Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2007

Kerjaan Kuliah

Saya kuliah desain produk tapi setelah saya pikir-pikir, saya belum pernah menuliskan apapun tentang kerjaan kuliah saya ya?

Saya tidak menyesal kuliah di sini, meskipun I’m having one hell of a time here. Meskipun terkadang saya merasa sedikit… penasaran, apa yang terjadi kalau saja saya mengambil major ilmu komunikasi di UGM dulu. Tentu saya sekarang terus merasa sepertinya kuliah di sana jauh lebih mudah dan menarik (apalagi setelah saya tahu teman saya yang… sebenarnya saya sudah janji mau kuliah di sana bareng… sekarang sedang berada di jepang untuk studi). Tapi saya yakin saya juga akan merasakan hal yang sama tentang desain produk ITB, apabila saya dulu memutuskan untuk kuliah di UGM. Jalur lain selalu terasa lebih lancar apabila jalur yang sedang kita lewati sedang macet.

Satu-satunya hal yang benar-benar saya sesali adalah bagaimana saya mengulang beberapa mata kuliah major tahun pertama dulu. Kalau saja saya tidak berbuat bodoh dan gagal di mata kuliah-mata kuliah penting itu, saya yakin hidup saya akan benar-benar berbeda dalam banyak hal.

Inti utama kuliah di desain produk tentu saja adalah mata kuliah studionya. Mata kuliah studio adalah kuliah utama desain, mengambil sebagian besar waktu dan SKS, dan tempat dimana kita diharapkan menggunakan semua hal yang telah dipelajari sejauh kuliah berlangsung. Semua mata kuliah studio saya sejauh ini memiliki pola yang sama. Tak ada ide untuk beberapa saat, merasa mendapat ide yang bagus, terlambat mengerjakan karena satu dan lain hal, dan mendapat nilai yang mengecewakan pada akhirnya meskipun awalnya saya yakin ide saya benar-benar menarik. Saya merasa ide saya selalu menarik, tapi saya kekurangan waktu dan kemampuan teknis. Sejauh ini, kuliah studio yang sudah saya lakukan adalah…

Studio 1 aka hal-hal tentang konstruksi dan semantika dasar. Intinya ada 2 tugas. Membuat benda yang mampu menahan beban cukup berat hanya menggunakan corrugated paper (kertas karton) dan model botol parfum yang memberikan image tertentu menggunakan gips. Saya bergidik mengingat semester itu, dan demi kebaikan semua orang, sebaiknya saya tidak mengingatnya lebih lanjut. Pokoknya saya membuat benda untuk membawa monitor komputer, dan botol parfum dengan image aktif dan galak, dengan image bentuk serigala.

Studio 2 aka studio yang selalu saya sesali hingga saat ini. Sebenarnya studio 2 adalah studio yang benar-benar menarik. Tetapi karena ketololan saya seperti biasa saya tidak memanfaatkannya dengan sepenuh hati.

Studio 2 memiliki 2 tugas tema teknologi dasar, yaitu sifat bahan dan perubahan gerak. Dengan kata lain, saya boleh membuat APA SAJA asal menggunakan sifat bahan tertentu, dan perubahan gerak (dengan kata lain cogs and gears). Bayangkan semua hal
menarik yang bisa saya buat. Saya malah membuat 2 benda gagal, yaitu kompor lipat tenaga matahari yang menyedihkan dan alat penyapu lantai yang tidak selesai. Saya tidak sampai hati untuk mengambil dua tugas saya itu dari tempat penyimpanan di kampus. Biarlah dua benda itu menjadi bagian dari mimpi saya yang terlupakan.

Studio 3 yang sedang saya kerjakan saat ini memiliki tema bekerja dengan industri kecil. Dan seperti biasa, saya mulai melakukan hal-hal menyedihkan, padahal semua hal terus berusaha mendukung saya. Saya akan mencoba menulis lebih banyak mengenai tugas saya kali ini lain kali… Saya hanya bisa bilang kalau saya berusaha membuat mainan kayu.

