Feeds:
Pos
Komentar

Chocolate Mud Cake

Bahan:

250g mentega

200g coklat

2 cangkir kopi cair

400g gula

175g tepung

1 sdt baking powder

3 sdm coklat bubuk

2 telur

2 sdt vanili

 

Cara Membuat:

1. Panaskan oven sampai 180 derajat Celcius,

2, Lelehkan coklat dan mentega bersama kopi.

3. Campurkan gula, aduk sampai larut.

4. Ayak tepung, bubuk coklat, dan baking powder. Campurkan ke adonan cair.

5. Campurkan telur dan vanili.

6. Panggang selama 1 jam.

7. Lebih enak disajikan dingin setelah disimpan di kulkas beberapa jam.

 

Iklan

Rio Sang Sapi Petualang

Author notes: Hadiah ulang tahun untuk adik. Ulang tahun yang ke tujuh kan? Tujuh?

Di sebuah peternakan hiduplah seekor sapi bernama Rio. Setiap hari Rio hidup dalam damai, memamah biak dan bergelindingan di rumput dengan riang bersama teman-temannya sesama sapi. Tapi lama kelamaan Rio bosan dengan hidup di peternakan. Dia ingin berpetualang melihat dunia luas, seperti yang diceritakan oleh burung-burung yang sering lewat.

 

Pada suatu hari, Rio melihat pintu pagar peternakan terbuka. “Inilah kesempatanku,” pikir Rio. Maka tanpa mempedulikan peringatan teman-temannya, Rio-pun berlari menembus pintu pagar yang terbuka. Dan sesaat kemudian, Rio-pun sudah berada di alam bebas.

 

“Jadi inilah dunia luar!” Kata Rio. Segalanya terasa berbeda. Rerumputan terasa lebih manis. Matahari terasa lebih terang. Rio berjalan di tepi hutan dengan riang sambil bersenandung.

 

Pada hari berikutnya Rio tiba di hadapan sebuah kubangan air yang luas. Rio belum pernah melihat air sebanyak ini sebelumnya. Air terbanyak yang pernah dilihatnya adalah air di ember air minum peternakan.

 

“Ini pasti laut yang sering diceritakan oleh para burung!” kata Rio. Setelah menguatkan hati, Rio-pun menceburkan diri ke kubangan. Kakinya berkecipak ramai, mengayuh di air agar dia dapat mengapung dan bergerak maju. Akhirnya dia pun berhasil melewati kubangan air tersebut.

 

Rio mengeringkan dirinya dengan bangga. “Aku berhasil mengarungi lautan. Aku memang sapi petualang yang hebat!” katanya kepada dirinya sendiri sebelum beristirahat.

 

Hari selanjutnya, Rio melanjutkan perjalanan. Dia melihat mahkluk aneh yang belum pernah ditemuinya. Seekor kucing liar yang sedang santai menjilati bulu-bulunya.

 

“Mahkluk ini pasti singa yang sering diceritakan burung-burung!” katanya. Rio memandang sang mahkluk misterius dalam-dalam, sebelum melenguh sekuat tenaganya. Sang kucing yang sedang santai pun meloncat terkejut, sebelum lari terbirit-birit.

 

“Aku berhasil mengusir singa! Ini adalah petualangan terhebat yang pernah dialami sapi manapun!” katanya bangga.

 

Pada hari ketiga, Rio sudah merasa lelah dan bosan. Ternyata setelah dipikir-pikir, rumput di luar sama saja rasanya dengan rumput di peternakan. Matahari juga sama warnanya. Dia rindu teman-temannya. Dia rindu makanan di peternakan. Karena itu, Rio memutuskan untuk kembali ke peternakan tempatnya lahir dan dibesarkan.

 

Saat Rio kembali ke peternakannya, dia mendapati para sapi sedang dicekam ketakutan. Ternyata, selama tiga malam terakhir, sekelompok serigala tiada hentinya melolong dari puncak bukit. Tinggal menunggu waktu saja sampai mereka turun untuk memangsa para sapi.

 

Rio mengembik di hadapan teman-temannya dengan semangat. “Jangan putus asa!” katanya. “Sapi-pun bisa melakukan apa saja jika mau berusaha. Lihat saja aku. Aku hanya seekor sapi seperti kalian, tapi aku berhasil mengarungi lautan dan melawan singa dalam petualanganku!”

 

Sapi-sapi yang selama beberapa hari itu terus menggigil ketakutan, perlahan mulai dapat kembali berdiri tegar. Cerita Rio tentang petualangannya memberi mereka semangat dan keberanian.

 

Maka pada saat serigala pertama turun dari bukit pada malam berikutnya, para sapi telah bersiap. Begitu serigala kurus yang kurang makan itu meloncati pagar, para sapi yang dipimpin Rio segera menyeruduk. Kaing! Begitu suara sang serigala yang kaget. Serigala itu tidak menyangka kalau sapi incaran mereka kali ini akan melawan.

 

“Kami tidak takut kepada kalian!” kata para sapi. “Di sini ada Rio sang sapi petualang! Dia pernah berenang mengarungi lautan dan bertarung melawan singa!”

 

Sang serigala sebenarnya sulit percaya. Tapi buktinya, kini ada sapi yang berani melawan! Dia pun lari terbirit-birit kembali ke kelompoknya, untuk bercerita tentang kelompok sapi aneh ini. Sang pemimpin serigala memutuskan, kelompok sapi ini terlalu merepotkan untuk dimangsa! Sebaiknya mereka mencari mangsa yang lebih aman, yang tidak akan ramai-ramai menyeruduk.

 

Para serigala pun pergi meninggalkan peternakan. Para sapi-pun kembali ke kehidupan damai mereka, merumput dengan santai dan bergelindingan dengan riang gembira. Dan kini di padang rumput, Rio dikenal sebagai sebagai Rio sang sapi petualang yang pernah mengarungi lautan, melawan singa, dan menyelamatkan peternakan dari gerombolan serigala.

Sepatu Kaca

Sebuah cerita detektif  noir-fantasi yang saya tulis untuk lomba menulis Fantasy Fiesta 2012 kastilfantasi.com beberapa bulan yang lalu. Sayang nggak menang apa-apa, tapi saya cukup suka dengan cerita ini.

Pagi itu, bunyi ketokan di pintu membangunkanku dari tidur. Aku mengangkat wajahku dari meja dan memegang kepalaku yang berdenyut, sambil mencoba mengacuhkan aroma kopi basi yang menguar memenuhi ruangan.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban. Daripada menjawab, sang pengetok pintu malah memutar-mutar pegangan pintu. Dia berdehem.

Sialan, aku tahu siapa itu.  Aku meraih revolver yang tergeletak di sudut, menjatuhkan semua kertas, bekas makanan, serta teko kaleng yang sudah seminggu berkerak di atas meja. Setelah aku mendapatkannya, akupun berlari ke jendela, melompati sampah-sampah yang berceceran di lantai. Sepuluh detik yang menegangkan berlalu sebelum aku berhasil membuka jendela berkarat sialan itu.

