan segel St Pierrantasia yang termahsyur di seluruh benua.

Cake Strawberry kini berada di tangannya….

Tapi sesuatu yang tak terkira terjadi. Setelah Alynna memberikan uang untuk membayar dan cake itu diambil oleh Renard, terdengar suara.

“Serahkan cake itu.”

Lyaann! Ternyata dia pengkhianat! Renard dan Alynna terkesiap! Mereka sama sekali tak menyangka. Benar-benar sama sekali tak menyangka kalau Lyaann akan mengkhianati mereka di akhir petualangan. Lyaann menodongkan busurnya kepada Alynna dari jarak dekat. Alynna tak akan sempat merapal mantera. Dan Renard tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua tangannya membawa kotak cake besar itu sementara pedangnya tersampir di pinggang.

“Lyaann!! Apa maksudmu! Apa kau melupakan pengorbanan Ludo! Albert! Popo! Kukira kau sahabatku!” kata Renard dengan air mata berlinang. “Seharusnya kita berbagi cake itu dengan ceria!”

“Hah! Jangan bercanda. Aku tidak akan puas dengan sebagian! Aku ingin semuanya! Semua cake ini milikku”

Oh! Godaan cake itu ternyata begitu besar. Ternyata sejak awal Lyaann memang ingin merebutnya, saat semua mengira petualangan sudah berakhir. Pemanah tampan itu seorang musuh dibalik selimut.

Tanpa pilihan lain, Renard terpaksa menyetujui. Tapi saat Lyaann bersiap membawa kotak cake itu, barulah Renard berteriak kepadanya. “Kau tidak menyadari, ada kesalahan fatal pada rencanamu! Kalau kau membawa kotak kue itu, kau tidak bisa menarik busur!”

Lyaann mengumpat. Dia tidak menyangka ada lubang pada rencana besarnya! “Kalau begitu, aku terpaksa harus mengalahkan kalian dulu!”

Lyaann mencabut busurnya. Renard mencabut pedangnya. Sementara Alynna terduduk di tepi, terkoyak hatinya. “Lyaann… Renard… jangan bertarung…”

Petir menyambar di luar. Badai bergemuruh. Tapi badai di dalam St Pierrantasia Bakery bergelora lebih dahsyat. Kedua sahabat, yang ternyata terikat takdir kejam. Awalnya mereka bermusuhan. Lalu mereka bersahabat bagaikan teman sejak lahir. Tapi kini, takdir memaksa mereka bertarung.

“Sayang sekali Renard. Padahal aku benar-benar menganggapmu sahabat!” kata Lyaann di tengah-tengah pertarungan. “Kau sebenarnya teman terbaikku!” katau Renard juga sembari mengayunkan pedang. Tapi Cake Strawberry ada diantara mereka.
Keduanya seimbang. Keduanya tangguh. Mereka bertarung dengan latar belakang kematian. Kalau ada yang melihat, mereka akan merasa ratusan penyanyi opera dan orkestra kerajaan ada di situ, bernyanyi, bermusik sebagai latar belakang pertarungan epik mereka. Pertarungan yang mengakhiri sebuah petualangan besar. Pertarungan yang begitu menyedihkan.

Lyaann meluncurkan panahnya, tepat saat Renard terjatuh dan tidak bisa menghindar. Renard mengira hidupnya akan berakhir. Tapi Alynna menghalangi. “Renard!”

Sesaat mereka mengira panah menancap di tubuh Alynna. Tapi tidak! Liontin warisan keluarga Alynna, yang tidak ada yang tahu kalau dia selalu memakainya sejak awal, ternyata menyelamatkannya! Liontin itu terjatuh ke lantai.

“…tidak mungkin…” Lyaan mengeluarkan liontin di sakunya. Liontin yang sama.

“Lyaann… kau kakakku yang hilang!” kata Alynna. Begitu jelas! Kenapa mereka tidak sadar sejak awal!? Lyaann dan Alynna adalah anagram dari huruf-huruf yang sama! Itu menjelaskan takdir mereka, dan obsesi Lyaann terhadap cake strawberry itu. Belum lagi warna mata mereka yang serupa.

Lyaann terduduk. Sementara suara suci begema di bakery itu.
“Perhatian-perhatian. Bakery akan tutup sebentar lagi. Diharap para pengunjung segera menyelesaikan transaksi.”

Lampu-lampu mulai dimatikan. Pintu-pintu mulai ditutup. Renard berlari menyambar kotak cake strawberry dan Alynna. Mereka tidak akan sempat!

“Kalian pergilah!” kata Lyaann. “Aku akan menahan pintu ini!” Sebelum Alynna dan Renard sempat protes, Lyaann menendang mereka. Tepat sebelum pintu yang ditahannya tertutup.

“LYAANN!!!” teriak mereka berdua. Tetapi mereka belum lolos. Mereka harus berlari dengan sekuat tenaga, melewati pintu-pintu yang menutup. Lebih dari sekali mereka berdua nyaris tidak berhasil lewat. Sampai pintu terakhir. Saat itu Renard menyadari, satu-satunya kemungkinan lolos.

Dan Alynna teringat. Satu ramalan takdir yang tidak diberitahunya pada siapapun. Tapi Renard tahu.

Renard melempar kotak cake dan Alynna. “Penuhi takdirmu!” teriakan terakhir Renard terdengar.

“TIDAK RENARD!” kata Alynna. Diluar dugaan siapapun, Alynna mengganjal pintu terakhir dengan kotak cake strawberry. Saat Renard masih terkesima, Alynna menariknya. Pintu terakhir tertutup saat mereka berhasil lewat. Kotak kue itu hancur.
“Cake Strawberrynya…. Takdirmu… Takdir kita…” kata Renard.

“Tidak Renard… ada yang lebih penting dari takdir para dewa…”

Hujan telah berhenti dan bulan purnama bersinar indah di langit Rune Midgard yang penuh bintang. Mereka saling berpandangan selama beberapa saat, dibawah sinar perak rembulan, diatas permadani kehijauan yang mengeluarkan aroma kehidupan.

“Mimpi dan Harapan umat manusia… Kita akan membuktikan kalau kita bisa berpetualang tanpa harus memenuhi takdir para dewa.”

Dibawah sinar bulan yang keperakan mereka berciuman.

One Cake to rule them all, One Cake to find them,
One Cake to bring them all and in the sweetness bind them
In the Land of Midgard where the Strawberries lie.

TAMAT
…………



Epilog.



Setelah dipukuli orang yang mengantri dan diserahkan ke satpam, Ludo dan Albert keluar dengan luka-luka ringan dan tangan dibebat gips.
Popo agak kekenyangan dan uangnya habis, tapi dia keluar dengan selamat.
Saat pemilik toko menyadari kalau ada pengunjung yang tertinggal, dia membuka pintunya dan membiarkan Lyaann keluar.
Cake Strawberrynya ternyata lebih kuat dari perkiraan. Meskipun penyok, tetapi cake itu masih bisa dimakan.

Iklan

Read Full Post »