Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2007

Kulkas Tanpa Listrik

Tidak ada kulkas di kamar kos saya. Kulkas harganya mahal dan memakan terlalu banyak listrik. Padahal saya ingin minum minuman dingin dan menyimpan makanan kaleng. Pada saat liburan semester terakhir, saya menghabiskan beberapa waktu untuk berpikir bagaimana cara memperbaiki hal tersebut. Tentu saja jawabannya adalah membuat kulkas tanpa listrik. Saya pulang ke bandung dengan sedikit rancangan dan banyak ide, bersiap untuk membuat pendingin minuman saya sendiri.

Sayangnya setelah saya browsing di internet, ternyata ide saya sudah ketinggalan zaman. Ternyata ada 2 kulkas tanpa listrik yang sudah populer dan salah satunya malahan mendapat penghargaan. Dan ide dasarnya kurang lebih sama dengan ide saya. Sigh. Karena itu saya tidak jadi meneruskan proses perancangan.

Inti dari proses pendinginan di kedua (tiga, kalau rancangan saya dihitung) adalah proses penguapan. Jika air menguap, dia akan membawa panas.

1.Coolgardie Safe

Coolgardie safe adalah lemari pendingin yang berasal dari kota Coolgardie, Australia. Lemari pendingin ini kabarnya populer pada zaman wild west dan zaman demam emas, sebagai cara mendinginkan makanan dan minuman tanpa listrik. Cara membuat dan sistem kerjanya sederhana. Bahan dasarnya adalah Kawat, Karung goni, dan ember.

Cara membuatnya, pertama kita membuat rangka lemari dari kawat. Rangka itu ditutupi karung goni. Sebagian karung goni harus dimasukkan ke ember berisi air. Karung goni akan menyerap air dan menjadi basah.

Kemudian coolgardie safe ditaruh di tempat yang berangin. Angin akan menguapkan air di karung goni dan membuat isi karung goni menjadi dingin.

2.Pot in Pot. (aka Zeer dalam bahasa afrika)

Alat ini diciptakan oleh Mohammad Bah Abba dari Nigeria pada tahun 1995 dan mendapat Rolex Laureate (penghargaan Rolex di bidang enterprise) pada tahun 2000. Alat yang luar biasa berguna sekaligus luar biasa sederhana ini telah dipakai secara luas di afrika dan bisa dibilang kini menyelamatkan hidup banyak orang dengan memperkenalkan sistem pengawetan makanan yang murah dan sederhana (dan memberi mereka minuman dingin).

Alat ini terdiri dari 2 buah pot (yang satu harus bisa masuk ke yang lain), pasir, dan kain. Cara menyiapkannya, cukup dengan memasukkan pot yang lebih kecil ke pot yang besar, mengisi celah diantara kedua pot dengan pasir, kemudian menyiram air ke dalam pasir sehingga pasir menjadi basah. Kita tinggal memasukkan apapun yang kita mau kedalam pot yang kecil, kemudian menutup pot kecil dengan kain basah. Saat air dalam pasir menguap, air itu akan membawa panas dari pot yang kecil.

Tidak ada informasi mengenai suhu Coolgardie Safe, tapi Zeer dapat menjaga suhu air menjadi sekitar 15 derajat celcius. Memang tidak terlalu dingin, tapi cukup untuk menjaga suhu minuman kaleng bukan?

Informasi lebih lanjut:

http://en.wikipedia.org/wiki/Coolgardie_safe

http://www.scienceinafrica.co.za/2004/september/refrigeration.htm

Read Full Post »

Pancake

Salah satu hobi saya adalah memasak, terutama memasak kue, snack, appetizer, dan benda-benda yang secara garis besar bukan dimakan sebagai santapan utama. Sayang di tempat kos saya ngga boleh memasak, jadi saya hanya bisa maska kalau liburan.

Resep yang  bisa dibilang menjadi resep favorit saya adalah Pancake atau Kue dadar. Resep ini bisa dibilang masakan yang sangat sangat sederhana dan merupakan masakan pertama saya, dan saya membuatnya dengan mencoba-coba selama bertahun tahun, hehehe, sampai saya menemukan internet dan ternyata resepnya bisa didapat dengan mudah. Biasanya saya buat dengan mengira-ngira, jadi saya sendiri tidak tahu pasti ukurannya, tapi kurang lebih begini.
 Basic  Pancake

Bahan:

1 gelas tepung terigu

1 gelas susu

3 sdm gula

1 sdm mentega dicairkan

2 butir telur

1 sdt baking powder

1/2 sdt vanili

Cara: 

1 . Campurkan semua bahan kering

2. Campurkan semua bahan basah.

3. Campurkan bahan kering dan bahan basah.

4. Panaskan wajan yang telah diolesi mentega. Jangan sampai menteganya menggenang.

5. Goreng adonan secentong secentong di atas api kecil. Tunggu bagian atas mulai mengering dan mengeluarkan gelembung udara, baru dibalik. Goreng sampai matang.

Saya pribadi biasa menggunakan 1/2 gelas susu, dan menambah 4 sdm susu coklat ke adonan kering. Kemudian, selagi panas setiap pancake diolesi mentega dan ditaburi misis (atau bagaimanapun cara mengejanya) yang dioleskan menggunakan sendok. Misisnya akan meleleh di pancake.

Read Full Post »

Lanjutan dari post sebelumnya.

Tentu saja, tidak semua shader cocok untuk semua game. Beberapa perlu tweaking sedikit. Tapi secara keseluruhan, sebagian besar shader dapat digunakan dengan cukup mudah.

Dan sangat menyenangkan mencoba-coba shader untuk berbagai jenis game, hehehe. Berikut beberapa hasil coba-coba saya.

Omega Boost

Tales of Destiny

Grandia (oh yeah)

Pepsi Man (Keep running, Pepsi Man!)

Front Mission 3

Whew. Membongkar koleksi cd PS1 tidak pernah semenarik ini!

Dan mungkin ada yang belum tahu cara memainkan game PS1 di PC, atau belum tahu cara menggunakan shader di emulator. Jadi saya akan menjelaskan step-step sederhananya.

1.Pastikan anda memiliki PC yang berjalan sempurna. Beneran, step satu ini beberapa kali terlupakan oleh saya. Kalau perlu, download driver terbaru dari VGA card anda.

2.Download emulator PS1, saya rekomendasikan ePSXe

3.Download BIOS untuk PS1. dapat dengan mudah didapatkan di google. Cari saja bios untuk scph1001 atau scph

4.Download Plugin untuk ePSXe, bisa didapatkan di tempatnya si Pete. Downloadlah Graphical Plugin (itu yang utama), dan sebagai tambahan download saja sekalian Plugin untuk sound, controller, dan lain-lain. Kecil kok. Jangan lupa masukkan semua plugin ke folder plugin di foldernya ePSexe.

5.Sekarang Download shadernya. Hm, ini bisa dicari di forumnya Pete, forumnya ngemu, dan di beberapa tempat lain. Tapi Pete punya koleksi Shader yang cukup lengkap dan bagus di situsnya.

6.Voila. Tinggal dicoba. Secara garis besar, atur Video Confignya semampu PC anda, checklist screen filtering dan shader effect. Pilihlah shader effect sesuai jenis shader yang akan anda gunakan (ada 2 jenis program, untuk yang ekstensionnya vp/fp atau slf/slv). Klik tombol di sebelah kanan shader effect, dan cari shader yang mau anda gunakan. Bagian itu saya bold karena ada beberapa orang yang kesulitan di bagian itu.

7.Selamat Nostalgia!

Read Full Post »

Just look at this.

FF7 using cartoon Shader

Yeah. Wow. Sekarang saya mulai postnya.

Seperti yang kita ketahui, Playstation (PS1) sekarang sudah menjadi console kuno, kurang lebih terlambat 2-3 generasi. Padahal, banyak game menarik di PS1 yang masih seru untuk dimainkan.

Saya beri tahu satu hal. PS1 adalah salah satu console game yang lebih bagus dimainkan lewat emulator. Dengan teknologi emulator sekarang dan komputer yang cukup canggih (aka standar sekarang) , game-game PS1 bisa dengan mudah nyaris sebagus, atau kalau tidak bisa dibilang sebagus, game Dreamcast atau PS2 awal. Bukan hanya itu, game-game itu bahkan bisa lebih inovatif dari segi visual dibandingkan game Dreamcast atau PS2. Semua itu dikarenakan adanya custom shader.

Tapi 1 gambar bercerita lebih banyak dari 100 kata. Karena itu, biarkan saya memberi sedikit contoh dari BANYAK hal yang bisa dilakukan custom shader. Jadi sebelumnya, biarlah saya meminta maaf terhadap anda yang memiliki koneksi internet terbatas.

Chrono Trigger

Chrono Cross menggunakan… well, salah satu custom shader.

Dragon Ball GT Final Bout menggunakan Storybook Shader

Untuk lebih melihat kemampuan custom shader ini, saya akan memberikan contoh perbandingan antara 2 screenshot game Castlevania: Symphony of the Night (yang mungkin memiliki bishounen berambut perak terkeren di sejarah game) yang sedang saya mainkan. Meskipun mungkin bukan contoh terbaik, tapi karena ini game yang sedang saya mainkan, yah kita ambil saja apa yang tersedia kan?

Castlevania SotN tanpa menggunakan shader.

Castlevania SotN menggunakan Cartoon Shader B. Perbedaannya terlihat sangat jelas.

Demikianlah, jika ada yang tertarik untuk mencobanya lebih lanjut, dapat melihat link di bawah ini:

Enhance PS1 Graphic With The Best ePSXe Plugin Setting -racketboy.com

Links and Guides to Custom Shaders -Emuforum.com

Semua screenshot di atas, in courtesy of racketboy.com dan Emuforum.com. Kecuali screenshot Castlevania. Sekarang, saya mohon diri, untuk kembali membasmi vampir dan zombie di kastil drakula.

Oh iya, screenshot FF 7 di awal menggunakan cartoon shader. Sayangnya, saya belum menemukan cell shader sebenarnya, tapi cartoon shader sudah cukup luar biasa.

Read Full Post »

Sonata di Tengah Rintik Hujan

Malam itu seperti biasa aku bangun untuk menikmati sinar bulan.

Sudah lama aku biasa terjaga pada jam-jam seperti ini, untuk sekadar duduk di tengah taman dan mendengarkan simfoni suara serangga dan katak yang bersahut-sahutan. Aku juga suka menikmati cahaya keperakan bulan dan bintang yang membuat embun terlihat berkilauan di ujung-ujung daun dan rerumputan. Kukira inilah salah satu keuntungan tinggal di pinggir kota seperti ini, dimana cahaya langit belum tercuri oleh lampu-lampu listrik manusia, dan hewan-hewan belum terusir oleh gegap gempita kota.