Tapi sebelum aku berhasil menuruni tangga darurat itu sepuluh langkah, dua mahkluk berpakaian rapi menghadangku.  Seorang buto jelekyang membuatku merasa seperti anak kecil, dan seorang kurcaci berjenggot lebat yang hanya setinggi dadaku. Mereka berdua mengacungkan senapan mesin hitam ke arahku.

“Hehe.” Aku terkekeh. “Aku bertaruh pasti kalian dipasangkan karena bos kalian punya selera humor yang jelek.”

Mereka tidak menjawab selain dengan sebuah tonjokan ke muka. Tanpa berkata apa-apa, mereka menyeretku kembali ke kantorku.

Di depan mejaku, seorang lelaki paruh baya berjas resmi duduk santai, seakan tanpa dosa. Kedua anak buahnya menjatuhkanku ke meja tanpa kuatir dengan kesehatanku sama sekali.

“Halo, Don Brotosuwarno” Kataku, berusaha tersenyum sekarismatis mungkin dengan bonyok yang ada di mataku. “Aku sumpah, utangku bakal terbayar minggu depan.Adaseorang nenek…”

“Faris… Faris…” Dia memandangku dengan pandangan kebapakan. Ditambah rambut separuh-berubannya yang tersisir rapi, sulit dipercaya kalau dia adalah lelaki paling berbahaya di kerajaan ini.

“Lupakan saja urusan remeh temeh itu. Aku disini bukan untuk menagih uang receh yang kau pinjam itu.”

“Apa ini mungkin tentang orang jelek yang kutonjok di jalan minggu lalu? Aku sumpah, aku tidak tahu dia anak buahmu.”

Don Brotosuwarno tersenyum dan mengatupkan ujung-ujung jarinya. Aku benci bila dia melakukan itu.

“Sebenarnya, aku kesini karena aku membutuhkan jasamu. Kau masih bekerja sebagai detektifkan? Setidaknya jika papan nama di depan pintu gedung ini tidak bohong. Gurumu itu teman lamaku.”

“Y…ya. Tentu saja.” Kataku. Dulu memang kantor bobrok ini terkenal sebagai kantor detektif terhebat di kerajaan ini, saat guruku masih hidup. Aku tidak bilang ke Don Brotosuwarno kalau kasus terakhir yang kutangani adalah kucing hilang yang kutuntaskan sebulan yang lalu.

Dia menyodorkan sebuah bungkusan ke hadapanku. Aku membukanya sambil mengeraskan hatiku. Apa ini? Kepala manusia? Potongan jari? Tapi yang ada di dalamnya adalah sesuatu yang sama sekali lain.

“Sepatu…  kaca?” Tanyaku.

Sebuah sepatu kaca yang indah, dengan hak tinggi lancip dan desain menawan yang memantulkan cahaya suram dari sela-sela kerai jendela ke segala arah.

“Ya. Kau tahu keributan dua hari yang lalu bukan?”

Tentu saja aku tahu. Semua koran di kerajaan ini menuliskannya dengan judul besar-besar. Kekacauan Di Pesta Tahunan Brotosuwarno.

“Seorang… wanita tak dikenal,” katanya sambil menggertakkan gigi, kemarahan seakan membakar kumis hitamnya, “membunuh anakku satu satunya! Di depan orang banyak!” Dia menggebrak meja. “Anakku… pewaris klan Brotosuwarno, ditusuk tepat di dadanya!  Hanya sepatu itu satu-satunya petunjuk yang ada.  Tertinggalkan oleh sang pembunuh di tengah kekacauan yang terjadi.”

Dia menenangkan nafasnya, sebelum kembali tersenyum.

“Kalau polisi menangkapnya, pembunuh itu hanya akan masuk penjara. Itu sebabnya aku minta tolong pada kepala polisi untuk menangguhkan penyelidikan. Aku tahu kau dalam kesulitan finansial. Temukan sang pembunuh dan bawa ke hadapanku. Kalau kau berhasil, semua hutangmu akan kuanggap lunas.”

Dia bahkan tidak merasa perlu mengatakan apa yang bakal terjadi kalau aku gagal.

Siangnya, aku sudah berada di lokasi pesta dengan jas coklat dan topi fedora kesayanganku. Aku berlutut di tempat sang pangeran klan Brotosuwarno tewas. Pekerjaan yang rapi. Orang awam selalu mengira lokasi penusukan akan banjir darah. Di lain sisi, aula megah itu bagaikan sehabis diterpa puting beliung. Sisa-sisa hiasan dan hidangan pesta masih tersebar di segala arah, dan barang-barang pecah belah berceceran di lantai marmer indah.

“Sangat mengerikan!” Kata salah seorang pelayan. “Pesta itu begitu mewah, begitu ramai, begitu mempesona. Orang-orang kaya dan bangsawan dari segala penjurukotadatang dengan pakaian dan perhiasan mereka yang mahal-mahal. Tuan muda sedang berdansa dengan gadis bertopeng misterius yang datang tanpa diundang.  Saat tiba-tiba, gadis itu menusuknya dengan pisau tepat di jantungnya! Tuan besar Brotosuwarno langsung mengamuk, lihat saja semua piring dan gelas yang pecah ini.”

Aku memandang lukisan keluarga Brotosuwarno yang tergantung di dinding. Sang pangeran terlihat begitu tampan, dengan rambut pirangnya yang bagaikan sutra, dan mata biru-safirnya. Bahkan mayatnya yang kulihat tadi di persemayaman terlihat mempesona. Kulit pucat dan bibir kebiruan malah terlihat mempertegas keeksotisannya. Sulit dipercaya kalau dia adalah pewaris keluarga Brotosuwarno yang melilitkan tentakel mereka di 90% bisnis illegal di kerajaan ini.

Aku mengeluarkan kaca pembesar, dan mencocokkan sebuah noda di lantai dengan sepatu kaca yang kutimang-timang sedari tadi. Nodanya cocok. Tentu saja, inilah alasan kenapa kekuatan seluruh keluarga Brotosuwarno tidak berhasil menemukan sang pembunuh.

Debu peri.

Tanpa banyak pikir lagi, akupun langsung menuju ke satu-satunya tempat dimana aku bisa mendapatkan informasi tentang ini. Sejak kerajaan ini mengilegalkan debu peri, nyaris semua peri menjadi pengangguran. Sebagian besar meninggalkan kerajaan ini, kembali ke hutan mereka.  Hanya sedikit peri keras kepala yang tetap tinggal disini, melakukan pekerjaan serabutan, dan sesekali, menjual debu peri dibawah tangan.  Dan mereka semua, kaya atau miskin, selalu menghabiskan uang mereka di Bar Silmarillion yang kukunjungi ini.

