Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2007

By the rude bridge that arched the flood,
Their flag to April’s breeze unfurled;
Here once the embattled farmers stood;
And fired the shot heard ’round the world.

Ralph Waldo Emerson, Concorde Hymn.

Satu hari lagi dalam hidupku…
Hari ini aku bangun dari kasur yang keras seperti biasa, kepalaku agak sakit karena kurang tidur. Ditambah lagi bunyi alarm yang menyebalkan itu. Aku melihat sekeliling, sepertinya semua teman sekamarku sudah bangun., kamar yang gelap dan apek ini sudah kosong.

Aku berjalan perlahan ke arah ruang makan. Ransum makanan tawar yang membosankan ini lagi, yang sudah kumakan selama 25 tahun hidupku. Tapi baru saja aku menyuapkan satu sendok, bunyi yang sudah kukenal berbunyi.

“Mereka mendekat dari arah pukul 13.” Kata komandanku saat kami menaiki tangga bunker bawah tanah ini, menuju permukaan planet yang membosankan ini. Aku meraih senapan marksmanku, mengecek teropongnya, dan menatap ke horizon di kejauhan dengan bosan.

Komandanku menaiki R-79 lusuhnya. Beberapa bagian tubuh sudah berkarat, dan aku ingat Andi bilang system penembakan tangan kanannya sudah agak macet. Andi beruntung, dia sudah pergi dari tempat membosankan ini.

Mereka mulai terlihat. Teriakan-teriakan pemberi semangat keluar dari speaker di tubuh R-79 lusuh itu. Ed dan Lisa kelihatan menggenggam senapan mesin mereka dengan gugup, wajar sih, ini skirmish pertama mereka. Aku mengintip lewat lubang kecil rifleku, dan dengan bosan, mulai menghujani logam panas ke kepala semua mahkluk jelek yang kelihatan di kejauhan itu.
……………………

Rob kelihatan gugup. Komandan baru saja tewas, dan sesuai peraturan di bunker ini, dia yang sekarang menjadi pemimpin. Komandan tewas dengan membawa R-79 terakhir yang kami miliki. Kemarin kami disegap saat sedang mengecek garis pertahanan, kami juga kehilangan Ed dan Michael. Kasihan Ed, aku jadi terpaksa menembak kepalanya agar dia tidak menderita dan berteriak-teriak seperti itu lagi.
……………………..

Kami mulai kehabisan amunisi. Obat-obatan sudah habis sejak lama. Masalahnya, bunker terdekat berjarak beberapa ratus mil dari sini, dan sudah lumayan lama kami tidak mendapat kontak dari bunker lain. Kami juga mulai kekurangan orang, kemarin Rob terpaksa memaksa mereka yang sakit dan terluka untuk memegang senjata. Bagiku itu buang-buang amunisi saja, lebih baik senjata ini dihemat. Meskipun sebenarnya aku tidak tahu untuk apa.

Sebenarnya, untuk apa kami bertahan sampai sekarang? Rob bilang, kita menunggu bantuan dari pusat. Yeah, kita sudah menunggunya selama 5 tahun, Rob. Kemarin seseorang bilang sebaiknya kita bergabung saja dengan bunker lain. Rob menolaknya, bunker lain terlalu jauh. Memang sudah nasib untuk ditugaskan di tempat seperti ini.
Tapi kalau kuingat, apa bedanya tinggal di sini dengan di tempat lain. Sebelum aku masuk ke militia ini, hidupku juga tidak banyak bedanya. Bangun tidur, makan sarapan membosankan itu, belajar sebentar bersama kakek tua itu. Aku paling suka pelajaran sejarah. Sepertinya kehidupan dulu tidak semembosankan sekarang.

Sebagian besar sudah lupa awal kenapa kami hidup seperti ini. Kukira sebenarnya tidak ada yang ingat lagi. Tapi yang jelas, dulu tidak ada undead. Dan orang bisa berjalan di permukaan tanpa takut menjadi bahan makanan mereka, atau lebih parah lagi, menjadi salah satu dari mereka.

