Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2007

Chapter 2: Pumpkin, Curse, and When the Plot Thickens

Finn berdiri di tengah padang tandus gunung Midrift, dengan pedang Elridge di tangan. ”Tak kusangka… Sir Edric tewas…”

Bard itu melihat ke kiri dan ke kanan, mencari orang lain yang selamat. Tapi tak ada satupun yang terlihat bergerak. Sementara Putri Clarice dan Meryl masih berpelukan dan terisak. Baru kemudian bard muda itu sadar.

”Sir Astral!”

Dia berlari ke arah tempat Sir Astral terakhir terlihat, setelah terlempar akibat mantera Meryl. Tapi tak terlihat ada kakek tua yang bergerak. Finn meloncat ke atas batu besar dan menoleh ke kiri dan ke kanan, sampai dia melihat jubah dan tongkat kayu sir Astral.

”Sir! Sir Astral!” teriaknya sembari menuruni batu. Dia bergerak perlahan ke arah penyihir tua itu, memperhatikan apakah Jubah itu masih bergerak. Tapi jubah itu tidak bergerak sedikitpun.

Finn mendorong-dorong jubah itu dengan ranting yang ia pungut.

”Meryl, Putri Clarice… sepertinya ada masalah serius di sini…”

Meryl dan Putri Clarice berpelukan, kedua gadis itu saling menenangkan diri setelah terlibat kejadian dahsyat sehari itu. “Putri tidak apa-apa?” tanya Meryl yang terisak. Teman baiknya itu membalas. “Tenang saja, aku tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja?”

Tapi sembari berpelukan, mereka sadar kalau ada sesuatu yang kurang.

”Putri Clarice… Merasa ada sesuatu yang salah?”

“Sepertinya… iya…”

Sang putri batuk-batuk sejenak, berusaha menghilangkan efek debu dan sihir dan belerang yang membuat suaranya menjadi serak. Kemudian dia terdiam sejenak. Meryl juga diam sejenak, sebelum mereka memisahkan pelukan mereka.

“…Putri…?”

Putri Clarice berbalik sejenak dan memegang gaunnya di beberapa tempat, sebelum memandang ke langit dan jatuh pingsan.

”Finn… sepertinya ada masalah serius di sini…”

Finn berlari ke arah Meryl dan Meryl berlari ke arah Finn.

”sirputriastralabuberubahsihirkutukan” suara mereka bergabung tak jelas saat mereka berkata dengan cepat secara bersama sama. Ekspresi panik terlihat di wajah mereka berdua.

”Kamu duluan” kata mereka bersamaan lagi. Hening sejenak, sebelum Finn menarik nafas dan mempersilahkan Meryl bicara duluan dengan gerakan tangannya.

”Sihir… tadi… bukan… sekadar… memperlonggar ikatan…” kata Meryl perlahan. ”Ledakan itu menghasilkan kutukan baru… Mungkin lebih baik dari sihir pembunuh.. tapi sihir itu mengubah Putri Clarice! Menjadi… menjadi…”

Penyihir itu menggelengkan kepalanya kencang-kencang seakan ingin melepaskan sesuatu dari otaknya. ”Sudahlah, yang penting, kamu sudah menemukan Sir Astral kan? Sir Astral pasti bisa menghilangkan kutukan Putri Clarice.”

Tapi Finn malah menggelengkan kepalanya perlahan. ”Meryl… kamu ingat, sihir apa yang kamu gunakan saat mendorong Sir Astral…?”

”…sebenarnya aku hanya menggunakan sihir asal-asalan… Yang jelas, bukan sihir mematikan. Aku belum belajar sihir mematikan sedikitpun. Mungkin.”

”Yah… erh… sepertinya kali ini Sir Astral tidak akan dapat membantu…” kata Finn pelan.

”Kenapa?”

”Sebab…” Finn mengangkat jubah penyihir utama kerajaan itu. Jubah itu kosong sama sekali, tak terlihat tubuh Sir Astral di sana. Atau hanya kelihatannya begitu. Sebab, sesaat kemudian jubah itu melorot, dan nampak sekelebatan warna kuning.

”Labu ini sepertinya Sir Astral…”

Sepuluh menit kemudian, tiga pemuda pemudi itu duduk saling berhadapan di tengah reruntuhan kastil gunung Midrift. Pedang Elridge tersarungkan di sisi Finn, sementara Meryl memangku labu a.k.a Sir Astral.

“Baik. Jadi biar aku ulang sekali lagi,” kata Finn. ”Sir Edric dan kurang lebih seluruh pasukan kerajaan mati… Kemudian….”

”Aku mengubah Sir Astral jadi labu.” kata Meryl.

”Belum tentu labu itu memang Sir Astral. Tapi.. Itu kemungkinan terbesar. Yeah…” kata Finn.

”Aku mengubah Sir Astral jadi labu.”

”Kurang lebih.”

”Aku mengubah Sir Astral jadi labu.”

”Meryl, setelah sepuluh menit kamu mengulangi kalimat itu berkali-kali, kita sudah yakin kalau kalimat itu bukan mantera untuk mengubah labu itu kembali jadi sir Astral KALAU Labu itu memang Sir Astral.”

”Ya, tapi aku mengubah Sir Astral jadi labu.”

”…”

Putri Clarice yang memotong percakapan ‘intens’ itu.

“Bukan salahmu Meryl… Semua orang akan mengubah gurunya jadi labu dalam keadaan seperti itu. Mungkin. Kadang-kadang. Pada saat tertentu.”

”Anda tidak membantu, Tuan Putri…”

”Tapi aku bukan tuan putri lagi, Finn. Dan panggil aku Clarice saja.”

“Anda sudah tenang Clarice saja?”

“Cukup… Clarice…”

Finn menarik nafas dan bersyukur karena Clarice sudah melewati masa pingsan berturut-turut, masa penolakan terhadap kenyataan, masa berteriak histeris tanpa henti, dan masa ingin mencekik semua orang yang terlihat di hadapannya.

“Baiklah. Yang membuat kita masuk ke masalah selanjutnya. Karena Sir Astral berubah jadi labu, dia tidak bisa menghilangkan kutukan mendadak Clarice….”

”…yang mengubahnya menjadi laki-laki.”

Finn menyesal mengungkit-ungkit soal kutukan itu lagi, sebab Clarice menghela nafas, melihat ke dalam gaunnya lagi, lalu pingsan sekali lagi. Wajar sih.

Dan dialog di atas diulangi tiga kali lagi.

Tiga kali sepuluh menit kemudian, baru akhirnya percakapan berhasil dilanjutkan.

”Jadi, ada yang tahu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Finn.

”Yang pasti, pertama kita harus mencari kota terdekat dan melaporkan semua kejadian ini kepada pihak berwenang.” kata Clarice yang telah berhasil menerima keadaannya dengan lebih baik.

”Setuju.”

”Tapi aku mengubah Sir Astral menj… erh, maksudku, sebelumnya sepertinya kita harus melakukan sesuatu terhadap penampilanmu, Clarice.” kata Meryl.

Mereka bertiga memandang ke arah Clarice. Tuan putri yang dikutuk itu masih memiliki kulit sehalus susu, rambut pirang keperakan bagaikan sutra, dan mata biru yang indah. Tapi gaun berenda itu kini menutupi tubuh seorang pemuda langsing. Dan suara sang putri, meskipun tetap lembut, telah berubah menjadi suara seorang laki-laki.

Clarice berpikir sebentar. ”Sementara, ada beberapa alternatif. Aku bisa menyamar menjadi wanita, berpakaian seperti laki-laki, atau melakukan alternatif lain yang belum kupikirkan.”

Meryl dan Finn memandangi Clarice selama beberapa saat.

”Ung… Meryl, Finn, apa yang kalian lakukan…?” kata Clarice dengan wajah memerah.

”Sepertinya lebih baik kamu mengenakan pakaian laki-laki untuk sementara ini…” kata Finn dan Meryl hampir bersamaan, dengan alasan mereka masing-masing.

Clarice berdiri dan mengambil tas perjalanan Finn. ”Yah, Finn. Sementara aku pinjam pakaianmu dulu. Meryl, temani aku ganti baju dong. Dan jangan mengintip, Finn.”

”Anu, sepertinya kalimat tadi agak terbalik sekarang.” kata Finn sambil menggaruk kepalanya. Clarice berpikir sejenak sebelum melanjutkan.

”Sepertinya lebih baik aku ganti baju sendiri saja deh…”

Dan malamnya, mereka telah berada di sebuah penginapan di kota terdekat.

”Aku tidak percaya kalau kita tidak dipercaya.” kata seorang pemuda berambut perak yang duduk di hadapan sebuah meja bundar. Seorang gadis dan pemuda lain duduk bersamanya di meja itu.

”Yeah, seharusnya para prajurit itu langsung percaya kan, kalau pemuda ini adalah Putri Clarice, gadis berantakan ini adalah apprentice penyihir utama kerajaan, dan aku seorang bard resmi istana. Sebuah pertempuran dahsyat dengan naga raksasa sebagai bintang tamu terjadi tidak begitu jauh dari sini, dan Sir Edric the Brave tewas di sana. Ah, tak lupa kalau labu ini adalah sang penyihir utama kerajaan yang disebut-sebut tadi.” kata Finn sebelum meneguk meadnya dan menghantam meja dengan kepalanya. Benar-benar klise. ”Salahkan Sir Edric yang langsung menuju Gunung Midrift tanpa mampir di kota dulu, kukira.”

”Aku tidak tahu apakah kita beruntung atau sial, mereka tidak mempercayai bukti yang kita bawa. Bisa lebih buruk. Kita bisa saja ditangkap dengan tuduhan merampok pedang Elridge dan seal kerajaan entah dari mana.”

Clarice melanjutkan. ”Yang jelas, cepat atau lambat berita tentang pertempuran ini akan mencapai pihak berwenang, kemudian mencapai Istana. Kita tidak tahu apakah itu akan baik atau buruk bagi kita.”

”Meryl… tolong ambilkan aku mead lagi…” kata Finn dengan nada berat, memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

”Anda kedinginan, Sir Astral? Perlu kuambilkan sesuatu?” Kata Meryl sambil menyelimuti labu yang dipangkunya dengan mantel. Mendengar permintaan Finn, gadis itu hanya menggerakkan jari-jarinya sembarangan dan menggumam pelan, sembari tetap memandangi labu seakan takut labu itu tiba-tiba hilang dari pandangannya. Segelas minuman yang tersaji di dekat Meryl terbang perlahan, sebelum bergetar beberapa senti dari Finn dan berubah menjadi seekor landak.

Finn menghela nafas, sementara Clarice tetap berbicara. Dia tidak mendengarkan percakapan ga nyambung antara Clarice, Meryl, dan sang Labu, tetapi memperhatikan landak sihiran Meryl merangkak meninggalkan penginapan. Di luar sudah gelap, dengan langit berbintang menerangi jalan batu. Finn meminum meadnya yang tersisa. Untuk sementara, biaya perjalanan tidak akan menjadi soal, sebab dia mengambil tas milik kepala rombongan bard yang memuat biaya hidup rombongan. Kalaupun uang itu habis, mungkin aku masih bisa mengamen, pikir Bard itu.

Bard itu memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di jalan. Baginya, kerajaan ini merupakan sebuah kerajaan yang damai dan tentram. Yah, memang ada serangan monster dan bandit sesekali. Tapi kurang lebih, Kerajaan Amnoria yang dikenalnya merupakan kerajaan yang cukup baik. Tapi sepertinya orang-orang di propinsi-propinsi pinggiran tidak menganggapnya begitu. Kalau tidak, kenapa pemberontakan terus terjadi di daerah sana?

”…kita harus mencari cara untuk mengubah Sir Astral kembali jadi manusia…” terdengar sepintas kata-kata Meryl.