Semua pengunjung bar remang-remang itu menatapku curiga begitu aku masuk, aku pasti satu-satunya non-peri di tempat itu.  Kipas angin murah berputar di langit-langit, membuat semua bayangan terlihat menari mencurigakan. Tapi aku tak punya banyak waktu. Tanpa basa basi, aku langsung mengunjungi bartender. Peri cantik berambut emas itu menyodorkan minumanku di gelas langsing dan rapuh khas para peri. Jarinya yang lentik kemudian menunjuk ke sudut sebagai jawaban pertanyaanku, ke arah seorang peri yang menenggelamkan mukanya ke lipatan tangan.

“Halo, Fingolfin. Lelah setelah kerja berat?” kataku setelah aku menempatkan diri di kursi reyot di hadapannya.

“Kau ngoceh apa?” Katanya sambil mengangkat muka. Botol di hadapannya setengah penuh oleh cairan hijau berbau tajam, dan sebatang rokok tergantung di wajahnya yang secantik manusia wanita manapun.

Aku menjentikkan jari dan menyalakan rokoknya dengan api sihir yang tercipta. Cahaya muram menerangi wajah kami berdua.

“Aku sudah dengar bagaimana gadis itu tiba di pesta. Limosin labu… gaun berlapis tujuh… Pasti banyak sekali debu peri yang kau gunakan untuk menciptakan semua konstruksi sihir itu. Tentu saja, konstruksi sihir hanya bertahan beberapa jam. Itu sebabnya raja mengilegakan debu peri.

Debu peri adalah salah satu dari sedikit hal illegal diluar telapak tangan keluarga Brotosuwarno. Mereka tidak akan menyangkanya. Dan semua bukti akan langsung hilang malam itu bersama menguapnya konstruksi sihir.

Tapi entah kenapa, kau tidak berbuat sesederhana itu dengan sepatu kaca ini. Ini kaca asli, diperkuat dengan sihir peri. Harganya senilai gaji pegawai kerajaan setahun.”

“Kau tidak bisa membuktikannya!” tegasnya, ekspresinya tiba-tiba menajam.

“Oh, kukira Don Brotosuwarno pasti bisa membuktikannya, cepat atau lambat…”

Dia membalikkan meja dan melompat keluar. Aku mengejarnya. Peri bisa lari sangat cepat, tapi dia setengah mabuk. Aku berhasil menubruknya di gang belakang, sebelum dia berhasil mempercepat larinya atau merapal mantera.

Aku mencengkram kerah bajunya. “Kenapa kau melakukan ini, Fingolfin? Siapa yang menyewamu, katakan! Mungkin kalau kau jujur aku bakal lupa menyebutkan namamu saat melapor kepada Don Brotosuwarno!”

Fingolfin mulai bercucuran air mata. Oke, aku tidak menyangka ini bakal terjadi. “Itu bukan salahku! Aku berusaha membantu mereka! Aku punya hutang budi besar kepada mereka semua, oke? Sebelum kau lahir!” Dia menangis.

“Siapa mereka, Fingolfin?”

“Keluarga Capullet dan Brotosuwarno! Sepatu itu… dititipkan oleh mendiang Don Capullet kepadaku sebelum dia dibunuh. Ternyata ini memang takdir mereka…”

Aku memandang si mahkluk menyedihkan untuk terakhir kali, setengah kasihan setengah jijik, sebelum meninggalkannya menangis sendirian di gang kotor itu. Minuman memang bisa merusak ras manapun.

Keluarga Capullet terlibat?

Semakin jauh aku menyelidiki kasus ini, semakin ingin aku meninggalkannya jauh-jauh. Tapi tidak seperti biasanya, aku terus terdorong maju. Ancaman kematian memang merupakan pendorong yang terkuat.

Keesokan harinya, aku mengunjungi target penyelidikanku selanjutnya. Mansion keluarga Capullet adalah sebuah mansion kuno berpilar indah yang terletak di tepi tebing pinggir laut.  Pasti dulunya ini properti yang menawan, tapi kurangnya perawatan terlihat jelas. Sejak Don Capullet dibunuh, mantan rival keluarga Brotosuwarno ini terpinggirkan. Tapi wanita yang menyambutku bergaun mewah dan indah, berlawanan drastis dengan kondisi tempat tinggalnya.

Wanita paruh baya itu terlihat begitu cantik dan sombong. Tapi tetap saja iming-iming hadiah menggelitik keingintahuannya.

“Tentu kau boleh mencocokkan sepatu itu,” katanya sembari menepukkan tangan. Dua orang gadis muda bergaun indah yang mirip dengannya segera muncul. Aku melanjutkan sandiwaraku sebagai pesuruh kerajaan, dan mencocokkan sepatu kaca itu ke kaki mereka. Tapi tidak ada yang cocok.

“Kudengar… keluarga ini punya tiga anak gadis?” Tanyaku.

Nyonya besar keluarga Capullet mendengus. “Kau tidak salah dengar. Tapi tidak mungkin anak pemalas itu cocok menjadi model resmi istana.”

“Sayang sekali kalau begitu. Uang kontrak ini besar sekali.”

Pancinganku berhasil. Dia mendengus lagi dan menyuruhku menunggu di gudang, gadis ketiga itu sedang berbelanja kebutuhan dapur.

Gudang kotor itu pasti mendobel sebagai kamar sang gadis, dengan lemari bobrok dan kasur buluk yang yang terhampar. Aku duduk disanabeberapa lama, tenggelam dalam lamunan, saat seseorang menyapa dengan suara lembut.

Gadis yang menyapaku itu berpakaian butut, tapi kecantikannya malah semakin memancar.  Rambutnya yang disanggul sederhana membuatnya terlihat anggun, dan wajahnya yang tidak dipoles membuatnya jauh lebih bersinar dari saudari-saudarinya.

Saat aku menunjukkan sepatu kaca itu, ekspresinya berubah.

“Keluar, sekarang!” tegasnya.

Aku menggelengkan kepala. “Percuma saja, nona…” kataku sebelum melemparkan sesuatu ke meja. Pisau berbekas darah di ujungnya yang kutemukan saat aku menggeledah kamar itu sebelum dia pulang. “Banyak penjahat yang melakukan hal bodoh seperti ini karena merasa sentimental. Seharusnya kau membuangnya jauh-jauh. Sama seperti pasangan sepatu itu.”

Dia terdiam sejenak, sebelum tersenyum sangat manis dengan mata berkaca-kaca.

“Kau benar…”

Setitik air mata mengalir dari matanya saat dia mengeluarkan pasangan sepatu itu dari persembunyian. Dia memakai keduanya. Cocok sempurna.

“Katanya sepatu ini peninggalan ibu kandungku.”

“Tidak akan ada yang menyangka kalau diantara mereka semua… kau, si gadis baik setengah-pelayanlah pembunuhnya…” Kataku kagum. “Bahkan kudengar kau tidak diizinkan datang ke pesta.  Alibi yang bagus.”