Yang kurang dari semua tugas studio saya adalah… dukungan moral, saya kira. Kalau saja saya tidak dalam fase depresi dan memiliki teman yang mendukung, memberi ide, dan semangat, saya kira saya akan jauh lebih berhasil. Kalau saja saya mengambil mata kuliah studio 1 tahun lebih cepat dari yang sekarang….

Iklan

Read Full Post »

Passage of Time

I really should have another blog just for personal emotional rants. I really didn’t want to turn this blog into some kind of self-loathing emotional journal. Oh well.

Alasan adanya gap-gap dalam pengisian writing blog ini adalah, saya tidak ingin mengisi blog ini dengan curhatan-curhatan mengasihani diri sendiri. Saya sering ingin menulis rant di sini, tapi saya selalu menahan diri. Jadi kalau ada masa kosong, itu artinya saya sedang dalam fase menyebalkan.

Saya suka berpikir tentang banyak hal. Tetapi saya terutama terobsesi secara filosofis maupun fisik terhadap dua hal. Waktu dan Mimpi. Sebagian besar depresi saya berhubungan secara langsung maupun tak langsung dengan kedua hal itu. Tapi kali ini saya ingin menulis sedikit tentang obsesi saya terhadap waktu.

Saya selalu dibilang suka membuang-buang waktu. Sejujurnya, itu memang benar. Tapi anehnya (atau seperti biasa, kontradiksinya), saya sebenarnya selalu berpikir tentang waktu dan perjalanan waktu.

Saya selalu membuat rancangan penggunaan waktu dalam hati, berusaha melakukan banyak hal sekaligus dalam satu hari, minggu, atau bulan dan berusaha membuat rancangan kasar seefisien mungkin. Saya tidak membuat jadwal, saya hanya membuat daftar apa yang harus saya lakukan dan mengatur urutannya seefisien mungkin. Meskipun pada akhirnya 99% rencana tersebut tidak terlaksana. Hal itu selalu membuat saya membenci diri saya sendiri dan kelemahan kekuatan pikiran saya. Atau sebenarnya itu hanya alasan untuk membuat saya tidak terlalu merasa bersalah atas banyaknya waktu yang saya buang-buang?

Hal yang selalu saya pikirkan adalah bagaimana waktu berjalan seperti anak panah dan tidak bisa kembali. Saya sering tidur dan bermimpi kalau saya tidak tidur dan membuang-buang waktu dengan percuma.

Ada satu lagu yang selalu ada dalam pikiran saya. 100 Years dari Five for Fighting. Lagu itu menggambarkan dengan tepat hal yang selalu berputar-putar di dalam kepala saya.

Saya selalu merasa gagal, karena apa yang saya lakukan sekarang berbeda jauh dengan bayangan saya setahun, dua tahun, lima tahun, dan sepuluh tahun yang lalu. Entah kenapa, setiap saya memikirkan tentang perjalanan waktu, saya selalu merasa masa lalu saya lebih baik dari masa sekarang. Bulan lalu lebih baik dari bulan ini, tahun lalu lebih baik dari tahun ini, dan seterusnya. Saya jadi takut akan apa yang terjadi bulan depan, tahun depan, dan satu dekade di depan. Benar-benar menggelikan, mengingat semboyan saya dulu, ‘urusan besok pikirkan besok.’

Khusus untuk bulan ini, saya kembali berada di dalam fase down yang menyebalkan. Alasannya (atau akibatnya) adalah, saya merasa waktu satu bulan ini berlalu tanpa terjadi apa-apa. Dan seperti biasa, semua rencana saya untuk liburan ini berantakan.

