Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2007

Sepertinya saya mulai ingin meneruskan cerita ini. Sementara ini, ada beberapa gambar yang saya buat sewaktu iseng.

meryll

Meryll :heart: :heart:

Digambar menggunakan (dan hanya menggunakan) microsoft paint. Turned out better than what I expected, dan gambar ini yang membuat saya kembali percaya diri untuk menggambar.

Once Poster

Poster untuk Once upon an adventure, hehehe. Tapi kayanya ga bakal sanggup/sempet ngewarnainnya sih.

Dan terakhir, meskipun sebenernya gambar yang udah dibuat berbulan-bulan yang lalu, versi super deformed dari cast Once Upon an Adventure.

Iklan

Read Full Post »

Lockpicking

Ya, saya memang punya begitu banyak pengetahuan yang tak berguna maupun semi tak berguna. Secara teori, saya mengetahui banyak hal mulai dari membuat dodol sampai melakukan trakeotomi, meskipun tentu saja apa yang bisa saya praktekkan mungkin hanya dibawah 1% dari teori-teori yang saya miliki (jangan, jangan sekali-kali mencoba mempraktekkan trakeotomi darurat).

Salah satu hal yang terus menjadi beban di hati saya, adalah Lockpicking, alias, kalau menurut deskripsi kamus, ‘kegiatan memanipulasi kuncian (lock) tanpa menggunakan kunci (key) yang khusus ditujukan untuk kuncian tersebut.

Alasan saya terus berusaha mempelajari seni membuka kunci ini adalah saya begitu sering kehilangan kunci. Tak terhitung berapa kali saya sampai di tempat kost pada tengah malam dan menemukan kalau kunci saya telah hilang entah dimana. Sesekali memang saya bisa bergadang di warnet atau tidur di rumah teman. Tapi jika sudah terlalu sering, itu mulai menjadi masalah.

Tentu saja pemecahan paling sederhana adalah menjaga supaya kunci tidak hilang, atau membawa kunci cadangan kemana-mana. Tapi tentu saja dua cara itu punya kelemahan sendiri (cara satu jelas sudah gagal, dan cara dua harus diikuti dengan premis saya tidak lupa membawa kunci cadangan dan saya tidak menghilangkan kunci cadangan itu).

Secara teori, lockpicking sangat mudah. Tapi memang mungkin keterampilan tangan saya saja yang kurang, atau memang saya tidak berbakat menjadi pencuri.

Di film-film, orang bisa membuka kunci dengan jepit rambut atau peniti. Sebenarnya MEMANG BISA! Tetapi, yang biasanya tidak dijelaskan adalah, seorang lockpicker harus menggunakan 2 ALAT untuk membuka kunci.

Ada banyak jenis kunci. Tapi kunci yang paling umum sekarang (dan yang terpenting, jenis kunci kamar kos saya) adalah jenis kunci yang disebut ‘tumbler lock’.

Bisa dilihat, mekanismenya sebenarnya cukup sederhana. Untuk membuka kunci ini tanpa menggunakan anak kunci, diperlukan TENSION WRENCH dan PIN

TENSION WRENCH adalah alat yang digunakan untuk ‘memutar’ kunci. Tension wrench bisa dari apa saja, yang penting cukup kuat untuk memutar kunci. Menurut artikel yang saya baca, yang termudah adalah menggunakan obeng minus yang dibengkokkan (sehingga tangkai obeng tidak mengganggu jalur masuk pick.

PICK adalah alat yang digunakan untuk menaik-naikkan pin. Ini juga bisa dari apa saja, yang penting cukup untuk masuk ke lubang kunci bersamaan dengan tension wrench, dan bisa digunakan untuk menaikkan pin. Pakai saja kawat atau jepit rambut.