Sang gadis melanjutkan. “Ibu dan saudara tiriku tidak ada yang peduli dengan kehormatan keluarga, tapi aku harus membalas dendam kematian ayahku. Aku sudah lama mencoba mendekati sang pangeran, sampai aku berhasil mendapatkan kesempatan itu. Tapi kau benar, aku menyimpan semua ini karena aku merasa sentimental. Kau tahu kenapa?

Karena aku benar-benar jatuh cinta kepadanya!”

Air mata terus mengalir membasahi pipinya yang putih. “Tapi aku tidak bisa membuang semuanya begitu saja! Tidak setelah semua perencanaan yang kulakukan!”

“Menyerahlah kepada polisi…” Kataku lembut. “Mereka akan melindungimu.”

Dia tertawa. “Kau bercanda? Polisi ada di telapak tangan Brotosuwarno.” Dan tanpa kuduga, dia mengeluarkan sepucuk pistol dari balik mantel bututnya. “Pergi dari sini.”

Aku terdiam dan mundur perlahan, saat dia tiba-tiba berbalik.

Dia berlari meninggalkanku. Aku mengejarnya melewati halaman luas mansion yang tak terawat, melewati sisa-sisa taman dan patung-patung,  sampai ke tepi tebing. Suara ombak berdesir di telingaku, menjadi musik latar belakang percakapan.

“Jangan lakukan ini nona…” kataku sambil melangkah perlahan.

“Seperti yang kau bilang, detektif, percuma saja. Semua sudah berakhir.”

Dan sebelum aku dapat melakukan apa-apa, gadis tercantik yang pernah kulihat itu melompat dari tebing yang tinggi, menuju lautan berombak liar penuh karang tajam di bawah.

Satu hari lagi berlalu, sebelum aku menemui Don Brotosuwarno di kantornya yang elegan. Dia terlihat terkejut saat mendapatiku duduk di salah satu kursi mahalnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyanya, sembari berjalan berputar melewatiku menuju meja kayu jati miliknya.

Aku melemparkan sepucuk artikel koran, tentang bunuh dirinya gadis keluarga Capullet.

“Dialah sang gadis misterius itu. Ini buktinya.” Kataku sembari melemparkan pisau berbekas darah itu ke meja antiknya.

“Kau berhasil menemukan sang pembunuh? Luar biasa. Sayang aku tidak dapat melingkarkan jariku di lehernya.” Don Brotosuwarno berdecak kagum.

“Ternyata kau tidak mengenal guruku sebaik itu…” aku bergumam.

“Apa maksudmu?”

“Kau pasti benar-benar tidak menyangka kalau aku akan menyelidiki semuanya sejauh ini bukan? Kau hanya mengenalku sebagai detektif kacangan pemalas. Kau menyewaku agar kau punya alasan untuk menangguhkan penyelidikan polisi untuk keluargamu. Tapi seharusnya kau tahu, guruku tidak akan  memungut sembarang murid. Memang biasanya aku tak bisa diandalkan, tapi ancaman kematian adalah pendorong yang luar biasa.”

“Apa yang kau ocehkan, detektif!”

“Kubilang aku menemukan sang gadis misterius. Tapi aku tidak pernah bilang dialah pembunuhnya. Sebab kaulah yang membunuh sang pewarismu sendiri.”

Tak ada suara yang terdengar di ruangan itu selain detak jam di dinding. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menatapku dengan ekspresinya yang tidak bisa ditebak. Aku melanjutkan.

“Periksa saja pisau itu. Kau kira kenapa pisau itu tidak dibuat dari debu peri, padahal pisau itu adalah bukti terpenting? Itu pisau opera dengan mekanisme buatan para kurcaci untuk adegan tusuk-menusuk yang dramatis. Kalau pisau asli menusuk jantung, darah akan lebih membanjir.

Sejak awal, pangeran pewarismu tahu kalau gadis itu dari keluarga Capullet. Diam-diam dia membuat perjanjian sendiri dengan Fingolfin sang peri. Kukira rencananya adalah, dia akan berpura-pura mati sebelum menemui sang gadis Capullet dan membujuknya untuk kawin lari dengannya.

Tapi dia tewas sungguhan. Bukan karena pisau, tapi karena racun. Bibir biru itu… kau meracuni makanannya bukan? Lalu kau obrak-abrik meja makan, agar tak ada bukti yang tersisa.”

Sang Don tersenyum dan mengatupkan ujung-ujung jarinya. Aku benci kalau dia melakukan itu.

“Tapi semua itu sama sekali tidak ada buktinya. Kenapa aku membunuh anakku sendiri? Lagipula, kenapa kau menceritakan semua ini kepadaku?”

“Kau pasti selalu benci pewarismu itu. Dia bukan anak kandungmu,kan? Kukira dia setengah-peri, hasil selingkuhan istrimu. Sejak awal kau berniat membunuhnya di pesta itu.

Kalau sang pangeran diotopsi, semua akan terbukti.  Aku tahu sedari awal kau tidak berencana menuruti janjimu, dan berencana menghabisiku.  Aku menitipkan jurnalku pada kenalanku di koran. Tepati janjimu, dan aku tidak akan menyebarkannya ke siapa-siapa.”

Senyumnya melebar.

“Sayang sekali, detektif. Kepala redaksi koran itu adalah sahabatku…”

Dan tiba-tiba, selusin mahkluk muncul dari berbagai tempat. Dari jendela, dari balkon, dari balik tirai. Manusia, kurcaci, peri, dan buto. Semua mengacungkan senjata api.

Aku mengumpat dan menarik senjataku secara refleks. Aku menembak dada Don Brotosuwarno. Tapi dia hanya mengernyit.

“Faris, kau kira seorang bos besar sepertiku akan berkeliaran tanpa perlindungan? Tapi tetap saja rasanya seperti dipukul godam… Kau akan membayarnya.”

Tentu saja. Mantera pelindung. Aku putus asa. Tak ada lagi yang bisa kulakukan sekarang…

Kukira aku sudah mati saat kudengar letusan senjata, tapi letusan itu datang dari luar ruangan. Seseorang masuk dari pintu, melangkahi sang penjaga pintu yang berlumuran darah, dan berjalan anggun di atas karpet beludru yang melapisi kantor itu.

“Benarkah semua yang kau katakan itu?”

Sang gadis keluarga Capullet! Dia mengikutiku sampai kesini! Bagaimana caranya dia bisa selamat dari tebing itu?

“Aku tidak menyangka aku bakal selamat.” Katanya seakan dapat membaca pikiran semua orang. “Tapi sepertinya, ayah dan ibuku menjagaku dari alamsana. Sepatu itu dimantrai. Mantra pelindung.” Lanjut gadis itu sembari mengacungkan pistol di tangan kanan dan granat di tangan kiri. Menurutku gadis ini benar-benar berpotensi menjadi mafia hebat. Lihat saja kemampuannya mendapatkan senjata.

Sang gadis menembak. Don Brotosuwarno mengernyit kesakitan, sebelum berteriak marah. “Habisi gadis itu!”