Demi Tuhan saya benar-benar benci perasaan itu. Dan itu sering sekali terjadi. Saya sering melamun, pondering about the universe and everything in it, dan saya sadar saya tidak melakukan apa-apa. Itu membuat mood saya jatuh. Dan saat mood saya jatuh saya semakin banyak berpikir. dan seterusnya. Saya sulit melakukan sesuatu saat mood saya jatuh, dan tidak melakukan sesuatu membuat mood saya jatuh.

Saya tidak bisa menulis terlalu jelas saat saya sedang berada dalam mood seperti ini. Kalaupun saya menulis lebih lanjut intinya akan tetap self-loathing dan emotional rant nggak jelas, jadi saya kira saya sementara menulis sampai di sini.

Oh god… Why wouldn’t I accept my fate and just introduce myself as an emo already…

Read Full Post »

You need to know when it’s time to leave.

People often said “It’s better to went down in one blaze of glory (or just in flame, it’s just the same) than slowly rotting away.”

It’s true.

But of course, if you knew when it was the time, you didn’t need to burn.

It rings for all sense and context.

And nothing is sadder than

Coming back

after you previously left with your head high and your pride full.

Only to leave again later with your heart broken into pieces.

Read Full Post »

My Creative Phase

Really, ternyata selama bertahun-tahun ini, kegiatan kreatif dan overall fase college work saya tidak berubah. Meskipun saya selalu pontang panting pada tiap tengah dan akhir semester, dan berjanji kepada Tuhan dengan Sepenuh Hati ™ untuk tidak mengulanginya lagi, saya tetap mengulangi semua wacky hijinks yang saya lakukan setiap tahun.

Dan untuk fase kreatif, setelah saya perhatikan saya memang punya fase kreatif yang khas. Ini berlaku untuk tugas kuliah, gambar, dan tulisan saya.

1.Deadline dan Tujuan.

Sebenarnya bukan fase, tapi semacam filosofi kerja. Semakin bebas deadline dan tujuan saya, semakin lamban, dan buruk, pekerjaan saya. Saya butuh deadline dan tujuan.

Kalau saya memiliki tujuan tertentu, saya bakal terbakar semangat. Apalagi kalau tujuan itu berhubungan dengan orang lain. Saya tidak ingin mengingkari janji atau membuat orang lain kesulitan atas perbuatan saya.

Itu sebabnya, kalau saya bekerja bersama kelompok yang bisa mengerjakan semua sendiri tanpa bantuan khusus dari saya, saya akan kehilangan produktivitas. Saya perlu dibutuhkan oleh orang lain, kalau mengambil istilah teman saya, superhero syndrome.

2.Fase Depresi Pra Kerja.

Kurang lebih fase default, sebelum kerja, saya akan masuk ke fase melankolis dan overall merasa saya tidak pantas hidup atau berkarya di dunia ini. Fase tidak punya ide.

3.Fase Terbakar Semangat

Kalau akhirnya saya berhasil mengumpulkan energi dan kekuatan pikiran untuk mulai bekerja, saya akan bekerja seperti gila. Well, atau mungkin hanya karena deadlinenya sudah dekat. Intinya, saya tiba-tiba akan bekerja terus menerus, mendapat inspirasi inspirasi entah dari mana, dan overall menyesal kenapa saya tidak bekerja dari dulu.

Saya ingat, saya bisa dengan mudah mengerjakan beberapa artikel atau cerita sekaligus dalam semalam kalau saya sudah berada dalam fase ini.

Sembari bekerja, saya akan merasa saya mengerjakan sebuah masterpiece…

3.Fase Kritis aka Depresi Paska Kerja

Beberapa menit atau jam setelah selesai bekerja, saya akan merasa hasil kerja saya adalah sampah menyedihkan yang tidak pantas ada di muka bumi yang indah ini.

4.Fase Back to Normal.

Beberapa jam atau hari kemudian, saya akan merasa hasil kerja saya tidak seburuk itu, kok, meski bukan sebuah masterpiece. Dan saya akan mulai berpikir dan bermalas malasan sebelum kembali ke fase awal.