Bisa dilihat dari gambar, cara membuka kunci jenis tumbler ini adalah menaikkan tiap pin ke posisi yang pas. Ya, cukup itu saja. Tanpa menggunakan anak kunci, caranya adalah sebagai berikut (saya hapal luar kepala karena kesederhanaannya dan seringnya saya mencoba tanpa hasil)

1.Masukkan tension wrench dan putar kunci ke arah yang semestinya dengan perlahan. Jangan putar terlalu keras. Di buku buku yang saya baca selalu ada kata-kata ini. “Firm yet gentle.” Meh.

2.Perlahan, masukkan pick dan geser sepanjang pin, untuk mengetahui jumlah pin yang ada dan mengira-ngira letaknya. Lalu mulailah mendorong pin ke atas mulai dari pin terjauh. Dorong perlahan sampai ‘terasa’ klik pertanda posisinya sudah tepat. Terkadang ada bunyi pelan juga.

3.Selesai. Lakukan hal diatas sampai semua pin sudah terdorong ke posisi yang sempurna, dan SEHARUSNYA kunci akan berputar. So simple.

4.Ada juga cara brute force. Cukup geser-geserkan pick di sepanjang jalur kunci dan berharap pada akhirnya semua pin tersusun sendiri. Cara ini sebenarnya bisa digunakan juga.

Begitulah. Tapi apa hari-hari terkunci di luar sudah selesai untuk saya? Sayangnya, saya belum pernah berhasil. Hm, mungkin hanya kurang latihan. Tahukah teori bahwa di saat darurat kemampuan manusia akan keluar semuanya? Mungkin saya harus mencobanya di gedung yang terbakar atau semacamnya.

Bagi yang tertarik untuk mempelajari lockpicking lebih lanjut bisa mulai di

http://www.free-lock-picking-guide.com

Read Full Post »

Tapi entah kenapa, tiba-tiba saya tergoda untuk mencoba main game online lagi. Saat ini saya masih mereka-reka game online gratis mana yang cukup menarik.

Game online terakhir yang saya mainkan secara cukup serius adalah Seal Online. Satu-satunya alasan kenapa saya berhenti main seal waktu itu adalah karena saya belum terlalu ‘hooked up’ waktu berhenti main teratur, sehingga saya mudah melepasnya.

Untuk sementara, saat ini saya sedang mulai main RO lagi. Yeah, Ragnarok Online, the bane of south east asian. Hanya diakibatkan adanya server gratis, dan ajakan seorang teman lama. Sekarang saya sedang berusaha membiasakan diri memainkan GUNSLINGER! Main sebagai gunslinger sebenarnya adalah semacam impian saya dari dulu, hehehe. Meskipun hampir gila karena mencoba membuat gunslinger sebagai karakter pertama di server baru, akhirnya sekarang saya sudah bisa mulai mengisi timah panas ke tengkorak monster-monster di Rune Midgard. Kalau level saya sudah cukup tinggi, saya baru akan mulai jalan-jalan lagi. Sementara itu, saya akan drooling di gambar-gambar senjata sambil mencoba memutuskan, tipe senjata apakah yang akan dipakai karakter saya ini sebagai senjata utama.

Komun Seinz

Meet Komun Seinz! (hehe, get it? Komun Seinz?)

Read Full Post »

Saudade (1)

What is saudade, you asked me?

just that longing reminiscence

that bitter feeling

for those sweeter times

that had gone by, elapsed, ended

spent

as past hope, past promise

past love

————
http://en.wikipedia.org/wiki/Saudade


Read Full Post »

Another Chtulhu Thingy

Well, yeah. What I love from Chtulhu Mythos is how human mind can’t comprehend about those elder things. I don’t like writers who try to over-describe them either moral/mentally or physically. The best thing of chtulhu mythos for me is, we can’t understand it.

Of course, except THIS one

http://www.neilgaiman.com/exclusive/shortstories/chulthhustory/

An inside view of Chtulhu’s unfathomable mind from our lovable Mr. Neil Gaiman.