”Itu kalau labu itu MEMANG Sir Astral” balas Finn, sebelum dia kembali memperhatikan kota di luar. Finn tidak begitu mengerti sihir, dan dia tidak tahu, apa memang semudah dan serandom itu, sihir dapat mengubah seseorang jadi labu atau mengubah gender seseorang.

Bel pintu berdering, tanda seseorang memasuki ruangan. Beberapa pelancong nampak memasuki penginapan. Kota Vanoli memang merupakan sebuah kota peristirahatan di kaki pegunungan. Biasanya, mereka yang datang ke sini adalah turis, atau peneliti yang ingin menyelidiki gunung Midrift. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu. Salah seorang pelancong yang memasuki penginapan, memiliki kumis yang berbentuk begitu aneh. Dia terlihat berkali-kali berusaha merapikannya, tapi kumis itu terus kembali ke bentuk semula.

Orang itu adalah bandit yang terkena sihir Meryl tadi siang! Ternyata dia selamat.

”Girls, aku permisi sebentar,” kata Finn. Dia mengambil pedang Elridge yang ditaruhnya di sisi bangku, dan memasangnya di sabuknya, sebelum berjingkat mengikuti orang tadi. Lantai bawah penginapan yang berupa sebuah bar itu cukup ramai, sehingga orang-orang bisa bercakap-cakap tanpa takut kalau pembicaraan mereka terdengar secara tidak sengaja. Tapi orang yang diikutinya ini terus pergi ke lantai atas. Jadi entah dia hanya lelah dan ingin tidur, atau dia ingin melakukan sesuatu yang benar-benar rahasia.

Orang itu memasuki sebuah kamar dan mengunci pintunya. Finn berpikir, apa dia harus menyelidiki lebih lanjut, atau menyimpulkan saja kalau orang ini hanya lelah setelah bertemu naga dan terlibat pertempuran. Tapi terdengar suara sayup-sayup dari dalam kamar. Itu berarti orang itu terlibat percakapan.

Finn menoleh ke kiri dan ke kanan, sebelum menyelinap ke kamar sebelahnya dan menempelkan telinga di dinding.

Sayangnya, suara percakapan itu terlalu lirih. Finn hanya dapat mendengar sepotong-sepotong.

“… bagaimana?” kata seseorang.

“…rencana berjalan…” Finn hampir terjatuh dari tempatnya menguping. Dia mengenal suara itu sebagai suara penyihir yang berduel dengan Sir Astral.

”…Edric… Astral… berhasil disingkirkan… Renard bonus yang bagus… Naga menarik… Penyingkiran raja…” lanjut penyihir itu.

”…orang kita… raja tidak akan curiga… orang kepercayaannya…” kata seseorang yang lain.

”…Putri Clarice…?” tanya orang yang pertama.

”…tidak perlu diperhitungkan lagi…”

”..kerajaan… milik kita… pada acara pengangkatan…”

Read Full Post »

Naga dan Ksatria Bergitar
Part 2

Dan pertempuran dimulai.

Dalam sekejap, pertempuran yang dahsyat pun terjadi. Panah, pedang, dan sihir bersilangan. Sang ksatria bergitar menarik beberapa pisau tersembunyi dari balik gitarnya dan melontarkannya ke arah para ksatria. Mereka terjatuh dengan pisau menancap di sendi-sendi mereka yang tak tertutup baju zirah. Kemudian, dia menarik sebatang pedang panjang dari ujung gitarnya, dan meloncat ke arah Putri Clarice.

Sir Edric tidak membiarkannya begitu saja. Setelah menjatuhkan beberapa pemberontak, dia berlari ke arah sang putri, dan tiba tepat sebelum beberapa bandit menusuk putri raja yang terikat itu. Setelah sang pemimpin pemberontak tiba, mereka langsung terlibat duel dahsyat.

Finn juga mencabut pedangnya, tapi dia hanya dapat menunduk dan berlari ke sana kemari. Dia melihat sir Astral yang melemparkan beberapa kutukan ke arah salah seorang bandit, dan Meryl yang susah payah mengayun-ayunkan tongkat kayunya yang besar ke sana kemari. Finn berlari ke arah temannya itu.

”Kini aku ingat kenapa aku tidak cocok jadi prajurit kerajaan…” Kata Finn sembari menunduk menghindari anak panah yang melesat. Meryl menggumamkan beberapa mantera dan mengacungkan tongkatnya, namun bandit yang ditujunya hanya menumbuhkan kumis.

”Arh… sudah kuduga, ini bukan kutukan pembuta mata!”

Meryl membuka-buka buku manteranya, sementara Finn mengayun-ayunkan rapiernya sembarangan dan mengusir siapapun yang mendekati mereka. Sementara itu, pertempuran berlangsung semakin seru. Sir Astral membakar beberapa bandit dengan sihirnya, sementara seorang penyihir bertopeng, tiba-tiba muncul dan melemparkan petir ke arah para prajurit. Dalam sekejap, mereka berdua terlibat duel sihir sengit dengan korban orang-orang di sekitar mereka.

Finn menyadari sesuatu dan menarik baju Meryl yang berhasil merontokkan bulu hidung salah seorang bandit dengan sihirnya. ”Meryl! Kita harus menolong Putri Clarice!” Dia menunjuk ke arah sang putri yang terikat, dengan mulut disumpal, terlempar ke sana kemari, nyaris terlupakan di tengah pertempuran sengit.

Mereka berlari di tanah yang berbatu, menghindari prajurit kerajaan dan prajurit pemberontak, panah yang berseliweran dan jubah yang terbakar. Para pemimpin pasukan masih berduel dengan sengit, saat Finn dan Meryl memeluk Putri Clarice yang terikat dan membawanya lari ke dalam reruntuhan. Finn menusuk seorang pemberontak yang mengikuti mereka, kemudian mereka bersembunyi dan mengambil nafas di balik tembok batu. Meryl dan Finn segera berusaha melepas ikatan dari tubuh sang Putri.

”Biar kugunakan mantera pelepas simpul,” kata Meryl sambil membuka-buka catatan sihirnya. Tapi Finn segera menolaknya. ”Aku tidak ingin gigi Putri Clarice copot atau sejenisnya, Meryl…” Bard muda itu meraih pisau kecil dari tali pinggangnya dan mencoba memotong tali pengikat sang putri.

”Jangan… bergerak… gerak… Tuan Putri…” kata Finn, saat dia bersusah payah berusaha memotong tali kuat yang mengikat Putri Clarice. Tapi Putri Clarice malah menggelengkan kepalanya dan bergumam panik.

”Finn…” kata Meryl. ”Sepertinya, memang bukan Putri Clarice yang bergerak…”

Dengan cepat Meryl menarik sumpalan di mulut sang putri. Putri cantik itu langsung berkata panik. ”Ruangan ini akan runtuh!”

Finn sadar, kalau memang bumi bergetar hebat. Batu-batu longgar mulai berjatuhan dari tembok dan atap. Dan bukan Cuma mereka yang menyadarinya.

”Tipuan apa lagi ini, wahai pengecut bertopeng!” kata sir Edric kepada lawannya. Mereka menghentikan duel mereka untuk sesaat, berusaha berdiri tegak di tengah getaran bumi.

”Bukannya ini salah satu rencanamu, oh peliharaan kerajaan?” balas lawannya.

Sir Astral juga menghentikan duelnya. Dia menatap prajurit musuh yang berubah menjadi katak (bukan kodok) akibat manteranya yang nyasar, dan menyadari kalau gerakannya bukan gerakan wajar seekor katak (bukan kodok).

”Ini tidak mungkin bagus…”

Ledakan keras terdengar, dan lava menyembur di kejauhan, di puncak gunung Midrift. Tapi bukan itu yang membuat mereka khawatir, sebab lava akan mengalir melalui alur yang telah dibuat letusan terakhir sepuluh tahun yang lalu. Yang membuat mereka khawatir adalah, raungan mengerikan yang terdengar setelah itu.

”Demi kue apel dan rum yang masih baru…” gumam Sir Astral. Saat dia melihat sesosok naga raksasa, benar-benar raksasa, memanjat keluar dan terbang dari kawah gunung midrift ke arah medan pertempuran. Pertempuran langsung terhenti, karena semua peserta telah melihat mahkluk mengerikan itu. Sulit dideskripsikan, bayangkan saja kadal jelek gede berwarna hitam bersisik gosong berkilap dengan sayap kelelawar robek-robek dan gigi sepanjang pedang.

”Mer… Meryl…” kata Finn setelah mereka berhasil keluar dari reruntuhan yang akan runtuh lagi. ”APA ITU!”

Meryl hanya bisa tergagap, sementara putri Clarice meloncat loncat karena ikatannya belum dilepas. ”Itu tidak mungkin…” kata sang putri. ”Sebab.. itu Naga Landus Gigantus! Naga itu seharusnya sudah punah!”

Tapi sepertinya naga itu tidak tahu kalau seharusnya dia sudah punah. Sebab dia malah terbang mendekat dengan kecepatan tinggi dan mendarat dengan suara keras di tengah tengah pertempuran. Tiba-tiba, pertempuran langsung berakhir. Sebab semuanya ingin menyelamatkan diri mereka sendiri.

”Astral!” teriak sir Edric di sela sela keributan. ”Mahkluk apa ini? Aku biasa melawan monster sebesar rumah, namun kadal ini lebih besar dari istana raja!”

”Aku juga tidak mengerti sir Edric… Naga ini seharusnya tidak mungkin ada! Dan lagi, kenapa dia tiba-tiba ada di sini! Dan deskripsimu agak berlebihan, naga ini tidak lebih besar dari istana raja kok.. ”

Naga itu menyemburkan api, dan dalam sekejap selusin prajurit kerajaan dan pemberontak langsung berubah menjadi arang. Dalam satu ayunan cakar, selusin lagi terlempar dan tewas. Dan dengan satu ayunan ekor, sebuah menara batu runtuh menimpa orang-orang di bawahnya. Sang ksatria bergitar kini tidak lagi tampak tenang. Dia sibuk berteriak memerintah anak buahnya. Tapi teriakan-teriakannya memancing perhatian sang naga. Naga raksasa itu meloncat ke arahnya. Ksatria bergitar sadar kalau dirinya dalam bahaya, dan dia berusaha meloncat menjauh. Tapi saat naga itu meraung, reruntuhan di sekitarnya bergetar dan runtuh. Pemimpin pemberontak itu tak sempat mengumpat, dan dia hilang ditelan asap debu dan batu besar.

Setelah menguburkan bandit bergitar dalam reruntuhan, kini naga itu menoleh ke arah Finn, Meryl, dan Putri Clarice.

”Meryl… ada mantera untuk mengubah naga jadi anak kucing? Kalau ada, bisa coba praktekkan sekarang…”

Finn tak sempat mendengar jawabannya. Saat Meryl membolak balik buku sihirnya, naga itu menerkam. Tapi Sir Edric meloncat ke depan mereka dan berteriak sembari mengayunkan pedangnya, membuat arah kepala naga itu berubah.

”Maju, naga kebesaran badan!” katanya di hadapan naga raksasa itu, sembari melesat kedepan dan menyerang naga itu dengan pedangnya.

Tak perlu dibilang, naga itu menganggap Sir Edric sang pembunuh naga tidak lebih berbahaya dari anak sapi. Kepalanya melesat kedepan dengan kecepatan yang sulit dibayangkan. Sir Edric tak sempat menghindar, dan dalam sekejap dia sudah ada di dalam mulut naga.

Sang ksatria hanya bisa menatap ke Finn yang berada paling dekat dengannya.

”Lindungi tuan putri…” katanya sebelum naga itu mendongak dan menelannya dalam satu gerakan cepat.

Finn, Meryl, dan Putri Clarice hanya bisa menatap tanpa sempat berpikir. Baru sedetik kemudian mereka sadar apa yang telah terjadi.