Terjadi setiap saya bekerja, apapun pekerjaan saya. Dengan sedikit variasi di jumlah depresi pra dan paska pengerjaan.

Read Full Post »

Dompet

Cerpen untuk anak.

Dompet

Dompet itu tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Adit menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepertinya orang-orang yang berlalu lalang tidak ada yang melihat dompet itu. Udara yang panas membuat orang menjadi terburu-buru. Adit menelan ludah dan membungkuk untuk mengambil dompet itu.

Dompet itu hanya dompet kulit biasa yang sudah tua dan jelek. Tidak ada yang khusus atau yang istimewa. Tapi saat Adit mengintip ke dalamnya, dia melihat selembar lima puluh ribuan! Tidak ada apa-apa lagi di dalam dompet itu selain selembar kertas bertuliskan alamat yang tidak dikenal Adit.

Aditpun berpikir sejenak. Apa mungkin ini alamat pemilik dompet itu? Tapi alamat itu cukup jauh. Dan kalau tabungannya dijumlahkan dengan uang dalam dompet ini, akhirnya uangnya akan cukup untuk membeli radio control yang dia idam-idamkan.

Jadi setelah memastikan tidak ada orang lain yang melihatnya, Adit memasukkan dompet itu ke dalam tasnya dan melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan hati Adit berdebar-debar. Dia tidak sabar ingin segera sampai ke rumah. Setiap dia melewati kedai yang menjual es krim atau jus buah, adit menelan ludah. Di siang bolong yang terik seperti ini pasti enak sekali minum jus. Tapi adit memantapkan pikirannya. Uang ini untuk beli radio control idamannya.

Tapi, dipakai sedikit sepertinya tidak apa-apa, pikir Adit. Jadi dia mendekat ke salah satu kios yang menjual es krim. Tapi siapa itu? Rasanya adit pernah melihat orang berkacamata hitam itu? Orang itu terlihat sedang bertanya kepada penjual es krim. Kemudian dia keluar dan menoleh ke kiri dan ke kanan.

Ah iya! Orang itu tadi terlihat di dekat tempat Adit menemukan dompet! Hanya kebetulan, pikir adit. Aditpun melanjutkan perjalanannya.

Beberapa menit kemudian, Adit melewati tokomainan langganannya. Adit mendekat ke etalasenya. Sebentar lagi radio control idaman itu akan menjadi miliknya. Tapi sebelum Adit tiba di toko itu, langkah kakinya berhenti. Orang berkacamata hitam yang sedang berdiri di sebelah kios majalah itu, bukannya orang yang dilihatnya tadi? Masa sih mereka berpapasan lagi?

Adit merasa orang itu mengamatinya. Tiba-tiba orang itu berjalan ke arahnya. Adit berbalik arah dan berjalan lebih cepat. Mungkin hanya kebetulan, pikir Adit. Tapi apa mungkin orang itu pemilik dompet ini? Ah, tidak ada buktinya, pikir Adit. Tidak ada surat identitas di dompet itu. Dompet itu hadiah dari Tuhan untuk membantunya membeli radio control idamannya.

Aditpun tiba di persimpangan jalan. Rumahnya sudah semakin dekat. Adit melambatkan kakinya dan menghapus keringat di wajahnya. Dan dia kembali berjalan dengan santai. Dia melihat ke etalase kaca rumah makan padang yang dilewatinya. Ah, enaknya kalau sudah sampai di rumah. Nanti aku akan makan yang banyak sebelum pergi ke toko mainan.

Adit berhenti sejenak. Sepertinya seseorang yang dikenalnya terpantul di kaca. Orang yang sedang minum the botol di seberang jalan itu, itu orang berkacamata hitam yang tadi! Ini tidak mungkin kebetulan, pikir Adit.