Read Full Post »

Quote kalimat favorit saya dari seluruh karya-karya H.P. Lovecraft. Sulit membayangkan, bagaimana penguin, dan mahkluk di luar batas kewarasan manusia, bisa dihubungkan dalam satu kalimat. Begitu absurd. Begitu indah. Begitu… Lovecraftian. Kalimat lengkapnya adalah

“All this flashed in unison through the thoughts of Danforth and me as we looked from those headless, slime-coated shapes to the loathsome palimpsest sculptures and the diabolical dot groups of fresh slime on the wall beside them – looked and understood what must have triumphed and survived down there in the Cyclopean water city of that nighted, penguin-fringed abyss, whence even now a sinister curling mist had begun to belch pallidly as if in answer to Danforth’s hysterical scream.”

 

(Dari “At The Mountain of Madness by H.P. Lovecraft)

Yeah, Lovecraft memang cinta kalimat panjang.

 

Meskipun saya seekor bebek, saya pernah berteman dengan seekor penguin. Those are the days. Dan kalimat ini selalu mengingatkan saya pada dia. Pasti dia suka dengan kalimat ini juga, hehehe.

Read Full Post »

Webcomic

Saya suka baca webcomic, dan terkadang sering menemukan seri baru yang menarik tapi langsung lupa alamatnya keesokan harinya. Kenapa baru terpikir sekarang oleh saya untuk membuat list webcomic yang saya baca dan atau saya temukan di sini ya? Mudah dilihat, bahkan saya tak perlu login, dan mudah diedit. Setiap teringat komik baru tinggal ditambah saja.

RPG, and Games

http://www.giantitp.com

http://www.irregularwebcomic.net

http://www.pvponline.com

http://www.cad-online.com

http://www.vgcats.com

http://www.rpgworldcomics.com

http://www.goblinscomic.com

http://www.shamusyoung.com

http://www.weregeek.comicgenesis.com

http://www.myextralife.com

http://www.squidi.net/comic/

http://www.dungeoncrawlinc.com

http://www.nuklearpower.com

http://www.faans.com/

Fantasy

http://www.dominic-deegan.com

http://www.vanvonhunter.com

http://www.cheshirecrossing.net

http://www.forthewicked.net

http://www.get-medieval.livejournal.com

Random Philosophical Stuff With Cheese

http://www.xkcd.com

http://www.pbfcomics.com

http://www.alessonislearned.com/

http://www.creasedcomics.com/

http://www.wondermark.com

Sci-Fi

http://www.starslipcrisis.com

http://www.project-apollo.net/mos

http://www.arthurkingoftimeandspace.com

http://ant.comicgenesis.com/

Others

http://www.digitalpimponline.com/strips.php?title=movie

http://www.caseyandandy.com

http://www.questionablecontent.net

http://www.chugworth.com

http://www.drmcninja.com

http://www.tsunamichannel.com/

http://www.dubthis.net/

Banyak juga ya. Irregular webcomic termasuk sci-fi, games, atau other? Casey and Andy seharusnya sci-fi, cuma karena lama-lama sci-finya kurang jadi dimasukin others?.

Read Full Post »

Contraption of Hell

The Contraption of HellBloody Cube. Tidak menyombong, tapi saya selalu mengira saya punya kemampuan otak di atas rata-rata. Tapi sudah hampir seminggu saya mengotak-atik benda kurang ajar ini dan belum ada perkembangan sama sekali sejak hari kedua.Saya cuma bisa membuat satu sisi sama semua warnanya, dan hampir setengah sisi lainnya.

Ini memang pertama kalinya saya mencoba mengotak-atik rubik’s cube ini. Tapi ternyata tingkat kerumitannya memang luar biasa.

Bagaimana jika saya berpetualang dan terjebak di sebuah kuil misterius, dan satu-satunya cara untuk membuka pintu batu adalah memainkan teka-teki kubus ini? Kalau begini caranya saya bisa mati kelaparan sebelum berhasil.