Beberapa orang menghabiskan waktu luang mereka mengotak-atik radio tua di ruang tengah. Mereka bilang, United Nations sudah ada lagi, dan sebentar lagi, akan ada berita bahwa ibu kota negara bersatu yang baru sudah terpilih dan terbangun kembali. Lalu pasukan militer mereka yang bersenjata lengkap akan menghabisi semua undead yang ada di permukaan bumi ini. Tapi berita itu tak kunjung tiba. Mereka bilang, itu cuma karena radio kita rusak.

Aku lebih memilih mengurus ladang bawah tanah. Sebenarnya aku lebih suka disebut petani yang menjadi militer pada waktu luang, daripada tentara. yang bercocok tanam pada waktu senggang. Tentara butuh sesuatu untuk dipercayai, doktrin yang harus dipertahankan. Kami tidak punya. Aku menembaki undead-undead itu untuk mengisi waktu luang.
……………………………

Hari ini makin banyak yang terluka, dan Rob kehilangan tangan kanannya. Aku terlambat menembak mahkluk yang menyergapnya dari belakang itu, padahal aku ini marksman kepercayaannya. Aku sudah berteman dengan Rob sejak kami tinggal di bunker D-52 waktu kami masih kecil itu. Kalau begini terus, bisa-bisa aku terpaksa jadi komandan baru. Sigh.

Undead itu apa sih? Aku nyaris tidak bisa membedakannya dari manusia, kalau saja mereka tidak menatap dengan tatapan lapar dan tanpa emosi itu. Kata kakek itu dulu, undead juga manusia. Sejenis penyakit yang membuat manusia kehilangan akal sehat, dan hanya menyisakan keinginan untuk hidup, itulah yang membuat manusia menjadi mahkluk mengerikan itu. Penyakit yang membuat mereka menjadi spesies baru di muka bumi ini.

Aku tahu, manusia seperti kami ini sebenarnya minoritas, yang tinggal di bunker-bunker menyedihkan seperti ini, sementara para undead berkeliaran dengan bebas di bawah langit biru yang indah.
…………………………

Aku menembak mati Rob, seperti yang selalu diinginkannya. Tadi dia mengamuk dan mencederai beberapa paramedis yang merawatnya. Sebelum dia mengacau lebih jauh, aku menghancurkan otaknya dengan pistolku. Kurasa ini membuatku jadi komandan bunker ini sekarang…

……………………………

Kata-kata kosong penyemangat yang kuhapal dari rekaman komandanku yang dulu itu keluar lagi. Aku mulai terpaksa menggunakan anak-anak yang belum terlatih ini, penghuni bunker ini mulai tinggal sedikit.

Dan rutinitas ini dimulai lagi. Menembaki undead yang mendekati garis pertahanan bunker. Sementara aku menatap kepala mereka meledak terhunjam timah panas, aku kembali berpikir. Dari pandangan mereka, bukannya kami yang pengganggu? Sekelompok mahkluk aneh yang melawan saat mereka mencari makan. Sekelompok spesies minoritas yang merusak kestabilan masyarakat tanpa aturan mereka…

Terserahlah. Yang penting, semoga mereka segera pergi hari ini, dan aku bisa menyiangi ladang labuku sekali lagi…

…………………………….

Amunisi sudah benar-benar tinggal sedikit. Aku terus mengingatkan untuk menghematnya, pada anak buahku yang semakin lelah.

Beberapa masih percaya kalau bala bantuan dari ibukota akan segera tiba. Heh.
………………………………

Orang-orang itu ternyata berhasil memperbaiki alat komunikasi. Dan aku membaca fax yang terlambat 3 tahun itu.

Ibukota telah hancur. Sebuah serangan besar undead menghabisi semua penduduknya. Satu-persatu, kertas fax dari bunker-bunker lain mengalir. Fax yang terlambat 3 tahun. Mengabarkan kalau undead menyerang mereka dalam jumlah besar. Bunker D-69 meledakkan diri. Fax terburu-buru dari Bunker D-37 itu sepertinya menandakan kalau siapapun yang mengirimnya, adalah orang terakhir di sana, dan pintu ruang komunikasi akan segera dijebol. Bunker D-52, D-53, ah. Aku berhenti membaca banjir kertas fax itu.

Orang-orang bodoh yang dari dulu sibuk memperbaiki mesin fax itu entah kenapa jadi mengoceh tidak karuan. Beberapa orang berteriak-teriak, yang lain bergegas menuju pintu untuk mengabarkannya pada semua orang. Aku menembak kepalanya. Cukup aku yang tahu.