Tapi malam ini rutinitasku agak terganggu. Sebab saat aku bangun, mendung yang tak mau tahu dengan jadwalku tampak menggantung berat. Dan tetesan-tetesan ringan sang hujan sepertinya telah mengusir para hewan sedari tadi. Jadi aku hanya bisa duduk termangu di depan rumah, mendengarkan irama rintik-rintik hujan yang menina bobokan.

Tapi saat aku mulai mengangguk terkantuk-kantuk, telingaku mendengar suara yang tidak biasanya terdengar olehku.

Sayup tapi aku yakin telingaku tidak salah. Suara itu benar terdengar di sela-sela desir dedaunan dan tetesan air.

Denting piano yang melantun dengan syahdunya.

Moonlight Sonata karya Beethoven.

Dimainkan dengan sempurna oleh seseorang di suatu tempat. Anehnya, sonata itu juga terdengar begitu sendu, seakan menyampaikan perasaan halus sang pemusik misterius.

Denting piano itu terasa begitu indah sekaligus penuh emosi, hingga mau tak mau aku tergerak untuk mencari siapakah orang yang memainkan piano dengan begitu sempurna di tempat terpencil seperti ini. Tanpa mempedulikan rintik hujan yang membasahi, aku berjalan, hanya dipandu oleh telingaku yang mendengar dan hatiku yang merasa.

Dan perlahan, aku tiba di tempat asal suara. Sebuah rumah indah di puncak bukit. Setahuku, selama ini rumah itu kosong tanpa penghuni. Tapi malam ini, jendela rumah itu nampak bercahaya muram. Dan denting nada-nada indah terus mengalun dari salah satu kamar di rumah itu. Tanpa mempedulikan peringatan otakku aku berjalan mendekat, menuju satu-satunya kamar yang bercahaya di rumah yang luas itu. Tempat nada-nada itu mengalun.

Dalam diam aku menyibakkan gorden sutra halus yang menutupi jendela besar tak berteralis itu. Dan di tengah ruangan yang disinari cahaya temaram dari lampu kristal di atap yang tinggi di atas, seorang gadis nampak memainkan sebuah piano tua nan berdebu.

Betapa ironis, dan anehnya juga sangat sesuai, pikirku saat aku semakin dekat dan nada-nada itu semakin terdengar jelas. Sonata piano tentang malam yang disinari cahaya bulan. Melantun syahdu dan begitu romantis. Saat sang bulan sendiri tak kelihatan dan tersembunyi dibalik gulungan awan hitam.

Aku begitu terhanyut dalam pikiranku sendiri dan permainan piano gadis itu, sampai-sampai aku tak sadar kalau alunan musik telah berhenti. Saat aku terlepas dari lamunanku, aku baru menyadari kalau gadis itu sedari tadi memandangiku dengan ekspresi misterius.

Gadis itu begitu cantik, dengan rambut hitam panjang yang bergerak bagai sutra halus saat dia menggerakkan kepalanya yang indah. Dan kulitnya yang putih seakan menyatu dengan gaun satin tipisnya di remang-remang cahaya malam ini.

Hening selama beberapa sebelum aku memberanikan diri membuka percakapan.

“Maaf… aku tidak bermaksud mengagetkanmu.” Kataku, masih dari balik jendela. “Aku tinggal di bawah bukit, dan permainan pianomu terdengar begitu indah sehingga aku seakan terpanggil ke sini.”

Gadis itu tersenyum dengan sangat halus, nyaris tak kentara. “Terima kasih atas pujiannya” katanya dengan suara lembut. Dia tidak terlihat takut sedikitpun, meskipun seorang pria misterius tiba-tiba muncul di jendela rumahnya.

Untuk beberapa saat dia hanya duduk di depan piano tua itu, termenung tanpa suara. Akupun kembali memberanikan diri.

“Aku sudah beberapa lama tinggal di daerah sini.,” kataku. “Selama ini aku tidak pernah tahu kalau rumah ini ditempati.”

Entah kenapa aku merasa gadis itu terlihat bagaikan dari dunia lain.

“Ini villa keluargaku,” katanya. Suaranya yang lirih nyaris semerdu suara piano yang dimainkannya tadi. “Villa ini memang jarang ditinggali.”

Aku baru sadar, ternyata hujan telah berhenti sejak tadi. Dan cahaya bulan purnama yang masuk melalui sela-sela awan, sepertinya sinarnyalah membuat gadis itu seakan bukan berasal dari dunia ini.

Saat dia beranjak dari tempat duduknya, entah kenapa aku begitu takut dia akan pergi begitu saja sehingga mataku terus mengikuti gerakan tubuhnya yang anggun dan ringkih. Ternyata dia hanya berpindah ke beranda. Kini dia duduk memeluk lutut, menatap ke langit malam yang dipenuhi jutaan bintang yang berkelap-kelip.

Langit malam selalu paling indah tepat setelah hujan.

Tanpa suara aku mengikutinya ke beranda rumah tua itu. Aku duduk bersandar di sebelahnya dan ikut menikmati suasana malam. Sepertinya dia tidak keberatan sedikitpun dengan gangguan dariku, mengingat kami tidak saling kenal sedikitpun. Aroma harum seorang wanita menyebar dari tubuhnya. Sudah begitu lama aku tidak mencium aroma ini.

Untuk beberapa saat, kami hanya diam, menonton suasana malam dan mendengarkan hembusan angin dan paduan suara serangga. Sampai tiba-tiba dia memulai percakapan.

“Kau percaya dengan cinta sejati?” tanyanya dengan suaranya yang lembut.

Pertanyaan itu begitu tak terduga sehingga aku tak mampu menjawab apa-apa. Tapi sepertinya gadis itu tak memperhatikannya. Dia hanya menatap bulan purnama yang bergantung dengan indahnya di langit malam, seakan tadi dia bicara dengan dirinya sendiri.

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang mati demi cinta?”

Pertanyaan yang diajukannya dengan nada kasual itu sama tiba-tibanya dengan pertanyaan pertama, sehingga awalnya aku juga tak bisa menjawab. Tapi aku merasa dia menunggu jawabanku, sehingga aku terpaksa berpikir sejenak di tengah malam bulan purnama itu.

“Memang kedengarannya romantis…” kataku setelah diam cukup lama. “Tapi sejujurnya, bagiku itu terdengar egois.”

“Egois?”

“Yeah, bagiku itu egois. Hanya memikirkan perasaan sendiri. Kematian bukanlah penderitaan bagi yang mati, tapi penderitaan bagi yang hidup.”

Aku memandang ke langit yang tampak meninggi setelah hujan, sebelum melanjutkan. “Mereka yang mau mati begitu saja harus memikirkan bagaimana perasaan mereka yang ingin hidup tapi tidak bisa. Apalagi, perasaan mereka yang ditinggal hidup. Apa mereka kira, orang yang mereka bilang mereka cintai itu akan bangga kalau ada orang yang mati demi mereka?”

Kemudian aku tertawa kecil mendengar kata-kataku sendiri. Tidak biasanya aku berbicara seperti ini. “Lagipula,” kataku sambil tersenyum kepadanya. “Hidup itu penuh kemungkinan. Siapa yang tahu, kalau tiba-tiba kita merasa ternyata semua masalah kita kemarin bagaikan lelucon saja, atau malahan, tiba-tiba kita mati begitu saja tanpa perlu repot-repot bunuh diri.”

Gadis itu tertawa kecil. “Kau orang yang menarik,” katanya, entah kenapa terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya kini. “Kalau saja… kita bertemu sedikit lebih cepat.”

“Aku yang seharusnya berkata begitu.” Kataku sambil tersenyum. Sementara, serangga dan hewan malam memulai kembali orkestra mereka yang sempat terhenti oleh hujan.

Matahari yang terbit beberapa jam yang lalu telah mulai menguapkan embun-embun terakhir dari rerumputan. Sinarnya yang hangat perlahan mulai menyusup melalui jendela, membangunkan sesosok gadis yang tampak tertidur di depan sebuah piano tua.

“…Fia!” Terdengar suara bernada khawatir bercampur lega. Dari pintu ruangan, seorang gadis lain nampak menghambur masuk dan memeluk wanita yang baru saja terbangun itu.

“Syukurlah kamu tidak apa-apa. Aku sudah merasa kalau kamu pasti ada di sini. Karena… tempat terakhir yang akan dikunjungi keluarga kita adalah rumah ini…”

“Kakak…” Gadis yang dipanggil Fia itu hanya diam selama beberapa saat, sebelum tersenyum lemah dan melingkarkan tangannya di pundak kakaknya.

“Aku sudah tidak apa-apa… Maafkan aku sudah membuat khawatir.” Katanya pelan.

Dia melepaskan pelukan kakaknya dan menatap ke luar jendela. “Seorang yang tinggal di bawah memberiku semangat… Mungkin akan butuh waktu sampai aku bisa melupakannya, tapi aku akan mencoba bertahan…”

Fia tersenyum dan menumpukan tangannya ke kusen jendela, memandang pemandangan luas dari puncak bukit.

“Syukurlah…” kata kakaknya sambil melilitkan selimut pada Fia yang hanya mengenakan gaun tipis.

“Tapi…
Fia, siapa yang kamu bilang tinggal di bawah?
Di bawah sana, hanya ada kuburan…”

Read Full Post »

Pertolongan Peri Lili

Dongeng untuk anak-anak.

 

Pertolongan Peri Lili

 

Peri Lili adalah seorang peri mungil dengan sayap kupu-kupu yang cantik. Dia baru saja menyelesaikan masa belajarnya di sekolah negeri peri. Kini dia sedang terbang di dunia manusia, mencari orang yang sedang dalam kesulitan.

 

Peri Lili sering mendengar cerita-cerita dari neneknya. Nenek peri lili adalah seorang peri tua yang baik. Sewaktu muda, nenek peri lili sering berkeliling dunia manusia dan menolong orang dengan sihirnya. Neneknya banyak menceritakan kisah-kisah perjalanannya kepada peri lili. Peri lili ingin sekali menjadi peri penolong seperti neneknya.

 

Sewaktu sedang melayang di atas desa, Peri Lili mendengar suara tangisan anak perempuan. Peri Lili langsung terbang menuju suara tangisan itu. Ternyata sumber tangisan itu adalah seorang anak perempuan cantik yang sedang mengepel lantai sebuah rumah yang besar.

 

Peri Lili mengucapkan mantera agar anak itu melihat cahaya yang menyilaukan, lalu masuk melalui jendela. Sebenarnya para peri bisa langsung menunjukkan diri, tentu saja. Tetapi para manusia lebih suka kalau melihat peri yang muncul secara ajaib.

 

”Siapa namamu gadis cantik?” kata Peri Lili. ”Kenapa kamu menangis?”