Aku melompat ke bawah meja saat peluru berdesingan dari segala arah. Saat aku mengintip keluar, aku melihat gadis itu masih berdiri. Mantera pelindung para peri memang sangat kuat. Tapi aku tahu dia pasti kesakitan setengah mati. Hanya adrenalin yang menyokongnya.

Don Brotosuwarno tertawa. “Percuma saja, nona! Aku juga dilindungi mantera pelindung! Granat itu tidak akan membunuhku!”

“Ya…” Gadis itu membuang granatnya tanpa menarik picu. “Tapi yang ini pasti dapat membunuhmu!”

Dia mencabut sepatu kacanya dan melompat ke arah Don Brotosuwarno. Sebelum ada yang sempat berbuat apa apa, dia menusukkan ujung sepatu yang tajam itu ke dada sang Don.

Kilauan cahaya singkat membutakan semua orang saat mantera pelindung bertemu mantera pelindung. Sedetik kemudian, peluru para pengawal kembali berdesingan.

Saat kilauan cahaya menghilang dan asap senjata berhenti mengepul, terlihat karpet beludru yang kini merah oleh darah. Don Brotosuwarno tergeletak tewas dengan sepatu kaca lancip menusuk jantungnya. Berakhirlah riwayat sang pria paling berbahaya di seantero kerajaan. Dan di sebelahnya, sang gadis cantik keluarga Capullet yang telah kehilangan perlindungan manteranya terbaring penuh lubang peluru, di tengah lautan darah yang perlahan menyebar bagaikan mawar mekar.

Hari sudah malam saat aku berada kembali di kantorku. Aku merapikan berkas-berkas yang berceceran di lantai, sebelum duduk termenung di kursi bututku.

Setelah mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, adik sang Don, pewaris selanjutnya keluarga Brotosuwarno, melepaskanku tanpa kurang suatu apapun. Dia bahkan setuju untuk menghapus hutang-hutangku. Kasus ini terpecahkan dengan sempurna, dan hasil kerja kerasku terbayar.

Tapi tetap saja, Roma Brotosuwarno dan Julietella Capullet mati sia-sia. Keluarga mafia Brotosuwarno tetap saja menguasai dunia hitam kerajaan ini. Keluarga Capulet tetap saja akan segera menghabiskan harta mereka yang tersisa dengan foya-foya. Matahari tetap saja akan terus terbit dari timur. Dan aku tetap saja perlu makan bulan ini.

Aku menghela nafas dan membaca berkas kasusku selanjutnya. Nenek kaya itu akan membayar mahal kalau aku berhasil menemukan anjing dalmatiannya yang hilang.

Carrot Cake

Cake Wortel

Kue Wortel? Bukannya itu hanya makanan fiktif kesukaan keluarga kelinci di majalah Bobo?

Ternyata tidak. Cake Wortel ternyata merupakan cake yang memiliki sejarah panjang, cake yang memanfaatkan rasa manis wortel saat gula mahal dan/atau sulit didapat.  Hasilnya adalah cake  lembab beraroma dan berasa manis yang khas, dan secara mengejutkannya,  sama sekali tidak berasa atau beraroma seperti sayur, heh.

Tekstur cake ini bakal agak lebih kasar dari cake biasa, dan rasa manisnya juga bakal terasa beda.

Sebenarnya cake ini dibuat saat bulan puasa kemarin, tapi entah kenapa baru kepikiran untuk memasukkannya ke blog ini sekarang.

Bahan:

225 g tepung terigu

225 g wortel parut

150 g mentega

250 g gula

2 sdt kayumanis bubuk

1 1/2 sdt baking powder

1 butir telur

kalau suka, bisa ditambahkan kismis atau kacang.

 

Cara membuat:

1. Lelehkan mentega, campurkan dengan gula.

2. Campurkan bahan-bahan kering, aduk rata.

3. Kocok telur, lalu campurkan ke adonan.

4. Panggang di oven bersuhu 180 C selama 50 menit.

 

The Cool Cinematic Trailer

Main Site

Uncharted Waters Online

Pernahkan anda membayangkan hidup sebagai seorang petualang di age of exploration…  Berlayar menuju matahari terbenam di lautan lepas…  berkunjung di kota yang belum terpetakan dan menemukan artifak kuno… Bertempur melawan bajak laut dan menemukan reruntuhan legendaris yang hilang…

Rasanya aneh juga mengiklankan game,  tapi memang saya begitu suka dengan game ini sampai-sampai rasanya gatal ingin menuliskan kenapa saya begitu terpesona dengan game ini.

Sebagian besar orang yang kenal saya tahu, saya terobsesi dengan petualangan. Saya terkadang mencoba game online (meskipun kalau dibandingkan kebanyakan orang, game yang pernah saya coba tidak begitu banyak juga sih), tapi belum pernah ada game online yang begitu pas dengan apa yang ada di pikiran saya tentang menjadi seorang petualang… Sampai teman saya memperkenalkan game ini. Game ini adalah game online berdasarkan seri Uncharted Waters nya KOEI yang terkenal dengan franchise Romance of the Three Kingdomsnya, yang dulu pernah diterbitkan di DOS, SNES, dan Sega Genesis. Game Uncharted Waters aslinya adalah game penjelajahan dan perdagangan, semacam Sid Meiers’ Pirates atau Tradewinds. Dan beberapa tahun lalu, KOEI menerbitkan sebuah game online berdasarkan franchise Uncharted Waters, yang menurut saya benar-benar membawa style franchise itu dengan sempurna ke dunia online.

Itulah Uncharted Waters Online.

Gameplay

Hmm... di sini jelas bukan Rune Midgard

Uncharted Waters Online, yang setelah ini akan saya singkat sebagai UWO, adalah sebuah game online gratis yang bersetting di bumi kita pada abad penjelajahan. Ya, peta di game ini berdasarkan dunia nyata, demikian juga kota-kotanya.  Setiap pemain dapat memilih kebangsaan masing-masing. Setiap pemain memiliki bahasa yang dikuasai in-game, sehingga misalnya, seorang pemain yang tidak punya skill bahasa prancis in-game tidak dapat berbicara dengan Non Player Character (NPC) berkebangsaan prancis. NPC-NPC yang ada berdasarkan tokoh historis, seperti Shakespeare dan Leonardo da Vinci. Dan ya, Indonesia juga ada di game ini, demikian juga dengan kota-kotanya seperti Jakarta, Surabaya, Ambon, dan sebagainya. UWO adalah game dimana peta dunia dan buku geografi akan berguna.

Eropa Utara

Indonesia! Ambon di sebelah mana ya?