”Sir Edric…”

”Mati…”

Finn menatap pedang Elridge yang tertancap di tanah. Dia mencabutnya. Baginya, untuk sementara, dunia telah menjadi sunyi dan bergeming. Satu-satunya yang bergerak dan bersuara… adalah dirinya dan pedang Elridge…”

Tapi kemewahan itu tidak dapat dirasakannya lama-lama. Sebab raungan naga menyadarkannya. Naga itu telah mengalihkan perhatian dari mereka, dan kini sedang membuat daging bakar a-la naga dengan beberapa orang malang sebagai bahannya. Finn, Meryl, dan Putri Clarice yang masih terikat saling berpandangan. Mereka tahu, mereka bisa mati dalam sekejap. Hanya ada waktu beberapa detik untuk berpikir.

Meryl yang pertama melihat harapan. Dia berteriak ke arah gurunya yang sibuk melindungi beberapa prajurit dari api.

”GURU ASTRAL!!! SIR EDRIC MATI!!!”

Sir Astral terdiam beberapa saat sebelum berhasil mencerna maksud kata-kata apprenticenya itu. Sambil bergumam tak jelas, penyihir tua itu berlari ke arah muridnya yang panik. Orang di medan pertempuran sudah semakin sedikit, sebagian besar menjadi makanan naga, sebagian kecil berhasil kabur. Naga yang tiba-tiba muncul itu-pun sepertinya sudah agak bosan, jadi kini dia hanya menyentil orang-orang lewat dengan cakarnya sampai tewas.

Penyihir bertopeng yang menjadi lawan Sir Astral tadi melihat sang penasehat kerajaan berlari ke arah sang putri.

”Oh, tidak semudah itu…” katanya. ”Rencana kami hancur, jadi Putri Clarice harus hancur!”

Tanpa mempedulikan naga yang berada beberapa puluh meter darinya, Sir Astral, dan sang putri, dia menggumamkan mantera dan mengayunkan tongkat kayunya.

Sir Astral menyadari gerakan lawannya, dan dia bergerak ke antara mantera penyihir bertopeng dan Putri Clarice. Nampaknya dia berniat mengorbankan dirinya untuk sang putri, sebab tak sempat untuk merapalkan mantera penangkis, jarak antara putri clarice dan cahaya kutukan itu tinggal beberapa meter.

”GURU!” teriak Meryl sembari menyorongkan tongkatnya ke arah sang Sir Astral. Dengan satu ledakan dahsyat, Sir Astral terdorong ke samping, membuatnya terhindar dari mantera mematikan sang penyihir bertopeng. Tapi sepersekian detik itu membuat Sir Astral, sempat mengucapkan sedikit mantera dan membuat arah mantera berubah. Setelah itu sang penyihir utama kerajaan jatuh bedebam di tanah.

Sihir yang bercampur memiliki efek yang tak terprediksi. Kedua sihir itu bercampur menjadi satu dan pecah dengan kilatan cahaya hebat, bagaikan kilat yang menyambar tepat di depan mata. Putri Clarice yang berada beberapa meter dari situ terlempar dengan dahsyatnya.

Hening sesaat ketika Finn dan Meryl berlari ke arah Putri Clarice yang terbaring di bebatuan. Sementara sang naga, sepertinya terganggu dengan kilatan cahaya dahsyat itu. Atau sekadar sudah bosan, mungkin, sehingga naga itu hanya meraung sebentar, dan pergi meninggalkan medan pertempuran. Setiba-tiba saat dia muncul. Sang penyihir bertopeng sudah hilang entah kemana, pertempuran telah berakhir, dan kini yang ada di pikiran Finn dan Meryl hanyalah nasib Putri Clarice.

Tapi Putri Clarice nampak tak terluka parah. Sebab dia bangun sendiri, meskipun masih terikat, dengan wajah terlihat agak bingung dan kehilangan orientasi.

Mereka sadar kalau tali yang mengikat Putri tiba-tiba saja telah melonggar. ”Sepertinya gabungan dua mantera tadi menghasilkan sihir pelonggar ikatan?” kata Finn sambil nyengir. Sementara Meryl sibuk melepaskan ikatan Putri Clarice, dan sesaat kemudian mereka berdua sudah berpelukan sambil menangis.

Angin berhembus di tengah-tengah padang tandus gunung midrift, begema di antara reruntuhan kastil Midrift yang kini benar-benar hancur. Dan Finn berdiri di tengah
gelimpangan tubuh prajurit dan pemberontak yang tewas.

Read Full Post »

Saat masa depan kerajaan tergantung kepada seorang bard, seorang murid penyihir, putri raja yang dikutuk, dan sebuah labu.

Once Upon an Adventure

Not your ordinary fairy tale

Chapter 1: Naga dan Ksatria Bergitar
part one


…..

Sir Edric yang pemberani
Menebas sang naga dengan pedang sakti
Naga yang meneror desa selama berhari-hari
Sir Edric yang pemberani

Dengan satu ayunan pedang
Kepala naga langsung melayang
Naga raksasa tak lagi terbang
Kini rakyat bisa tenang…”

Rombongan bard berseragam kerajaan yang memainkan berbagai alat musik itu berhenti memainkan musiknya dan menunduk ke arah para penonton. Para penonton yang berkerumun di lapangan depan kastil itu langsung bertepuk tangan dengan semangat. Sementara, seorang ksatria senior nampak tersenyum bangga dengan kepala naga di tangannya.

”Sekali lagi…” kata raja yang duduk di sebelah ksatria itu. ”Sir Edric the Brave berhasil menjaga perdamaian di kerajaan kita.” Raja yang sudah tua itu mengangkat tangan sir Edric yang mengenakan armor lengkap. ”Sejak sepuluh tahun lalu…”

Pidato raja hanya terdengar sekilas dari tempat para bard kerajaan membereskan peralatan mereka. Salah seorang bard melihat sekilas ke arah podium sembari memasukkan gitarnya. Bard berambut pirang itu menghela nafas, saat seseorang menepuk punggungnya.

”Finn!”

Dia menoleh dan menatap seorang gadis di belakangnya. Gadis itu berambut coklat panjang, mengenakan topi penyihir yang nampak terlalu besar bagi kepalanya, dan baju penyihir yang acak-acakan seperti rambutnya. Mata biru tuanya yang besar menatap wajah orang yang baru disapanya tadi tanpa bergerak.

”Meryl,” kata Finn sambil menaikkan kerah pakaian gadis itu yang turun sampai ke bahu. ”Kalau bajumu ngga rapi terus seperti ini, orang bisa mengira yang tidak-tidak…”

”Aww, daripada memikirkan hal itu, ceritakan perjalananmu bersama sir Edric dong. Laporan – pandangan – mata – langsung!” kata gadis penyihir itu.

”Semuanya nyaris sama dengan yang diceritakan ketua di panggung,” katanya, menganggukkan kepalanya ke arah bard senior yang membawa biola. ”Ngga ada yang perlu kutambahkan…” Kemudian dia melihat kembali ke arah podium. Nampak sang raja masih berpidato dengan berapi-api. Perdana Menteri Rize, dan Kepala angkatan bersenjata, Sir Ronald, nampak duduk di belakang raja. Dan di singgasana di samping raja…

Meryl mengikuti arah pandangan mata Finn, dan tersenyum mengerti. Dia menyenggol-nyenggol lengan bard itu dengan sikunya, mukanya memerah.

”Aaah… aku mengerti. Romantis dan klasik sekali. Kisah cinta antara rakyat biasa dengan sang putri… Sang pemuda hanya bisa memandang sang putri dari kejauhan…” Meryl memandang dengan berbinar-binar ke seorang gadis yang duduk di sisi raja. ”Sang putri memang sangat cantik, dengan rambut pirang keperakan yang halus bagaikan sutra… kulit yang selembut… ya selembut kulit putri raja, mata yang mengundang rasa ingin melihatnya dari dekat… dan memeluknya… dan… dan…”

”Kalau kamu mau, aku bisa menceritakan yang baik-baik tentang kamu loh. Kami kan selalu belajar bersama di bawah Sir Astral.”

Finn menghembuskan nafas. ”Kalau begitu, kamu saja yang pacaran dengan dia. Aku ngga memandangi dia kok. Aku sedang melihat sir Edric…”

Meryl memandang sahabatnya itu sembari mundur sedikit. ”Finn… aku ga pernah menyangka kalau kamu…”

”BUKAN!!! Bukaaan!” kata Finn panik. ”Dasar cewek yang selalu salah ngerti!”

Finn menarik sebilah rapier tipis dari sarung yang terdapat di pinggangnya dan mengacungkannya ke udara, kemudian menatap bilah yang berkilauan tersinari matahari itu.

”Ksatria terbaik di negeri ini. Sudah tak terhitung berapa kali beliau menyelamatkan kerajaan… Mengalahkan monster. Tercatat dalam sejarah. ”

Meryl menggelengkan kepalanya. ”Kamu gagal lagi dalam tes menjadi prajurit kerajaan ya?” Finn menganggukkan kepalanya.

”Su.. Sudahlah Finn…” Meryl menepuk pundak temannya. ”Kamu memang ngga cocok untuk jadi prajurit kerajaan kok. Kamu memang cocoknya ngamen seperti sekarang.”

Finn mengayunkan gitarnya ke arah Meryl, yang dihindari dengan mudah…dengan jatuh terduduk. Kemudian Meryl bangkit dan memegangi topi penyihirnya yang hampir lepas, sebelum berlari menjauh. ”Ah! Nampaknya sir Astral sudah mulai mencariku.” Finn melihat ke arah seorang kakek berambut dan berjenggot putih panjang di podium. Kakek berkacamata yang mengenakan jubah panjang itu nampak celingukan di sebelah sang putri.

Finn menatap temannya yang berlari sambil menggosok-gosok bagian belakang tubuh itu sembari menghela nafas.

Tiba-tiba…

Terdengar ledakan keras. Asap membubung di mana-mana, menghalangi pandangan. Petir menggelegar, jelas akibat sihir.

Suasana perayaan langsung berubah menjadi kepanikan.

Sir Edric cepat tanggap. Dia menjatuhkan kepala naga di genggamannya, dan mengangkat pedangnya. Dengan cepat dia turun ke bawah podium, dan berteriak ke arah para pengawal dan prajurit kerajaan. ”Jangan panik! Berkumpul di sekeliling podium!” Perdana Menteri Rize dan Sir Ronald langsung berdiri untuk melindungi raja. Sementara itu Sir Astral berlari ke sisi podium dan mengangkat tongkatnya, berusaha menghilangkan asap dengan sihirnya. Meryl nampak celingukan di sisi Sir Astral, terbatuk-batuk akibat asap yang menutupi podium.

Terdengar suara dentingan gitar.

Semua mata langsung menuju ke arah sumber suara. Di puncak sebuah pohon. Saat asap di sana mulai menipis nampak seorang bermantel coklat dan bertopeng, sedang memainkan gitarnya. Di sekeliling lapangan, nampak orang-orang bertopeng yang memegang pedang atau crossbow. Seorang penyihir berjubah hitam nampak berdiri mengancam di sisi orang bergitar tersebut.

”Sang bandit bergitar!”

Para penduduk berlari-lari panik, meskipun sebagian malah terdiam dan berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk ke arah orang misterius di atas pohon tersebut.

Orang bergitar itu nampak memainkan beberapa nada lagi sebelum menggantungkan gitarnya di punggungnya, dan meraih tali yang menggantungkan salah satu spanduk. Dia menarik-nariknya sejenak, sebelum meloncat dan berayun. Para ksatria dan prajurit yang sedang berlari ke arahnya hanya bisa memandangnya lewat di atas kepala mereka.

”Tangkap pimpinan pemberontak itu!!!” Teriak sang raja panik dari balik asap.

Tapi sang pimpinan pemberontak berdiri dengan tenang di podium, sementara para ksatria sibuk melawan anak buahnya. Sir Edric mengalahkan beberapa di antaranya dengan mudah, sebelum menyadari kalau pimpinan mereka ada begitu dekat dengan raja. Dia langsung berlari ke arah podium bersama beberapa ksatria. Dalam sekejap, podium itu sudah terkepung.