 

Anak perempuan itu berhenti menangis dan menghapus air matanya. Kemudian dia mulai bercerita. ”Namaku Ana. Aku menangis karena ibu tiriku menyuruhku mengepel rumah ini sendirian sementara dia dan saudara tiriku pergi berbelanja gaun untuk pesta dansa nanti malam. Kalau aku tidak menyelesaikan pekerjaanku, aku tidak boleh ikut pesta.”

 

Peri Lili berpikir di dalam hati. Ini mirip sekali dengan salah satu cerita petualangan neneknya! Lalu Peri Lili berkata kepada Ana. ”Jangan kuatir. Aku akan menolongmu.”

 

Peri Lili mengibaskan tongkat sihirnya dan kain pel serta ember yang dipegang Ana bergerak sendiri. Dalam sekejap, rumah yang besar itupun bersih. Tapi Ana masih terlihat sedih.

 

”Meskipun rumah ini sudah selesai dipel, aku tetap tidak punya baju yang bagus untuk pergi ke pesta dansa.”

 

Peri Lili tersenyum dan mengayunkan tongkat sihirnya. ”Jangan kuatir Ana.” Tiba-tiba, baju yang dikenakan Ana berubah menjadi Gaun yang indah.

 

Selamat tinggal Ana” kata Peri Lili, sementara Ibu Tiri Ana dan Saudara Tirinya yang tidak secantik Ana tiba di rumah.

 

Kemudian Peri Lili melanjutkan perjalanannya. Di tepi desa, dia melihat seorang ksatria berkuda sedang termenung di depan sebuah gua. Peri Lili muncul dengan kilatan cahaya.

 

Ada apa wahai ksatria gagah? Kenapa kau termenung?” tanya Peri lili.

 

Ksatria itu menceritakan masalahnya kepada peri lili. “Di gua itu hiduplah seekor naga yang menyemburkan api. Aku ingin mengusir naga itu, tetapi setiap aku mendekat dan mengacungkan pedangku naga itu membakar jubahku.”

 

Peri Lili mengayunkan tongkat sihirnya dan tersenyum. ”Karena keberanianmu, aku akan menghadiahkan sesuatu. Kini Pakaianmu akan menjadi tahan api dan kau akan mampu mengusir naga itu tanpa kesulitan.”

 

”Terima kasih peri,” terdengar suara si ksatria saat peri lili terbang menjauh.

 

Peri Lili sudah puas menolong orang hari itu dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Tetapi sebelum itu dia ingin beristirahat di tepi sungai. Saat dia beristirahat, seorang kakek tua datang membawa tongkat pancing dan bekal makanan. Ketika kakek itu melihat peri lili yang beristirahat, kakek itu mengajak peri lili makan bekalnya bersama-sama.

 

Seusai makan, peri lili berkata kepada kakek tua itu. ”Terima kasih kakek tua. Karena kakek baik padaku, aku akan memberi kakek hadiah. Sekarang setiap kali kakek memasukkan pancing kakek ke air, ikan akan tersangkut di kailnya.”

 

Terima kasih peri,” kata kakek itu. ”Tetapi saya lebih suka memancing sendiri. Kalau pancing saya menjadi pancing ajaib, saya tidak bisa bersantai sambil memancing lagi.”

 

Peri Lili terkejut. Dia baru tahu ada orang yang tidak mau diberi hadiah keajaiban. Peri Lili jadi teringat akan dua pertolongan yang diberikannya sebelumnya, dan dia menceritakannya kepada kakek pemancing itu.

 

Kakek itu mendengarkan cerita peri lili dengan seksama kemudian tersenyum. Kakek itu berkata kepada peri lili. ”Coba kamu lihat lagi hasil kedua pertolonganmu itu.”

 

Peri Lili terbang ke pinggir desa tempat dia menolong si ksatria. Dia terkejut melihat orang-orang berlarian karena hewan-hewan buas datang ke desa. Dia mencari naga yang terusir dan menemukannya sedang bersedih di gunung. Naga itu bercerita.

 

”Aku tidak pernah mengganggu penduduk desa. Aku malah berteman dengan mereka. Penduduk desa sering membersihkan sarangku dan memberiku kue, sebagai gantinya aku menjaga desa dari hewan buas dan pencuri. Tapi tadi tiba-tiba aku diusir oleh seorang ksatria yang datang entah dari mana.”

 

Peri Lili terkejut mendengar cerita naga. Peri Lili mengayunkan tongkatnya dan naga itu kembali ke sarangnya. Dalam sekejap naga itu menakuti hewan-hewan buas dan penduduk desa bersorak kegirangan.

 

Kemudian Peri Lili terbang ke rumah Ana. Di sana dia terkejut melihat Ana yang bersantai sembari mengejek saudara tirinya yang sedang mencuci baju. Peri Lili terbang mendekati ibu tiri ana yang duduk dengan wajah sedih.

 

Ibu tiri ana bercerita kepada peri lili. ”Meskipun cantik, Ana sangat manja dan malas. Setiap ayahnya pergi ke luar kota untuk berdagang, Ana hanya mau bermalasan di rumah. Karena itu aku menghukumnya. Tapi tiba-tiba seluruh rumah sudah dipel dan Ana mendapat baju bagus entah dari mana.”

 

Dengan malu, Peri Lili mengakui kalau dia yang menolong Ana. Peri Lili mengayunkan tongkatnya, dan lantai yang telah dipel kembali ke keadaan semula dan baju Ana kembali menjadi baju biasa. Setelah meminta maaf, peri lili terbang kembali.

 

Sembari terbang ke rumah, peri lili berterima kasih kepada kakek pemancing tua. Hari ini dia telah mendapat banyak pelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

Read Full Post »

Flatland. Novel ini begitu luar biasa sampai saya bingung memikirkan bagaimana cara mereviewnya. Novel pendek karya Edwin Abott Abott ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1884, dan sampai sekarang masih menjadi favorit para matematikawan.

Dimensi. Kita sering sekali mendengar kata itu. Bahkan orang awam pun sekarang mengenal konsep multi dimensi, dimensi lain selain dimensi tiga tempat kita hidup. Tapi apakah kita benar-benar mengerti tentang konsep dimensi? Apa itu dimensi keempat? dimensi kelima?

Buku ini menjelaskan dengan luar biasa dan sederhana bagaimana konsep dimensi itu sebenarnya. Tentu saja, tidak dijamin para pembaca akan langsung mengerti tentang konsep multi dimensi. Sebab, seperti yang dijelaskan di cerita ini, konsep dimensi di atas kita itu akan sulit, bahkan tidak mungkin ‘digambarkan’ oleh otak.

Untuk ceritanya sendiri, novel ini menceritakan kisah ‘seorang’ square (kotak) dari sebuah negeri yang bernama Flatland. Flatland adalah sebuah negeri 2 dimensi, dimana warganya memiliki kelas sesuai bentuknya. Segitiga adalah warga rendahan, Kotak adalah kelas pedagang, dan seterusnya, sampai Lingkaran yang merupakan kelas Priest atau ‘Brahmana’ di Flatland. Paruh pertama novel ini merupakan sebuah satir mengenai kehidupan zaman victoria, dimana sang Square menjelaskan tentang kehidupan Flatland. Baru setelah sang Square bermimpi aneh mengenai negeri satu dimensi, novel ini mulai menjelaskan mengenai konsep multi dimensi. Square dikunjungi oleh seorang pengunjung dari dimensi yang lebih tinggi, seorang ‘bola’ 3 dimensi. Sang bola melakukan hal-hal luar biasa yang tidak dapat dicerna oleh otak Square, misalnya menghilang (dengan bergerak ke ‘atas’ dan ke ‘bawah,’ bahkan menyentuh organ dalam Square.

Singkatnya, saya hanya bisa merekomendasikan semua orang yang tertarik untuk mengerti apa itu multi dimensi, untuk membaca novel menarik ini.

Meski mungkin bukunya sendiri sudah sulit didapatkan, artikel wikipedia dari flatland memiliki banyak link ke situs-situs tempat kita bisa membaca atau mendownload novel ini secara gratis. Selamat membaca.

http://en.wikipedia.org/wiki/Flatland

Read Full Post »

Chapter 5: Cult of the Damned
aka There Are No Such Thing As Free Lunch
Kilat menyambar nyambar di malam yang gelap dan sepi itu. Hutan yang biasanya ramai oleh suara hewan malam kini senyap, para penghuninya mengamankan diri di sarang mereka yang hangat.Hanya jangkrik yang terdengar terus bernyanyi. Juga katak dan kodok yang bersuara gembira menyambut perubahan cuaca. Dan burung hantu yang ber uhu-uhu dengan cueknya. Terdengar serigala yang sesekali melolong. Dan kambing yang mengembik. Dan kucing mengeong kadang-kadang. Dan anjing yang menggonggong saat bertemu mereka. Cukup sepi.

Jalan setapak yang biasanya tidak jelas terlihat, kini nyaris hilang sama sekali, karena bulan hanya menyembul sedikit dari balik awan gelap yang menggantung.

Di jalur yang gelap itu, sesosok manusia berlari dengan nafas terengah-engah. Sesekali dia terjatuh, tapi dia tidak mempedulikan rasa sakitnya dan terus berlari sekuat tenaganya. Saat kilat menyambar sekali lagi, terlihatlah bahwa sosok itu adalah seorang gadis muda berpenampilan sederhana. Gadis itu sibuk melihat ke belakang, sehingga dia tidak menyadari batu yang menghalangi jalannya.

Gadis itupun terjatuh. Dia meringis menahan sakit, menggosok kakinya, dan berusaha untuk bangkit. Tapi saat itu kilat memaksanya memejamkan mata untuk sesaat. Dan saat ia membuka matanya, sesosok bayangan gelap menaunginya.

Mata gadis malang itu membelalak ketakutan. Mulutnya terbuka lebar, tapi tak ada suara yang sempat keluar. Sebab seluruh pikirannya telah terfokus pada mahkluk yang berdiri di hadapannya. Dan saat kilat menyambar sekali lagi, dia melihat mahkluk yang seharusnya tak boleh dilihat itu. Mahkluk yang melayangkan tangannya ke arahnya untuk membekapnya.

Mahkluk yang mengerikan.

Mengguncang jiwa.

Yang merupakan perwujudan dari mimpi buruk terdalam manusia.

Sebuah sosok

Manusia berkepala timun raksasa!

Mungkin juga itu pare sih.

Well, salah satu diantaranya. Tak begitu jelas terlihat pada malam hari seperti ini. Tapi gadis itu tak sempat memperhatikan lebih jauh. Sebab kini ia tergeletak pingsan. Dan sayur ranum, segar, berjubah itu berjalan ke arah kegelapan malam, membawa sang gadis di gendongan tangannya.