Orang itu selesai minum teh botol, dan melihat Adit di seberang jalan. Adit melihat dari pantulannya kalau orang itu berjalan mendekatinya. Tanpa pikir panjang adit lari.

Tadi orang itu mengeluarkan dompetnya sendiri untuk membayar the botol. Berarti sepertinya ini bukan dompetnya. Tapi kenapa orang itu terus mengikutiku? Adit berpikir sembari mengambil nafas di ujung gang dekat rumahnya.

Apa mungkin dia mengenali dompet itu sebagai dompet temannya? Tapi dompet itu sama sekali tidak memiliki ciri khusus.

Berarti satu-satunya kemungkinan adalah, orang itu menginginkan alamat yang ada di dompet. Jangan-jangan orang itu perampok, dan alamat itu adalah alamat tempat persembunyian hasil rampokannya? Mungkin dia menjatuhkannya secara tidak sengaja dan sekarang ingin mendapatkannya lagi.

Atau jangan-jangan, orang anggota gerombolan pencuri itu sudah berjanji dengan temannya. Temannya berpura-pura menjatuhkan dompet yang berisi alamat tempat bersembunyi mereka di tempat tertentu, dan orang berkacamata hitam itu harus mengambilnya. Tapi sebelum dia sempat mengambilnya, Adit telah mengambilnya duluan! Kalau orang itu menangkapku, pasti aku akan diculik! Sebab aku sudah mengetahui tempat rahasianya!

Adit menoleh ke belakang. Syukurlah orang itu tidak kelihatan lagi. Rumahnya tinggal beberapa meter lagi. Aditpun berjalan dengan santai.

Jantung adit serasa berhenti berdetak. Di depan rumahnya, itu orang berkacamata hitam tadi! Dia sudah tahu alamat rumahnya dan kini sedang menunggunya. Adit berjalan mundur. Apa yang harus dia lakukan?

Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Itu ayah! Adit segera berlari ke rumahnya tanpa mempedulikan orang berkacamata hitam itu. “Ayah! Tolong aku. Aku dikejar perampok karena menemukan dompet berisi alamat markas rahasia mereka! Ayah Adit hanya menatapnya dengan heran. Dan, kenapa orang berkacamata hitam itu malah mendekat?

“Apa maksudmu,Dit?” Tanya orang berkacamata hitam itu. “Mana perampok yang mengejarmu?” Orang itu membuka kacamatanya dan melihat ke kiri dan ke kanan.

Adit merasa mengenalnya. “Kak Agus?” tanyanya. Itu sepupunya yang sudah beberapa tahun tidak bertemu dengannya.

“Wah, kamu masih kenal aku ternyata.” Kata kak Agus. “Dari tadi aku mencari alamat rumah ini tapi nggak ketemu-ketemu. Sudah 5 tahun sih. Waktu aku melihatmu, aku pikir, ini mungkin Adit. Tapi tiap kudekati kamu malah lari.”

Adit tertawa. Pantas saja orang itu terlihat terus di sepanjang jalan menuju rumah.

“Adit,” kata ayah. “Kak Agus bawa hadiah untuk ulang tahunmu bulan lalu. Berterima kasih dong?”

Adit menatap tidak percaya. Itu radio control idamannya! “Terima kasih kak Agus!” seru adit dengan gembira. Dan Adit bergegas membuka pembungkusnya. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Ayah, nanti temani aku ya? Aku mau mengantar dompet yang kutemukan di jalan.”

Read Full Post »

Hmm.. Semacam pilot episode untuk rencana serial dongeng anak-anak. Karena belum jelas, makanya belum ditaruh di kategori sendiri, hahah.

Andi dan Kapten Jenggot Biru

Andi sudah lama bercita-cita ingin menjadi pelaut. Bukan sekadar nelayan seperti ayah dan kakeknya. Andi ingin naik kapal yang besar, melihat lautan lepas tak berujung, dan singgah di tempat-tempat yang belum pernah didengarnya.