Gameplay UWO cukup unik, tidak seperti game-game mmorpg asia lainnya, atau bahkan mmorpg barat. Kalau harus dibandingkan, mungkin saya akan menyebutnya EVE Online-lite. Game ini memiliki tiga fokus, Adventure, Trading, dan Battle. Seorang player character mempunyai tiga level, level Adventure, Trading dan Battle, dimana level Adventure akan naik dengan melakukan perjalanan, dan menemukan discovery, level trading akan naik dengan berdagang, dan level Battle akan naik dengan bertempur. UWO juga memiliki dua jenis gameplay, pelayaran dan penjelajahan on-foot. Di laut, seorang voyager (istilah untuk karakter di game ini) harus mengatur perbekalan untuk pelayaran (jangan sampai kehabisan air atau makanan di tengah laut!), melawan bajak laut dan bencana-bencana alam, serta menjaga agar para pelaut anak buahnya dalam keadaan fit dan loyal. Sementara di darat, seorang voyager harus menghadapi bandit-bandi  serta menjelajahi dungeon yang penuh jebakan.

Berpetualang di laut...

...dan di darat.


Seorang player character juga memiliki job, alias pekerjaan, yang terbagi menjadi tiga jenis (Adventure, Trading, dan Battle). Tapi tidak seperti job atau class di game lain, player character bisa mengganti job dengan relatif mudah, dan player akan bergonta-ganti pekerjaan cukup sering. Dan guna job di sini adalah, experience point akan berlipat ganda pada job yang sesuai, misalnya adventure experience, akan berlipat ganda jika job yang dimiliki adalah job tipe adventure. Setiap job juga memiliki apa yang disebut dengan Favoured Skill,  dimana favoured skill job tersebut akan naik level dengan kecepatan dua kali lipat.

Seorang Exavator harus tahu ilmu-ilmu ini.

Dan terakhir, yang menurut saya juga menarik adalah, bagaimana dunia UWO dibentuk oleh pemain-pemainnya. Harga barang-barang akan naik atau turun sesuai permintaan dan penawaran yang dilakukan pemain. Jika para pemain membanjiri vendor kota London dengan rempah-rempah, misalnya, maka harga rempah-rempah di London akan turun. Jika para pemain membeli merica dari Kalkuta, maka harga merica di Kalkutta akan mahal. Pemain juga dapat berinvestasi di kota-kota yang ada, dimana gabungan investasi dari para pemain akan menentukan seberapa berkembang kota tersebut, dan fasilitas apa yang ada di sana.

Dan, para pemain bisa menjadi bajak laut dan menyerang serta merampok pemain lain di luar safe zone dan mendapatkan bounty. Safe Zone adalah daerah di sekitar kota-kota besar, dimana pemain bajak laut tidak bisa menyerang pemain lain. Di lautan lepas yang disebult Hostile Waters, pemain bisa menyerang pemain lain dan merampok uang serta kargo mereka. Tetapi dengan menyerang pemain lain, para bajak laut akan mendapatkan bounty (seperti di one piece!) dan dibenci oleh negara asal pemain yang diserang tersebut. Bajak laut yang memiliki bounty dapat diserang pemain lain dimanapun tanpa membuat pemain lain itu dibenci atau mendapat bounty, bahkan pemain tersebut akan mendapatkan uang hadiah sesuai bounty bajak laut tersebut.

Menariknya, pemain-pemain yang berhasil akan menjadi bahan pembicaraan NPC. Para bartender akan berbicara tentang pemain bajak laut yang jahat, trader yang sukses, dan petualang yang menemukan benda-benda langka.

Bartender adalah sumber informasi yang penting.

Yang juga menurut saya cukup unik dan tidak bisa dilewatkan adalah, game ini memiliki plot seperti halnya game single player. Ya, ada cerita yang menurut saya cukup menarik yang berbeda untuk setiap negara.

Lalu seperti apa gameplay Adventure, Trading, dan Battle di game ini?

Adventure

Reruntuhan misterius apa ini?

Kalau reruntuhan yang ini sih sepertinya saya kenal...

Seorang pemain yang memfokuskan diri pada Adventure di game ini mendapatkan uang dan experience dengan melakukan penjelajahan. Para pemain dapat melihat daftar pekerjaan yang ada di Adventure Guild di kota-kota besar atau melakukan penelitian independen di perpustakan-perpustakaan yang ada di dalam game.  Dari sana, pemain akan mendapatkan petunjuk-petunjuk, seperti lokasi harta karun atau reruntuhan kuno. Dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang ada, para adventurer akan menemukan discovery card dan/atau item-item langka. Item-item langka itu bisa dijual tentu saja, dan discovery card bisa dilaporkan ke NPC tertentu yang mengumpulkan tipe discovery tersebut.

Discovery card ini harus dilaporkan ke siapa ya?

Admiral Bartholomew Diaz menerima pelaporan discovery kota semacam ini.


Game ini memiliki sistem quest unik yang belum pernah saya temui di game lain, dimana seorang pemain dapat memfokuskan diri menjadi seorang petualang tanpa perlu banyak bertempur.

Permintaan untuk menemukan pedang legendaris?

Penjelajahan serta penemuan tempat baru dihargai di game ini. Ya, tidak seperti di game online lain, seorang petualang akan ingin menemukan tempat baru dan menjelajahi daerah baru, sebab petualang dapat menghasilkan uang dan prestise dengan cara tersebut.

Kotak yang mencurigakan...

Trading

Seorang trader mendapat experience dan uang darimana lagi kalau bukan berdagang? Para trader membeli barang-barang dari satu kota dan menjualnya di kota lain. Masing-masing kota memiliki produksi masing-masing, sehingga harga barang-barang akan berbeda dari satu kota ke kota lain. Tugas para trader-lah untuk menemukan rute dagang yang menguntungkan. Banyak kota juga memiliki specialty item, yang tidak dijual di kota lain (tebak apa specialty item Ambon? Pala, tentu saja!). Specialty items ini dapat dijual dengan harga lebih mahal dan menghasilkan experience lebih banyak dari barang-barang biasa.

Seorang pedagang harus tahu harga-harga.

Selain itu, game ini juga memiliki sistem Crafting yang cukup kompleks, dimana para trader dapat menjadi seorang pembuat kapal, pembuat senjata, koki pembuat masakan, dan lain sebagainya, yang menghasilkan item-item yang tidak dijual oleh NPC

Battle

Fire all portside cannon!

Dan terakhir tentu saja, battle. Mereka yang hobi bertempur dapat menjadi seorang prajurit di game ini, dan bertempur di laut dan di darat. Pertempuran di laut adalah antar kapal. Kapal-kapal tempur saling berputar dan mengejar seperti kucing yang saling mengejar ekor, masing-masing berharap untuk dapat mengarahkan broadside kapal mereka ke kapal musuh, karena meriam yang ada di zaman ini dipasang di sisi-sisi kapal.  Dengan menggunakan berbagai macam skill, seperti Ballistic untuk meningkatkan jangkauan meriam, atau Turning untuk meningkatkan kemampuan belok kapal, para nahkoda akan saling bertukar peluru meriam. Dan tentu saja, masing-masing pihak berharap agar dapat mengenai bagian depan atau bagian belakang kapal lawan, istilahnya stern dan bow, sebab seperti di dunia nyata, bagian-bagian tersebut adalah bagian terlemah dari kapal dan jika tertembak akan menghasilkan kerusakan yang parah.