Dan berharap tidak ada kambing yang mengikutinya dan menggigitnya.

Bagi para pengelana, lampu jalanan kota itu terlihat bagai mercusuar. Kota itu terletak di pinggir hutan lebat, menjadi tempat persinggahan untuk menambah bekal, dan beristirahat setelah menembus alam yang liar selama beberapa saat. Malam itu, dari dalam hutan terlihat empat sosok pengelana berlari dengan tangan di atas kepala mereka, melindungi kepala mereka dari rintik rintik hujan yang mulai menetes.

Salah satunya menaiki seekor lembu. Perlahan terlihat bahwa yang menaikinya adalah seorang gadis dengan gaun pendek berwarna hitam, sebelah tangannya memeluk keranjang yang ditutupi oleh selimut. Tudung kepala dan jubah menutupi leher dan pundaknya yang terbuka, dan dia duduk menyamping di sapi yang berlari perlahan itu, sembari memegang tumpukan barang yang diikat di sebelahnya.

Di sebelahnya terlihat seorang pemuda berambut perak berlari sembari menaungi wajahnya dengan sebelah tangan. Dia menggandeng sesosok lain, pemuda yang susah payah berlari mengikutinya sembari memanggul sebuah gitar di pundaknya.

Dan di depan mereka, memegang tali yang menuntun sang hewan memamah biak, seorang pemuda berkulit cokelat nampak menahan topi kulitnya agar tidak tertiup angin saat mereka berlari.

Perlahan mereka memasuki kota yang terlihat sepi itu.

Setelah mandi dan mengeringkan badan, keempat pengelana itu nampak bercengkrama di lantai bawah penginapan tempat mereka istirahat malam itu. Api di perapian bergemeretak dengan ramainya, sementara mereka menghabiskan makanan mereka di meja sudut ruangan.

Finn menghirup meadnya di antara kesibukannya menyetem gitar. Sesekali dia terdengar mendentingkan beberapa nada. Di sebelahnya, Clarice duduk bersandar dengan handuk di tangan, sembari menyapukan pandangannya ke ruang makan yang sepi itu. Dia membatin, betapa sepinya penginapan itu. Sedikit pengunjung yang ada pergi begitu mereka tiba, dan sisanya sudah tak ada begitu mereka turun dari lantai dua.

Di seberang mereka, Meryl dan Ed bercakap-cakap dengan bersemangat. Selain suara api yang bergemeretak, bisa dibilang hanya suara mereka yang terdengar bergaung di ruangan batu itu.

”Wah, romantis sekali tuan Ed. Anda kabur dari rumah karena menolak dijodohkan?” terdengar suara Meryl yang bersemangat. Rambutnya masih basah, dan wajahnya memerah karena dihangatkan oleh makanan dan api. Sesekali dia memperbaiki letak syal di labu yang dipangkunya.

”Begitulah,” balas lawan bicaranya. Pemuda itu melanjutkan ceritanya. “Keluargaku bisa dibilang cukup terpandang di daerah asalku. Mereka ingin aku melanjutkan usaha keluargaku, padahal yang kuinginkan hanyalah berkelana bersama sahabatku Jean. Saat aku tahu mereka menjodohkanku tanpa sepengetahuanku, aku mengambil pelana dan pergi dari rumah. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun yang lalu.”

Ed memandang ke langit-langit. ”Setahuku mereka masih mencari-cari aku sampai sekarang. Yah, mungkin itu bisa dibilang bukti kalau mereka memang mencintaiku. Atau mungkin mereka hanya masih marah atas seluruh peralatan makan yang kubawa lari dan kujual untuk dijadikan modal perjalanan, sih.”

Di sela-sela kegiatannya menyetem gitar dan meminum fermentasi madu, Finn memandangi Clarice yang sedang mengeringkan rambut perak panjangnya. Clarice terlihat sesekali mencuri pandang ke arah Ed, tapi saat Ed melihat ke arahnya, pemuda cantik itu memalingkan wajahnya dengan ekspresi kesal.

Finn mendekatkan wajahnya ke arah Clarice.

”Sudahlah Clare, kan dia sudah minta maaf. Dia tidak tahu kalau kamu cowok saat menciummu waktu itu.”

Clarice membuang pandangannya ke arah lain. “Aku bukan marah karena itu…”.

Finn memperhatikan rekannya itu sembari menghirup minuman. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya, kali ini lebih perlahan.

”Jadi Clarice, bagaimana pendapatmu tentang pengelana kita yang satu ini?”

Clarice memastikan sejenak bahwa Ed tidak dapat mendengar obrolan mereka, baru ia membalas.

”Menurutku… sebaiknya kita jangan terlalu percaya dulu kepadanya…”

Sang mantan putri raja memandangi Ed yang sedang mengobrol bersama Meryl, kemudian dia melanjutkan kata-katanya. ”Sekilas aku melihat chainmail yang dipakainya di balik tuniknya, Finn.”

”Bukannya biasa pengelana mengenakan chainmail dibalik baju luar mereka?”

”Masalahnya, itu bukan bahan sembarangan, bahkan mungkin campuran mithril. Aku tahu karena aku sering melihatnya dipakai para bangsawan pada acara-acara kerajaan.”

”Selain itu… dia tahu kamu membawa pedang Elridge hanya dengan melihat sekilas. Dan dia tidak mengungkit-ungkitnya lagi sekarang, justru itu yang membuatku curiga.”

Tanpa sadar Finn menyentuhkan tangannya ke pedang terkenal yang berada di pinggangnya itu.

”Jadi Meryl, apa urusan kalian di kota perdagangan? Jarang banget orang melakukan perjalanan jauh pada musim seperti ini. Belum lagi isu perang yang akan segera terjadi.”

”Oh, kami mencari sesuatu…. kami mencari Gi…”

”..gi palsu…” Sambung Clarice secara tiba-tiba, mengucapkan kata pertama yang terpikir di kepalanya setelah melihat pemilik penginapan yang bergigi tak lengkap sedang membereskan sisa makanan mereka. ”Kami mencari gigi palsu.” Dia berkata demikian sambil memandang meryl dengan senyum seorang ibu yang melihat anaknya memasukkan kucing ke dalam mesin cuci dengan ekspresi tidak bersalah.

”Begitu…” kata Ed, diikuti sedikit keheningan.. ”Dan serombongan pemuda pemudi sehat dengan gigi lengkap mencari gigi palsu untuk…”

” untuk …me… menuhi permintaan terakhir kakek kenalan kami…” sambung Finn setelah merasakan tekanan pandangan mata tolong-bantu-aku-atau-kau-kujadikan-sup dari Clarice di sebelahnya.

”Kakek itu kehilangan giginya akibat bertarung menyelamatkan kami dari monster gabungan harimau-kambing-ayam yang sangat ganas. Tapi kakek itu merasa waktu hidupnya sudah tidak lama lagi. Kakek malang itu tidak punya sanak saudara, jadi kami merasa berkewajiban membantunya memenuhi keinginan terakhirnya, makan kue nanas dengan gigi lengkap. Tentu saja kue nanas mudah dicari, tapi gigi palsu berkualitas baik hanya dapat…”

”E-HEM.” Suara batuk clarice memutus cerita Finn. Bard itu baru sadar kalau rasa sakit menusuk di pinggangnya bukan ginjal yang menderita akibat seringnya menahan buang air kecil selama perjalanan ini, melainkan sikutan-sikutan Clarice.

“Kurasa sudah cukup, Finn.” Kata Clarice. Kemudian dia menguap. “Rasanya sudah cukup larut. Sebaiknya kita istirahat sekarang kalau kita ingin berangkat pagi-pagi besok. IYA kan, Finn dan Meryl?”

Tanpa banyak komentar, Finn dan Meryl mengangguk. Clarice menggelengkan kepala dan memberikan sejumlah uang kepada Meryl untuk dibayarkan ke pemilik penginapan, sebelum berjalan menyusul Ed dan Finn yang sudah naik duluan.

Meryl memasangkan topi rajutan wol ke labunya, sebelum mendekati pemilik penginapan dan istrinya yang mengamati mereka sedari tadi. Tapi setiap Meryl melangkah mendekati mereka, ekspresi kedua orang itu semakin tidak nyaman. Tapi mereka tak bisa mundur, karena hanya ada tembok di belakang counter mereka.
”Ung… Jadi pak, berapa untuk makanan kami tadi?”

Sang pemilik penginapan memandang istrinya dengan ekspresi tak jelas, sebelum membalas pertanyaan Meryl. ”Tentu… tentu saja gratis untuk nona dan teman-teman nona… ”

”…Bercanda?”

”Tentu tidak, mana berani kami bercanda kepada nona.” kata si pemilik penginapan. Dia memandang Meryl sekali lagi dari atas sampai bawah, memperhatikan labu bersyal dan bertopi yang dibawanya, lalu melanjutkan kata-katanya. ”Kami… kami hanya ingin nona dan teman-teman nona mengingat servis yang diberikan oleh penginapan kami yang sederhana ini.”

Meryl hanya terdiam selama beberapa saat, berusaha mencerna percakapan itu dan menganalisa apa yang mungkin terjadi. Tapi 30 detik kemudian dia mengambil kesimpulan bahwa apapun yang terjadi tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat dari menghemat uang perjalanan, mengangkat bahu, dan naik ke lantai atas.

Penyihir itu masuk ke kamarnya dan melihat seorang pemuda cantik yang mengenakan jubah mandi berwarna pink dan handuk melilit rambutnya sedang merawat kukunya.

Meryl meletakkan labu di meja dan mulai bersiap-siap untuk tidur.”Kukira hari ini kamu tidur bersama para cowok, Clarice? Yang kemarin kita bicarakan setelah Ed datang, membiasakan diri menjadi cowok untuk sementara dan agar lebih wajar kalau ada orang asing yang melakukan perjalanan bersama kita.”

Clarice memandang sahabatnya dengan wajah yang ditutupi masker. ”Yeah, itu sampai aku masuk kamar dan mendapati Ed biasa tidur dengan pakaian seminim mungkin, kalau kamu mengerti maksudku. Apapun yang kalian bilang, aku tetap cewek. Titik.”

Meryl mengangguk. Kemudian dia teringat hal aneh yang baru saja terjadi dan membuka mulutnya untuk menceritakannya kepada Clarice. Tapi saat itu clarice sudah berbaring dengan potongan timun di kedua matanya. Meryl tahu lebih baik tidak mengganggu putri raja yang sedang dalam posisi seperti itu. Gadis itu mengangkat bahu dan mengingat hari-hari mereka tidur di luar ruangan, kemudian mengikuti jejak Clarice untuk bersantai sejenak.

Kata orang bijak, tidur cepat dan bangun pagi merupakan kunci hidup sehat. Tapi, kali ini para pengelana yang sehat itu jadi tidak mendengar suara-suara misterius dari lantai bawah penginapan.