”Menyerahlah, bandit bergitar!”

”Diam, wahai peliharaan kerajaan…” katanya setengah berlagu. ”Aku disini mewakili penduduk kota-kota yang terpinggirkan, meminta sang raja untuk berhenti menjajah mereka.”

Kemudian dia memainkan beberapa nada dengan gitarnya.

”Tidak akan!” balas raja dengan keras. ”Mana mungkin aku menyerahkan wilayah kerajaaku ke perampok seperti kalian!”

”Sudah kuduga…” katanya sambil mengibaskan rambut pirangnya. ”Kalau begitu, ucapkan selamat tinggal…”

Saat asap menghilang, semua terkejut melihat kursi di sebelah sang raja sudah kosong.

”Putri Clarice!!!”

Sir Edric langsung meloncat ke podium dan menebaskan pedang Elridge, pedang terkenalnya. Tapi Bandit Bergitar menghindarinya dengan meloncat ringan.

”Saya memberi waktu 3 hari, yang mulia. Ambillah surat tanah milik propinsi pinggiran yang selalu anda tindas, beserta uang pajak mereka yang telah anda pungut bulan ini. Bawa semuanya ke Reruntuhan Kastil Gunung Midrift. Kalau tidak, keselamatan tuan putri tidak akan saya jamin.”

Setelah berkata begitu, asap tebal kembali membumbung, dan setelah asap menipis kembali, sang bandit beserta para anak buahnya telah menghilang, meninggalkan lapangan istana dalam kekacauan.

Finn hanya dapat melihat semuanya sembari bersembunyi di balik meja.

…………………………

Tak perlu dibilang, raja sama sekali tak ingin menurut kepada pimpinan pemberontak. Setelah diskusi dengan para menteri dan penasehat kerajaan, pengumpulan pasukan besar-besaran dilakukan. Raja mengumpulkan ksatria-ksatria terbaiknya, yang dipimpin oleh Sir Edric. Untuk dukungan, raja juga meminta Sir Astral, penasehat kerajaan dan penyihir tinggi istana, mengumpulkan penyihir-penyihir terbaik kerajaan untuk berangkat bersama mereka.

Sesuai kebiasaan, beberapa bard kerajaan juga ikut bersama mereka sebagai penulis catatan perjalanan. Finn menggosok gitarnya dengan gugup, saat ketua rombongan bard mem-briefing mereka. Sekilas, dia melihat Meryl yang tetap berantakan, mempersiapkan perlengkapan Sir Astral sebagai apprentice beliau. Meryl nampak cukup khawatir, sebab dia juga berteman baik dengan Putri Clarice.

Tanpa membuang waktu, mereka tiba di tempat tujuan sesuai jadwal. Gunung Midrift merupakan daerah yang tandus, tanpa penghuni sedikitpun. Garnisun prajurit yang ditugaskan di sana telah dibubarkan sejak letusan terakhir gunung berapi itu sepuluh tahun yang lalu. Nampak asap belerang membubung dari celah-celah bebatuan. Pohon-pohon mati menambah seramnya suasana.

”Berhati-hatilah, Sir Edric.” Sir Astral berkata dengan nada penuh kebijaksanaan kepada ksatria senior yang memimpin di depan. ”Ada kabar kalau naga bersarang di sekitar sini.”

”Jangan khawatir, Astral yang baik” Sir Edric membalas perkataan sang penasehat kerajaan. ”Satu atau dua naga sudah menjadi sarapan sehari-hariku. Lagipula, kita bersama ksatria-ksatria dan penyihir-penyihir terbaik kerajaan.”

Saat hari menjelang sore, mereka tiba di reruntuhan kastil midrift. Dulu, pada masa kekuasaan kakek raja yang sekarang, kastil ini merupakan tempat perlindungan keluarga kerajaan. Namun sebuah letusan gunung midrift melantakkan kastil batu itu. Kini kastil itu menjadi sarang perampok gunung dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Sir Edric berdiri di atas salah satu reruntuhan menara istana dan bersuara sekeras-kerasnya. ”Kami sudah tiba, wahai pemberontak!”

Suaranya bergema di antara reruntuhan batu dan tebing-tebing gunung Midrift.

”Keluarlah sekarang. Dan ambil sendiri peti berisikan emas dan surat berharga yang kalian minta!”

Dari salah satu jendela reruntuhan yang gelap, sesosok bayangan menjawab.

”Sir Edric the Brave sendiri yang mengantarkan tebusan. Aku jadi tersanjung. Awalnya, aku tidak berencana menunjukkan diri, namun kini rasanya tidak sopan kalau aku tidak menyambut kalian secara pribadi.”

Sang bandit bergitar, perlahan muncul dari balik bayangan reruntuhan. Dia menatap sejenak ke sekitar selusin ksatria dan penyihir yang mengelilingi sebuah tandu. Tandu itu kini berisikan sebuah peti besar.

”Tunjukkan dimana Putri Clarice, wahai pemimpin pemberontak!”

“Tunjukkan dulu tebusannya.”

Salah seorang ksatria membuka tutup peti. Nampak emas berkilauan dan beberapa lembar perkamen. Pemimpin pemberontak bersiul, dan di bawah jendela tempat dia berdiri, beberapa anak buahnya mengawal Putri Clarice yang terikat erat.

”Aku percaya kamu tidak menyakiti putri kerajaan, wahai pemberontak.”

Bandit Bergitar hanya tersenyum dan menunduk sopan. ”Seorang gentleman tidak akan menyakiti wanita tanpa alasan.”

Tapi tiba-tiba terdengar suara. Di atas peti, entah sejak kapan seorang bertopeng berjongkok dan menggenggam sedikit emas.

”Bos! Ini Palsu!”

Orang itu segera meloncat menjauh. Tapi dia tidak bisa lari, sebab dari balik bebatuan, para ksatria dan penyihir yang sedari tadi bersembunyi, muncul dengan senjata di tangan.

“Menyerahlah, pemberontak. Kamu telah terkepung. Kamu kira raja mau menurut begitu saja kepada bandit sepertimu?”

”Tak kusangka, Sir Edric yang terkenal mau berbuat seperti ini.”

”Huh, aku tidak perlu berlaku ksatria terhadap pemberontak sepertimu!”

Tapi bos pemberontak itu tidak nampak panik. Matanya memandang para pengepungnya, kemudian dia memainkan beberapa nada.

Dari tebing-tebing yang mengelilingi reruntuhan, muncullah puluhan orang bertopeng.

”Aku juga tidak perlu berlaku ksatria terhadap anjing peliharaan kerajaan sepertimu, bukan begitu?”
….

To be continued

….

Read Full Post »

File 1.1

Apa itu membela kebenaran?

Aku masih ingat, seakan baru kemarin, saat aku tiba di depan kantor ini dan mengetuk pintunya, dengan harapan akan dijadikan partner, oleh detektif swasta profesional yang direkomendasika editorku dulu.

Sebagai wartawan, aku sudah capek dengan media cetak yang dikuasai oleh bos-bos gangster dan penjahat itu. Dan aku tidak menyesal keluar dari sana, meskipun aku hanya dijadikan sekretaris oleh bosku yang baru ini.

Orang yang menarik, meskipun agak aneh. Sepertinya dia belum dapat melupakan partnernya yang tewas 2 tahun lalu itu. Meskipun kadang-kadang tingkahnya tidak bisa ditebak, sesekali dia nampak berwajah sendu seperti sekarang. Matanya yang gelap, dalam, terpaku pada kartu misterius yang kami pungut di lokasi pembunuhan kemarin malam.

Dahinya berkerut serius, sejak tadi pagi dia duduk di mejanya, menatap barang bukti yang mungkin saja kunci dari kasus ini dan kasus-kasus sebelumnya. Ah, aku dapat melihatnya. Keringat menetes di wajahnya yang diam kaku, berkonsenterasi penuh kepada kasus di hadapannya. Tubuhnya bergeming tak bergerak, sesekali bergetar, menahan desakan adrenalin, rasa kesal terhadap penjahat yang menantangnya terang-terangan.

Dia se

“Clara…”

Ah, beliau memanggilku. Bantuan apa yang bisa kuberikan pada detektif ini?

“Uhh… Bisa ambilkan obat diare di lemari? Aku… sakit perut sejak tadi pagi… Tidak… tahan lagi.. sekarang… aku harus ke wc…”

……………………………………………………….

It’s a Mad, Mad World
File 1.1: Partner in Crime

“Terimakasih, Clara…”kataku sembari mengelap tanganku dengan saputangan. “Ah.. lebih enakan sekarang… Untung wc kita yang mampet sudah diperbaiki. Ingatkan aku untuk membeli pengharum ruangan besok…”

Aku kembali duduk di mejaku. WC adalah tempat yang bagus untuk memikirkan kasus, kalau boleh kubilang. Tapi kali ini sangat sedikit, kalau boleh kubilang hampir tidak ada, kemajuan yang kuperoleh dari berdiam satu setengah jam di kamar privat itu, berpikir sambil melakukan urusan ‘itu’.

Clara kembali meneruskan ketikannya. Sebenarnya, entah apa yang diketiknya, aku kurang tahu. Kantor kami agak… jarang mendapat kasus, sehingga jarang pula laporan harus diketik. Tapi siapa peduli. Seorang sekretaris memang tugasnya mengetik, aku sudah terbiasa mendengar suara ketikannya yang berirama. Bagus untuk membuatku tidur siang.

Kembali ke kasus… Aku baru sedikit sekali memperoleh kemajuan pada kasus yang satu ini. Padahal sudah 2 tahun aku mengerjakannya. Satu-satunya petunjuk yang kuperoleh adalah… kartu-kartu ini.

Kartu Joker.

Aku tahu siapa pemiliknya. Pernah bertemu dengannya sekali. Kartu joker ini bukan kartu biasa. Kita bisa lihat dari tanda-tanda khusus yang tersirat di kartu ini. Terutama tulisan

“BLACK PHANTOM.
WORLD’S MOST HANDSOME AND FAMOUS THIEF.
CALL 1800-200-THIEF.”

Di belakang kartu.

Tentu saja, seperti semua detektif brilian lainnya, aku langsung menelepon nomor itu. Sebentar, biar kuambil transkrip percakapanku yang diketik Clara.

…………………………

-Halo, 1800-200-THIEF?

-Ya, benar. Siapa di sini?

-Ini detektif swasta, Faris P. Sherlock. Apakah….

-Detektif swasta?

-Ya.

-Ah, maaf tuan Faris. Di sini tidak ada pencuri paling tampan dan terkenal di seantero negeri. Terutama yang namanya BLACK PHANTOM

-Oh, maaf mengganggu kalau begitu

…………………………

Sudah selama ini aku memandangi transkrip itu. Tapi aku tetap tidak bisa menarik petunjuk dari dalamnya. Sudahlah, sepertinya sudah saatnya aku memikirkan petunjuk lain. Tapi sebelum itu, sepertinya sudah saatnya makan siang.

“Clara, bisa kamu lihat apa yang ada di lemari makanan? Sepertinya sudah waktunya makan siang.”
“Segera, Sherlock.” Kata gadis itu, beranjak dari depan mesin ketiknya.

“Seperti jawabanku kemarin, tadi pagi, dan 5 menit yang lalu, Sherlock. Roti Kering. Ada juga selada dan wortel kalau anda mau…”

“Ini benar-benar gawat, Clara. Seorang detektif perlu makanan bergizi tinggi. Dalam jumlah yang banyak. Itu diperlukan agar sel-sel kelabu di otak kita bisa bekerja dengan semestinya. Dan agar perut tidak berbunyi yang aneh-aneh saat kita sedang meneliti. Bagaimana kita bisa bekerja tanpa makanan seperti ini?”