Sebenarnya banyak situs yang membahas cara menyelesaikannya, nyaris seperti walkthrough. Cukup dihapal. Tapi kalau saya melihat walkthrough itu saya tidak akan ‘memahami’ caranya. Seperti mencontek saja. Jadi saya akan mencoba melihat situs-situs itu kalau saya sudah benar-benar frustasi. Mungkin.

http://en.wikipedia.org/wiki/Rubik_cube

Read Full Post »

Sepatu

Sebuah cerpen-dongeng. Seperti biasa didedikasikan untuk Neil Gaiman, kali ini untuk novelnya ‘Anansi Boys.

Sepatu

Hari itu seperti biasa aku berjalan kaki dengan terburu-buru menuju tempat kerjaku. Aku mengutuk jam beker yang entah punya dendam apa padaku sehingga mati sejam sebelum waktu seharusnya dia membangunkanku. Jam terkutuk. Memang kesiangan ataupun tidak kesiangan, aku selalu berjalan dengan langkah cepat, tapi hari ini moodku jauh lebih buruk dari biasanya.

Bukannya aku suka dengan pekerjaanku. Aku juga heran kenapa aku selalu datang pagi pulang petang seperti ini. Pekerjaanku adalah jenis pekerjaan yang bisa dilakukan simpanse yang dilatih menggunakan komputer dan menghitung. Ruang kerjaku pun sepertinya memang didesain untuk ukuran primata itu.

Bayangkan betapa inginnya aku membunuh saat seseorang menginjak sepatuku. Dan jenis injakannya adalah injakan kritis tepat di sisi sol sepatu yang bertepatan dengan momen aku sedang mengangkat kakiku. Jenis injakan yang merenggut bagian atas sepatuku dari solnya yang memang hanya disatukan oleh selapis lem murah menyedihkan.

Aku hampir melakukan tindak kriminal pertamaku, saat aku melihat bahwa orang yang menginjak sepatuku adalah seorang kakek-kakek pedagang asongan. Tapi memang itu salahnya, entah bagaimana dia berjalan dengan begitu santainya sampai-sampai dia tidak melihat kedepan.

Kejengkelanku sedikit berkurang karena kakek itu meminta maaf berkali-kali. Tapi maaf tidak membuat sepatuku tiba-tiba kembali baik.

“Kakek, sudahlah.” kataku setelah mencak-mencak tidak karuan dan menarik perhatian segerombolan orang kurang kerjaan. “Saya sudah terlambat kerja, dan maaf kakek tidak membuat saya tiba-tiba sampai di kantor dengan tepat waktu.”

“Maaf kakek merusak sepatu adik,” katanya entah yang keberapa kali. “Kalau cuaca cerah seperti ini kakek memang suka tidak memperhatikan jalan. Terlalu banyak hal menarik.”

Saat aku sedang berdebat di dalam hati apakah aku harus melanjutkan perjalanan ke kantor dengan sepatu rusak atau tanpa sepatu, kakek itu merogoh-rogoh tasnya.

“Sebagai permintaan maaf, kakek cuma bisa memberi ini. Memang tidak sebagus sepatu adik, tapi paling tidak adik bisa melanjutkan perjalanan dengan alas kaki.”

Bersamaan dengan itu, perdebatan di kepalaku berakhir dengan kesimpulan bahwa, meski tidak ada aturan berpakaian khusus di kantorku, aku tetap harus memakai sepatu di kantor. Karena itu dengan enggan aku memperhatikan sepatu pemberian kakek itu. Setelah melihat sepatu itu, aku mulai berdebat lagi.

Sulit menjelaskan bentuk sepatu itu. Atau mungkin secara fisik sepatu itu memang sepatu biasa, hanya imajinasiku yang berlebihan. Tapi yang jelas, itu bukan jenis sepatu yang pernah atau akan kupakai.

Sepatu itu bukan sepatu untuk dipakai pergi ke kantor. Orang yang memakai sepatu itu adalah orang yang diharapkan akan menari tap-dance atau berdansa di panggung. Sepatu itu tidak untuk dipakai melangkah biasa, mau tak mau penggunanya harus berjalan sembari menarik perhatian penonton.