Badai semakin ganas. Hujan yang tadi hanya rintik-rintik, kini bagai air yang langsung ditumpahkan dari langit. Suara air yang bertubi-tubi memukuli atap membangunkan Meryl dari tidurnya. Dia mengejap-kejapkan matanya sejenak dan merapatkan selimutnya. Ruangan begitu gelap, sebab lampu yang ada telah dimatikan. Gadis itu melihat ke sisi tempat tidurnya, Clarice masih tidur dengan lelapnya.

Kilat yang tiba-tiba menyambar mengagetkan Meryl. Ternyata mereka lupa menutup tirai jendela, sehingga kilat menyilaukan itu menerangi kamar untuk sekejap. Tapi saat dia bergerak ke arah jendela untuk menutupnya, dia melihat sesosok bayangan hitam memantul dari kaca jendela.

Meryl berbalik dan melihat mahkluk berjubah berdiri tepat di hadapannya. Penyihir itu membuka mulutnya untuk berteriak, tapi sebelum dia sempat bersuara, mahkluk itu membekap mulutnya. Hal terakhir yang diingat Meryl adalah aroma manis menidurkan dari kain yang ditutupkan di depan hidungnya.

Sebelum tertidur, Meryl hanya sempat menggoreskan sepatah kata menggunakan sisa cat kuku yang teraih olehnya.

….

Keesokan paginya, sebuah diskusi terdengar dari kamar tempat Meryl dan Clarice tidur.”Pisang?”Terdengar suara Clarice.”Kenapa pisang?”

Finn, Clarice, dan Ed, berdiri mengelilingi sebuah meja kayu dan mengamati sebuah kata yang tertulis dengan cat kuku.

”Yah, Clarice. Memang aku mengenalnya lebih lama dari kamu, tapi akupun tak mengerti kenapa cewek itu menghilang dan hanya meninggalkan sepatah kata ”Pisang” menggunakan cat kuku.” kata Finn.

”Apa kalian bertengkar kemarin?” tanya Ed sembari mengamati Clarice. ”Atau kau melakukan hal buruk dengan pisang di tempat tidur kemarin malam? Hei, no offense, bagiku tiap orang bebas dengan fetish mereka masing-masing, tapi mungkin gadis itu merasa tidak nyaman.”

”Hentikan pikiran jorokmu Ed…” kata Clarice dengan pelototannya yang terkenal.

Finn mengelilingi kamar itu dengan tangan di dagu.

”Mungkin dia diculik?” terdengar teori baru Finn.

”Sebenarnya itu masuk akal. Tapi hal yang aneh adalah…. Kenapa cewek itu hilang beserta LABUnya? Ayolah, kenapa seorang penculik repot-repot membawa labu saat menculik seorang gadis?”

Ed membuka mulutnya dan sepertinya hendak mengeluarkan suatu kata yang diawali dengan ”fet” tapi tatapan Clarice sekali lagi menghentikannya.

”Sebaiknya kita turun dulu. Mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk dari orang-orang di bawah.”

Tapi tak ada orang di bawah. Mereka memang satu satunya, tepatnya tiga-tiganya (tadi empat-empatnya) tamu yang menginap di sana. Meskipun begitu, seharusnya ada orang-orang yang sarapan di ruang makan penginapan itu.

Tapi saat mereka turun, tak ada orang. Bahkan sang pemilik penginapan dan istrinya juga tak terlihat.

”Servis buruk, kubilang.” kata Ed. ”Kita tak diberi sarapan. Dan bahkan jam segini belum ada yang mulai memasak. Pantas saja penginapan ini sepi.”

”Menurutku ini lebih dari sekedar servis buruk Ed…” kata Clarice. ”Sebaiknya kita mulai melihat-lihat kota ini sejenak.”

”Sekalian sarapan.”

Dan mereka keluar untuk menyongsong hari yang indah itu. Mereka bertiga berjalan mencari tempat untuk makan pagi, sekaligus melihat-lihat apa mungkin ada petunjuk lain yang bisa membantu mereka memecahkan misteri yang mereka hadapi kali ini. Clarice berjalan di depan dengan tangan di dagu, Ed menoleh ke kiri dan ke kanan, dan Finn melamun di belakang mereka.

Finn disadarkan dari lamunannya oleh tepukan dari Ed.

”Jangan khawatir” kata cowboy itu sambil lalu.

”eh?”

”Sudah berapa lama kalian bertiga berjalan bersama?”

”Semingguan kukira.”

”Ah, pantas kamu tidak sadar. Jangan kuatir. Kamu masih punya kesempatan.” lanjut Ed.

”Maksudmu?”

”Dia itu gay.”

”…”

Ed tersenyum dan menepuk punggung Finn.

Cowboy itu menyadari kalau Finn seperti baru mendengar penjelasan kalau Bumi ini sebenarnya dodol raksasa, jadi dia melanjutkan kata-katanya dengan senyum ramah.

”Kau suka pada gadis penyihir itu kan? Tapi kaukira gadis itu dan cowok cantik itu… well… sudah sangat dekat, tidur bersama dan semacamnya. Jangan khawatir. Clarice itu gay. Cewek suka berteman dengan cowok seperti dia, sudah hukum alam. Kau masih punya kesempatan.”

Finn bengong selama beberapa saat sebelum Ed pelan-pelan melanjutkan. ”Apa aku salah?”

“Be…gitulah.”

“Owh… Maaf kalau begitu.”

Ed memperhatikan Finn yang mempercepat langkahnya sambil menggelengkan kepala.

Cowboy itu memutar bola mata dan berkata pelan pada dirinya sendiri. ”Ah… I see.. aku salah mengerti. Rupanya kamu bukan mengincar Meryl, tapi Clarice toh…”

Saat hari telah benar-benar terang. Mereka bertiga terlihat duduk di sebuah rumah makan yang terletak di pasar kota.

”Kota ini benar-benar aneh.” kata Clarice membuka rapat penyelidikan. Dia meletakkan sendoknya dan melanjutkan pembicaraan. ”Kalian lihat, sedikit sekali orang yang berlalu lalang di jalanan. Dan sebagian besar dari mereka berekspresi, kalau boleh kubilang, takut.”

Ed menelan rotinya, sebelum menyambung kata-kata Clarice. ”Selain itu, kalau kuperhatikan, kemana semua gadis di kota ini? Dari tadi hanya ada laki-laki dan nenek-nenek. Mana para cewek seksi kota ini???”
.
”Finn, kudengar Bard pintar mencari informasi dengan halus. Bisa praktekkan?”

Finn berpikir sejenak sambil mengulum sendok, sebelum membuka mulutnya. ”Menurut buku panduan petualang, penginapan atau tavern adalah tempat terbaik untuk mencari informasi. Tentu saja hal itu bisa dicoret sekarang. Berarti, kita beranjak ke tempat terbaik kedua: Pasar.”

Dia melhat sekelililing dan menetapkan pandangannya pada kios terdekat.

”Baiklah, saksikan pertunjukan kemampuan hebat seorang bard dalam mencari informasi dengan sangat halus dan diam-diam.

Finn berjalan mendekati kios terdekat dan tersenyum.

”Selamat pagi pak?”

Pedagang kios sayur itu menggigil dan langsung berkata dengan cepat.

”Maafakutidakterlibatdenganpenculikangadisberambutcoklatbermatabirudanmembawalabubesaritu. Akujugatidaktahukenapaparagadisdiculikdandibawakeguaditimurlautkota-di-bawahpatungtomatraksasayangbisadibukadenganmemutarnyakekanan. Akusamasekalitidaktahuapaapatentangsekteterkutukkotainisumpah!”

Lalu pedagang itu langsung lari terbirit-birit.

Finn memandangi sang penjaga toko sampai dia hilang dari pandangan dengan mulut menganga.

”Benar-benar hebat…” kata Clarice sambil menepuk punggungnya.

Dan mereka bertiga menghadap ke arah timur laut, bersiap untuk menyelidiki sekte misterius yang menguasai kota kecil itu.

Mengikuti penyelidikan mereka yang ternyata berlangsung lebih lancar dari dugaan itu, siangnya mereka telah menyusuri lorong sebuah gua, dengan obor di tangan masing masing. Lorong itu sempit dan menurun. Tapi adanya jalur untuk dilewati menandakan lorong itu sering dilewati banyak orang.

”Menurutmu ini bukan jebakan?” tanya Finn kepada Ed yang memimpin jalan.

”Mungkin saja, tapi sementara ini kita tidak punya petunjuk lain.”

Tiba-tiba Ed mengangkat tangannya. Dia memberi isyarat untuk memadamkan obor yang mereka bawa. Suasana langsung gelap gulita. Tapi mereka melihat cahaya di ujung lorong. Ketiga pengelana itu merayap perlahan, mendekati cahaya di ujung lorong itu.

Jalur menurun masih berlanjut. Tapi mereka tiba di sebuah ruangan yang luas dan tinggi, dengan lantai rata di bawah mereka, dan obor di dinding-dinding. Secarik sinar nampak turun dari lubang di atap gua menuju lantai. Mereka meninggalkan jalur turun yang akan membawa mereka ke lantai ruangan luas itu, dan bersembunyi di antara stalaktit dan stalagmit untuk mengamati apa yang terjadi di bawah.

Apa yang mereka lihat membuat mereka terkesiap.

Gerombolan berjubah hitam, membentuk lingkaran dan terlihat berkomat kamit di tengah ruangan.

Dan gerombolan itu tidak terlihat berkepala manusia. Melainkan berkepala

Sayuran.

Ada Ubi, tomat, terong, kol, timun, pisang, kubis, dan pepaya. Di tengah lingkaran, sesosok Kentang berjubah tampak berdiri di podium dan berpidato.

”Brethren…” terdengar suaranya bergema. ”Saudara-saudaraku sekalian…”

”Masa yang dijanjikan telah hampir tiba. Kekacauan, dan kehancuran di kerajaan ini merupakan tanda tanda bahwa hari dimana kita bisa tampil secara terbuka sudah semakin dekat. Masa kesetaraan dan persamaan hak dan derajat! Masa dimana tak ada lagi yang diperlakukan semena-mena karena dianggap berbeda. Karena kita semua sama. Kita semua adalah pemakan sayur!”

Jantung Finn dan Clarice berdetak kencang. Sekte ini menginginkan kehancuran kerajaan? Apakah…. Mau tak mau mereka teringat alasan perjalanan mereka. Mereka merangkan mendekati sisi tebing untuk melihat lebih jelas.

Dia mengangkat tangannya. ”Amin! Hidup Sekte Sayur!”

Semua orang di sekelilingnya mengangkat tanganya dan ikut berteriak. ”Hidup Sekte Sayur! Hidup Sekte Sayur! Hidup Sekte Sayur!”