……………………………..

Seharusnya hari ini tanaman labuku dipanen. Tapi sebelum aku bisa mengeceknya, alarm tanda perbatasan diterobos menyala lagi. Aku hanya bisa menghela nafas.
……………………………….

Lisa tewas, dia meledakkan dirinya saat kerumunan undead itu mengerubutinya. James kelihatannya kehabisan amunisi, dan dia sedang berlari ke arahku saat beberapa mahkluk jelek menimpanya dari belakang dan mencabik-cabiknya. Garis pertahanan kanan hancur, semua yang mengisinya sepertinya tewas. Hilanglah orang-orang yang bisa kusuruh menyiangi ladang.

Orang di sebelahku dengan panik mencari amunisi di sakunya, saat segerombolan monster menghabisinya. Aku menembaki mereka satu persatu dengan bosan. Beberapa undead sepertinya berhasil menerobos pintu bunker. Berarti wakilku yang masih muda itu telah jatuh bersama garis pertahanan belakang. Yah, bagaimana lagi, amunisi sudah menipis seperti ini.

Aku meledakkan kepala satu undead lagi, saat aku menyadari senapan marksmanku yang sudah bersamaku sejak 10 tahun yang lalu ini tiba-tiba berhenti memuntahkan peluru. Kukira dia mulai macet lagi, ternyata cuma kehabisan peluru. Sayangnya, saat aku merogoh sakuku, aku tidak dapat menemukan peluru senapan lagi. Dengan sebal aku menjatuhkannya, lalu menarik pistol yang selalu tersampir di pinggangku. Masih ada beberapa magazin.

Aku berdiri sambil menghujani seekor, aku lebih suka menyebutnya seorang, monster dengan peluru dari pistolku. Pistol ini ga sekuat senapan marksman itu. Sayang banget.

Aku akhirnya teringat untuk mengecek anak buahku yang tersisa. Beberapa saat aku menekan tombol di radioku sambil menembaki para monster dengan satu tangan. Tak ada balasan. Dasar mereka.

Aku menoleh ke sekeliling. Asap membubung dari pintu bunker dan beberapa ventilasi. Saat aku melihat ke menara penjagaan, dua orang pengguna senapan mesin itu sudah tak bernyawa. Sigh. Aku terus berdiri dan menembaki semua yang mendekat. Coba senapanku masih ada pelurunya.

Apa alasanku bertahan sendirian di sini aku sendiri ngga tahu. Aku malah memikirkan ladang labuku. Seharusnya hari ini aku bisa makan labu. Saat tembok undead itu semakin mendekat. Masa sih tinggal aku yang tersisa. Aku tertawa geli saat menembaki undead-undead itu satu demi satu.

Apa pendapat mereka tentangku?

Apa mungkin, anak-anak spesies baru ini diceritakan tentang segerombolan mahkluk yang terus mengganggu kehidupan mereka ini? Spesies dengan kemampuan membunuh dari kejauhan, dan harus dihabisi agar mereka dapat hidup damai?

Tembok daging dan cakar itu sudah semakin mendekat. Aku menjatuhkan magazinku, dan memasang yang baru. Sigh, magazin terakhir.

Apa sebenarnya yang kupikirkan saat ini. Di sekelilingku, mayat-mayat anak buahku bergelimpangan. Aku seakan bisa mendengar denting setiap peluru yang jatuh pada setiap tembakan pistolku. Magazin terakhir bunker ini.

Dan satu demi satu aku menembakkannya. Dentuman-dentuman mesiu terakhir umat manusia. Dentuman terakhir yang terdengar ke seluruh penjuru dunia. Duniaku.

Read Full Post »

First Post

Well… Here it is. Welcome to my blog. Nice to meet you all.

This is somewhat of a continuation of my website, the Adventurer’s Tavern. A place where I can post my writings. I stop updating that site because… well.. I lost my password. And really, managing a site is quite a hassle for me. I have to do a lot of things just to update a story.

Hope you’ll enjoy my stories. And sorry, I only write stories in Indonesian. But if someone interested to translate them, feel free to contact me.

And don’t forget to leave one or two comment in this blog ^^

Read Full Post »