“Sudah kubilang Sherlock, sebaiknya kita terima saja kasus perceraian, kehilangan hewan peliharaan, dan pencurian lolipop itu. Orang tadi membawa kasus kehilangan anjing ke duapuluh lima yang kita tolak minggu ini…”

“Ini masalah prinsip Clara…”

Saat aku sedang memikirkan kata-kata untuk menjelaskan, mengapa kami tidak menerima kasus anjing hilang, terdengar suara ketukan pelan di pintu kantor kami yang lusuh dan kumuh.

….

“Jadi nona… Wethersby. Benar?” kataku kepada wanita muda di hadapanku yang baru saja selesai menceritakan masalah yang dihadapinya. Kami duduk di ruang kantor berdebu yang dengan buru-buru kubersihkan sebelum calon klien kami masuk. Aku selalu bilang, klien harus mendapat kesan pertama yang bagus.
Clara mencatat percakapan kami sembari duduk di kursi sebelahku.

“Majikan anda, Nyonya Miles yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya saat ini, mendapat surat ancaman pencurian?” tanya Clara.

“Benar…” kata gadis muda berpotongan rapi itu. “Baru kemarin, saya sendiri yang menemukan sepucuk surat di antara antaran koran harian. Surat…tanpa nama, yang mengatakan bahwa tanggal 18, yaitu 2 hari lagi, dia akan mengambil harta Nyonya yang paling berharga. Bersama sepucuk kartu joker…”

Clara membaca catatannya. “Seperti yang anda bilang sebelumnya. Yaitu sebuah koin tembaga 1 sen yang pernah tergigit oleh Presiden pertama George Washington. Menjadi incaran para kolektor, karena adanya cetakan gigi sang presiden sebelum dirinya menjadi ompong.”
“Baiklah nona… kalau begitu kami akan menerima kasus yang menarik ini, dengan syarat, segala pengeluaran selama penyelidikan ditanggung, TERUTAMA MAKANAN. Ditanggung oleh anda.

“Uhm… baiklah…” kata Wethersby yang agak bingung mendengar tekanan pada frase terakhir kalimat Sherlock itu.

Gadis itu beranjak pergi. “Sebelum anda pergi…”kataku sambil tetap duduk, “anda sebaiknya jangan lagi membeli roti daging di waserba Lane Road itu, apalagi kalau anda sedang berusaha menjalani diet vegetarian. Makanan disana mahal dan terlalu berlemak…”

“…Apa!? Bagaimana anda tahu?”

Aku tersenyum kepada wanita muda itu. “Lipstik anda terlihat baru dipoles, artinya anda baru saja merapikan lipstik. Apa yang bisa membuat anda merapikan lipstik sebelum berkunjung ke sini? Hanya dua, berciuman atau makan sesuatu. Anda tadi bilang, anda naik taksi, berarti anda tidak mungkin tak sengaja mencium sesuatu dalam perjalanan.”

“Sepertinya anda tidak baru saja berciuman dengan seseorang tentunya, karena saat berbicara dengan saya, tercium aroma mint yang masih baru dari mulut anda. Orang tentunya makan permen mint untuk menyegarkan nafas, sebelum berciuman, bukan sesudahnya. Kalau anda berciuman, aroma permen itu tidak akan sebaru ini. Jadi anda baru saja makan sesuatu.”

“Noda minyak masih tersisa di saputangan anda. Ditambah dengan sedikit serbuk coklat kemerahan, yaitu remah roti dan serbuk cabe yang menempel karena saus tomat, sudah jelas anda baru saja makan roti daging. Penampilan anda sedikit pucat, dan kartu yang sekilas terlihat di dompet anda sewaktu anda mengeluarkan kartu nama, adalah kartu nama sebuah toko makanan khusus sayuran beberapa blok dari sini. Karena itu saya untung-untungan mengambil kesimpulan bahwa anda sedang menjalani diet vegetarian, dan baru saja mulai, sehingga belum terbiasa.

Jadi, karena anda baru saja, sembunyi-sembunyi makan roti daging, hanya ada 1 toko di dekat sini yang sesuai dengan hipotesa saya, yaitu waserba di Lane Road, yang sejalan dari Manor nyonya Miles, dan terletak beberapa blok dari sini. Selesai, sesederhana itu.” Kataku sambil tersenyum dan menyatukan ujung-ujung buku jariku, perlahan-lahan dengan dramatis.

“Uhm… tuan Sherlock..�” kata gadis itu. “Memang saya makan roti daging di waserba Lane Road, dan baru mulai menjalani diet vegetarian. Tapi saya tidak pakai lipstik, ini warna alami bibir saya, dan noda di saputangan saya adalah keringat dan debu… Serta saya tidak makan permen mint.”

...

“Uh.. pokoknya, tunggu kami besok…” kataku sambil mempersilakannya ke pintu keluar.

Aku menghembuskan nafas lega. Hmm.. bau mint.
“Sherlock…” terdengar suara Clara. “Uh… tadi anda sikat gigi pakai pasta gigi mint kan?”

…………………

Aku melempar kartu joker itu ke udara, dan menangkapnya kembali. Black Phantom? Tak kusangka kita akan bertarung lagi secepat ini…

………………….

“Semoga kami tidak mengganggu” kataku sambil tersenyum, saat beberapa pelayan datang dan menghidangkan nampan-nampan bertutup di atas meja. Lampu kristal berkilauan di bawah atap.

“Anda datang pada saat yang sangat tepat, tuan Sherlock…” kata seorang wanita paruh baya yang lembut, tapi berekspresi kuat itu. Dia dan anggota keluarganya, duduk mengelilingi meja makan besar di ruang yang mewah ini, bersamaku dan Clara. Nona Wethersby nampak duduk beberapa kursi di sebelahnya.

Nyonya Miles termasuk salah satu orang terkaya di kota ini. Rumahnya yang terletak di pinggiran kota, merupakan sebuah Manor besar bergaya klasik, yang ditinggali sedikit anggota keluarganya dan beberapa orang pelayan.

“Aku selalu bilang, kalau ingin bertamu, datanglah saat makan siang.” Kata seorang pemuda ceria dengan potongan tidak begitu rapi. “By the way, sudah lama aku ingin bertemu seorang detektif swasta betulan.”

“Ah, Randy…” kata nyonya Miles sambil tersenyum ramah. “Perkenalkan, ini keponakan saya Randy. Dia kuliah di Smithsonian art institute, dan sedang kemari untuk berlibur.”

“Anda sudah bertemu dengan asisten saya nona Withersby bukan” kata sang nyonya rumah sambil mengangguk ke arah asistennya yang mengangguk sopan.

“Lalu, dokter pribadi saya… dokter Stevens…”
Seorang berpakaian rapi yang sedikit pincang, memasuki ruangan, mengangguk, dan duduk perlahan di salah satu kursi. “Dokter, ini detektif Faris P. Sherlock dan asistennya Clara Hastings.”

“Salam kenal.” Katanya ramah.

“Kita tunda perkenalannya, dan sekarang mari kita makan siang terlebih dahulu.” Kata nyonya Miles, saat semua pelayannya sudah pergi.

Aku berbisik terharu ke arah Clara yang duduk di sebelahku. “Akhirnya… makanan sesungguhnya…” Kataku sambil berkaca-kaca. Clara hanya menatap sembari mengenakan serbetnya. “Kamu tahu, aku sudah sengaja tidak makan dari kemarin untuk hari ini…”tambahku…

“Mari makan…”

Dan aku membuka tutup nampan untuk menyantap sepiring besar.

Roti kering.

“Ah, sepertinya nona Withersby belum bilang.”Kata Nyonya Miles sembari memotong rotinya. “Saya mengidap suatu penyakit dan dokter hanya memperbolehkan menyantap roti kering… Ada juga selada dan wortel kalau anda mau…”

“…tidak terimakasih…”

Read Full Post »

File 1

1932
Tahun-tahun puncak dari masa yang dikenal sebagai The Great Depression
Masa dimana seorang milyuner hari ini, bisa menjadi peminta-minta besok. Masa dimana pemimpin-pemimpin dunia hitam menguasai semuanya, mulai dari penjualan permen, sampai distribusi alkohol (atau setidaknya begitulah setting cerita ini).
Masa dimana setiap orang berusaha sebaik-baiknya agar tetap memiliki uang untuk membeli makanan. Sebagian berusaha tetap jujur, tetapi sisanya terpaksa melakukan apa saja demi hidup.

Pinggiran salah satu kota kecil di daerah midwest.
Sebuah rumah kecil berpagar putih, dengan halaman kecil yang rimbun. Seekor anak anjing berjemur dengan malasnya, sementara sang pemilik rumah berjalan menuju kotak surat dan mengecek isinya.

Tuan dan Nyonya Richard, adalah orang-orang biasa. Mereka hidup secara biasa, berlangganan koran, membayar pajak mereka tiap bulan. Tuan Richard memiliki hobi bermain catur, seperti yang selalu dilakukannya setiap hari, selagi istrinya berkebun di depan rumah.

Pria setengah baya itu mengambil surat-surat yang diletakkan di dalam kotak pos. Lalu dia pergi ke teras dan melanjutkan permainan caturnya. Istrinya menyiangi petak tanaman begonia di bawah jendela.

Setelah itu, mereka makan siang. Sedikit kentang dengan daging bersaus.

Malamnya, sehabis bercengkrama sebentar dengan tetangga, mereka pergi tidur. Tidak lupa mematikan lampu, sebab mereka adalah orang yang hemat energi.

Mereka orang-orang biasa. Tak ada yang menarik dengan kehidupan mereka.

Malahan, karena mereka hanya orang biasa itulah, kita tinggalkan saja mereka, dan berpindah ke orang lain yang kegiatannya lebih menarik.

Kita berpindah ke.

New York City Subway Station…

Seorang lelaki yang menenteng sebuah tas, memasuki kereta bawah tanah yang berhenti di salah satu dari sekian banyak stasiun kereta di New York.
Jasnya tampak lusuh, dan wajahnya yang rapi sekaligus lelah menunjukkan kelasnya sebagai pekerja kantoran biasa, yang kehidupannya bergantung apakah perusahaan tempatnya bekerja bisa bertahan sampai besok atau tidak.

Lelaki itu mengelap keringatnya menggunakan sapu tangan, tas kerjanya terbaring di pangkuannya.
Dia merapatkan jas kerjanya, dan membuka tas untuk melihat berkas-berkas yang seharusnya di bawa pulang. Bagus, semua sudah lengkap.

Orang yang duduk di sebelahnya, merapatkan duduk ke arah dirinya.
“Maaf…�” kata orang itu.

“Tuan… Smith?”

“Sepertinya anda salah orang… nama saya bukan Smith…�? jawab lelaki itu.

“Ah.. cuacanya bagus ya?”

Sigh… orang aneh yang bertanya tentang cuaca. Sepertinya orang ini benar-benar tidak punya kerjaan lain.
“Ya, meskipun kadang-kadang hujan deras.”

Kereta itu berhenti, dan sang lelaki yang dikira tuan Smith itu turun. Orang bermantel yang duduk di sebelahnya, juga ikut turun.

“Anda lebih suka… jeruk atau apel”

Apa maksud orang ini?

“Saya tidak suka dua-duanya, saya lebih suka pisang…”

Si misterius bermantel yang mengikutinya dari tadi menganggukkan kepala. “Bagus… anda memang.. ‘pekerja kantor biasa’ ”

… memangnya orang bisa tahu pekerja kantor biasa dari pertanyaan-pertanyaan aneh tadi…

Lelaki bermantel itu mengeluarkan sesisir pisang dari balik mantelnya, dan memberi isyarat, seakan-akan dengan menunjukkan pisang tersebut, lelaki itu menunjukkan kartu nama.

“Ikut saya, ‘pekerja kantor biasa’…” kata orang misterius itu.

What the… apa sih maksudnya?

Dia memandang sang misterius bermantel gelap, memasuki sebuah sudut di stasiun subway itu. Sigh.. hanya gelandangan gila. Tak usah dipedulikan…

Dia menatap arlojinya, sudah malam… tapi masih ada waktu sedikit untuk minum kopi di café subway ini..