Setelah itu, satu demi satu mahkluk berjubah hitam nampak melepas kepalanya. Terlihat bahwa mereka sebenarnya manusia biasa, lelaki dan wanita yang mengenakan… Sayur raksasa di kepala mereka. Kecuali sang pembicara yang masih mengenakan kepala kentang raksasanya.

Salah satu di antara mereka maju dan berlutut. ”Wahai sayur mulia, ini laporan kegiatan sekte kita minggu ini.”

Sang kentang membaca laporan itu menggunakan api obor. ”Penculikan gadis-gadis untuk percobaan rahasia kita tampaknya berjalan lancar. Dengan begini, sebentar lagi, apa yang kita idamkan akan benar-benar terwujud. Kita akan menguasai kerajaan ini!”

Dia mengangkat tangannya dan semua orang mulai mengangkat tangan dan berteriak. ”Hidup Sekte Sayur! Hidup Sekte Sayur! Hidup Sekte Sayur!”

”Bagaimana dengan gadis yang mengaku sebagai anggota sekte kita itu.”

”Kami sudah menangkapnya sayur mulia, dia memang membawa labu besar. Hal itu membuat pemilik penginapan bodoh itu mengira dia anggota sekte kita. Namun kita sudah mengatasinya. Kini dia sudah bergabung dengan para gadis lain sebagai bahan percobaan rahasia kita!”

Finn dan Clarice saling berpandangan dengan mata terbelalak. Apakah mereka terlambat…

“Bagus. Tapi jaga labu itu baik baik. Aku merasakan kekuatan dahsyat terpancar dari labu itu. Labu itu adalah artifak luar biasa.”

”Kemudian, untuk masalah administrasi. Subsekte buah masih ingin memisahkan diri dari sekte kita. Mereka tidak setuju dengan…”

”Cukup…” kata kentang yang di tengah. Dia melihat ke arah sinar matahari yang kini tepat tegak lurus dengan sebuah meja batu di tengah ruangan.

”Saatnya sakramen.”

Finn, Ed, dan Clarice hanya bisa melihat dengan tegang saat salah seorang berjubah masuk dengan menggendong sesuatu yang tertutup kain hitam. Dia meletakkannya tepat di tengah sinar matahari, kemudian bergerak mundur. Saat satu anggota maju dengan mengangkat sebilah golok besar, baru mereka sadar apa artinya. Ed langsung meloncat kebawah dan berteriak. ”HENTIKAN!”

Disusul oleh Clarice dan Finn.

Tapi terlambat. Sebab golok itu sudah meluncur turun dan menghunjam sosok berkain hitam itu. Cairan merah terciprat kemana-mana, sebagian mengenai Ed, Finn, dan Clarice. Cairan yang encer, dingin, dan…

Manis.

Hening sesaat, ketika mereka menatap semangka besar yang terletak di tengah meja terbelah menjadi dua. Sementara seluruh anggota sekte menatap mereka bertiga.

”ADA NON SAYUR!!!”

Dalam sekejap mereka bertiga harus melindungi diri dari lemparan tomat, pisang, semangka, kubis, dan kol. Sementara setengah anggota sekte mengambil tongkat panjang dan menyerbu mereka seakan mereka adalah daun ubi yang harus ditumbuk. Finn mencabut pedang elridge, dan Clarice merebut salah satu tongkat penumbuk. Mereka berusaha menebas setiap sayur yang melayang ke arah mereka. Sementara Ed mencabut pedangnya dan memutar-mutarnya, menjauhkan sebisa mungkin para anggota sekte yang menggila.

Dalam sekejap, Ed mulai pusing. Sementara Clarice dan Finn mulai belepotan buah dan sayur.

”Berhenti!” teriak sang kentang mulia. Ketiga pengelana yang terjebak itu menggunakan kesempatan tersebut untuk mengambil nafas, sementara Sang kentang maju ke arah mereka.

”Non Sayur! Kalian harus menerima hukuman suci!”

Finn, Ed, dan Clarice memasang kuda-kuda, bersiap untuk apapun yang mungkin terjadi.

Dia mengangkat tangannya dan sebentar kemudian, bibit-bibit tanaman mulai tumbuh di sekitar mereka.

”Dia penyihir!” seru Clarice.

Dan bibit-bibit itu telah menjadi tunas. Perlahan lahan, tunas itu tumbuh merayapi kaki mereka…

”…”

Ed menendang dan seluruh tunas tercabut.

Kentang penyihir itu memandang mereka dengan berkacak pinggang. ”Tolong diamlah. Bagaimana aku bisa melilit kalian dengan tumbuhan kalau kalian bergerak terus? Bisa diam minimal… setengah hari?”

Finn, Ed, dan Clarice mengambil kesempatan untuk berteriak dan menyerbunya sambil berteriak keras. Para anggota sekte tidak sempat bereaksi, tapi pada saat terakhir sang kentang berhasil mengelak dengan menjatuhkan diri

”… Kau…”

Di balik jubah itu… ternyata terdapat seseorang berproporsi anak-anak dengan wajah dewasa sempurna. Wajahnya terlihat berumur 20 tahun atau lebih, tapi tubuhnya memiliki ukuran tubuh anak berumur sepuluh tahun. Tubuh kecil itu ternyata menaiki enggrang khusus yang kini tergeletak patah.

”Puas? Kalian manusia-manusia bajingan?”

“Half Goblin…”

Half Goblin itu menghapus darah yang mengalir d ari mulutnya dan berdiri tanpa enggrangnya. “Manusia selalu membenci ras lain. Manusia juga selalu membenci satu-sama lain. Dan mahkluk setengah-setengah sepertikulah yang paling menderita. Padahal kita semua sama! Kita semua makan sayur! Itulah kesamaan semua ras. KITA ADALAH PEMAKAN SAYUR!”

”Saudara-saudaraku pemakan sayur! Kita hancurkan jurang pemisah yang ada di antara semua mahkluk pemakan sayur! Serang mereka!”

Dan puluhan orang berjubah itu mengepung mereka. Berkomat kamit, dengan sayur, buah, atau tongkat penumbuk daun ubi di tangan mereka.

”Hidup sekte sayur. Hidup sekte sayur. Hidup sekte sayur.”

Perlahan kepungan itu semakin mengecil. Finn, Ed, dan Clarice saling memunggungi, berusaha menjauhkan pengepung mereka dengan mengayun-ayunkan senjata. Tapi sia-sia.

”CLARICE! FINN! ED!”

Terdengar teriakan dari sisi dalam gua.

”Meryl!”

Meryl, berdiri dengan gaun berkibar, berdiri di sisi lain gua.

”Meryl! Kukira kami terlambat! Kata mereka para gadis telah digunakan untuk percobaan atau semacamnya!”

Meryl mengangkat bahu. ”Oh. Percobaan itu percobaan membuat resep sayur baru. Untuk menciptakan sayur yang disukai semua orang di kerajaan ini, semacam itulah. Makanya gadis-gadis diculik. Karena mereka yang biasa memasak. Bahkan kami tidak dibelenggu atau semacamnya.”

Sang half goblin mengangkat tangannya. ”Lanjutkan! Memangnya apa yang bisa dilakukan seorang gadis tanpa senjata?”

”Mungkin kalian tidak tahu… tapi gadis itu seorang penyihir kerajaan! Dia bisa membuat kalian semua jadi barbeque sayur dalam sekejap!” teriak Clarice.

”Aku?” kata Meryl.

”Iya, Kau.” kata Clarice putus asa.

“Oh iya! Sayang sekali kalian menangkapku tanpa tahu kalau aku seorang penyihir!” kata Meryl dengan nada paling dahsyatnya (yang bisa dibandingkan dengan anak kucing yang mencoba mengaum).

Meryl mengangkat tangannya, dan salah satu pisang di lantai langsung remuk.

“Lihat. Jangan sampai aku melakukannya pada kepala kalian.” katanya, sementara menyembunyikan nafasnya yang terengah-engah padahal hanya meremukkan setengah pisang bonyok.

Perlahan gerombolan orang berjubah hitam itu mundur. Sedikit demi sedikit, Finn, Ed, dan Clarice bergerak mendekati Meryl.

”Kalian jangan takut pada penyihir seperti dia! Aku juga penyihir!” kata Half Goblin itu.

”Aku akan menahannya!” kata Meryl. ”Kalian cepat yakinkan para gadis yang diculik untuk melarikan diri! Dan jangan lupa ambilkan Sir Astral!”

Ed, Finn, dan Clarice mengangguk dan bergegas menuju ruangan dalam gua, sementara Meryl dan sang Half Goblin berpandang-pandangan.

Mereka berdua saling menatap, berkonsenterasi pada mata lawan mereka masing-masing, sementara peluh menetes dari dahi mereka yang berkerut-kerut. Dan aura pertempuran mereka membuat tak ada satu orangpun yang berani menyela duel itu.

Duel sihir tidak hanya berupa lempar-lemparan bola api atau petir atau kutukan. Terkadang, duel sihir adalah duel kekuatan pikiran. Duel yang lebih rapi (dan digunakan oleh mereka yang belum mampu melempar-lemparkan bola api atau petir). Meskipun hal itu membuat wajah mereka yang terlibat seperti sedang mengalami sulit buang air besar.

Sementara itu para anggota sekte yang lain mengejar Ed, Finn, dan Clarice. Finn menyadari kalau sebentar lagi mereka akan terkejar, dan dia memberi isyarat kepada kedua rekannya untuk maju.

”Kalian majulah. Biar aku yang memberi waktu.”

”Finn! Apa yang bisa dilakukan seorang bard menghadapi gerombolan sekte gila?”

”Sudah tidak ada waktu lagi! Pergilah!” kata Finn sembari mencabut pedangnya.

Ed menggelengkan kepalanya dan menarik Clarice pergi. ”Ayo Clarice. Percayalah padanya.”

Dan sekejap kemudian, Finn sudah berhadap-hadapan dengan puluhan orang berjubah hitam yang mengacung-acungkan senjata.

“Berhenti!” kata Finn. “Jangan dengarkan half goblin itu!”

Orang-orang itu terus maju dengan tatapan ganas.
”Hidup sekte sayur, hidup sekte sayur, hidup sekte sayur”

Finn memutar otaknya untuk mencari cara mengulur waktu kematiannya. ”Apa kehancuran kerajaan ini benar-benar apa yang kalian inginkan?”

”Hidup sekte sayur, hidup sekte sayur, hidup sekte sayur.”

”Kehancuran kerajaan ini juga akan membuat kalian sulit mendapatkan sayur!”

”Hidup sekte sayur, hidup sekte sayur, hidup sekte sayur.”