Desa tempat tinggal Andi adalah desa kecil di tepi pantai. Sebagian besar penduduknya nelayan. Semua belum pernah pergi lebih jauh dari kota tetangga dibalik bukit. Tapi Andi ingin melihat peri, naga, dan raksasa.

Karena itu begitu dia cukup besar, dan ada kapal dagang kurcaci yang singgah di desanya, Andi langsung mendaftarkan diri untuk menjadi pelaut di sana.

Tapi kini Andi terapung dalam sebuah tong kayu.

Baru sehari perjalanan, kapal itu diserang badai. Andi yang tidak beruntung terseret oleh ombak. Dia hanya sempat meraih sebuah tong apel. Andi hanya bisa melihat dengan sedih saat kapal kurcaci itu terseret angin dan menjauhinya tanpa daya.

Setelah tiga hari hanya makan apel dan minum air hujan, Andi mulai bosan. Dan khawatir kalau-kalau dia akan terapung seperti ini selamanya. Selama tiga hari tak terlihat apapun di laut. Karena itu dia sangat kaget saat dia mendengar suara.

“Kapten, kita mendapat tangkapan aneh!”

Sebelum Andi sadar, dia merasa tong tumpangannya melayang di udara. Dalam sekejap dia sudah berada di dek sebuah kapal yang baru dilihatnya.

“HAH HAH HAH” terdengar suara tawa menggelegar. “Ada anak pemberani yang berlayar dalam tong apel!”

Andi dikeluarkan dari tong dan dikelilingi oleh rombongan aneh. Andi belum pernah melihat rombongan seunik ini sebelumnya. Ada manusia, kurcaci, dan orang kerdil. Bahkan sepertinya ada mahkluk setengah peri. Semuanya memakai baju yang lebih unik dari baju pelaut biasa.

Ada yang memakai baju dari perca aneka warna. Ada yang memakai tutup mata dari kulit penyu. Ada yang memakai ember sebagai topi.

Kapal itu besar dan meriah. Ada tong dan peti berwarna warni. Ada meriam dan jala. Ada juga tali panjang, tempat baju-baju dijemur berkibar. Berdampingan dengan layar dan senar.

Tapi yang paling menarik. Ada patung jagung besar. Bertengger dengan tenang di ujung haluan.

Lalu Andi melihat ke atas. Dia melihat bendera hitam. Andi langsung sadar, ini kapal bajak laut! Sewaktu kecil dia sering mendengar cerita kakeknya. Mengenai bajak laut yang kasar. Mereka senang mencari harta karun. Dan suka memaksa orang berjalan di atas papan. Untuk diceburkan ke laut.

“Ampun tuan bajak laut,” Kata Andi. “Jangan ceburkan saya ke laut, ambil saja semua apel yang saya punya.”

“HAH HAH HAH HAH HAH”

Suara tawa menggelegar itu terdengar lagi. Dibarengi oleh berbagai jenis tawa lain.

“Kami punya cukup apel untuk sebulan, anak kecil,” kata suara menggelegar itu.

“Sekarang siapa namamu? Dan bagaimana kamu bisa ada dalam tong?” Suara itu berasal dari seorang bajak laut bertubuh besar. Sebelah tangannya digantikan sendok besar bengkok dan sebelah kakinya terbuat dari kayu. Satu matanya ditutupi kain hitam bergambar jagung. Tapi yang paling menarik perhatian adalah jenggot lebatnya yang panjang dan berwarna biru, seperti rambutnya yang lucu.

Andi masih ketakutan, tapi dia mulai bercerita. “Tuan bajak laut, nama saya Andi, dan saya berasal dari desa Gelundung. Saya bercita-cita ingin menjadi pelaut. Tapi saat saya naik kapal kurcaci, saya terseret ombak bersama satu tong apel.”