Pengalaman terakhirku dengan penonton adalah muntah karena gugup saat dipaksa menyanyi dalam ujian seni musik sewaktu sekolah.

Yang jelas, aku belum pernah dan sampai hari ini, kukira tidak akan pernah memakai sepatu sejenis itu.

“Maaf kek, saya tidak bisa menerimanya,” kataku dalam berbagai arti.

Tapi kakek itu menekankan sepatu itu ke tanganku. Dia mendekatkan kepalanya ke sisiku, dan berbisik. “Tapi ini sepatu ajaib.”

Dia tersenyum, dan sebelum aku bisa memastikan apakah dia bercanda atau hanya ingin menggangguku, kakek itu sudah pergi.

Pragmatisme mengalahkan nostalgia masa sekolahku. Aku segera mengenakan sepatu itu dan melesat menuju kantor.

Benar saja, dalam perjalanan semua mata menatap ke arahku. Tepatnya ke arah sepatuku. Bahkan dengan baju pesta, sepatu itu akan menarik perhatian. Apalagi jika dipakai oleh orang dengan baju kerja. Kebanyakan orang tersenyum dan mengangguk kearahku. Sebagian hanya berbisik-bisik dan menunjuk. Sebagian bahkan dengan beraninya tertawa terang-terangan. Aku berusaha mengacuhkan mereka dan memfokuskan seluruh pikiranku untuk pergi ke kantor.

Tiba terlambat tidak membantuku mengurangi perhatian ke arah sepatu ini. Penjaga pintu kantor dengan jenaka tersenyum dan menyapaku. “Sepatu baru?” Seumur-umur baru kali ini dia berbicara kepadaku. “Ya,” kataku kesal, bosan dengan semua perhatian kepada sepatu konyol ini. Kalau dipikir-pikir, itu juga pertama kalinya aku bicara dengannya.

Setiba di ruangan kantor, aku menggigit bibir dan memaksa kakiku untuk melangkah menuju ruangan bosku yang terletak di jalur pandangan seluruh rekan kerjaku. Oh kenapa bosku tidak mengambil ruangan di sebelah gudang. Dan kenapa semua orang bukannya bekerja menatap komputer seperti pekerja kantor yang baik, tapi malah memperhatikan seorang rekan mereka yang terlambat dan datang dengan mencolok dari pintu.

“Maaf pak, saya terlambat.” kataku kepada bos yang sedang menghadapi tumpukan laporan entah apa.

“Ya, kita memang harus selalu disiplin.” katanya. “Ini keterlambatan pertamamu dalam… oh, bertahun-tahun.” entah kenapa aku curiga pikirannya tidak sedang tertuju kepada catatan kedisiplinan pegawai.

“Ngomong-ngomong, sepatu bagus,” katanya sambil nyengir. Aku tersenyum sopan sebelum meninggalkan ruangan itu.

Beberapa jam berikutnya aku terbenam dalam tumpukan angka-angka di bilik kerjaku. Tapi aku tahu beberapa orang sengaja lewat untuk menyapaku, hanya karena ingin melihat sepatuku lebih jelas. Aku merasa bahwa jam istirahat akan menjadi neraka.

Aku bukan orang yang ekstrovert. Aku jarang mengobrol dengan orang. Aku tidak suka mengobrol dengan orang. Liburanku juga biasa kuisi dengan main game atau menonton dvd di rumah, atau sekali-sekali nonton bioskop di luar. Aku tidak suka nonton bioskop bersama, untuk apa bayar mahal-mahal dan terganggu oleh percakapan?

Aku biasa menghabiskan jam istirahatku untuk merenung, memandangi wallpaper komputer, atau tidur setelah makan. Tapi selagi aku makan di kantin, aku tahu aku tidak bisa melakukan kebiasaanku hari ini.

Seingatku, baru kali ini aku pernah makan bersama lebih dari 4 orang selain saat makan malam keluarga.

“Hai.” kata seseorang.

“Halo.” kataku sambil tersenyum basa basi.

“Makan?” kata orang lain sambil meletakkan nampannya di sebelahku.