Pada jam segini, stasiun subway ini sudah cukup sepi. Pria itu menghirup kopi hitamnya perlahan, dalam kesendirian.

Sampai tiba-tiba terdengar, suara teriakan memekik mengerikan.

Kucing yang malang… pikir lelaki itu sambil menggelengkan kepala. Akhir-akhir ini, semakin banyak kucing yang berkeliaran dan terinjak buntutnya. Dimana badan perlindungan hewan saat mereka membutuhkannya?

Teriakan itu masih berlanjut. Kucing itu cukup berisik…

Saat terdengar teriakan minta tolong yang ketiga, barulah dia, dan beberapa orang lain yang tersisa di café itu, menyadari bahwa itu bukan suara kucing.

Tapi itu adalah suara… yah, sesuatu yang suaranya mirip kucing.

Bersama beberapa orang lain, lelaki itu bergegas berlari menuju gang gelap, dimana suara tersebut berasal. Betapa terkejutnya dia, saat melihat, orang misterius bermantel, yang tadi mengajaknya bicara, telah telungkup bersimbahkan darah. Dengan pisau terhunjam di punggungnya. Dan pisang yang dibawanya berserakan di sekelilingnya.

“…pegawai kantor biasa…” katanya sebagai dying message… sebelum dia menjatuhkan kepalanya dengan lemas.

Lelaki itu terjatuh karena kaget. Tapi orang-orang tidak memperhatikannya. Sedikit orang yang berkerumun juga tidak ada yang memperhatikan, saat sang pegawai kantor merayap mundur, dan berlari meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, dua sosok lain tampak mendekat. Entah dari mananya, aura “penyelidik” dan “swasta,” seakan-akan tertulis di pakaian mereka. Mungkin dari kostum mereka yang berupa jas coklat besar dan mantel perjalanan kedodoran. Mungkin dari pipa yang dihisap oleh salah satu dari mereka. Atau mungkin juga dari notebook kecil yang digenggam oleh yang lain.
Tapi mungkin juga, dari tulisan PENYELIDIK SWASTA yang terpampang jelas dan besar di punggung salah satu dari mereka.
Salah satu, yang mengenakan jas coklat dan kacamata kecil di atas hidungnya. Dia berlutut mengamati mayat berlumuran darah itu. “Kita terlambat…�? gumamnya. “Padahal petunjuknya sudah kita dapatkan…”

Sementara itu, rekannya yang bertubuh lebih kecil mengamati sekeliling. Saat rambut coklat gelapnya terurai dari balik topi pet yang diangkatnya, barulah nampak jelas kalau dia seorang wanita. “…sudah kubilang kalau seharusnya kita tidak berhenti di obral pakaian bekas itu, Sherlock…�?

It’s A Mad, Mad World
File 1: The Agent, The Investigator, The Apprentice

Aku berdiri tegak dan menggoyangkan jari telunjukku, dengan mata tertutup, dan pipa di mulut. “Tsk..tsk.. mon ami… catat ini. Peraturan seorang private eye profesional: 1. Bergayalah seperti seorang private eye profesional. Poin terpenting ini dapat dilihat dari: a. Gaya berpakaian, itu sudah jelas yang paling penting. b. Cara bicara, itu adalah hal terpenting yang kedua….”

Sementara itu, sepertinya hanya perasaanku, tapi ada suara merintih dari arah korban. Hanya khayalanku… Sudahlah, yang penting saat ini, memberi kesan kepada para penonton kalau aku seorang private eye yang keren dan profesional.

Orang-orang yang berkerumun sudah mulai bubar, saat beberapa polisi berseragam mulai berdatangan.

“Kasus pembunuhan…” kataku menjelaskan, kepada beberapa polisi berpangkat rendah yang datang, sembari menunggu atasan mereka yang berwenang. “Clara, jangan pedulikan suara-suara rintihan aneh itu, dan bantu aku memberi impresi yang bagus kepada para polisi ini…” kataku itu kepada Clara Hastings, gadis yang tinggal bersamaku di kantor, yang sekarang sedang berusaha menangkap dari mana asal suara-suara aneh berbunyi seperti orang minta tolong itu. Sigh, padahal aku sudah sering bilang padanya, seorang private eye tidak boleh mudah teralihkan perhatiannya.

“Umm… sherlock…”
“Shush, diam Clara… aku sedang menjelaskan di sini…” kataku, saat gadis yang menganggap dirinya apperenticeku itu menunjuk ke bayangan di dinding. Bagi orang yang tak terlatih, akan terlihat bagai bayangan sesosok tubuh dengan pisau di punggung yang berusaha bangkit sambil merintih, tapi aku tahu, itu hanya ilusi cahaya. Tak usah dipedulikan… Aku segera melupakannya saat para polisi berpangkat rendah itu membuka jalan untuk atasan mereka yang baru datang.

Wajahku langsung menunjukkan muka tidak nyaman.

“Dari semua polisi yang bisa datang…”

Sementara lawan bicaraku juga menampakkan emosi yang sama.

“Dari semua detektif swasta yang bisa berada di sini pertama kali…”

Kami saling memandang sesaat, dengan tatapan penuh tantangan dan senyum di mulut. Atau setidaknya begitulah tatapannya ke arahku, sementara aku yakin aku bisa memberi tatapan yang lebih keren dari itu.
“Well..well… aku selalu bilang. ‘dimana ada apel, disitu ada jeruk…’ Ternyata rekanku, Faris P. Sherlock sang detektif swasta…” kata polisi berpakaian preman yang berwajah tampan itu.

“Letnan Beaumont dari Interpol… entah kenapa aku merasa, cepat atau lambat, kita akan bertemu lagi…�? balasku.

Kami terus saling memandang dengan dingin, dalam malam yang semakin larut, sementara aku tahu Clara menatap kami berdua dengan tatapan pasrah. Tidak ada orang lain di gang gelap situ selain kami bertiga. Dan sang ‘mayat’ tentunya. Sigh, dari mana sih suara merintih menyedihkan itu.

Kami masih saling menatap. Mayat itu bisa menunggu, mayat tak bisa pergi kemana-mana. Apa dia bisa berusaha berdiri? (haha)

Terdengar suara seperti pisang yang tergencet sesuatu dan bunyi orang terpeleset di belakang kami, lalu suara benturan keras, seakan seseorang menghantamkan kepalanya ke lantai. Hei! akhirnya suara rintihan di latar belakang itu berhenti! Akhirnya kami bisa saling memandang dengan keren, tanpa gangguan. Dan Clara berhenti menarik-narik bajuku.

“Mereka selalu bilang… ‘buaya tidak pernah jauh dari kulitnya’…” kata Beaumont “Mau tak mau aku tetap harus menghormatimu sebagai sesama penyelidik, Faris. Jadi, bagaimana analisismu kematiannya, sire?” kata letnan Beaumont, setelah aksi tatap menatap antara dia dengan aku selesai. Tugas tetap harus didahulukan…

Aku berlutut di dekat mayat. Sudah saaatnya aku melanjutkan penyelidikanku yang terganggu oleh kedatangannya tadi… “Sudah jelas. Tusukan di punggung ini tidak langsung membawa kematian. Hantaman benda keras di kepala/kepala menghantam benda keras, itu yang menyebabkan kematiannya… Sedangkan dilihat dari suhu tubuh, dan penggumpalan darah, waktu kematiannya tidak lebih dari 15 menit yang lalu. Atau bahkan 1 menit yang lalu, siapa tahu… Tentu, 1 menit yang lalu kita sudah berada di sini, dan tak mungkin dia terbunuh saat itu.”

“Kecuali mayat ini tadi berdiri dan menghantamkan kepalanya sendiri ke lantai saat kita tidak melihat, tentunya…” aku tertawa dengan nada sarkastis. Heh.. konyol. Masa mayat ini bisa berdiri dan menghantamkan dirinya ke lantai…

“Setuju… dan lagi, sang pembunuh menggunakan senjata yang menarik sekali… kulit pisang… Benar-benar jenius dan inovatif… “ sambung Beaumont sambil mengangkat sisa-sisa kulit pisang dan pisang hancur dari sepatu mayat. Aneh, tadi aku tidak merasa melihatnya. Ah, sepertinya terlewatkan… Dan lagi, posisinya nampak agak bergeser. Khayalanku saja… aku perlu mengurangi minum kopi…

“Kata mereka, ‘harimau di pelupuk mata tak tampak, belang di seberang lautan kelihatan,’ Bagaimana kamu bisa ada di sini, Faris?”

“Kamu tahu sendiri. Dengan adanya aku di sini… berarti kasus ini berkaitan dengan kasus ‘itu’… Pertanyaan yang sama juga bisa kuajukan kepadamu, wahai agen Interpol?”

“Sudah kuduga… ‘itu’… Berarti, kematiannya berhubungan dengan ‘itu’ dan ‘itu’ yang kamu selidiki selama ini membawamu ke tempat ini… Untuk pertanyaanmu, jawaban yang sama juga kuberikan. Alasan kenapa Interpol menugaskanku untuk menyelidiki… karena kasus ini memang berhubungan dengan ‘itu’…”

“Benar… ‘itu’. Tapi ‘itu’… uhm, sudahlah. Entah kenapa, tanpa alasan tertentu aku merasa ada yang tidak mengerti kalau kita bicara menggunakan kata ‘itu’ dan ‘itu’… Aneh, padahal tidak ada orang lain di sini selain kita bertiga dan sang mayat… Tanpa alasan tertentu juga, tiba-tiba aku jadi ingin menjelaskan, kalau ‘itu’ yang kita bicarakan dari tadi, adalah suatu kasus yang sudah kuselidiki sejak 2 tahun yang lalu yang mulai menarik minatku setelah kematian rekanku…”

“Mereka selalu bilang. ‘Permen tak pernah jauh dari toplesnya,’ maksudku, ya, aku mengerti perasaanmu… Tapi karena alasan tertentu juga, aku merasa kalau kelak kamu akan punya kesempatan untuk melakukan flashback atau semacamnya dan menjelaskan lebih lanjut tentang ‘itu’…”

….

Malam semakin kelam, dan udara kota new york yang berkabut semakin dingin. Clara merapatkan mantelnya, sementara polisi-polisi telah menyegel tempat kejadian, memotretnya, dan memungut semua benda yang kira-kira bisa menjadi barang bukti. Kemudian mereka mengangkat mayat lelaki itu keluar stasiun subway.

Clara bersamaku dan Letnan Beaumont, mengawasi semuanya dari kejauhan. Kami minum kopi sembari berdiri, sebelum melanjutkan penyelidikan kami. Sejauh ini, kami telah menyelidiki dan mengumpulkan petunjuk sejauh yang kami bisa.
“Orang bijak bilang ‘Kopi-kopi dahulu, berenang-renang kemudian.’ Sebelum kita menyelidiki lebih lanjut, biarkan mereka melakukan pekerjaan kasarnya…” kata Letnan Beaumont.

Letnan polisi muda berwajah tampan menatap itu kami berdua, sebelum menggelengkan kepala dan menyisir rambut pirangnya. “Aku ingat perkataan mereka… ‘Kalau ada ikan di laut, boleh ada sapi di gunung.’ Kalau ada 2 orang yang berpasangan, kenapa seseorang yang begitu indah selalu berpasangan dengan sesuatu yang merusak pandangan…” Kata sang agen interpol berkebangsaaan Prancis itu sambil menatap Clara yang berdiri di sebelahku.
Gadis itu tersipu malu sambil merapatkan mantel perjalanannya yang kebesaran untuk tubuhnya yang mungil.

“Meskipun aku tersanjung dengan pujianmu Beaumont, tapi aku selalu menganggap Clara cukup cantik.”