“Dan sepertinya kamu sudah bosan dengan laut sekarang?” bajak laut besar tadi tersenyum nakal. “Yah, biasanya kami membawa anak sepertimu ke sirkus untuk dijadikan pembantu badut atau asisten penjinak singa. Tapi kami sedang bosan dengan sirkus. Dan kebetulan kami sedang berlayar ke arah desa Gelundung. Jadi kami akan menurunkanmu dekat sana.”

Tapi Andi langsung berdiri dan memohon.

“Jangan kembalikan saya ke desa Gelundung, tuan bajak laut. Kalau saya kembali, pasti ayah saya akan melarang saya untuk pergi lagi. Saya masih ingin berlayar, melihat peri, naga, dan raksasa! Tapi jangan jual saya ke sirkus, sebab nanti saya akan dipaksa menjadi badut atau membersihkan kandang singa. Sehingga saya tidak bisa berlayar juga!”

Para bajak laut itu kaget dengan jawaban Andi. Kemudian mereka semua tergelak-gelak karena jawaban itu.

“Kita mendapatkan anak aneh yang pemberani, kapten!” kata salah seorang dari mereka.

“Apa kita jadikan umpan untuk memancing paus saja?” kata seorang lagi.

Sang kapten tertawa paling keras dan paling lama. “Sudah lama kami tidak bertemu anak sepertimu. Kalau saja kita berada di laut tenggara, aku akan menurunkanmu di kota terdekat. Kamu pasti bisa menumpang kapal dagang lain. Sayangnya kita sedang berada di tengah laut Barat. Tidak ada pelabuhan selain desa Gelundung sejauh berkilo-kilo”

Seorang bajak laut yang paling tua dan paling bungkuk berjalan mendekat. Sepertinya dia orang yang dituakan di kapal. “Kapten Jenggot Biru. Kapten ingat petugas pengepel dek kita? Dia memutuskan untuk berhenti melaut dan menjadi petani pisang minggu lalu.”

Andi mengangkat tangan dan berseru. “Saya bisa mengepel lantai. Bolehkah saya bergabung dengan kapal ini, tuan bajak laut? Asal saya diperbolehkan melihat gurita raksasa atau putri duyung.”

“HAH HAH HAH” Sang kapten menepuk punggung Andi. “Apa kamu berjanji kamu tidak akan kabur, atau tiba-tiba ingin bertani pisang? Atau rindu rumah?”

Andi mengangguk. Mungkin dia akan rindu ayahnya, tapi kelak dia akan pulang. Sebelumnya dia ingin berlayar sepuas hatinya.

“Ini bukan kebetulan. Kapal kita yang mengantar kita ke pertemuan ini. Mulai hari ini, kita mendapat anggota baru. Aku menamainya, Andi si Tong Apel!”

Dan semua bajak laut bersorak. “AYE KAPTEN!”

Kemudian mereka semua mengangkatnya. Ada pria dan wanita, manusia dan mahkluk ajaib. Semua berseru gembira. Bahkan Andi merasa si kapal ikut tertawa. “Selamat datang di kapal Jagung Terbang,” sorak mereka.

Andi menerima salam mereka semua dengan jantung berdebar. Dia bisa melihat laut biru luas di sekelilingnya, dan awan putih ringan mengapung di atas kepalanya. Dia menatap ke kejauhan, ke tempat desa Gelundung berada. Angin laut berhembus membawa aroma garam. Suara camar terdengar di telinganya. Dan petualangan berdesir di benaknya.

Andi memang selalu ingin menjadi pelaut. Bukan sekadar nelayan seperti ayah dan kakeknya. Dia ingin naik kapal yang besar, melihat lautan lepas tak berujung, dan singgah di tempat-tempat yang belum pernah didengarnya.

Tapi dia tidak pernah menyangka. Kalau kelak dia akan menjadi bajak laut.

Bersama Kapten Jenggot Biru dan kapalnya yang unik, Jagung Terbang.

Read Full Post »