”Dan… dan…” kata Finn panik, mengayun-ayunkan pedang elridge asal asalan sementara para anggota sekte sudah sangat dekat.

”APAKAH KALIAN TIDAK RINDU DENGAN RASA STEAK!”

”Hidup sekt….”

”Rendang! Bistik! Kalkun panggang yang besar dengan isi yang banyak! Steak medium yang juicy dengan gravy yang menetes-netes. Sup ayam yang menghangatkan perut! Barbeque daging dengan aroma yang menggelitik hidung!”

”Hidup…”

Perlahan banyak para anggota sekte itu memperlambat gerakan mereka.

”Tanpa mengikuti sekte inipun kalian bisa suka sayur! Terserah kalau kalian hanya ingin menjadi pemakan sayur! Tapi kalian akan membuat jurang pemisah baru yang sebenarnya ingin kalian hancurkan!”

”…”

Tiba-tiba gua bergetar. Mulanya perlahan, tapi sedikit demi sedikit, bunyi getaran semakin jelas, dan gua bergoyang semakin hebat.

Beberapa saat kemudian, Meryl terlihat berlari ke arahnya sambil tersengal-sengal. Susah payah berlari di tengah gua yang bergetar hebat.

”Meryl! Apa yang terjadi!”

”Gua… Duel… Kami…” katanya di sela-sela nafasnya.

”Gua ini runtuh akibat duel kalian….”

Meryl mengingat sejenak. Beberapa menit setelah duel sihir dimulai, mereka berdua sudah kehabisan stamina sihir dan melanjutkannya dengan duel lempar-lemparan buah. Salah satu buah mengenai sang ’tombol-penghancur-markas-rahasia-yang-harus-ada-di-markas-rahasia” dan meruntuhkan gua.

”Kurang lebih….”

Dalam keadaaan kacau balau, semua orang berebut meninggalkan gua. Sebentar kemudian Clarice dan Ed datang membawa rombongan gadis yang diculik dan sebuah labu bersyal. Mereka semua keluar dari gua, dan sekejap kemudian, terasa getaran dahsyat yang menandakan gua itu runtuh di bawah tanah.

“Tidak!! Markas rahasia kita!!” teriak sang half goblin. “Kalian harus membayar!”

Keempat petualang yang kini sudah kembali berkumpul itu bergerak mundur bersama para gadis yang mereka selamatkan. Mereka kalah jumlah, dan para gadis itu hanya gadis desa biasa. Tapi tiba-tiba terdengar teriakan. Dari kejauhan, terlihat para penduduk kota berlari ke arah mereka.

”Berhenti! Kami setuju untuk menerima kenaikan harga sayur!!”

Dan seluruh anggota sekte berhenti menyerang.

”Eh…?” kata Finn, Ed, Clarice, dan Meryl bersamaan.

Mereka semua membuang senjata mereka, tak mempedulikan teriakan-teriakan sang half goblin.

Keempat petualang itu hanya bisa bengong lagi, saat mereka melihat para penduduk kota dan anggota sekte berjalan bersama ke arah desa.

”Berhenti! Apa kalian mau meninggalkan sekte? Apa kalian lupa jasaku yang membuat sayur menjadi besar?”

”Sudahlah Louis….” kata salah seorang berjubah hitam. “Kau juga tahu kalau kami ikut sektemu karena para penduduk desa tidak mau menerima kenaikan harga sayur yang kami, para pedagang dan petani sayur, minta.”

Dan mereka meninggalkan Louis sang Half Goblin mencak-mencak sendirian.

Para petualang hanya mengangkat bahu dan mengikuti para penduduk kota pulang.

Dan terdengar teriakan sayup-sayup dari Louis. ”Dengar para petualang! Aku akan mengingat kalian! Ini bukan pertemuan terakhir kitaaa…..”

Keesokan harinya, Finn dan teman-temannya sudah selesai mengepak barang dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan diiringi ucapan terima kasih penduduk kota.

”Terima kasih, berkat kalian kami jadi memutuskan untuk menerima saja kenaikan harga itu. Sebab sulit memasak apa-apa untuk menjamu pelancong seperti kalian tanpa sayur.”

Clarice membungkuk hormat ke arah mereka dan memperbaiki letak ranselnya yang penuh sayur dan buah hadiah dari para petani dan pedagang sayur. Finn menolong Meryl mengencangkan ikatan tasnya, dan Ed memperbaiki ikatan pelana Jean.

Tapi suasana bahagia itu terputus oleh deru suara berderap. Di kejauhan, terlihat serombongan ksatria berkuda dengan baju zirah berkilauan memantulkan cahaya mentari pagi.

“Oh tidak…”

Ed meloncat ke arah Jean dan mulai memacu sapinya.

“Maaf teman-teman. Aku harus pergi duluan! Kusarankan kalian lari sekuat tenaga sekarang! Kita akan bertemu di kota perdagangan!”

Dan cowboy itu berderap meninggalkan Finn, Ed, dan Clarice. Mereka bertiga saling berpandangan, dan juga lari karena alasan yang berbeda.

Beberapa saat kemudian, selusin ksatria berkuda berhenti di tengah kota, di tengah kerumunan penduduk.

”Wahai para penduduk kerajaan! Order of the White Hippopotamus meminta bantuan kalian! Apakah kalian pernah melihat orang ini?” tanya sang komandan ksatria.

Dia membuka selembar perkamen dan memperlihatkan wajah Ed.

Para penduduk desa saling berpandangan, kemudian berkata. ”Ya, tadi dia lewat kota ini dan pergi ke arah sana.” kata mereka sambil menunjuk ke arah hutan goblin.

”Baiklah! Ayo kita pergi!” kata komandan ksatria sambil mengacungkan pedangnya.

Salah satu penduduk kota maju dan bertanya. ”Maaf ksatria yang terhormat. Sebenarnya kenapa kalian mencari-cari dia?”

”Kalian tidak tahu?” tanya sang ksatria. ”Dia adalah Yang Mulia Lord Edward Ignatius VII, sang calon pewaris tahta kerajaan ini dan tunangan dari Putri Clarice! Kami harus menemukannya untuk upacara pewarisan tahta!”

Dan rombongan ksatria itu berderap menuju hutan.

Read Full Post »

Singing In The Rain

I’m singing in the rain
Just singing in the rain
What a glorious feeling
I’m happy again
I’m laughing at clouds
So dark up above
The sun’s in my heart
And I’m ready for love
For love
Let the stormy clouds chase
Everyone from the place
Come on with the rain
I’ve a smile on my face
I’ll walk down the lane
With a happy refrain
Singing, singing in the rain
In the rain.

La…

I’m singing in the rain
Just singing in the rain
What a glorious feeling
I’m happy again
I walk down the lane
With a happy refrain
I’m singing, singing in the rain
In the rain
In the rain

Official Theme Song of My Life.

Terutama versinya Jamie Cullum. Tergantung bagaimana penafsiran anda terhadap lagu itu, mungkin begitulah penafsiran anda terhadap hidup saya.

Read Full Post »


Chapter 4: The Lonely Cow-Boy

Matahari baru saja muncul di ufuk timur beberapa saat yang lalu. Embun masih mengambang di udara, dan burung-burung terdengar berkicau dengan ributnya . Gerombolan-gerombolan pohon nampak tumbuh di sana sini, dan di kejauhan, nampak sebuah gunung yang tinggi menjulang.

Dari kejauhan, terdengar derap langkah kaki hewan.

“I’m a lonely wanderer,
and a long way from home…”

Dan dari balik bukit, terdengar suara nyanyian santai yang seirama dengan derap langkah kaki hewan tersebut. Perlahan, nampaklah sesosok pengelana.

Pengelana itu berkendara sendirian di tengah lautan rumput tak berbatas yang dibelah oleh sebuah jalan tanah yang rapi. Biasanya, jalan ini ramai dilewati pedagang, pengembara, dan pelancong yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tapi pada saat matahari baru terbit seperti ini, orang masih jarang terlihat.

Pengelana dengan topi kulit lebar dan mantel perjalanan termakan cuaca itu memakan rotinya sambil membaca sobekan selebaran bertanggal seminggu yang lalu.

“Tak terasa sudah seminggu, Jean.” Dia berbicara kepada tunggangannya sambil mengunyah rotinya. “Kegagalan besar kerajaan dalam operasi penyelamatan tuan putri… Aku masih belum percaya kalau ‘sir’ Cedric mati di sana. Kalau kubilang…”

Tiba-tiba tunggangannya berhenti melangkah dan mendengus. Pengelana itu membungkuk mendekati kepala tunggangannya dan mengelusnya. “Ada apa Jean?”

Tunggangannya hanya bersuara pelan.

“Mereka berhasil melacak jejak kita ya Jean? Baiklah, Giddy-up!” dia berseru sembari merapatkan sanggurdi ke perut tunggangannya.

Dan mereka berdua berderap menyusuri jalan, menuju hutan yang terlihat menyelimuti kaki gunung.

Di tempat yang sama, beberapa menit kemudian. Sekitar selusin penunggang lain nampak memacu kuda mereka menyusuri jalan tanah itu.

“Komandan, menurut penduduk desa yang kita lewati tadi, dia nampak melewati jalan ini. Kita tidak boleh melepaskannya kali ini!”

Baju besi mereka yang lengkap menutupi tubuh mereka dari ujung kaki sampai ujung rambut nampak berkilauan tersinari cahaya pagi. Embun bercampur dengan keringat membasahi tubuh mereka dan tunggangan mereka. Namun kalaupun mereka kelelahan, mereka tidak memperlihatkannya sama sekali.

Orang yang dipanggil komandan tadi menjawab tanpa memperlambat lari kudanya. “Sudah terlalu lama kita mengejarnya. Kali ini pasti berhasil. Kupertaruhkan nama Order of White Hippopotamus!” dia berkata sambil menatap hutan di kejauhan.

Tapi beberapa puluh meter dari situ, sang komandan mengangkat tangannya. Seluruh regunya langsung berhenti. Komandan itu memajukan kudanya mendekati sebuah tanda misterius di tepi hutan.

Sebelum memasuki hutan, jalan yang mereka tempuh tadi bercabang dua. Dan di salah satu jalan tadi, berdiri sebuah papan kayu.

Quote:
“Saya tidak lewat sini”

Selusin ksatria berbaju besi lengkap itu langsung mengerumuni tanda itu.

“Apa ini komandan?”

Sang Komandan mendengus. “Sudah jelas! Dasar sialan, dia mengira kita bodoh! Ini adalah tanda tipuan dari buruan kita. Dia kira kita akan tertipu, dan mengira kalau dia lewat jalan yang satunya lagi! Padahal sudah jelas sebenarnya dia lewat sini.”

Salah satu ksatria menyela.