“Aku suka sepatumu.” kata seorang rekan yang namanya belum pernah kutanyakan.

“Bagus lho.”

“Lucu.”

“Kamu suka dansa?”

“Namamu siapa sih? Sudah lama kita sekantor kok aku lupa nama kamu?”

“Ngomong-ngomong, sebenernya kamu single atau sudah nikah ya? (disambung dengan tawa orang-orang).

Pada satu jam itu aku berbicara dengan lebih banyak orang dari yang biasa kuajak bicara selama sebulan.

Aku tersenyum saat seseorang bercerita tentang paman tuanya yang masih suka menari.

Aku bertukar kartu nama dengan banyak orang yang sebenarnya sudah duduk di kantor yang sama selama setahun lebih.

Saat jam istirahat usai, seseorang menepuk punggungku. “Malam ini ulang tahun Nita. Nanti datang ke restoran ya?”

“Oh, maaf, aku tidak bisa…”

“Sudah datanglah. Pasti menyenangkan.”

Aku tidak ingat kapan terakhir aku datang ke pesta. Apalagi pesta yang diadakan di restoran. Apalagi restoran terkenal dengan banyak pengunjung dan sebuah panggung tempat orang menyanyi. Karena itu aku nyaris berkata ‘tidak.’ Tapi entah kenapa aku tidak menjawab, dan rekanku itu menganggap kediamanku sebagai ‘ya.’

Aku langsung diseret menuju taksi begitu waktu pulang kantor. Malamnya aku duduk di sebuah restoran yang ramai, berusaha memikirkan kenapa aku datang ke sini sambil menyesap minumanku. Lagu-lagu dimainkan di panggung yang sengaja disewa untuk acara pesta ulang tahun ini. Penyanyi restoran menyanyikan beberapa lagu dengan lumayan. Rekan-rekan kerjaku bergantian menyanyikan beberapa lagu dengan memalukan. Aku tidak habis pikir.

Aku memang tidak habis pikir. Sebab sebelum aku sempat selesai memikirkannya, lampu sorot mengarah padaku dan orang yang duduk di sebelahku mendorongku dari kursi.

Aku baru ingat. Sepatu terkutuk. Belum sempat kuganti. Membuat orang menganggap penggunanya adalah artis yang wajib disuruh menari dan menyanyi.

Aku hampir muntah. Tidak bercanda, sudah terasa asamnya cairan lambung di tenggorokanku. Tapi aku terseret arus kedepan. Dan mike sudah berada di tanganku saat musik latar belakang mulai dikumandangkan.

“Sepatu bagus,” kata pemain gitar.

Aku sudah memikirkan cara untuk bunuh diri sepulang dari pesta ini. Tapi pertama, aku harus menyanyi. Mungkin kata kakek itu sepatu ini sepatu ajaib, tapi sepatu ini tidak membuat suaraku tiba-tiba bagus atau aku bisa menari. Jadi aku menyanyi dengan suara sumbang dan tubuh sekaku patung di atas panggung. Sambil memikirkan cara untuk bunuh diri dengan tidak sakit. Bisakah orang mati karena malu?

Saat lagu itu selesai, aku merasa seperti baru berendam air dingin selama berjam-jam. Dan aku menunggu cemoohan rekan-rekanku. Tapi mereka ternyata tidak mencemooh.

Mereka tertawa, bertepuk tangan, dan menyorakiku (dengan cara yang kuduga tidak dimaksudkan untuk menghina). Aku berbisik kepada orang yang duduk di sebelahku.

“Bagaimana suaraku?”

“Sumbang. Tapi siapa peduli? Kamu kan bukan penyanyi?”

Dan entah kenapa, aku lebih menikmati malam itu.

Keesokan harinya, aku berangkat agak siang (karena pesta itu) meski belum terlambat. Dan aku berjalan dengan sedikit lebih pelan dari biasanya. Orang-orang tersenyum padaku meski aku tidak mengenakan sepatu ajaib itu (mungkin karena aku tersenyum pada mereka). Dan aku menunggu cukup lama di tempat kakek itu menginjak sepatuku kemarin. Tapi dia tidak lewat.