Direct hit!

Para pemain yang memfokuskan diri pada adu meriam dapat memasang berbagai jenis meriam di kapal mereka, meriam berpeluru normal yang langsung menghancurkan badan kapal lawan, peluru grapeshot yang menghabisi awak kapal lawan, peluru chain-shot yang merusak bagian-bagian kapal seperti layar lawan dan membuat mereka lebih mudah dihajar, serta flaming shot yang dapat membakar kapal lawan.

Para prajurit juga dapat memfokuskan diri pada bertempuran jarak dekat, dimana mereka dapat langsung menghabisi awak kapal lawan daripada merusak kapal mereka. Para pemain dapat menggunakan beberapa skill seperti Gunnery untuk mengurangi attack dan defense awak kapal lawan atau Assault untuk meningkatkan kemampuan awak kapal sendiri. Skill-skill tersebut memiliki hubungan seperti batu-gunting-kertas, dimana skill yang satu mengalahkan skill yang lain dan dapat dikalahkan oleh skill yang lain lagi.

Board that vessel!

Sedangkan di darat, pertempuran yang ada menyerupai japanese rpg, dimana para pemain bertempur secara turn based dan memilih skill serta item untuk memenangkan pertempuran.

Bandit mah dikeroyok aja.

Duel gentlemen di kota.

Akhir Kata

Begitulah, bisa dilihat kenapa saya begitu terpesona dengan game ini. Baru di game ini saya bisa menjadi seorang excavator dan menemukan reruntuhan-reruntuhan kuno, melaporkan penemuan kota baru ke Bartholomew Diaz, dan berlayar di laut lepas menuju tempat-tempat baru yang belum pernah dijelajahi.

Ada yang menarik ga ya di dalam mesjid tunisia ini?

Tentu saja tidak ada game yang sempurna. Design flaw utama game ini menurut saya terhubung erat dengan basic designnya sendiri. Dunia di game ini luas dan besar! Berlayar dari satu tempat ke tempat lain akan membutuhkan banyak waktu.  Hanya berlayar dari London ke Athena bisa memakan waktu setengah jam. Berlayar dari Eropa ke India akan memakan waktu ber jam-jam.  Saya pribadi tidak bisa memikirkan cara untuk menghindari flaw ini jika saya adalah desainer game ini, sebab salah satu jualan game ini adalah dunia yang besar, dan jika perjalanan disingkatkan, tentu dunianya tidak akan terasa besar lagi.  Jika anda merasa mudah bosan dengan hal semacam ini, mungkin ada tidak akan begitu tertarik dengan game ini. Bahkan tutorial game ini, yang dipaketkan dalam sebuah akademi in-game,  panjang dan akan sulit untuk diselesaikan dalam satu-dua hari.  Saya pribadi selalu menyediakan hal lain untuk dikerjakan pada pelayaran yang jauh, seperti buku untuk dibaca, dan semacamnya.

Selain itu, pertempuran di game ini juga tidak sekompleks mmorpg lain yang memfokuskan diri di sisi itu. Jika anda menginginkan battle yang kompleks dan unik, mungkin anda tidak akan mendapatkannnya di game ini.

Tapi jika anda ingin mencoba suatu game mmorpg yang beda dari game lain, coba saja game ini!

And now, let's sail into the sunset

A Musical Journey

I always want to be able to play an instrument, but I never picked any since I thought I never had the knack for music.

When people say they wish they had drawing talent, I always said that they should try to draw and practice instead. So one day I realized that it actually covers my feeling  about playing music as well!

So for these couple of months, I’ve been practicing harmonica.
I have basic knowledge of music theory, from my school days, but I never actually played anything, and my grades for music were never well anyway. I know how to read musical scores, but that’s it. I know next to nothing about chords or keys or whatelse.

But you know what they say? A hundred miles journey is started by one single step!

Manusia modern itu memang suka terobsesi pada berat badan. Terutama menurunkan berat badan, ada saja cara yang dibilang efektif untuk menurunkan berat badan, entah itu jenis olahraga baru, makanan diet, dan segala macam cara lainnya.

Jadi, apa sekarang saya juga akan menceritakan cara ajaib untuk menurunkan berat badan? Nggak juga. Yang akan saya tuliskan dibawah ini adalah tips untuk menurunkan berat badan yang dikumpulkan dan diuji coba oleh penulis sendiri. Nggak ada cara yang muluk-muluk kok. Tapi tulisan ini bisa dijadikan tambahan ide untuk diet apapun yang sedang anda lakukan sekarang.

Tapi sebelumnya, ada disclaimer. Tulisan ini hanyalah tulisan ringan, yang menggunakan banyak asumsi dan rata-rata. Kondisi tubuh setiap orang berbeda-beda, tergantung aktivitas, jenis kelamin, tinggi dan berat badan, dan lain-lain. Yang saya tulis disini hanyalah tips umum.

 

Berapa Kalori Sih Yang Dibutuhkan Untuk Menurunkan Berat Badan?

Pertama, kita tahu bahwa manusia rata-rata membutuhkan 2000 kalori/ hari. Kita sudah sering lihat angka ini di tabel angka kecukupan gizi (AKG) di bungkus-bungkus makanan. Angka ini cuma rata-rata, AKG orang yang aktivitasnya berbeda tentu berbeda pula. Tapi dari sini kita asumsikan bahwa, jika orang yang butuh 2000 kalori per hari makan makanan dengan jumlah kalori total 2000 kalori, beratnya tidak akan bertambah atau berkurang.

Lalu, berapa sih berat lemak yang ada di tubuh kita, yang ingin kita buang? Tidak perlu panjang lebar, oleh ilmu alam, diketahui bahwa 500 gram lemak mengandung 3500 kalori.

Dari sini sudah kelihatan lihat berapa kalori yang harus kita kurangi untuk menghilangkan lemak, bukan? Kalau kita mengurangi asupan kalori kita 500 kalori/hari, dalam seminggu kita akan kehilangan 3500 kalori, atau 0,5 kilogram lemak.  Kalau ingin mengurangi berat 1 kg seminggu? Ya kurangi saja 1000 kalori/hari! Sederhana!

Tentu saja tidak harus seluruhnya didapat dari mengurangi makan. Jika kita berolahraga, jumlah kalori yang dibutuhkan tubuh juga akan bertambah.  Bisa saja kita menambah aktivitas kita sebanyak 250 kalori/hari dan mengurangi asupan makan kita 250 kalori/hari, dalam waktu seminggu, kita juga akan menghilangkan 0,5 kg lemak.

Sekadar tips, satu cangkir nasi itu mengandung sekitar 200 kalori. Dan berjalan kaki satu jam atau naik sepeda setengah jam akan menghilangkan 200 kalori.