“Maksudku bukan begitu sebenarnya…”

“Lagipula, kuingatkan sekali lagi. Clara di sini BUKAN partnerku… Aku tidak butuh… partner…”Kataku sembari menatap langit kota new york yang gelap. Berawan…

“Aku tidak butuh… orang… untuk tewas di sampingku lagi…” Sial… mulai gerimis. Mengingatkanku pada malam 2 tahun yang lalu itu… “Tapi yah, aku memang perlu orang untuk bersih-bersih rumah, belanja, memasak, mengurus pembukuan dan mengatur jadwal…”

Kenapa Clara menghela nafas mendengarnya yah…?

Sementara malam semakin larut…

Keinginanku untuk menjelaskan siapa Clara, Siapa Letnan Beaumont, bagaimana aku bisa berada di sini, dan apa itu “itu” itu, terpaksa menunggu…

Read Full Post »

The History
Sejak jutaan tahun yang lalu saat manusia mulai menengadahkan kepalanya ke langit malam.
Mereka sudah menyadari suatu benda langit yang berbeda dari kelap-kelip cahaya kecil di sekelilingnya.

Berkat cakram perak itulah malam hari tidak menjadi gelap, dingin sedikit terobati dengan cahayanya yang lembut, dan sejak dulu… Penduduk Terra sudah menyebut dewi mereka itu… Ellysium.

Pada abad pencerahan… saat-saat pengetahuan mekar di Terra dan keingintahuan memenuhi hati setiap ilmuwan yang penasaran, Ellysium terus menjadi sumber penelitian yang tak kunjung habis. Tidak ada lagi yang mengaggap Ellysium itu dewi, tapi kini mereka mengaguminya sebagai ciptaan tuhan yang menakjubkan, yang menantang setiap orang waras untuk meraihkan tangan mereka ke sana.

Salah seorang dari mereka tanpa sadar menemukan instrumen mengagumkan… Instrumen yang mampu memperpendek jarak ribuan kilo, meskipun hanya dari pandangan… Dia menyebutnya Teleskop.
Saat dia mengarahkan ujung teleskopnya yang sederhana ke Ellysium, pemandangan menakjubkan yang tak terperi menghantam kalbunya.

Pegunungan, Padang pasir yang luas, Kehijauan hutan, Samudera yang Biru. Ellysium bagaikan cermin yang sedikit terdistorsi dari Terra yang mereka tinggali.

Ada kehidupan di sana , itu sudah pasti.

Maka dimulailah suatu era ketika orang berlomba-lomba mencari cara untuk pergi ke Tanah impian Ellysium, bahkan saat belum seluruh Terra terpetakan…

Ditemukan bahwa Ellysium, yang besarnya kurang lebih setengah dari Terra, bersama sang kakak saling mengelilingi membentuk putaran ganda yang anggun.
Ellysium dan Terra bukanlah paangan satelit dan planet.
Mereka adalah pasangan saudara planet kembar yang berda mengarungi tata surya Terran yang luas

Selama beberapa ratus tahun, impian itu kadang terlupakan, kadang kembali muncul, terputus oleh kejadian-kejadian besar lainnya, penemuan mesin uap, penemuan alat untuk terbang, beberapa perang besar yang menghancurkan dunia, namun impian itu tak pernah mati.

Sampai suatu era dimana persaingan antara beberapa negara industri besar terjadi. Saat salah satu dari mereka meluncurkan sebuah kendaraan yang mampu menembus atmosfer yang menyelimuti Terra.
Disaingi oleh sang saingan yang terbang semakin tinggi dan lebih lama.

Sedikit demi sedikit.

Impian untuk mencapai Ellysium kembali merekah.

Saat bersejarah, tanggal 15 bulan kedua, tahun 1949 TC (Terranian Calendar, yang ditetapkan menjadi kalender resmi seluruh planet).
Salah satu negara berhasil mendaratkan kendaraan antariksa mereka di Ellysium.

Saat yang dikenal oleh seluruh dunia sebagai \”The Great Leap\”
Sejak tahun itu, Nyaris semua negara mendaratkan kendaraan mereka di Ellysium. Semua berebutan untuk menancapkan bendera mereka di tanah yang baru itu.
Bahkan beberapa pribadi kaya dan perusahaan besar ikut mendaratkan kendaraan mereka di tanah yang masih perawan itu.
Saat itu pula ditemukan bahwa Ellysium ditinggali oleh banyak kehidupan, meskipun tanpa kehidupan cerdas. Hewan-hewan itu mengembangkan ketahanan yang jauh lebih tinggi dari hewan Terra, karena Ellysium sebagian besar terdiri dari padang pasir tandus.

The Great Leap menandai era penjelajahan Ellysium…

Tetapi Ellysium memiliki jauh lebih banyak tantangan daripada yang bisa dipersiapkan oleh manusia.
Mulai dari medan magnetik yang menyelimutinya sehingga hanya bisa ditembus dari beberapa sisi oleh pesawat antariksa.
Atmosfer lembut yang menyelimutinya tetapi tak dapat tertembus radar saat itu.
Hewan-hewan ganas yang menghuninya.
Semuanya membuat hanya beberapa individu terpilih yang berhasil menjelajahi Ellysium dan pulang dengan hidup dan bangga.
Dan Ellysium tetap menjadi misteri favorit umat manusia selama tahun-tahun berikutnya.

……………………….


Tahun 1998 TC, sebagian besar negara di dunia menyepakati terbentuknya ‘Terra Federation of Free Country’ (TFFC).
TFFC dibentuk karena meningkatnya persaingan antar negara dalam ekonomi, politik, militer, dan penjelajahan Ellysium. Selain itu, TFFC juga dibentuk karena kekhawatiran akan makin besarnya pengaruh Kartel-Kartel perusahaan besar di Terra.
TFFC memiliki kabinet sendiri, dewan negara, dan meskipun tidak terlalu, tetapi dianggap banyak orang sebagai pemerintahan resmi untuk seluruh planet Terra.

Tahun 2003 TC, dibangun pelabuhan udara resmi antar planet pertama di Ellysium oleh TFFC. Dengan adanya pelabuhan tersebut, transportasi Terra-Ellysium menjadi lebih lancar, dan orang menyebutnya sebagai \”The Second Great Leap.\” Manusia kembali berlomba untuk singgah di Ellysium.

Tahun 2014 TC seorang ilmuwan menemukan apa yang disebut dengan Mana Crystal, sel surya sangat efektif yang dapat mengubah tenaga matahari menjadi listrik yang termanfaatkan dengan sangat efisien.
Dapat diduga bahwa dengan ditemukannya ‘Mysthall’ secara melimpah, bahan tambang untuk membuat Mana Crystal di Ellysium, Mana Crystal menjadi bahan bakar kedua setelah bahan bakar fosil yang semakin menipis. Meskipun karena biaya transportasi mysthall dari Ellysium ke Terra, bahan bakar fosil tetap menjadi lebih murah. Tapi di Ellysium sendiri, bahan bakar Mana Crystal mulai menjadi favorit.

Tahun 2015 TC, tanpa sengaja ditemukan reruntuhan sebuah bangunan saat penggalian Mysthall di Ellysium.
Bagaimana bisa ada reruntuhan bangunan di Ellysium tanpa adanya mahkluk cerdas di sana terus menjadi pertanyaan seluruh dunia selama bertahun-tahun.

Tahun 2028 TC ditemukanlah MPHV oleh perusahaan Forad Heavy Engineering and Manufacture.
MPHV, Multi Purpose Humanoid Vehicle, biasa disebut dengan slangnya, ‘HumVee’ dalam waktu singkat menjadi kendaraan versatil yang sangat populer bagi banyak pihak, meskipun harganya sangat mahal dan perlu orang-orang berbakat dan terlatih untuk mengendalikannya.

MPHV ‘HumVee,’ kendaraan berbentuk humanoid dengan ukuran 2-4 M dengan berat mulai ratusan kilo sampai beberapa ton, dapat digunakan untuk bebagai keperluan mulai dari pengamanan kota oleh polisi, Pembangunan oleh perusahaan konstruksi, Upaya Search and Rescue dari tim SAR, sampai militer, dalam waktu singkat membuat Forad HE and M menjadi perusahaan terbesar di Terra. Menggunakan Mana Crystal sebagai bahan bakarnya, Humvee sangat efisien dalam penggunaan bahan bakar.
Meskipun dalam sepuluh tahun, perusahaan-perusahaan lain berhasil membuat HumVee yang sebanding, kalau tidak lebih baik dari buatan Forad, dan menghilangkan monopoli Forad, tetapi selama beberapa waktu, Forad tetap menjadi perusahaan terbesar di planet itu.

Tahun 2045 TC…
Sekarang…

Read Full Post »

It’s a Mad, Mad World

Prologue

New York, 1930

Hujan deras… membasahi jalanan kota New York yang gelap, membersihkannya dari kabut asap yang menyesakkan…. Setidaknya sampai hujan berhenti dan mobil-mobil hitam itu kembali berlalu lalang…
Aku memandang ke luar jendela, menatap ke lampu-lampu gas yang berkelap-kelip redup di sepanjang jalan.

In a world going mad…

Aku membuka pintu, sebelah tangan membawa kantong belanjaan, mendekapnya di depan dada. Dengan susah payah aku menahan kantong itu, sementara sebelah tangan membuka pintu.

It’s going to be madder than ever…

James Redford and Co.
P.I (Private Investigator)

Aku baru menyadari… Darah kelihatan begitu berkilauan di dalam gelap…

Jatuhlah semua buncis, sarden, brokoli, mentega, sabun, pisang, sikat gigi, deterjen, roti, biskuit, korek, sepatu, penghapus, boneka teddy bear, kopi, gula, pensil, kentang, majalah, buku tulis, celana dalam, tali sepatu, yang kubeli dari toko di depan. Sial, aku lupa beli susu.

Intinya, semua belanjaanku jatuh, sekaligus kantongnya, saat aku melihat darah menggenang di ruangan gelap itu. Dan terutama, dari mana darah itu mengalir…

“JAMES!!!!�?

Aku berlari mendekatinya, melupakan dunia di sekelilingku, termasuk lupa kalau aku baru menjatuhkan mentega, dan menginjaknya. Gelap banget. Brengsek, sudah kubilang kalau batas pembayaran uang listrik itu kemarin, tapi partnerku yang bodoh itu tetap saja merengkel. Lihat akibatnya, saat kita perlu lampu, lampunya tidak nyala. Kenapa perlu lampu? AH! iya, dia sedang berlumuran darah…

Satu-satunya sumber cahaya, adalah jendela yang bercahaya di latar belakang, memasukkan cahaya lampu gas dari luar. Siluet meja, lemari, James, dan aku, bersatu dalam ruangan remang-remang itu.

Kilat menerangi bumi, saat aku berlutut di samping partnerku yang bernafas dengan susah payah itu. Berkas-berkas berserakan di sekelilingnya, merah, merah oleh darah.

“F…Faris…” katanya dengan susah payah.

“James… jangan bicara.. Eh, maksudku, bicara dulu. Ada apa ini? Siapa yang melakukan ini!!!”
Jas coklatnya kini basah, seakan terendam cairan merah.

Dia terbatuk. “Kasus itu…” katanya dengan susah payah…

Aku ingat… Kami memang hanya biro penyelidikan yang lebih banyak berurusan dengan kasus perceraian, kehilangan hewan peliharaan, atau pencurian lolipop. Tapi baru tadi pagi, saat aku pergi meninggalkan kantor untuk makan setengah siang (maksudnya, makan setelah sarapan dan sebelum makan siang, tidak termasuk cemilan setelah sarapan dan cemilan sebelum makan siang tentunya), seorang wanita dengan gaun hitam dan topi berjaring yang menutupi wajah, datang memasuki kantor.

Baru tadi sore partnerku ini bilang…
“Kasus ini akan menjadi kasus terbesar kita…”

“James!! kasus apa? Tunggu sebentar, aku akan telepon ambulan…”

“Percuma…”

“Mereka.. memotong kabel telepon?”