“Tunggu komandan…” kata salah seorang ksatria. “Bisa jadi dia tahu kalau kita tidak sebodoh itu, dan dia sengaja memasang tanda ini agar kita mengira dia lewat sana padahal dia lewat sini sehingga kita lewat sana padahal sebenarnya dia lewat sini.”

“Benar juga…” kata seorang lagi. “Tapi bisa juga dia tahu kalau kita bakal mengira dia membuat tanda ini agar mengira dia lewat sana padahal dia lewat sini yang membuat kita lewat sini padahal dia lewat sana!”

“Benar, benar!” kata beberapa dari mereka.

Tapi seorang ksatria yang terlihat paling tua dan bijaksana mendekat.

“Kalian tenanglah.” Katanya dengan suara bijak “Dia orang yang cerdik. Kalau dia membuat tanda ini berarti dia tahu kalau kita bakal mengira dia membuat tanda ini agar mengira dia lewat sana padahal dia lewat sini yang membuat kita lewat sini padahal dia lewat sana sehingga kita lewat sana padahal sebenarnya dia lewat sini…”

Dan ditengah hutan… Buruan mereka menunggangi kendaraannya dengan santai.

“Biar mereka berdebat sampai malam, ya Jean?” katanya sambil nyengir kepada tunggangannya, sebelum kembali memacunya menuju cakrawala nan jauh di sana.

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, tuan Bard?”

“Kamu nanya aku seakan ini salahku…”

“INI MEMANG SALAHMU! Siapa yang bilang ‘aku sering lewat sini dan tidak pernah terjadi apa-apa’”

“Yah… Mana aku tahu kalau ternyata itu karena aku lewat dengan rombongan lengkap.”

Beberapa hewan kecil melangkah terburu-buru saat sebuah rombongan mengganggu acara sarapan mereka. Nampak bahwa sebagian besar rombongan itu hanya setinggi anak manusia. Namun kulit mereka yang hijau dan tubuh mereka yang gempal menegaskan bahwa mereka bukan anak kecil. Mereka mengenakan sedikit pakaian dari kulit hewan dan tumbuhan, dan membawa tombak kasar dari batu.

Mahkluk-mahkluk bertubuh kecil itu menggiring paksa tiga orang yang terikat. Berjalan di urutan paling depan, nampak seorang pemuda yang tertunduk lesu. Di belakangnya, sesosok pemuda dengan rambut perak nampak berpikir keras sambil menggigit bibir. Dan di belakang mereka, seorang gadis dengan gaun serba hitam diangkut di sebuah tongkat dengan mulut dibungkam oleh secarik kain.

Finn menggelengkan kepalanya. Minggu lalu mereka masih berada di ibu kota. Saat sedang memikirkan bagaimana cara mematahkan kutukan…

“Finn, jangan mulai flashback dan Bantu aku memikirkan cara lolos dari sini…” potong Clarice.

“Lagipula… siapa yang mau diberi flashback di tengah hutan seperti ini…”

“Oke, rencana A gagal. Rencana menggunakan sihir Meryl untuk melarikan diri menghasilkan komplikasi yang fatal. Jangan kuatir Clarice, kegagalan itu biasa Ayo pikir… rencana B…” gumam Clarice pelan.

Mungkin Clarice berhasil memikirkan rencana B, atau mungkin juga tidak. Tapi dia tidak sempat mengutarakannya, sebab sekejap kemudian mereka telah tiba di perkemahan para goblin di tengah hutan. Perkemahan atau kampong itu terdiri dari sebuah lapangan yang dibersihkan dari pohon-pohon, dan gubuk-gubuk kayu sederhana yang mengelilingi lapangan tersebut.

Finn menghela nafas dan menolehkan kepalanya ke arah pot besar yang mengepulkan asap di tengah lapangan. “Yah, masih untung kita tidak akan dimakan hidup-hidup, tapi direbus lebih dulu”

“Betapa aku ingin pandangan optimis sepertimu, Finn…” balas Clarice. Dia menggerak-gerakkan tubuhnya yang kini terikat di tiang dengan gelisah. “Meryl, tidak adakah yang bisa kamu lakukan dengan sihirmu? Dan kalau ada, tolong sekalian garukkan punggungku. Goblin-goblin ini mengikatku erat sekali sampai aku bahkan tidak bisa menggerakkan tangan…”

Meryl hanya menggelengkan kepala sambil menggumamkan sesuatu melalui kain yang membungkam mulutnya, sebelum kembali menatap ke goblin berbulu hidung sangat panjang yang kelihatan sangat kesal yang sedang mengasah pisau di depan sebuah labu.

“Aku tahu pasti ada alasan kenapa ada jalan memutar panjang melewati hutan ini, ada papan tanda dilarang masuk di jalan yang melewati hutan ini, dan oh, HUTAN INI DIBERI NAMA HUTAN GOBLIN. Tapi tidak, Finn bilang ‘menurut insting bardku, lebih baik kita lewat hutan ini… Dan thanks Meryl, meskipun kamu tidak bisa melepaskan kita, setidaknya kamu menggaruk punggungku… Kecuali itu bukan kamu…”

Clarice menoleh ke belakang dan melihat kepala bertopi kulit menyembul dari balik semak-semak..

“Ah, sudah kuduga. Pasti ada cara untuk membuatmu berhenti mengoceh.” Kata orang misterius itu sambil nyengir. “Sebab kalau kalian tidak ingin jadi makanan goblin, kita harus bergerak cepat.”

Dia memotong tali yang mengikat Finn, Clarice, dan Meryl dalam diam, kemudian berbisik. “Langsung ambil barang-barang kalian begitu kuberi tanda”

Setelah itu dia langsung menghilang kembali ke dalam semak-semak, meninggalkan mereka bertiga tanpa senjata berhadapan dengan lusinan goblin ganas dan lapar.

“Ung… bukannya seharusnya kamu memberi tahu apa tandanya…?”

Belum sempat Finn menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara gemerisik. Nampak sesosok manusia, jelas pemuda yang tadi, tapi bertelanjang dada dan hanya mengenakan rok dari daun-daunan, dan wajah penuh coretan mencoba meniru dandanan para goblin. Pemuda itu keluar dari semak-semak, dan sekarang mengendap-endap menuju sang pemimpin goblin yang sedang mengawasi anak buahnya menyiapkan makanan. Tapi entah karena ukuran tubuhnya yang minimal setengah meter lebih tinggi dari goblin yang lain, dandanannya yang jelek, atau warna tubuhnya yang tidak hijau, sebelum sempat berjalan lebih dari sepuluh langkah semua goblin di situ sudah mengalihkan pandangan ke arahnya.

Hening sejenak, sebelum pemuda berhenti mengendap-endap. “Betapa menyebalkan….” Dia bergumam sebelum berdiri tegak dan mencabut sebuah sebuah pedang dari pinggangnya. Kemudian dia bersiul keras, dan dari dalam hutan, terdengar suara derapan dahsyat yang menarik perhatian semua goblin.

“SEKARANG!” teriaknya.

Dan saat hewan yang dipanggilnya berderap dan menyeruduk goblin-goblin yang tak sempat bereaksi, Finn, Clarice, dan Meryl tersadar. Mereka segera meraih barang bawaan mereka yang digeletakkan di sebuah tunggul kayu besar. Kemudian mereka berlari ke arah tunggangan yang disiapkan pemuda itu.

“Meryl, Clarice, cepat naik!” teriak Finn sambil berusaha menahan para goblin agar tidak mendekat.

“Itu pedang Elridge di pinggangmu bukan hiasan kan?” terdengar teriakan orang yang menolong mereka. Finn tersadar dan mencabut pedangnya.

Finn mengayun-ayunkan pedangnya sebisanya, dan sebentar kemudian, teman baru mereka sudah ada di sisinya, membantunya menusuk tiap goblin yang berusaha mendekat. Sementara Clarice berusaha naik, Meryl mengayun-ayunkan tangannya dan berusaha mengutuk beberapa goblin. Salah satu goblin yang kesakitan akibat bisul yang tiba-tiba tumbuh di pantatnya, menyenggol panci besar tempat mereka seharusnya dimasak.

Dalam sekejap, kekacauan besar terjadi. Sementara api menyebar ke mana-mana dan para goblin sibuk lari kesana kemari dengan pakaian terbakar, Finn dan pemuda itu menyusul Clarice dan Meryl.

“Hahahah! Tadi itu nyaris saja!” terdengar tawa penolong misterius mereka yang sedang menghapus coreng moreng di wajahnya. Dia telah memakai lagi pakaiannya, dan kini sedang bersandar di pohon di samping tunggangannya bersama Finn, Clarice, dan Meryl. Para goblin tidak terlihat lagi, jelas mereka memilih menyelamatkan kampung mereka daripada mengejar bahan makanan merepotkan seperti mereka.

Sinar matahari yang telah tinggi menyusup masuk dari sela-sela kanopi pepohonan, menciptakan pola daun-daun di tubuh mereka semua..

“Biasanya aku tidak akan pergi mendekati kampung goblin seperti itu. Untung Jean mendengar keributan yang kalian timbulkan.

“Hmph… Sebenarnya tadi aku sedang memikirkan cara untuk membebaskan diri kami sendiri tanpa banyak keributan, tuan…” kata Clarice.

“Dengan berceloteh sampai mereka tidur?” kata pemuda itu. “Bagaimana kalau sedikit terima kasih, kalau tidak terlalu menyakitkan?” Dia merapikan pakaiannya dan melepas topi kulitnya.

Terlihat bahwa orang yang menyelamatkan mereka masih muda. Pemuda itu ternyata sangat tampan, dengan bentuk wajah kokoh dan rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai bebas. Matanya yang biru terlihat mencolok di kulitnya yang terbakar matahari.

“Terima kasih telah menyelamatkan kami.” Kata Finn. “Namaku Finn, dan ini rekanku Clarice dan Meryl. Kami sedang dalam perjalanan menuju kota perdagangan Leriat saat goblin-goblin itu menyergap kami.”

“Kalian bisa memanggilku… Ed.” Katanya sambil membungkukkan badannya dengan sopan. Dan tiba-tiba dia meraih tangan Meryl yang sedang memeluk labu dan menciumnya. Setelah itu dia beralih ke Clarice dan mencium tangannya juga.

Meryl yang tidak biasa diperlakukan seperti itu hanya tergagap dengan wajah merah padam.

Sementara Clarice yang sebenarnya sudah biasa diperlakukan seperti itu sebagai seorang putri raja juga tergagap dengan wajah merah padam. Mulutnya terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya terdengar sangat pelan.

Kemudian Ed menoleh ke arah hewan tunggangannya.

“Dan sapi ini Jean. Orang-orang biasa memanggil kami The Wandering Cow-Boy.”

Jean si sapi melenguh pelan. Moo.

Read Full Post »

Older Posts »