Perlu digarisbawahi, kalau semua ini mengasumsikan anda ingin menghilangkan lemak. Kalau anda sudah langsing, perhitungannya akan berbeda sama sekali, karena otot/daging memiliki jumlah kalori yang berbeda per-kilogram.

Begitu saja? Tunggu dulu! Ada sesuatu yang penting yang sering dilewatkan oleh orang yang ingin menurunkan berat badan.

 

Tingkat Metabolisme Basal

Apa sih Tingkat Metabolisme Basal?

Sederhananya, Tingkat Metabolisme Basal adalah jumlah energi yang diperlukan tubuh untuk menjalankan fungsi-fungsi dasar tubuh. Dengan kata lain, Tingkat Metabolisme Basal adalah energi yang digunakan tubuh untuk menjalankan fungsi seperti detak jantung, pencernaan, menjaga suhu tubuh, pernafasan, dan lain lain, tanpa kita bergerak sedikitpun.

Sebagai contoh, diperhitungkan bahwa metabolisme basal seorang laki-laki berumur 25 tahun dengan berat 90 kg, adalah sekitar 1800 kalori/hari. Dengan kata lain, tanpa melakukan apa-apa, seorang laki-laki 25 tahun dengan berat ini menggunakan 1800 kalori/hari untuk menjalankan jantung, otak, dan organ lain.

Apa hubungannya dengan menurunkan berat badan?

Kalau kita mengurangi makan, secara otomatis tubuh akan menganggap kita dalam keadaan sulit. Tubuh akan menurunkan tingkat metabolisme basal. Ini adalah mekanisme tubuh untuk menyelamatkan diri saat masa kelaparan, gagal panen, atau semacamnya. Dengan kata lain, hanya mengurangi makan tanpa olah raga tidak akan efektif untuk menurunkan berat badan, karena tingkat metabolisme basal kita menurun. Kita akan merasa lemah letih lesu, karena tubuh kita menghemat energi.

Apa yang bisa kita lakukan agar metabolisme basal kita tidak menurun? Beraktivitaslah! Tidak perlu berat. Cukup olahraga ringan agar tubuh kita tahu bahwa kita tidak dalam paceklik. Yang penting, jangan bermalas-malasan saat diet. Beraktivitaslah, agar metabolisme basal kita tidak menurun.

Dan jika masih kurang, anda dapat mencoba menaikkan metabolisme basal. Cara menaikkan metabolisme basal yang paling sederhana adalah latihan membentuk otot.

Semoga tips saya berguna!

 

 

Daur Ulang Kue Gagal

Bolu atau cake anda gagal dan kesulitan menghabiskannya? Entah hasilnya bantat, kering, atau keras. Yah, sepandai-pandainya tupai melompat, sekali-sekali akan jatuh juga.

Tapi jangan khawatir, cake atau bolu yang gagal bisa didaur ulang dan digunakan untuk membuat snack yang enak.

Cukup blender sisa-sisa cake yang gagal sampai jadi remah-remah, kemudian campurkan coklat misis yang banyak. Terakhir, campurkan mentega yang banyak sampai adonan dapat diuleni dan dibentuk.

Bentuk adonan menjadi bulatan-bulatan kecil, lalu dinginkan di lemari es sampai mengeras. Jadilah Bola-Bola Kue Daur Ulang yang lembut dan enak!

Jika masih ada sisa dari pembuatan kue yang sebelumnya, mentega dapat ditambah/sebagian diganti dengan krim dan/atau coklat leleh. Bisa juga ditambah sedikit rum jika anda suka.

Berapa perbandingan antara mentega, misis, dan cake, sulit juga untuk ditentukan secara pasti, karena tergantung cake yang digunakan. Tapi untuk perbandingan, daur ulang cake saya yang terakhir saya buat menggunakan 8~10 sdm mentega dan satu bungkus misis untuk setengah cake.

Semoga berguna!

Flourless Chocolate Cake

Flourless Chocolate Cake, kue coklat yang benar-benar mewah dan penuh cokelat, tanpa tepung sama sekali, adalah salah satu dessert yang sudah lama menjadi idaman saya. Saya sudah lama mencoba dan bereksperimen dengan resep, tapi saya belum dapat resep yang sesuai dengan bayangan saya. Sampai akhirnya eksperimen saya membuahkan hasil, dan ini mungkin salah satu kue terfavorit yang pernah saya buat.

 

Flourless Chocolate Cake

Flourless Chocolate Cake

 

Bahan:

-150~ gram sweet/semi sweet dark cooking chocolate

-250~ gram mentega tawar

-3 butir telur.

Cara:

-Panaskan oven pada suhu 175 C

-Siapkan 2 loyang, yang satu lebih kecil dari yang lain dan bisa masuk ke dalam loyang yang lebih besar.

-Campur dan lelehkan mentega dan cokelat masak, sisihkan.

-Kocok lepas telur.

-Masukkan telur ke dalam adonan cokelat perlahan-lahan sambil diaduk sampai rata.

-Lapisi loyang kecil dengan alumunium foil, olesi mentega,  tuangkan adonan, lalu tutup loyang dengan alumunium foil.

-Taruh loyang yang lebih kecil ke dalam loyang besar yang telah diisi air panas, ala Bain Marie.

-Panggang selama 30 menit.

-Dinginkan di kulkas selama minimal 2 jam. Potong dengan pisau tajam yang tidak bergerigi.

Seperti yang sudah sering saya bilang, Memasak, atau lebih tepatnya, ‘baking/memasak kue’ adalah salah satu hobi utama saya. Tapi terkadang, rasanya kok malas untuk mengukur secara detil bahan-bahan kue yang ada.

Karena itu saya sering menggunakan konversi berikut yang saya dapat dari membaca berbagai sumber dan percobaan. Memang ada yang bilang, ‘cooking is an art,  baking is a science’ karena untuk membuat kue-kue yang enak dan rumit, bahan-bahannya harus diukur dengan teliti dan suhu serta waktu memasaknya harus diperhatikan dengan benar. Tapi rasanya untuk sekadar membuat kue sehari-hari untuk keluarga, penggunaan ukuran seperti ini dapat menghemat waktu.

Dan, setidaknya bagi saya, rasa kuenya tidak terlalu banyak berubah kok! Anyway, berikut adalah konversi ukuran masak/cooking convertion untuk bahan-bahan dasar kue.

1 cangkir tepung =~16 sendok makan= ~90-100 gram

1 cangkir mentega =~16 sendok makan= ~200-220 gram

1 cangkir gula =~16 sendok makan= ~190-200 gram

8 telur besar = ~500 gram

 

Rasanya bahan-bahan dasar kue itu saja sih, lainnya itu bisa dibilang ‘tambahan.’ Tapi bahan-bahan lain yang sering saya pakai…

1 gelas susu = ~230-250cc

1 sdm coklat bubuk = ~6gram

 

Semoga berguna!