“…kita belum bayar tagihan…”

Aku terdiam… sementara sahabat, sekaligus guruku itu kembali terbatuk. “…ris… tetap saja.. sudah terlambat…. Kasus ini… lebih besar dari yang kubayangkan…”

Aku kembali melihat ke arah berkas-berkas yang berserakan. Tentu saja… berkas tentang kasus yang sedang diselidiki James sudah dibawa pergi…

James menggenggamkan tangannya ke tanganku. “Selain itu… mereka juga memakan… Pizzanya…”

Kilat menyambar, seakan membenarkan hatiku yang begitu terkejut. Siapa yang tega…
Aku menolehkan kepala dengan pandangan penuh horor ke meja kerja. Kotak Pizza pepperoni keju dengan taburan sosis dan tomat ukuran extra large itu… Kini tinggal kotaknya!!! Pizzanya telah habis!!!!

“Tidak.. tidak mungkin. Siapa yang tega memakan makanan para detektif yang kekurangan gizi dan kelaparan ini….”

“Karena itu Ris…” kata James yang semakin melemah. “Balaskan dendamku…”

Bersamaan dengan itu, aku melihat cahaya kehidupan mulai menghilang dari matanya. Aku membuka genggaman tangannya… Sebuah petunjuk… selembar kartu joker yang remuk. dengan sebaris nomor di belakangnya, tertulis dengan tergesa-gesa menggunakan darah… Eww…

“..jangan lupa ris…” terdengar bisikan terakhirnya. “matikan kompor, tadi aku sedang masak air…”

Dan dia tak bergerak atau bernafas lagi.

“James… hei.. James…” aku menggoyangkannya. Tapi aku tahu itu sia-sia.
Sebab dia telah tewas… “Tidak.. james…”

Aku mematikan kompor dulu.

Lalu teriakanku, bergema di kantor kecil nan gelap itu, bergaung bersama suara petir yang menyambar dan hujan yang semakin deras. Dan aku bersumpah… akan membuat siapapun yang melakukan ini membayarnya…

…………………

New York, 1932

Pintu kantor itu diketuk. Pintu yang kini bertuliskan.

Faris P. Sherlock
Private Investigator

(tidak menerima kasus perceraian, kehilangan hewan piaraan, atau pencurian lolipop)

Read Full Post »

author notes: berdasarkan game ragnarok online.

“..ngun… bangun…”

“…ris… Faris… Bangun!!!”

Faris membuka matanya dengan kaget sambil bernafas terengah-engah. Hunter itu merasakan ayunan lembut kereta kuda yag membawanya, dan derap kaki kuda yang berirama, menenangkan jantungnya yang berdebar-debar. Faris melepaskan lipatan tangannya, tadi rupanya dia tertidur sambil duduk, lalu menekan-nekan matanya untuk menghilangkan ketegangan di kepalanya
Priest wanita di depannya menatapnya dengan tatapan khawatir.

“Kamu tidak apa-apa?”

“…maaf… membuatmu khawatir….” Kata Hunter itu sambil tersenyum menenangkan. “Cuma.. mimpi buruk itu lagi…”

Kedua orang yang duduk di belakang kereta kuda itu kembali terdiam, sama seperti beberapa orang lain yang duduk di kereta kuda yang sama itu. Faris menghela nafas panjang, lalu menolehkan kepalanya ke luar jendela.

Pegunungan Mjolnir yang megah dan anggun, teduh menutupi jalan kecil di lembah yang sejuk itu. Bersama karavan-karavan yang lain, Kereta kuda yang dinaikinya itu membentuk barisan panjang di bawah payung kehijauan hutan di atas tebing, diiringi bunyi derapan langkah kuda dan derik kayu kereta yang membentuk irama datar. Faris memicingkan matanya untuk melindungi pandangannya dari sinar mentari pagi yang menyilaukan…

“Jam berapa sekarang?”

“Belum tengah hari…” kata rekan di hadapannya sambil tersenyum.

“Sebentar lagi kita akan sampai di kota Geffen…”

Priest itu beranjak dari tempat duduknya, dan duduk di sebelah sang hunter, diiringi suara pelan dari orang yang tempat duduknya digeser. “Kalau masih lelah, tidurlah lagi…” katanya sambil menggenggam tangan hunter itu.

………………………..

“…sudah bangun?”

Pemuda itu membuka matanya perlahan-lahan.

“Bagus… minum obat ini… pelan-pelan saja…”

Dia tidak ingin menelannya, tapi sekaligus ingin merasakan ketenangan itu… Tanpa disadarinya, dia membuka mulutnya.

“..itu tidak ada… Sadarlah Ris… Kemba….”

…………….

“Faris… FARIS!!!”

Hunter itu tersentak. Lagi-lagi…

Dia tertidur sambil bersandar di dinding…

Priest temannya di kereta tadi mendekatinya dan memandangnya khawatir. Di hadapannya, seorang knight yang berada di hadapan sebuah peta yang tergelar di meja, berhenti berkata-kata untuk sesaat, dan memandang Hunter itu dengan kedua tangan menekan meja.

“Mimpi itu lagi?” tanya knight itu.

Monk disebelahnya bergumam pelan. “Kamu… tidak bisa melupakannya saja, Ris?”

Priestess itu menatap sang monk. “Jangan…”

“DIAM!” kata Hunter itu sambil memegangi kepalanya, sebelum dia berlari ke luar ruangan itu dan membanting pintu.

Satu orang lagi di ruangan itu, seorang wizard yang sudah cukup tua, menggelengkan kepalanya dengan sedih.
“Kenangan… dan tanggung jawab…. terlalu berat bagi sebagian orang…”

…………….

“Kamu sudah sadar?”

Faris memegang kepalanya yang berdenyut. Dia terduduk di tempat tidur dengan ranjang besi kokoh itu, sementara kemeja longgarnya nampak kusut.

“Dok…”

“Pelan-pelan saja…”

Pemuda itu mengerang perlahan. “Kamu sudah kembali…” kata orang di hadapannya.

“Kembali?”

Faris memandang kalender di dekat tempat tidurnya, jendela di seberang ruangan… Tempat ini…

“telah kembali ke dunia nyata, anakku…”

Fri memegang kepalanya yang berdenyut.

Kenyataan?

“Lawanlah!!! Jangan biarkan keinginanmu untuk kabur dari kenyataan, membawamu ke dunia khayalanmu sendiri itu!!!”

Khayalan…?

“Ini duniamu yang sebenarnya…” Kata orang tua berwajah bijak itu sambil menepuk punggung pemuda yang kehilangan orientasi itu.

………………………….

Apa itu kenyataan? Kenyataan adalah apa yang diinterpretasikan otakmu sebagai kebenaran…

………………………….

“?…menurutmu dia akan bangun?”

“Dia HARUS bangun… “

“Kalian masih mempercayainya?”

“Dia salah satu yang terbaik… “
“Tapi…”

Faris terbangun dan menemukan dirinya terbaring di ranjang rendah di ruangan berbau ramuan harum itu. Di sisinya, teman-temannya berkerumun.

“Apa yang…”

“Akhirnya kamu sadar lagi…”

“Faris…” kata salah satu dari mereka. “Kami tahu kamu bingung, kamu ingin pergi… tapi bertahanlah… Masih ada orang-orang yang membutuhkanmu……”

Bingung? Ingin pergi?

“Jangan lari dari kenyataan, Faris…”

Hunter itu menggelengkan kepalanya. Aku tidak mau…
Kepalanya kembali sakit.

lari dari kenyataan…

“Maafkan orang tua ini…” kata Wizard di sisi ranjangnya yang menangkupkan kedua tangannya. “Seharusnya tidak kuberikan kepadamu, seperti apapun kamu memohon… Tapi sudah terlambat…”

“Tidak ada jalan lain…” Kata Knight bersuara memimpin di sebelahnya. Mau tidak mau… kamu harus tinggal. Kita mercenary profesional… Misi kali ini terpaksa tanpa kamu… ”

Misi… Tidak mau ingat lagi…

“Meskipun tanpa kamu…” kata Priest berwajah lembut itu sambil tersenyum. “Kami akan berhasil. Tunggulah di sini, dan bersemangatlah…” katanya sambil mengelus pipi Hunter muda yang terbaring tanpa daya itu dengan lembut.

Jangan pergi lagi… pikir hunter itu. Tapi semua hanya di kepalanya.

………………………..

Faris berjalan dengan perlahan di trotoar kota besar yang ramai itu. Kendaraan bermotor meraung di sebelahnya, orang-orang berlalu lalang tanpa memperhatikan pemuda yang berjalan dengan tangan di saku, mengepit folder map di lengannya, dan memandangi langit biru di atas.

Dia menabrak seseorang. “Maaf…” katanya.

“Tidak apa-apa…”

“Ah, ternyata Faris…”

“Dokter…”

Kakek itu tersenyum ke arah pemuda dan folder berisi dokumennya itu. “Sudah benar-benar sembuh?”

“Kurang lebih…”

“Ini dunia yang sebenarnya, Faris. Seperti apapun duniamu yang lain itu, itu semua hanya khayalanmu. Jangan biarkan dirimu terhanyut dalam pikiran itu lagi, dan pusatkan perhatianmu pada pekerjaanmu sekarang. Puas dengan pekerjaanmu di penerbitan sekarang?

“Lumayan… terima kasih dok…” kata Faris sambil tersenyum.

Dunia khayalan? Faris tertawa… entah bagaimana dulu dia bisa terjebak dalam omong kosong seperti itu… Sekarang dia berjalan. Duduk di kursi kantornya yang tua, dan menatap lembar-lembar tulisan yang menunggu untuk diperiksa.

Dia menatap salah satu lembar, dan memegangnya sesaat. Gambar-gambar… Hunter, Knight, Priest…

Dulu ini ya? Rasanya bahkan aku sudah lupa… apa yang kujadikan pelarian dunia nyata itu…

Dan aku tak punya keinginan sedikitpun untuk mengingatnya lagi… Pikirnya sambil merapikan lembaran-lembaran gambar itu.

Sebab inilah dunia yang sebenarnya…

…………….

“Pasien itu belum bangun juga?” tanya acolyte perawat di Rumah sakit negeri Prontera itu.

“Dia tak akan bangun lagi…” kata wizard tua yang memandang hunter muda yang tidur dengan damai itu.

“Memangnya… apa penyakitnya?”

“Tidak ada… dia hanya… tidur untuk selamanya… untuk… melarikan diri…”

“Dari kenyataan…”

Wizard itu menatap foto di sebelah ranjang nyaman itu. Foto beberapa orang. Seorang hunter, priest, knight, monk, bard, dan dirinya sendiri, seorang wizard…

“Kematian Renard dan seluruh penduduk desa itu bukan kesalahanmu seorang, Faris… tapi kenapa kamu menanggung seluruh rasa bersalah?” katanya sambil menatap foto itu dan menyentuh gambar seorang bard berambut pirang yang tersenyum riang.

Seorang priest menyadari keberadaan wizard itu dan menghampirinya. “Ini pembayaran untuk stok obat penenang bulan ini, Tuan Raze…” katanya sambil menghampiri wizard pemilik perusahaan obat penenang itu.

Wizard itu menatap cek bertuliskan sejumlah uang itu dengan tersenyum sedih. “Yah, mau bagaimana lagi… sewaktu dari mereka tewas karena kesalahanmu, kamu sudah begitu depresi… Bagaimana kalau kamu mendengar seluruh sahabatmu tewas saat kamu, yang seharusnya menjadi scout, tidak ikut…”

“Kecuali orang tua ini tentunya…” katanya sambil memandang sebelah kakinya yang diganti kaki palsu dan tangan kanannya yang hilang. “Orang tua seperti kami selalu hidup lebih lama dari anak muda…”

“Kamu memang lemah… lemah sekali… Dasar bodoh… tapi semua sudah terlanjur…”

Wizard itu berdiri. “Semoga hidup di alam mimpimu lebih bahagia… temanku…” katanya sebelum pergi meninggalkan kamar pasien itu…

Read Full Post »