Aku menghela nafas dan berjalan ke kantorku dengan bersenandung. Tadinya aku ingin mengembalikan sepatu itu ke si kakek. Tapi sepertinya aku akan menyimpan sepatu ini.

Untuk berjaga-jaga seandainya aku menginjak sepatu orang lain.

Read Full Post »

Bipolar Disorder

Sebetulnya, saya orang yang tidak suka curhat di blog. Saya juga tidak suka sok Emo atau sok Gothic (plus pengalaman dengan a certain ex. Not that she’s a wannabe, but still). Tapi baru saja saya mengerti sesuatu setelah mencari sekian lama.

Karena satu dan lain hal, ternyata sepertinya, mungkin, kayanya sudah beberapa lama ini tanpa sadar saya mengalami, Bipolar Disorder.

Mungkin ini sulit dipercaya, terutama malahan oleh orang-orang yang mengenal saya. Saya sendiri sulit percaya. Sepertinya setahun lebih ini benar-benar berbeda bagi saya.

Kalau diingat-ingat, saya sudah mengalami sendiri apa yang disebut mood swing dari manic ke depression, dalam waktu yang benar-benar mengejutkan. Depresi klinis bukan hanya perasaan sedih seperti yang sering disangka orang. Depresi klinis adalah perasaan sedih luar biasa nyaris tanpa alasan yang nyata, sampai-sampai penderitanya takut bertemu orang atau mendengar suara keras. Kepala serasa dipenuhi oleh pikiran tidak jelas. Rasa tidak berharga yang benar-benar nyata. Apati, tidak ingin melakukan apapun dan tidak ada cita-cita lagi di dunia ini. Rasa capek dalam menjalani hidup. Dan keinginan kuat untuk melukai diri sendiri. Saya benar-benar pernah mengalaminya, itu semua bukan kata-kata dari artikel web, itu transkrip perasaan saya sendiri. Dan hebatnya, itu terjadi hanya selang detik atau menit dengan perasaan mania, penuh semangat, dan rasa penuh energi. Kalau saya pikir sekarang, saya juga nyaris tidak percaya. Tapi saya ingat itu terjadi. Saya nyaris pergi ke psikiater setelah itu, tetapi mood saya berubah lagi karena bantuan seorang teman, dan saya merasa saya tidak perlu lagi pergi ke psikiater.

Saya selalu merasa bahwa orang lain memiliki masalah yang lebih besar dari saya. Saya juga tidak suka membicarakan perasaan kepada orang lain, terutama secara online. Karena itu selama lebih dari setahun, saya tidak pernah memberitahu tentang perasaan depresi saya. Tapi saya ternyata memang harus mencari psikiater. Saya membuat post ini untuk reminder, dan tanda bahwa saya telah menetapkan hati.

Sebenarnya, saya takut ini hanya mencari-cari alasan, atau sok depresi. Sejak kecil saya juga takut menjadi seorang hypochondriac (orang yang mengaku-aku sakit, yang membuatnya merasa sakit padahal secara fisik seharusnya dia sehat). Saya juga percaya bahwa pikiran menentukan apa yang terjadi secara fisik. Kalau kita ‘ingin’ merasa depresi, kita akan menjadi benar-benar depresi.

Sayangnya, salah satu ciri clinical depression adalah perasaan kalau masalah kita tidak ada apa-apanya dan kita tidak memiliki masalah.

Karena itu saya terpaksa mengambil resiko dan ‘berkata’ bahwa saya mungkin memang mempunyai masalah depresi klinis. Mengaku adalah hal yang sangat berat bagi penderita depresi klinis. Dan minggu ini saya akan memaksa diri untuk mencari psikiater. Kalau ternyata saya hanya melankolis well, good for me!

http://en.wikipedia.org/wiki/Bipolar_disorder

Read Full Post »

Older Posts »